Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Hari Tragedi


__ADS_3

"Ibu, lihat deh gambar Lembayung. " Tunjuk Lembayung pada Sahara sebuah gambar hasil karya nya.


"Wah.. ini bagus sekali sayang. " Ucap Sahara sambil menatap hasil lukisan Lembayung.


"Tapi kenapa kok gambar Ibu terbang? " Tanya Sahara bingung.


"Ibu tadi malam Lembayung mimpi, kalau gambar ini menceritakan mimpi semalam Lembayung." Jawab Lembayung.


"Memang tadi malam mimpi yang bagaimana? Coba ceritakan sama Ibu. "


"Saat sedang berada di suatu taman yang sangat indah, Ibu pergi dari kita. Mengucapkan kata selamat tinggal. Ibu terbang ke atas, bersama sebuah sinar yang sangat terang. "


"Oh ya, itu hanya bunga tidur sayang."


"Kata orang - orang, bunga tidur itu bisa jadi kenyataan. "


"Sudah, jangan dengar kan apa kata orang. "


"Tapi bagus kan Bu ? "


"Bagus sayang, anak ibu pintar sekali. "


*****


Hardi, Halim, dan Perdana Menteri Sastrowardoyo tengah melihat proses penangkapan para pengkhianat bangsa. Satu persatu mereka masuk kedalam sebuah mobil tahanan dengan kedua tangan mereka di rantai.


"Mereka langsung di bawa ke pulau Waru? " Tanya Pak Sastrowardoyo.


"Iya, mereka akan langsung di eksekusi sesuai kesalahan mereka. " Jawab Hardi.


"Eksekusi akan di lakukan pada kejahatan besar dan yang lain nya hukuman seumur hidup. " Ucap Hardi kembali.


"Bagus, orang - orang seperti mereka pantas untuk mendapatkan hukuman setimpal, apapun jabatan mereka. " Ucap Pak Sastrowardoyo.


"Jenderal Federick lari, tapi kita tidak boleh terkecoh oleh kabur nya mereka, karena kita belum seutuhnya merdeka. " Ucap Hardi.


"Benar, karena Federick itu lebih keji dan licin dari Smith. " Ucap Halim.


"Kita harus masih tetap siaga, karena sewaktu - waktu dia dan pasukan nya bisa saja datang menyerang. " Ucap Hardi.


"Tapi kita berhasil merebut apa yang menjadi hal kita, dan kekuatan kita semakin kuat. Seharusnya kita bisa menangkap satu kecoa yang masih berada di kawasan negara kita ini." Ucap Pak Sastrowardoyo.


"Pak, untuk acara besok. " Ucap Sukardi, Ajudan Pak Sastrowardoyo memberikan sebuah map warna kuning.


"Terima kasih. " Ucap nya sambil membuka map tersebut.


"Besok kita akan mendeklarasikan kemerdekaan negeri kita, setelah itu kita bersama - sama Sholat jumat berjamaah. " Ucap nya kembali.


"Baik, besok kita akan rayakan pesta kemenangan atas keberhasilan kita menyingkirkan para penjajah, dengan merdeka nya kita Federick tidak akan pernah berani lagi datang kemari. " Ucap Halim.


***


Hardi membuka kembali buku milik Sahara, yang kini telah lupa akan buku tersebut bahkan ponsel nya pun yang kini Hardi pegang.


Hardi membaca kembali buku tersebut, terlihat gambar saat melihat beberapa para pengkhianat masuk kedalam mobil tahanan. Apa yang terjadi kejadian penting nya, kini tertulis di buku Biografi tersebut.


Hardi membaca kembali sinopsis dibalik buku tersebut, menjelaskan Kapten Hardi Hardiantoko wafat pada tanggal 5 April 1939.

__ADS_1


"Besok, hari perayaan kemerdekaan dan terjadi pada saat Sholat Jumat sebuah bom yang meledak. " Ucap Hardi sambil membaca kembali.


Buku tersebut masih kosong halaman, hingga akhir halaman, Hardi merasakan hati yang gundah saat tahu besok adalah hari kejadian naas itu.


"Hanya hitungan jam, apakah saya bisa merubah nya namun mengalahkan mereka."


*****


Hardi turun dari mobil jeep nya, dan menatap rumah yang menjadi kan banyak kenangan selama ini. Hardi melihat Lembayung sedang bermain sendiri, sedangkan istri nya sedang kedatangan banyak pasien yang sedang berobat pada nya.


