Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Menunggu Cinta


__ADS_3

"Bang." Panggil Intan.


"Iya." Ucap Bima sambil menyetir mobil nya.


"Apakah Abang belum bisa mencintai Intan? " Tanya Intan.


Bima tetap diam dan terus fokus pada kemudi nya, Intan hanya menatap kesal pertanyaan nya tidak di jawab oleh Bima.


"Bang, bila Abang tidak bisa jauh dari Sahara batalkan saja Bang, sebelum terlambat. Saya melihat bagaimana Abang menatap Sahara, mencium walau Abang tahu cinta Abang itu tidak terbalas. " Ucap Intan namun Bima masih tetap diam dan fokus pada kemudi nya.


Intan yang merasakan tidak di anggap merasakan kesal dan marah, tak di sadari cairan bening pun keluar dari sudut kedua mata nya.


Bima melirik ke arah Intan yang sedang menatap luar jendela, tangan kiri Bima memegang tangan kanan Intan. Intan pun menoleh saat merasakan tangan nya di pegang oleh Bima.


"Maaf kan Abang. " Ucap Bima memegang tangan kanan Intan dengan sangat erat.


"Abang akan belajar mencintai kamu, tapi butuh waktu. Kamu sabar ya, dan maaf kalau Abang perlakuan Sahara seperti tadi. " Ucap Bima.


"Abang, kalau Abang ingin batalkan tak apa. Intan nggak marah, lebih baik mundur sekarang dari pada nanti. "


"Nggak, kita akan tetap menikah. "


"Tapi bukan pelarian kan Bang? "


"Bukan."


Intan berjalan masuk mendahului Bima, Nenek Lembayung menyambut kedua cucu nya. Intan pun segera masuk kedalam kamar, sedangkan Bima mendorong kursi roda Nenek nya menuju masuk kedalam kamar nya.


"Kenapa Intan? " Tanya Nenek Lembayung.


"Nggak apa - apa kok Nek. " Jawab Bima.


"Jangan bohongin Nenek, katakan ada apa?" Ucap Nenek Lembayung kembali bertanya.


"Intan marah, karena Bima masih mencintai Sahara. " Ucap Bima mengaku.


"Apa kamu belum bisa mencintai Intan dan melupakan Sahara? " Tanya Nenek Lembayung.


"Jujur Nek, saya masih butuh proses untuk mencintai Intan. " Jawab Bima.


"Apa kamu sangat mencintai Sahara? "


Bima hanya diam dan menyandarkan kepala nya di kedua paha Nenek Lembayung yang duduk di kursi roda. Nenek Lembayung membelai rambut cepak Bima.


"Satu tahun anak itu belum juga sadar, Nenek tahu jiwa nya berada di sana. "


"Saya yakin Sahara akan siuman Nek, dan saya janji akan pergi jauh setelah dia sadar."


"Apa kamu tidak berpikir, bagaimana jika kamu sudah menikah. Kamu tidak sadar pernikahan akan di laksanakan beberapa bulan lagi. "


Bima mengangkat wajah nya dan menatap Nenek Lembayung, wajah Nenek yang sudah keriput di makan usia tersenyum.

__ADS_1


"Nek, saya akan tunggu dia sampai siuman lantas saya akan pergi. "


"Bukan nya kamu sudah ada kabar dua bulan lagi kamu pindah dinas, dan kamu akan menunda hanya demi Sahara. Ingat pernikahan tidak bisa di tunda. " Ucap Nenek Lembayung.


****


"Ini Abang belikan cokelat buat kamu. " Ucap Bima sambil memberikan cokelat kesukaan Intan.


"Makasih Bang. " Ucap Intan menerima cokelat kesukaan nya.


"Maaf ya, Abang sudah buat kamu sakit hati." Ucap Bima.


"Sudahlah Bang, jangan di bahas lagi. " Ucap Intan.


"Kamu mau kan menunggu? "


"Maksud Abang? "


"Menunggu sampai Sahara siuman. "


Intan hanya tersenyum kecut saat mendengar apa yang di ucap kan oleh Bima.


"Karena sudah janji, akan pergi setelah siuman. Kalau kita menikah, Abang masih tetap bertemu sama dia, Abang tidak mau kamu cemburu dan Abang menyakiti hati kamu. "


"Sekarang saja, saya sudah merasakan sakit Bang. "


******


Hardi mencoba meraih kepala Sahara namun tak bisa, saat itu Halim tiba dan langsung memanggil Dokter.


