
"Kamu mau kemana? " Tanya Aris.
"Saya ikut kalian. " Jawab Sahara.
"Ngapain, kamu istirahat saja. Profesor bilang apa kemarin. " Ucap Aris.
"Nggak akh, bete lebih baik terjun ke lapangan." Ucap Sahara.
Professor Hasan pun keluar dari kamar nya, di susul Menur dan Rudi yang baru saja keluar dari kamar masing - masing.
"Please, Saya mohon Prof, dari pada di rumah. Dan Saya sudah sehat kok. " Ucap Sahara memohon.
"Baiklah, kamu boleh terjun ke lapangan. " Ucap Professor Hasan yang langsung berjalan menuju ke depan.
"Yes, makasih Prof. " Ucap Sahara senang.
Semua nya pun tiba di lokasi, tempat yang masih di jaga ketat, dan kini lokasi nya di tutup rapat oleh tenda dan Police line hingga warga pun di larang melihat dari dekat atau melintas demi keamanan penggalian.
"Fosil manusia itu dimana? " Tanya Sahara.
"Ada di dalam tenda, besok akan di bawa bersama Aris, menggunakan penerbangan pertama. Proses surat jalan pun sudah beres tinggal angkut. " Jawab Menur.
"Di perkirakan meninggal dunia sekitar 1000 tahun yang lalu, jenis kelamin pria." Ucap Menur kembali.
"Berarti sudah fix , dan laporan sudah di kirim ke kantor pusat? " Tanya Sahara.
"Sudah, tadi nya Profesor ingin kamu yang membawa nya tapi karena Profesor membutuhkan kamu di sini, Aris lah yang berangkat. " Jawab Menur.
Sahara pun keluar dari tenda, dengan membawa alat yang di perlukan untuk memeriksa penemuan kembali sebuah benda bersejarah lain nya.
Dari jauh terlihat Bima datang berjalan ke arah Profesor, Sahara pun melihat nya tapi tidak dengan Bima.
"Itu orang kalau datang, bikin jantung jedag jedug. " Ucap Sahara dalam hati.
Bima dari jauh melihat Sahara yang sedang berjalan, dan terus melanjutkan mengobrol nya.
****
"Kamu sudah sehat? " Tanya Bima mendekat.
"Alhamdulillah." Jawab Sahara sambil membersihkan sebuah guci.
"Syukurlah, saya lega dengar nya." Ucap Bima.
__ADS_1
"Besok saya mau pulang, sekitar satu minggu. Daren mau di khitan. " Ucap Bima.
"Oh." Ucap Sahara dengan rasa sedih di hati saat mendengar Bima akan pulang.
"Kamu masih lama disini? "
"Nggak tahu, kalau dalam tiga hari sudah tidak ada lagi kami kembali." Ucap Sahara.
"Nggak bisa bertemu lagi dong. "
"Ketemu juga untung nya apa, kita bukan sepasang kekasih. Saling merindukan tidak, saling berbagi cerita hubungan jarak jauh tidak. "
"Jaga kesehatan ya, semoga kita masih bisa bertemu lagi di lain waktu." Ucap Bima yang membuat kedua mata Sahara berkaca - kaca."
"Saya mau kembali, banyak laporan yang harus di selesaikan sebelum Saya berangkat."
"Iya."
Bima pun pergi meninggalkan Sahara, sedangkan Sahara yang tidak tahan langsung meneteskan air mata nya. Sambil menangis Sahara melihat punggung Bima yang kini menjauh.
****
"Kamu kenapa nggak makan? " Tanya Rudi.
"Prof, Saya saja yang berangkat bersama Fosil itu. " Pinta Sahara.
"Saya masih butuh kamu. " Ucap Sahara menghela nafas panjang.
****
"Loh mba Sahara sedang apa duduk sendiri disini? " Tanya Pak Wahyu saat melihat Sahara duduk di atas gundukan tanah kering di lokasi dimana di temukan banyak benda sejarah.
"Lagi memandang itu lobang - lobang. " Ucap Sahara tersenyum.
"Bapak sedang apa? " Tanya kembali Sahara.
"Bapak mau kasih makan dan Minum buat yang jaga. " Jawab Pak Wahyu.
