Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Di Balik Sebuah Pengorbanan


__ADS_3

"Hiks.. hiks.. hiks.. Ayah... Ibu....!!! " Lembayung menangis di saat kedua kaki nya tidak bisa lagi di gerakan.


Sahara yang berbaring di atas tempat tidur dalam satu kamar dengan Lembayung merasakan sangat sedih, disaat harus kehilangan calon anak nya dan melihat Lembayung cacat permanen.


Hardi meneteskan air mata nya, tak tahan lagi melihat kedua nya bersedih, tangisan Lembayung sangat menyayat hati nya.


"Ayah... hiks.. hiks... Ibu.. hiks.. "


"Dokter sudah berusaha sayang, tapi memang kenyataan seperti ini. Itulah kenapa Ayah tidak mengijinkan kalian datang. "


"Anak kita telah pergi Bang, hiks.. hiks.. sekarang dia sudah tidak ada lagi di dunia. " Ucap Sahara sambil mengusap perut nya.


"Apakah, sejarah berubah, dimana saya yang akan meninggal dunia tidak jadi malah berubah seperti ini. "


Hardi mengusap air mata Lembayung yang terus menangis lalu untuk menenangkan putri nya di cium nya kening nya.


"Lembayung harus menerima ya, apapun itu. Lembayung tidak sendiri, karena Ayah sama Ibu ada bersama Lembayung. " Ucap Hardi.


"Hiks.. hiks.. hiks... tapi nggak bisa jalan Ayah." Ucapan Lembayung membuat sesak di dada Hardi, Sahara pun meneteskan air mata nya.


"Ayah sama Ibu, akan menjadi kedua kaki Lembayung. " Ucap Hardi.


"Sayang, kita sama - sama berduka, mungkin di balik musibah ini pasti ada hikmah nya. Ibu juga sangat kehilangan makhluk kecil di dalam perut Ibu nak hiks.. hiks.. hiks... sayang, kita harus kuat ya. " Ucap Sahara.


"Lembayung akan belajar kuat Ibu Ayah.. hiks.. hiks.." Ucap Lembayung sembari menangis.


Hardi tak menahan tangis ternyata semua nya berubah nyawa nya diganti oleh kehilangan calon buah hati nya dan Lembayung yang cacat seumur hidup nya.


Sedangkan di balik pintu, Pak Sastrowardoyo, Halim dan Sayuti melihat dengan sangat sedih, di balik perjuangan seorang Kapten Hardi harus menerima pahit apa yang terjadi pada keluarga nya.


"Saya tidak bisa berkata apa - apa lagi." Ucap Pak Sastrowardoyo.


****


"Lembayung sudah tidur, dia sudah tenang sekarang. " Ucap Hardi.


"Bang, maaf kan saya. " Ucap Sahara.


"Maaf untuk apa? " Tanya Hardi.


"Maksud Abang yang kemarin melarang kita datang itu, mungkin ini maksud nya. Kalau saya dan Lembayung tidak kemari mungkin tidak seperti ini jadi nya. " Jawab Sahara.


"Sudah, jangan bahas ini ya. Mungkin ini sudah takdir nya. " Ucap Hardi.


"Bang, saat itu kami takut, takut kamu akan pergi selama nya. Mungkin Lembayung berlari agar orang itu tidak menekan remote bom itu. Tapi di luar dugaan, Federick malah menembakkan kedua kaki anak kita dan Bom itu tetap di ledakan. "

__ADS_1


"Yang penting, kita masih di beri kesempatan hidup. Sekarang kita harus memberi kan semangat pada Lembayung. "


"Iya Bang. " Ucap Sahara.


****


Sahara terbangun di malam hari, merasakan tenggorokan nya sangat haus. Hardi terlihat tertidur pulas bersama Lembayung satu tempat tidur. Karena Lembayung terus memanggil Ayah nya.


Saat sedang minum, Sahara melihat dari jendela yang sedikit terbuka, sebuah petir menyambar dengan kilat yang sangat terlihat jelas. Angin bertiup kencang, hingga melihat sebuah lingkaran hitam dari atas langit beserta petir dan kilat yang membuat malam terlihat terang.


"Apa itu, apakah akan ada badai besar? " Ucap Sahara sambil menatap nya.


