Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Ada Cinta Yang Menanti


__ADS_3

Senjata menodong ke arah Sahara, kedua tangan Sahara di arahkan ke atas dengan bendera putih di tangan nya.


Mayor Topan melangkah ke arah Sahara, dengan pistol di tangan nya. Mayor Topan memutari tubuh Sahara dan memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Apa ini jebakan? " Tanya Mayor Topan sambil menepuk - tepuk salah satu pipi Sahara dengan pistol nya.


"Tolong, jangan tembak saya. " Jawab Sahara dengan tubuh gemetar.


"Apa kamu menyerah, dimana suami kamu dan kawanan nya? " Tanya Kembali Mayor Topan.


"Saya tidak tahu, saat itu terjadi baku tembak. Yang saya tahu, teman kami ada yang tewas."Jawab Sahara.


"Lalu? "Ucap Mayor Topan.


" Saya, lari hingga sampai disini. "


"Kamu tahu Dokter, kalau kamu itu datang ke sarang Harimau. Dan Harimau itu akan memangsa nya. "


"Tolong jangan tembak saya, saya janji akan membantu kalian. "


Semua mata menatap terkejut begitu juga dengan Mayor Topan, dengan apa yang di katakan oleh Sahara.


"Apa kamu hanya untuk hidup berkata seperti itu? "


"Iya, biarkan saya hidup, walau sebuah pengkhianatan yang saya lakukan. "


Hahahahahah


Semua nya tertawa saat mendengarkan penuturan Sahara, hingga Mayor Topan tepat mengarahkan pistol nya di pelipis Sahara.


Dari Jauh Kapten Hardi siap mengarahkan bidik nya, namun Aji melarang nya.


"Jangan dulu Kapten, itu adalah suatu gretakkan. " Ucap Aji


"Saya nggak akan biarkan, dia akan menembak Sahara. " Ucap Hardi dengan beranjak bangun dan meletuskan tembak kan nya.


Mayor Topan, dan Pasukan nya melihat Kapten Hardi berlari dengan tembakan membabi buta. Aji, Ilham dan Sayuti pun akhirnya menembakkan peluru nya, Sahara pun menendang tepat di inti Mayor Topan tepat di sasaran hingga tumbang.


Dengan gerakan cepat Sahara melemparkan bom yang di bawa nya ke arah pasukan yang sedang membalaskan tembakkan.


Buuuuummmm


Semua nya terpental jauh begitu juga dengan Sahara dan Mayor Topan. Hardi dengan segera berlari ke arah Sahara, dan memeriksa keadaan tubuh nya.


"Kamu tidak apa - apa? " Tanya Hardi.


Uhuk.. uhuk..


"Bodoh, kenapa di luar rencana. Kalau sampai dia menembak, Abang tidak akan lihat saya lagi. " Jawab Sahara dengan kesal.

__ADS_1


"Abang takut kehilangan kamu. "


Terdengar suara tembakan kembali, beberapa Pasukan yang selamat menembaki Ilham, Aji dan Sayuti.


Sahara dan Hardi pun bangun dan menembak kembali, dengan maju Hardi dan teman - teman nya meletuskan tembakan, hingga beberapa pasukan Mayor Topan tewas.


Dor


Dor


Dor


Mayor Topan, sadar dari pingsan sesaat nya dan saat melihat musuh nya sedang menembaki Pasukan nya hingga tewas satu persatu.


Mayor Topan bangun dengan siap, pistol nya di arahkan pada Sahara, Hardi melihat nya dan dengan segera mendorong tubuh Sahara kesamping.


Dor


Dor


Hardi melihat perut nya merasakan panas dan perih, darah keluar dari perut nya.


Dor


Dor


Tembakan tepat mengenai dada dan lengan nya, hingga tembakan balasan tepat mengenai kepala Mayor Topan, Ilham dan Aji terus menembaki Mayor Topan hingga sepuluh kali tembakan.


Hardi pun tumbang , Sayuti segera menyangga tubuh Hardi. Sahara terus menangis dengan mengguncang tubuh Hardi.


"Abang... hiks.. hiks... "


"Apa, ini yang di maksud di buku, saya gugur." Ucap Hardi memejamkan kedua mata nya hingga tak sadar.