"Berarti nanti nya ini akan di pagar ya Pak? "
"Iya, selama pagar nya belum jadi akan terus di jaga. Menghindari warga yang berbuat jahat, pasti ada saja orang yang tidak bertanggung jawab akan mencuri nya."
"Benar juga sih, hasil nya lumayan menjual barang - barang kuno. Padahal ini semua di lindungi. " Ucap Sahara.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya kesana dulu." Ucap Pak Wahyu langsung di anggukkan kepala oleh Sahara.
Sahara mengeratkan jaket milik Bima yang di pakai nya, karena udara yang begitu sangat dingin. Saat sedang menatap lurus, Sahara merasakan sebuah jaket kembali di pakaian kan pada nya. Sahara menoleh, Bima memakai kan nya lalu duduk bersebelahan di samping nya.
"Udara Pegunungan di malam hari sangat dingin, kamu pakai jaket masih merasakan dingin. Karena sekarang kan musim angin barat, bisa - bisa kena flu kalau kamu yang gampangan. " Ucap Bima.
"Kamu sendiri nggak pakai jaket, kenapa si pakai kan sama saya? "
"Duduk di samping cinta pertama itu, membuat semua nya jadi lupa dan biasa saja. Rasa dingin pun hilang di saat duduk seperti ini, kamu kan tahu saya itu tipe pria yang bagaimana. "
"Intan beruntung ya, memiliki suami seperti kamu. Apalagi dari pernikahan kalian sudah memiliki anak, anak laki - laki yang tampan."
"Saya akan bahagia kan Intan dan Daren, dengan cara Saya. Mereka itu sumber kebahagiaan Saya saat ini, Daren penyemangat hidup Saya. Dia yang selama ini menghibur Saya di saat sendiri seperti ini."
"Kamu bisa melupakan Saya bagaimana caranya? " Tanya Sahara menoleh ke arah Bima.
"Belajar, walau itu sulit. " Jawab Bima.
"Pasti, adanya anak kamu lupa saya." Ucap Sahara.
"Daren lah yang membantu saya lupa kamu, dan kamu sendiri kenapa belum menikah? "
"Orang yang saya cintai kini sudah bahagia, saya belum bisa melupakan nya. Semakin untuk lupa semakin sulit. Bahkan saat bertemu dan dia benar - benar bahagia saat ini hati saya terluka. Kalau dia tahu saya ini sangat mencintai nya, andai waktu itu bisa di putar kembali saya ingin bersama dia. Mungkin kalau saya tidak seperti itu, saya bahagia bersama nya tidak tersiksa seperti ini. " Ucap Sahara terisak.
"Apakah kamu sangat mencintai nya? " Tanya Bima.
"Iya, saya sangat mencintai nya. Saya ini wanita bodoh yang sudah melepaskan pria sebaik dia, setulus dia. Saya itu bodoh melepaskan dia untuk wanita lain. Hanya sebuah penyesalan saat ini, penyesalan yang tidak pernah bisa Saya lupakan. Hanya sakit rasa ini, sakit dada ini, apalagi melihat dia semakin bahagia. Hiks.. hiks.. hiks.. "
Sahara menangis terisak, Bima langsung memeluk tubuh Sahara. Sahara semakin menangis saat kedua tangan Bima memeluk erat tubuh nya.
"Cinta itu tidak akan pernah mati, walau ada seribu wanita di sekeliling saya. Kamu tahu, cinta saya untuk kamu selalu ada sampai hari ini. "
Sahara melepaskan pelukan nya dan menatap kedua mata Bima, kedua tangan Bima mengusap air mata nya dan lalu kedua tangan nya menangkup wajah Sahara.
"Kenapa, kenapa saat itu kamu bohongi diri sendiri? Kenapa saat itu kamu tidak katakan kalau kamu memang mencintai saya? "
"Buat apa sekarang jujur, orang yang saya cintai sudah jadi milik orang lain. Meminta waktu berputar seperti kisah cinta Kapten Hardi, kalau bisa? Kisah kita tidak seperti kisah cinta Kapten Hardi. "
.
.
.
__ADS_1
.