
"Lembayung tanya apa saja? " Tanya Sahara sambil menyuapi Hardi.
"Dia kangen Ibu nya. " Jawab Hardi.
"Saya kangen dia Bang, saya pun kangen Lembayung di masa depan." Ucap Sahara sambil menyuapi Hardi kembali.
"Abang sengaja tidak mempertemukan kalian, Abang takut kamu pergi Kinanti kembali."
"Abang katanya sayang sama Kinanti, karena cinta Abang akan melindungi dia. "
"Iya, tapi bukan untuk memisahkan kami."
"Dia bisa saja melakukan nya, karena pilihan. Dia pasti agar saya di bebaskan dan tidak menjadi musuh mereka pilihan itu mengikuti apa kata Smith. "
"Tapi tetap saja, Abang akan gugur. " Ucap Sahara menunduk.
"Apa kamu tidak ingin kita sama - sama merubah takdir, Abang nyaman dengan kamu di tubuh Kinanti. Abang ingin bersama kamu merubah sejarah, dan semua tahu akan cinta Abang. "
"Entahlah Bang, bukan kuasa kita melakukan itu semua. "
Hardi menaruh piring yang berada di tangan Sahara di atas nakas, dan menggenggam kedua tangan Sahara.
"Apa yang kamu rasakan saat melakukan bersama Abang? "
"Tampak seperti nyata. "
"Nikmati saja, ikuti alur nya. "
"Saya selalu mengikuti alur nya."
"Tapi kalau kita tidak bisa merubah nya, saya akan selalu mengingat nya kenangan ini. Atau sama. sekali saya tidak akan mengingat nya."
Hardi mengecup kening Sahara, dengan menatap lekat kedua matanya.
"Saya tahu, ini bukan mata Kinanti. Tapi ini mata Sahara, karena saya tahu bagaimana Kinanti memperlakukan saya."
"Abang boleh merindukan Kinanti, bagaimana juga Kinanti bagian dari hidup Abang. Saya hanya jiwa yang berada di tubuh Kinanti. "
"Kinanti telah lama mati, mungkin ini lebih baik buat dia agar tetap selalu menjadi bagian hidup Abang walau hanya sisa raga nya."
"Disini, saya reinkarnasi Kinanti." Ucap Sahara.
*****
Tuuuuhiiiiinggggg Buuuuuummmm
Dor
Dor
Dor
Sebuah serangan mendadak terjadi, suara tembakan dan Bom membuat semua orang berlari kesana kemari. Banyak warga sipil yang meninggal dunia akibat serangan udara mendadak dan baku tembak antara bangsa K dan bangsa M memperebutkan tanah air.
Semua pasukan pun mempersiapkan senjata dan peralatan perang, hingga ribuan pasukan di siapkan.
"Abang, apa ini perang? " Tanya Sahara saat merasakan getaran, retakan kaca, hingga suara bising lain nya.
"Iya, ini perang dimana musuh saling menyerang untuk merebutkan negeri ini, kita sebagai rakyat nya ini suatu kesempatan untuk menghancurkan mereka berdua. " Ucap Hardi yang siap dengan senjata nya.
Ilham dan Aji pun siap menyerang, Dokter Alif dan Sayuti pun di berikan sebuah senjata begitu juga Sahara.
__ADS_1
"Kita akan melindungi diri kita sendiri dari musuh, kita tidak akan bersembunyi disini terus karena pasti musuh akan datang kemari. " Ucap Hardi.
Buuuuummmm
Hingga rumah Sayuti bergetar saat merasakan sebuah bom jatuh, dan beberapa benda - benda jatuh ke lantai bahkan kaca pun beberapa ada yang pecah.
Tuuuuuuiiiinngggg Buuuuuummmmm
Bi Irah menggendong Lembayung berlari mencari perlindungan, Idzam pun ikut menjaga kedua, rumah Lettu Halim hancur terkena Bom.
Lembayung terus menyembunyikan wajah nya di pundak Bi Irah, suara tembakan dan Bom terus saja tu ada berhenti.
"Kita sembunyi di rumah kosong itu. " Ucap Idzam.
Bi irah terus memeluk tubuh Lembayung, sedangkan Idzam menembaki setiap pergerakan musuh yang akan mendekat.
