Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Belajar Melupakan


__ADS_3

"Selamat ya, akhir nya kalian wisuda juga. " Ucap Ibu Mike pada Agnes dan Robby.


"Terima kasih Tante. " Ucap Robby.


"Tante, kelulusan kami ini persembahkan untuk Sahara, dimana seharusnya Sahara wisuda bersama kami berdua hari ini." Ucap Agnes.


"Tentu saja, kami berdua sangar sedih dari awal kita masuk kuliah bersama, ambil jurusan yang sama tapi takdir berkata lain kita lulus tidak sama - sama. " Ucap Robby.


"Terima kasih sebelum nya, ini sudah di garis kan pada hidup Sahara. Tante tidak menyesal kalau kegagalan terjadi pada dia, walau hati ini sedih tapi mau bagaimana lagi. Sahara kan sekarang seperti ini. " Ucap Ibu Mike.


"Semoga saja, Sahara cepat siuman ya Tante." Ucap Agnes.


"Amin."


****


Bima memegang surat tugas yang baru, tempat yang baru dimana dirinya harus meninggal kan kota ini. Namun kedua kaki nya merasakan sangat berat untuk meninggalkan dimana kota yang menurut nya ada sejuta kisah.


"Kenapa kamu? " Tanya Ali.


"Bang, nggak apa - apa. " Jawab Bima.


"Besok kamu terakhir disini, buat acara apa kek untuk perpisahan kamu." Ucap Ali sambil tersenyum.


"Boleh, besok ya. " Ucap Bima lesuh.


"Kamu sakit? "


"Nggak kok."


"Eh iya, waktu itu maaf ya nggak datang di acara pertunangan kamu. Tapi kalau nikah pasti datang. " Ucap Ali.


"Iya Bang, nggak apa - apa. "


Ali menatap Bima yang terus menatap kosong ke arah depan dengan wajah terlihat tampak sedih.


"Kamu kenapa sih? Coba cerita sama Abang."Ucap Ali dan Bima menarik nafas nya panjang.


" Bang, entah terasa berat saya pergi. Tapi ini adalah tugas negara, mau bagaimana lagi saya harus siap. Tapi rasa berat ini ada di hati saya dan ada sana. " Ucap Bima.


"Kenapa nggak nikah dari kemarin kamu, kalau berat meninggalkan calon istri."


"Bukan berat sama dia tapi sama yang lain."

__ADS_1


"Kamu selingkuh? "


"Nggak, dia pertama di hati saya. Gadis itu cinta pertama saya tapi cinta saya tidak terbalas. Dia sedang koma, sudah 1 tahun lebih bahkan janji saya, akan pergi tidak mengganggu dia lagi di saat siuman. "


"Kamu menyakiti hati tunangan kamu, seharusnya kamu sadar itu. "


"Dia tahu Bang, pernikahan kami di undur hanya saya ingin tidak ingkar janji saya."


"Seharusnya kamu itu tidak tunangan dulu atau menerima pertunangan ini. Kamu pasti di jodoh kan ya kan? "


"Iya, saya terima mungkin ini jodoh saya. "


"Ya tapi kamu salah, kamu menyakiti wanita yang sekarang ada di samping kamu. "


"Iya saya menyakiti nya. "


"Lebih baik, jangan menunggu dia siuman kita tidak tahu seberapa lama. Menikah lah, kerjakan yang sudah pasti. Toh kamu menunggu dia saat sadar belum tentu dia akan baik atau berterima kasih malah dia tetap tidak suka sama kamu. "


*****


"Abang, saya sudah siapkan barang - barang milik Abang. " Ucap Intan yang telah membantu Bima memasukkan pakaian dan keperluan lain nya ke dalam dua koper pakaian.


"Terima kasih ya. " Ucap Bima.


"Kenapa, kamu takut ya saat di bawa Abang kesana nggak ada fasilitas seperti di sini? "


"Ya nggak sih Bang, nanya saja. "


"Disana, Abang ditugaskan di daerah dataran tinggi, di daerah pegunungan ke kota nya sekitar 15 menit dekat. Nggak terlalu naik banget sih tapi udara nya memang sejuk kalau di daerah sana. "


"Bang."