Lingkaran besar itu semakin besar, dan angin pun semakin kencang. Sahara memegang jendela yang terasa getaran nya.


"Hah.. Abang. " Sahara kaget saat gorden kamar tiba - tiba ditutup oleh Hardi yang sudah berdiri di samping nya.


"Masih malam, kamu tidur lagi ya. " Ucap Hardi.


"Iya, tadi saya harus Bang. " Ucap Sahara lalu naik kembali ke atas tempat tidur.


*****


"Robby, kamu merasa ada yang aneh nggak sih? " Ucap Agnes.


"Ini kan skripsi nya Sahara, ada sama saya. " Jawab Agnes.


"Terus, aneh nya dimana? " Tanya Robby kembali.


"Waktu itu kan, skripsi dia ketinggalan di rumah saya, dan coba deh kamu baca sama buku biografi ini. " Jawab Agnes yang menunjukkan sebuah buku Biografi yang dirinya pinjam dari perpustakaan umum.


"Sudah lulus, masih senang baca beginian. "


"Yeee.. ilmu ini, ilmu walau nanti saya sudah jadi Ibu ilmu nya di wariskan ke anak. "


"Iya sayang, saya lihat ya. " Ucap Robby sambil membuka buku Biografi.


"Apanya sih yang beda, jelas judul nya mengangkat tema Kapten Hardi, terus? "


"Ada yang janggal, isi sama buku nya beda. Sahara kan ambil dari sini juga, dan di masukan kedalam daftar Pustaka. kalau melenceng bisa di tolak. "


Robby membandingkan semua isi nya dari milik Sahara dan dari penulis asli yang mengangkat kisah Kapten Hardi.


"Kapten Hardi, meninggal saat menyelamatkan nyawa orang banyak, kenapa. disini di buku menceritakan bahwa meninggal nya dia setelah 5 tahun kemerdekaan. Dan coba lihat, ini istri nya pun ada dalam buku, sedangkan disini di ceritakan tidak pernah ada yang tahu siapa istri Kapten Hardi, bahkan istri nya adalah seorang pengkhianat. Oleh karena itu sejarah tidak pernah mengangkat nama nya untuk di cerita kan, karena sang Kapten tidak pernah mengekspos atau orang lain tahu siapa istri nya. Hanya tahu seorang Dokter dan tidak menceritakan secara detail. "


"Tapi biografi itu benar loh, cerita nya nggak akan bohong. Penulis nya juga membuat ini tuh tidak sembarangan loh. "

__ADS_1


"Justru itu, seingat saya sih seperti di bahan skripsi Sahara. "


"Sahara yang salah, untung ini belum lolos kan masih tahap revisi. "Ucap Robby.


"Tapi benar akh, perasaan benar ini ada yang berubah. " Ucap Agnes.


****


"Kabar Sahara bagaimana Tante? " Tanya Bima dari seberang.


"Masih tetap seperti ini Bima. " Jawab Ibu Mike.


"Semoga Sahara cepat siuman ya Tante. "


"Bima, kamu menikah lah. Jangan menunggu Sahara sampai dia siuman. Sahara tidak tahu kapan siuman, jangan kamu kecewakan wanita yang pasti akan jadi istri kamu. "


"Tapi saya sudah janji Tante, janji itu harus di tepati. "


"Untuk ini, jangan kamu tepati. Kalau sampai Sahara tidak akan bangun, apa kamu akan terus menunggu. Jangan kamu siksa diri kamu, Sahara pun mungkin tidak akan peduli dengan apa yang kamu lakukan. Tante mohon pengertian nya, demi kamu bukan demi Tante atau Sahara. "


"Saya bukan orang yang ingkar janji Tante, saya bukan pria seperti itu. "


"Tante paham, tapi ingat, kamu ingat calon istri kamu. "


*****


"Nenek, makan dulu ya. " Ucap Intan sambil meletakkan mangkuk berisi bubur di atas nakas.


"Nek, kok Nenek khusu banget baca nya. " Ucap Intan menyentuh pundak Nenek Lembayung namun Nenek Lembayung langsung menjatuhkan tubuh nya ke samping.


"Nenek... Nenek...!!! " Ucap Intan sambil menggoyang kan tubuh Nenek Lembayung.


"Nenek....!!! "


Hiks... hiks... hiks...


"Inalilahi wainnailaihi rojiun. "


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2