Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Mengungkapkan Sebuah Perasaan


__ADS_3

Bima duduk di tepi tempat tidur milik Kakek buyut nya, terdiam setelah bertemu dengan Sahara. Intan pun datang menghampiri Bima yang sedang berdiam diri.


"Bang, kalau Abang mau membatalkan tidak apa - apa Bang, kalau itu yang Abang mau. Tapi asal Abang ingat, cinta Abang bertepuk sebelah tangan, kalau Abang mau terus mengejar dia silahkan, mau dengan cara apapun. Pernikahan ini sama - sama amanat, silahkan Abang mau pilih yang mana dan berat yang mana. Asal Abang tahu, saya sudah bisa mencintai Abang, apakah Abang masih tetap mengejar yang belum pasti, sedangkan yang pasti di depan mata."


"Boleh kita tunda, kita tunda untuk pergi. Kita berangkat undur sampai besok. " Ucap Bima.


"Maksud Abang apa nih? "


"Saya ingin menyelesaikan masalah hati."


Intan merasakan sangat sakti hati, hingga kedua mata nya berkaca - kaca dengan menatap tajam ke arah Bima.


"Abang mempermainkan saya? Kenapa harus Abang tunda. Hanya karena wanita seperti Sahara, Abang ingat, dia tidak mencintai Abang, apa Abang akan mengemis cinta. " Ucap Intan dengan nada tinggi.


"Abang mohon, sangat mohon untuk menyelesaikan nya. "Ucap Bima dengan nada yang masih halus.


"Terserah, terserah kalau Abang mau kejar dia, kejar dia wanita yang nggak jelas. " Intan pun beranjak pergi meninggalkan Bima.


*****


Sahara duduk di depan pusara Kapten Hardi,menatap pusara yang telah lama ada dengan buket bunga yang Sahara bawa.


"Kapten, walau kemarin tidaklah nyata, tapi bagi saya adalah nyata. Saya ikut merasakan bagaimana, saat itu. Terima kasih Kapten, untuk waktu yang tidak masuk akal nya. " Ucap Sahara sambil tersenyum.


"Pak Kapten, saya pamit dulu, nanti saya akan kemari lagi. " Sahara mengusap nisan tersebut.


Saat hendak berdiri tepat di belakang Sahara berdiri , Bima berdiri di belakang Sahara. Saat berbalik badan Sahara menatap pria yang lebih tinggi dari nya.


"Kamu ngapain kesini? " Tanya Sahara.


"Ini makam keluarga saya, Kakek buyut saya. Kamu ngapain kesini? " Ucap Bima.


"Ziarah lah. " Ucap Sahara.


"Oh.. ziarah. " Ucap Bima.


Sahara pun akan melangkah kan kaki nya namun di halangi oleh Bima, ke kanan melangkah ke kanan, ke kiri melangkah ke kiri.


"Bima..!! "


"Apa...!! "


"Minggir, ini di pemakaman tahu jangan bercanda. " Ucap Sahara kesal.


"Tunggu saya. " Ucap Bima lalu berjongkok di depan pusara Kakek buyut nya untuk mengirim kan doa.


Setelah selesai, Bima dan Sahara meninggal kan area pemakaman, Bima pun menuju ke arah motor nya sedangkan Sahara berjalan menuju ke pintu keluar.


"Naik." Ucap Bima, Sahara seakan tak dengar Bima mengejar Sahara dan menarik tangan nya.


"Apaan sih? " Ucap Sahara sambil melepaskan tangan Bima dari lengan nya.


"Pulang sama saya. "


"Ngapain? " Tanya Sahara.


"Saya ingin bicara sama kamu. " Jawab Bima.

__ADS_1


"Bicara saja disini. "


"Masa di makam pahlawan. "


"Ya nggak apa - apa. "


"Ayo ikut. " Ucap Bima langsung menyeret Sahara ke arah motor nya, dan langsung memakai kan helm ke Sahara.


"Dasar pemaksaan. " Celetuk Sahara.


"Naik." Ucap Bima.


Sepanjang perjalanan Sahara dan Bima hanya diam, motor pun entah melaju kemana sudah satu jam lebih hanya berjalan tanpa arah.


"Ini mau kemana sih? " Tanya Sahara dengan suara kencang.


"Nggak tahu. " Jawab Bima.