Dokter pun datang dengan segera memeriksa kondisi Hardi, dan Hardi pun meminta untuk tetap membiarkan Sahara tertidur sambil memegang tangan nya.


"Alhamdulillah, Kapten sudah melewati masa kritis. " Ucap Dokter Wahyu.


"Kalau begitu saya permisi, nanti akan saya berikan obat lain nya. " Ucap Kembali Dokter Wahyu.


"Terima kasih Dok. " Ucap Halim.


"Bagaimana? " Tanya Halim.


"Masih sakit, bagaimana anak saya? " Tanya Hardi.


"Bi Irah meninggal dunia tertembak. " Jawab Halim.


Hardi memejamkan kedua mata nya lalu membuka kembali.


"Anak saya pasti sudah ke utara. "


"Lembayung, kembali dia bersama Pak Perdana Menteri. "


"Pasti rasa trauma dirasakan anak saya, tolong sampai kan, bahwa Ayah nya baik - baik saja. Dan sebentar lagi akan bertemu."

__ADS_1


"Nanti saya akan sampaikan, sekarang istirahat lah. " Ucap Halim lalu pergi meninggalkan kamar rawat Hardi.


Sahara pun terbangun, mata nya langsung terbuka lebar saat melihat Hardi sedang tersenyum ke arah nya.


"Abang, Abang sudah sadar..!! " Ucap Sahara.


"Sudah dari tadi. " Ucap Hardi.


"Kenapa nggak bangun kan Sahara? "


"Kamu pasti capek, beberapa malam tidak tidur nyenyak. "


Hardi mencium punggung tangan Sahara dan menaruh di pipi nya, Sahara merasakan suhu tubuh Hardi yang sedikit hangat dengan bibir yang kering.


"Abang senang masih bisa melihat kamu lagi."


"Saya juga senang Bang, Abang sudah siuman dan melewati masa kritis. Saya takut saat melihat Abang tertembak takut tidak bisa lagi tangan ini saling bersentuhan."


"Sayang, Abang tahu ini mungkin sesuatu hal yang tidak mungkin. Semua nya berubah karena cinta kita, kamu menjadi milik Abang tapi Abang rasakan seperti hanya memegang bayangan."


"Bang, saya ini adalah cinta terakhir Abang, saya masih ingat bagaimana Abang dulu melamar saya, bagaimana Abang dulu mengatakan cinta sama saya. Bang, selagi kita masih di ijinkan bersama, ancaman badai atau musibah besar kita akan tetap bersama."


Hardi kembali mencium punggung tangan Sahara, dan menarik tubuh Sahara untuk masuk kedalam pelukan nya.


"Seandainya kamu kembali ke dunia mu, apakah kamu akan ingat ini semua? Ingat tentang kisah kita disini, ingat akan cinta saya ini. Saya rasa kamu tidak akan pernah ingat, karena kamu disana adalah diri kamu yang sebenarnya, disini hanya sebuah reinkarnasi."


******


"Ibu... Ayah...!!! " Lembayung berlari saat melihat kedua orang tua nya. Sahara langsung memeluk erat Lembayung, merasakan rindu yang sangat mendalam.


"Sayang, kamu baik - baik saja nak? " Tanya Sahara sambil memeriksa tubuh Lembayung.


"Nggak Ibu, Lembayung nggak apa - apa. Tapi jangan tinggal kan lagi Lembayung dan pergi sendiri lagi. " Jawab Lembayung.


"Iya sayang, Ibu Janji. " Ucap Sahara.


"Nak, sini. " Panggil Hardi.


Lembayung naik ke atas tempat tidur lalu memeluk tubuh Ayah nya, pelukan rindu seorang anak di rasakan oleh Hardi.


"Maaf kan Ayah, hingga membuat kamu berada di suatu ancaman." Ucap Hardi.


"Ayah jangan menyuruh Lembayung pergi lagi, Lembayung takut Ayah. Mereka menembak, Lembayung berjalan sendiri di kala malam semua mata menatap tajam bahkan bila ada Tentara asing Lembayung harus sembunyi. "


"Maaf kan Ayah sama Ibu Nak. " Hardi memeluk kembali tubuh Lembayung, dengan balasan kedua tangan mungil yang membalas pelukan nya.


"Ayah sama Ibu hanya ingin kamu selamat, ternyata kamu harus berjuang sendiri."


.


.

__ADS_1


__ADS_2