
Mobil pun sampai di rumah Van Houston, pria kebangsaan yang sama dengan Jenderal Smith bahkan dia termasuk orang dalam di wilayah kerajaan.
Hardi sedikit was - was dirinya di bawa ke tempat, dimana Van Houston adalah orang yang sangat di kenal oleh Jenderal Smith.
Terlihat Alif pun tampak akrab begitu juga dengan Sayuti, sedangkan Hardi dengan sigap mempersiapkan senjata nya di balik jaket warna hitam yang di kenakan nya.
"Selamat datang Kapten Hardi. " Sapa nya dan langsung menyalami Hardi.
"Kita masuk sekarang. " Ajak nya.
Hardi pun masuk mengikuti langkah ketiga nya, dan di dalam sudah ada Pak Sastrowardoyo, Hardi langsung menghampiri Pak Perdana Menteri tersebut.
"Saya senang masih bisa melihat kamu."
"Alhamdulillah Pak, kita masih di beri kesempatan bertatap muka. "
"Pasti Kapten kaget melihat saya disini, karena saya utusan dari Kerajaan Negara M. " Ucap Van Houston.
"Tenang Kapten, Mr. Van Houston ada di pihak kita. " Ucap Sayuti.
"Kapten Hardi, kita harus segera menyusun strategi tentang bangsa kita yang sudah di duduki oleh bangsa K dan bangsa M. "Ucap Pak Sastrowardoyo.
"Kita harus rebut kembali wilayah Selatan yang telah di duduki oleh Jenderal Federick, bagaimana juga kita masih punya atas semua apa yang ada di negeri ini. "
"Pantas bagaimana dengan istri Kapten? " Tanya Van Houston.
"Tenang saja, itu urusan saya. " Jawab Hardi.
"Asal Kapten tahu, kerjaan menanti kepulangan Dokter Kinanti dan putri Kapten, rencana sudah ada disana. Sebuah pernikahan antara Dokter Kinanti dengan pangeran bangsa M. "
"Hah.. mereka menyusun itu, seperti membela bangsa sendiri bagaimana juga saya tidak akan menyerah atau menyerah kan cinta saya. Dari pada membawa pulang mereka, lebih baik kami mati bersama." Ucap Hardi dengan hati yang sudah terbakar emosi.
"Kapten, harus lebih pintar dari Jenderal Smith dan juga Jenderal Federick. " Ucap Van Houston lebih menekan kata pintar.
*****
"Ayah." Peluk Lembayung saat bertemu dengan Hardi.
Hardi mencium kedua pipi kanan dan kiri Lembayung, rasa rindu baru beberapa hari tidak bertemu terobati.
"Ibu nggak ikut Ayah? " Tanya Lembayung.
"Tidak sayang, Ibu ada di rumah Paman Sayuti. " Jawab Hardi.
__ADS_1
Hardi mengangkat Lembayung dan duduk di pangkuan nya, Lettu Halim tersenyum saat melihat sahabat nya bertemu kangen dengan putri semata wayang nya.
"Apakah pernah terpikir, untuk membawa Lembayung pergi dari Kinanti? "
"Tidak, saya yakin dia tidak akan berani."
"Ingat, bangsa kita sedang di adu domba, Jenderal Sulaiman sekarang musuh kita. Orang sendiri menjadi lawan kita, dan ingat Mayor Topan adalah kaki tangan nya, pasti semua tahu bagaimana Mayor Topan selalu menumpas musuh nya, dia akan menebas kepala. "
"Dia menebas kepala, saya akan mencincang tubuh nya. " Ucap Hardi.
"Kita mulai susun rencana kita, satu persatu kita harus tumpas, dan satu - satu nya jalan, kita duduki proyek pembuatan terowongan kereta bawah tanah itu, disana banyak para pekerja paksa dari rakyat kita, bahkan banyak yang meninggal dunia. " Ucap Hardi kembali.
****
Malam hari, Sahara menunggu Hardi pulang, tak ada suara telepon berdering bahkan hujan pun turun sangat lebat.
"Bu Dokter, makan malam sudah siap. " Ucap salah pembantu rumah tangga Sayuti.
"Terima kasih mbok. " Ucap Sahara sambil menatap ke luar jendela.