"Iya, kenapa? "


"Saya akan tunggu Abang, apapun keputusan nanti saya akan terima." Ucap Intan sambil tersenyum.


"Maaf kan saya Intan, maaf kan saya. "


"Nggak apa - apa Bang, suatu perasaan itu tidak bisa di paksa untuk harus cinta. Saya akan menunggu walau pada akhir nya itu saya harus menelan pahit."


"Sekali lagi, maaf. "


****

__ADS_1


"Jadi kamu berangkat besok pagi. " Ucap Ibu Mike.


"Benar Tante, dan saya tidak bisa lagi kemari atau mengganti bunganya lagi. " Ucap Bima.


"Semoga kamu nyaman di tempat tugas yang baru. "


"Terima kasih Tante, dan saya minta tolong untuk selalu memberikan kabar tentang Sahara setiap hari. "


"Pasti, Tante akan kasih kabar setiap hari. "


"Terima kasih Tante. "


Bima mendekati Sahara, yang masih setia berbaring di atas tempat tidur. Tangan Bima mengusap punggung tangan Sahara.


"Sahara, kamu cepat siuman ya. Apa kamu tidak ingin melihat indah nya dunia, langit cerah, suara bising kendaraan dan hiruk pikuk orang - orang di sekitar kita. " Ucap Bima dengan menggenggam erat tangan Sahara.


"Sahara, saya akan pergi untuk tugas di tempat yang baru, dan entah ini pertemuan kita yang terakhir atau masih ada pertemuan lagi. Tapi saya selalu berdoa agar kamu kembali, kembali bersama orang - orang yang mencintai kamu. Saya mulai besok tidak akan lagi mengganti bunga di vas ini dan tidak lagi tubuh ini menyentuh tubuh kamu walau hanya menggenggam tangan kamu seperti ini. Saya akan belajar dari sekarang, untuk bisa lupa dan berhenti mencintai kamu. Cepat lah siuman agar saya tidak lagi memiliki hubungan tentang kamu. " Bima terdiam sambil menundukkan kepalanya, Ibu Mike mengusap punggung Bima.


"Terima kasih, nama kamu sudah hadir di hati saya walau cinta kamu itu tidak ada buat saya." Ucap Bima mencium punggung tangan Sahara.


"Saya pamit ya, cepat bangun." Bima pun beranjak pergi namun menyempatkan mencium kening Sahara sangat lama dan melepaskan genggaman tangannya.


"Tante, semoga Tante sehat selalu, apapun kabar tentang Sahara kasih tahu saya. "Ucap Bima.


" Iya nak, hati - hati. Tante akan rindu kamu." Ucap Ibu Mike berkaca - kaca.


Bima menatap Sahara dengan perasaan sedih namun dirinya harus yakin dan bisa untuk belajar melupakan tentang cinta yang tidak terbalas kan.


*****


"Kenapa tiba - tiba bangun tidur sedih begini, nyesek banget mimpi. Sampai ada air mata nya, ini dada sesak banget. " Ucap Sahara sesenggukan.


"Kenapa sayang? " Tanya Hardi yang masuk kedalam kamar, dan duduk di samping Sahara.


"Mimpi nya nyesek banget, entah itu siapa nggak kelihatan wajah nya samar - samar kayak nya sedih banget, dan saya itu Bang sampai nyesek begini. " Jawab Sahara.


"Itu hanya bunga tidur, sekarang cepat bangun mandi siapkan sarapan. " Ucap Hardi langsung mengambil seragam nya.


"Abang jam berapa ini sudah siap - siap? " Tanya Hardi.


"Abang mau bertemu dengan Pak Sastrowardoyo. " Jawab Hardi.


"Ya sudah, saya masak dulu ya Bang. "

__ADS_1


Hardi tersenyum menatap punggung Sahara yang keluar dari kamar nya, dan langsung mengenakan seragam nya.


__ADS_2