"Abang.... bangun Bang...!!! "


Terdengar suara beberapa mobil datang, Lettu Halim bersama beberapa anak buah nya pun turun dan dengan segera menolong Kapten Hardi untuk di bawa ke rumah sakit.


****


"Tekanan darah menurun. " Ucap salah satu perawat.


Di ruang Operasi, Dokter berhasil mengeluarkan beberapa peluru, namun kondisi Hardi semakin menurun, hingga detak jantung semakin melemah.


"Dok, pasien semakin kritis."


Sedangkan di luar ruang operasi, Sahara terus menangis sudah satu jam lebih Operasi belum juga selesai.


Halim, Sayuti, Aji dan Ilham pun menemani Sahara yang sedang menunggu di depan ruang operasi.

__ADS_1


"Ya Allah selamat kan suami saya." Ucap Sahara.


Dokter pun keluar, Sahara langsung menghampiri nya dengan mimik wajah penuh pertanyaan.


"Kondisi Kapten Hardi kritis. " Sahara bagai tersambar petir mendengar berita dari Dokter yang mengoperasi Hardi.


****


"Hiks.. hiks.. hiks... Abang." Isak Sahara sambil membelai wajah Hardi.


"Abang bangun, apa Abang tega meninggalkan saya, hiks.. hiks.. hiks.. " Sahara terus memeluk tubuh suami nya hingga tak ingin lepas.


Halim melarang Sayuti, Ilham dan Aji yang akan masuk melihat kondisi Hardi. Mereka pun lalu meninggalkan kamar rawat Hardi.


"Apakah Kapten akan mati? " Ucap Ilham.


Plaaakkk


Halim menampar pipi Halim, saat kata yang keluar dari mulut Ilham yang sembarangan.


"Jaga mulut kamu, dia akan sembuh dan bisa melewati masa kritis nya. " Ucap Halim.


"Bang, apa kita bisa menumpas secepatnya pasukan Jenderal Federick dan Jenderal Smith? " Ucap Aji.


"Sekarang sudah berada di genggaman tangan, perbatasan masuk ibu kota sudah di tumpas habis dengan tewas nya Mayor Topan. Berkat pimpinan Kapten Hardi dan kalian yang berhasil mengalahkan mereka, sekarang Jenderal Sulaiman tidak memiliki anak buah lagi karena dengan tewas nya Mayor Topan kemarin, beberapa Pasukan di berbagai wilayah yang tersebar telah bergabung dengan di bawah pimpinan Panglima Bagoskoro dan jabatan Jenderal Sulaiman telah di copot. " Ucap Halim menjelaskan.


****


"Abang, bangun lah Bang. Jangan terus menutup mata, apa Abang tidak ingin melihat saya istri Abang, dan apa Abang tidak ingin lihat Lembayung, perjuangan Abang belum usai, negara kita belum merdeka Bang. "


Sahara membelai wajah Hardi hingga mengusap bibir Hardi yang kini kering, satu kecupan Sahara darat kan.


"Bang, cinta kita belum usai, saya yakin Abang bisa melewati masa kritis ini. " Ucap Sahara kembali dengan mencium bibir nya.


****


Bima menatap tubuh Sahara yang masih setia tertidur, bunga segar Bima bawakan setiap hari nya hingga tak pernah sampai layu.


"Bangun Sahara, apa kamu tidak capek satu tahun kamu tidur. " Bima memegang tangan Sahara sambil membelai wajah nya.


Dari balik pintu Intan menatap Bima yang sedang menatap penuh cinta pada Sahara. Hati Intan terasa sesak saat Bima mencium punggung tangan Sahara dan bibir nya.


Saat berbalik badan Ibu Mike sudah berada di depan nya, dan tersenyum sambil mengusap lengan Intan.


"Bima sangat mencintai Sahara, tapi tidak dengan Sahara. Dia akan pergi di saat Sahara sudah siuman, kamu tenang saja Bima itu akan menepati janji nya menikah sama kamu. Biarkan Bima seperti itu dulu, bagaimana juga Sahara yang pertama di hati nya. "


"Saya sakit hati Tante, apakah saya sudah mencintai nya. " Ucap Intan.


"Benar, rasa sakit itu adalah rasa cinta yang telah tumbuh. " Ucap Ibu Mike.

__ADS_1


Intan menatap kembali ke dalam kamar, terlihat Bima masih setia menggenggam tangan Sahara.


__ADS_2