"Bu Dokter sedang menunggu Pak Kapten ya?" Tanya Ilham.
"Benar, saya menunggu dia telepon tapi tidak ada suara dering telepon. Saya khawatir terjadi sesuatu. " Jawab Sahara.
Sahara tersenyum, entah saat menjadi Kinanti, memiliki rasa yang berbeda, namun Sahara pun sadar semakin hari rasa itu bukan rasa dari diri Kinanti namun rasa pada dirinya sendiri. Sahara merasakan jatuh cinta yang nyata dan merasakan tidak ingin kehilangan.
****
"Bi irah, saya pamit dulu, kalau Lembayung bangun bilang saja saya sudah kembali. " Ucap Hardi setelah menidurkan Lembayung.
"Nanti saya sampaikan Pak. " Ucap Bi Irah.
"Ini simpan, ada beberapa uang untuk Bi Irah dan Lembayung, saya khawatir terjadi sesuatu nanti, ini bisa buat bekal kalian berdua, kalau suasana genting lari nya ke arah utara, pergilah yang jauh, selamat kan putri saya. " Ucap Hardi.
"Baik Pak, tapi apakah kami masih bisa bertemu dengan bapak? "
"Pergilah ke Utara , saya akan kesana. Bila saya gugur akan ada utusan dari saya ke sana, bila Bi Irah dan Lembayung melihat utusan itu datang berarti saya telah gugur."
"Lantas bagaimana dengan Ibu? "
"Ibu tidak akan menyusul ke utara, selagi bangsa ini belum merdeka. Dia akan menyusul ke utara saat bangsa ini sudah merdeka, Bi Irah paham maksud saya ini? "
"Saya paham Pak, Lembayung tidak boleh di bawa ke negara M. "
__ADS_1
"Bagus, saya pamit. "
****
Sahara merasakan berat di perut nya, saat kedua mata nya membuka pelan terlihat tangan kekar berada di atas perut nya dengan memeluk.
Sahara tersenyum saat menatap wajah tampan yang sangat di rindukan telah pulang.Sahara memiringkan tubuhnya dan wajah nya dia sembunyikan di leher Hardi yang masih tertidur pulas.
Rasa nyaman sangat terasa saat Hardi memeluk tubuh nya sangat erat, kedua mata Sahara pun di pejamkan nya hingga melanjutkan mimpi nya yang indah.
Sinar matahari memasuki celah jendela kamar, suara kokok Ayam berbunyi. Hardi bangun dari tidur nya dan saat sadar Sahara masih setia tertidur dengan posisi memeluk tubuh Hardi.
Di cium kening nya lalu turun ke bibir,saat itu Sahara merasakan sesuatu yang mengusik tidur nya.
"Pagi sayang. " Sapa Hardi.
"Abang, masih ngantuk. " Ucap Sahara dengan suara khas orang bangun tidur.
"Bangun dong, sudah pagi. "
"Jam berapa? "
"Jam 6 pagi. "
"Hah.. jam 6 pagi. "
Sahara langsung bangun dari tidur nya dan merapikan rambut nya yang acak - acak an.
"Mau kemana? " Tanya Hardi.
"Saya harus siapkan sarapan untuk Abang. " Jawab Sahara namun tangan Sahara langsung ditarik oleh Hardi hingga terjatuh menindih tubuh Hardi.
"Sarapan nya ini. " Ucap Hardi langsung ******* bibir Sahara, Sahara pun membalas ciuman Hardi yang semakin lama semakin panas.
Hingga tubuh Sahara kini berada di bawah kungkungan Hardi, setiap inci tidak ada yang terlewat oleh Hardi sehingga membuat Sahara terbang melayang menikmati setiap sentuhan nya.
"Saya menikmati ini semua, saya tahu ini bukanlah nyata, karena ini bukan masa sebenar nya bukan dunia nyata yang sebenarnya. Biarlah saya menikmati ini semua, biarlah saya memiliki rasa cinta di sini, karena ini semua bukan lah nyata, saat kembali nanti, saya adalah Sahara yang sebenarnya, bukan Sahara yang ada di dunia masa lalu. "
.
.
.
__ADS_1
.