"Ih... nggak jelas banget, turunin saya. " Ucap Sahara kencang.


"Nggak mau..!!! "


"Turunin nggak, kalau nggak saya loncat."


"Coba saja. "


"Ih.... awas ya.. "


Motor pun sengaja dengan kecepatan tinggi, hingga Sahara pun menabrak punggung Bima. Dari balik helm Bima tersenyum licik, sedangkan Sahara terus memukul - pukul punggung nya.


"Bima....!!!! " Teriak Sahara.


****


Awwwww


"Sakit...!! "


Buuuggghhh


"Kamu mau kita mati sama - sama hah...!! " Bentak Sahara.


"Habis nya kamu itu, bawel. " Ucap Bima.


"Kamu mau apa sih, buruan. " Ucap Sahara kesal.


Bima berjalan di tepi pantai dan duduk sambil menatap lautan luas yang sebentar lagi terbenam.


"Kamu mau bicara apa sih? " Tanya Sahara yang sudah mulai bicara pelan.


"Kamu tahu, saya menunda pergi itu demi kamu. " Jawab Bima.


"Hah.. demi saya, memang nya kenapa? " Ucap Sahara.


"Saya itu mencintai kamu. "


"Hahahahaha.... mau ungkapan ke berapa kali nya ini? saya sudah tahu, tapi saya nggak."

__ADS_1


"Kamu tahu, bagi saya kamu sulit untuk saya lupakan. "


"Oh ya, terus itu si Intan kamu mau apakan dia? mau kamu tinggalkan dia dan maksa saya untuk nikah sama kamu sesuai dengan permintaan papi. Jangan ngaco kamu, sampai kiamat juga nggak akan mau."


"Apa yang kamu rasakan, setelah tahu wajah saya seperti Kapten Hardi. "


Sahara diam tak menjawab apa yang di tanyakan oleh Bima, Sahara menatap matahari yang mulai tenggelam dengan mata berkaca - kaca.


"Cinta nya begitu sangat besar, cinta seorang pria yang selalu ingin melindungi pasangan nya. Namun semua nya berubah, hanya demi cinta. "


"Perjalanan kamu sudah cukup panjang, seharusnya kamu bisa belajar dari sana apa arti sebuah cinta. "


"Tapi saya tidak mencintai kamu."


"Tapi saya mencintai kamu. "


"Apa yang membuat kamu mencintai saya? "


"Kamu wanita pertama yang ada di hati saya, baru melihat kamu dari jauh saya sudah jatuh cinta. "


"Jujur, saya tidak mau karena saya tidak ingin memiliki suami Tentara seperti Papi dan meninggal dunia tertembak saat bertugas. Memiliki pasangan seorang Tentara membuat rasa trauma buat saya. "


"Lantas, kamu ingin memiliki seperti apa sosok pendamping hidup kamu? "


"Asal jangan Tentara. "


"Kalau saya bukan Tentara, apa kamu mau? "


"Tergantung, mungkin di pertimbangkan lagi."


"Ok, saya akan keluar. Dan menjadi warga sipil biasa. "


Sahara terus meremehkan, sambil pandangan nya tetap lurus ke arah matahari yang sudah tenggelam.


"Kamu pikir saya akan luluh, kamu pikir di luar sana nggak ada seseorang yang mengungkapkan sumpah serapah untuk saya. Sebaiknya kamu lanjutkan rencana pernikahan kamu dan Intan, saya tidak ingin menyakiti perasaan Intan, kamu harus tahu Intan sangat mencintai kamu, hargailah perasaan nya. "


"Maaf kan saya , semua nya sudah jelas yang penting hati saya tenang. Setelah ini saya tidak akan menggangu kamu lagi. "


"Iya, maaf ya kalau saya menolak cinta kamu."


"Iya nggak apa - apa. "


"Kita pulang sekarang. " Ajak Sahara yang sudah berdiri.


Bima menganggukkan kepala nya dan beranjak bangun dari duduk nya, berjalan bersama menuju ke arah motor.


Sahara melihat sebuah lingkaran hitam kembali namun Sahara tetap melanjutkan langkah nya, lingkaran hitam tersebut pun kembali tertutup.


"Saya tidak akan kembali kesana lagi, saya harus menjadi Sahara yang sebenarnya."


"Kamu akan tetap menjadi cinta pertama saya, walau cinta saya kamu tolak."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2