"Apakah ini terakhir untuk saya melihat semua nya? " Ucap Hardi dalam hati nya.


"Ayah....!! " Panggil Lembayung berlari ke arah Hardi.


"Lembayung beberapa hari lagi ulang tahun ke 5,benar tepat usia 5 tahun Ayah pergi meninggalkan kamu selama nya. "


Hardi tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan lembayung. Gadis kecil itu mencium kedua pipi Hardi dan lalu tersenyum menunjukkan deretan gigi yang terdapat beberapa yang tanggal.


"Pak Kapten, mari. " Ucap salah satu warga yang habis berobat pada istri nya.


"Semoga lekas sembuh Pak. " Ucap Hardi.


Beberapa orang pun keluar dari rumah nya, dan Sahara pun dari jauh menebar senyum pada kedua nya.


"Ayah, sebentar lagi Lembayung ulang tahun, nanti buat nasi kuning ya. "


"Iya sayang, nanti Ayah buatkan seperti tahun kemarin. "


"Turun sayang, Ayah berat loh. " Ucap Sahara.


"Nggak apa - apa, Abang nggak berat. " Ucap Hardi.


***


"Nggak, Abang lagi ingin begini sambil memeluk Lembayung. " Jawab Hardi.


"Bang, nanti saya ada jadwal jaga di rumah sakit, pulang jam 7 pagi. "


"Abang besok ada acara, kita merayakan kemerdekaan negara kita. Semua rakyat merayakan nya. "


"Jam berapa acara nya? "


"Jam 9,tapi menurut Abang nggak usah datang, kamu pasti capek. "


"Nggak lah, semua rakyat merayakan nya kenapa saya tidak. Ini pesta besar, pesta pertama kali. "


"Abang mohon, jangan datang bersama Lembayung. "


"Kenapa? Abang sendiri juga datang. "


"Abang minta tetap tinggal. "


"Aneh, Abang ini. " Ucap Sahara langsung berdiri.


"Mau kemana? "


"Mau siap - siap lah Bang. "

__ADS_1


"Abang antar ya. "


****


Dengan mengayuh sepeda ontel, Sahara duduk di depan nya menuju ke arah rumah sakit. Kedua nya menikmati udara segar dan pemandangan lalu lalang kendaraan serta kegiatan orang - orang yang di lewati nya.


"Abang tumben, antar saya pakai sepeda ontel padahal jauh. "


"Abang ingin menghabiskan waktu bersama kamu sayang, siapa tahu besok kita tidak bisa seperti ini lagi. "


"Memang nya Abang mah kemana? "


"Ya nggak kemana - mana, tapi kan takdir kita tidak akan ada yang tahu. "


"Abang mau mengatakan maut akan menjemput. "


"Iya."


"Saya selalu berdoa, agar Abang di berikan umur panjang."


"Kenapa? "


"Karena saya belum sanggup kehilangan Abang. "


"Kita juga pasti akan meninggal, entah itu kapan waktu nya. "


"Iya tapi bukan sekarang Bang, saya masih membutuhkan Abang. "


"Ada Lembayung yang akan menemani kamu."


"Tapi anak yang dalam perut saya juga membutuhkan Abang. " Hardi langsung mengerem sepeda nya mendadak hingga Sahara terdorong oleh tubuh Hardi.


"Kenapa Bang? " Tanya Sahara bingung.


"Ka - kamu hamil? " Jawab Hardi.


"Iya, saya tidak haid bulan sekarang dan sudah telat dari bulan kemarin. Saat di periksa memang saya sedang hamil. "


Hardi tersenyum getir, seakan sedih mendengar kabar kehamilan Sahara. Kehamilan mungkin tanpa dirinya nanti hingga anak kedua mereka lahir tanpa seorang Ayah.


"Abang kenapa? Nggak suka? "


"Abang bahagia, Abang kaget saja. "


"Sehat - sehat ya nak. " Ucap Sahara sambil mengusap perut nya yang masih rata.


****


"Tolong periksa setiap sudut, pastikan yang mencurigakan langsung laporkan. " Ucap Hardi.


"Siap Kapten. "


"Saya meminta tambahan pasukan. "


"Siap laksanakan Kapten. "


"Bom itu akan di taruh dimana, siapa orang yang akan menjadi dalang semua ini. "

__ADS_1


.


.


__ADS_2