Dor
Dor
Dor
Baku tembak pun terus terjadi, hingga Idzam beberapa memasukan amunisi yang baru.
"Bibi, apakah kita akan mati? " Ucap Lembayung.
"Nggak sayang, kita akan selamat. " Ucap Bi Irah.
Dor
Dor
Dor
Idzam tertembak di bagian dada , hingga membuat Bi irah dan Lembayung pun panik.
"Cepat kalian lari, mereka akan menembaki kalian. " Ucap Idzam sambil merasakan sakit.
"Nggak, kamu juga ikut lari kalau kami juga lari. " Ucap Bi Irah.
"Selamat kan anak Kapten Hardi, bawa ke utara sesuai perintah nya. Jangan sampai Bi Irah tertembak juga. " Ucap Idzam sambil memegang dada nya.
Lembayung mendekat dan memegang tangan Idzam yang menutupi luka tembak nya.
"Pasti sakit Paman? " Ucap Lembayung.
"Nggak sayang, Paman dingin sekarang." Ucap Idzam.
"Paman akan selalu menjaga Lembayung dan Bi Irah. " Ucap Lembayung kembali.
"Sudah selesai tugas paman, Bi Irah yang akan menjaga kamu. " Ucap Idzam yang semakin kabur pandangan nya.
"Ce - cepat pergi, mereka se- semakin mendekat. "
Bi Irah langsung menggendong tubuh Lembayung dan mengambil senjata milik Idzam dan pergi meninggalkan Idzam dengan rasa yang bersalah.
Lembayung dan Idzam melambaikan tangan nya dengan segera Bi Irah dan lembayung menjauh hingga terdengar beberapa kali tembakkan.
Dor
Dor
__ADS_1
Dor
Dor
Sambil menahan tangis, Bi Irah terus berlari membawa Lembayung, pegangan erat Lembayung seakan tak mau jauh pada leher Bi Irah dengan menautkan kedua tangan nya.
****
Suara sepi sunyi dan gelap gulita akibat kabur asap sebuah bom yang jatuh, Hardi pun mendapatkan kabar sebuah TELEGRAM yang masih berfungsi dari markas besar mengatakan bahwa semua wilayah hancur lebur, dan beberapa pasukan telah berhasil menduduki beberapa wilayah.
"Kapten, seperti nya yang paling parah wilayah dimana keluarga Kapten tinggal. " Ucap Aji.
"Mereka pergi ke utara, seperti apa yang saya minta. " Ucap Hardi.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, walau pasukan kita sudah berhasil menduduki beberapa wilayah, musuh masih tetap ada. Tempat tinggal ini sudah tidak akan lagi. " Ucap Sayuti.
"Lebih baik, kita bergegas sekarang. " Ucap Hardi, dengan gerak cepat meninggal kediaman Sayuti.
*****
"Kita istirahat disini dulu. " Ucap Bi Irah.
Lembayung duduk di samping Bi Irah yang masih setia memeluk senjata milik Idzam. Bersembunyi dan beristirahat di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan Bom hanya dalam sekejap hancur luluh lantah.
"Bi, semua orang kemana? "
"Mereka pergi mengungsi. "
"Apa kita akan ke Utara? "
"Iya, seperti Ayah kamu perintahkan."
"Apa disana tidak perang seperti disini? "
"Kalau Ayah menyuruh kita ke sana, berarti di sana aman. "
"Apakah Ayah dan Ibu Selamat? "
"Kalau nanti Ayah, ke Utara menjemput kita. Berarti Ayah selamat, kalau tidak Ayah telah gugur. "
Lembayung berubah menjadi sendiri, dan kedua mata nya berkaca - kaca.
"Ibu."
"Ibu, akan menjemput nanti bila pasukan negara kita menumpas habis Pasukan Jenderal Smith Ibu akan menjemput kita. Ayah tidak akan membiarkan Lembayung pergi dari Negara ini. "
*****
Hardi, Sahara, Ilham, Aji, Sayuti dan Alif berjalan menelusuri jalanan yang sepi, tampak bangunan runtuh, bahkan mayat - mayat masih tergeletak di jalanan.
"Benar - benar, perang besar. " Ucap Sayuti.
"Tujuan kita ke Markas besar, kita akan bertemu Lettu Halim disana. " Ucap Hardi.
.
.
.
.
__ADS_1