Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Sejarah Berubah


__ADS_3

Lembayung, berjalan dengan rasa takut melewati orang - orang yang tidak di kenal nya. Rasa lapar pun melanda dirinya, setelah beberapa kilometer berjalan kaki.


Terlihat beberapa warga yang tengah membereskan rumah nya yang telah hancur, terlihat juga anak kecil seumuran nya tengah menangis. Bahkan masih ada mayat - mayat yang belum di makam kan.


"Ayah, Ibu Lembayung takut. " Ucap nya.


Saat sedang berjalan beberapa pasukan bangsa sendiri datang dengan sebagai relawan membantu mengangkat mayat dah membantu membereskan puing - puing reruntuhan yang hancur.


Lembayung berdiri sambil memperhatikan wajah - wajah yang mungkin lembayung kenal, namun Lembayung tidak mengenal satu orang pun.


Namun Lembayung melihat Lettu Halim sedang memerintahkan seseorang, dan Lembayung pun berjalan menuju ke arah nya.


"Paman..!! " Sapa Lembayung bahagia.


"Lembayung, kamu kenapa masih disini? " Tanya Lettu Halim sambil memeriksa tubuh anak Kapten Hardi.


"Paman."


"Mana Bi Irah dan Paman Idzam? "


"Mereka tertembak. "


"Inalilahi wainnailaihi rojiun, kenapa kamu tidak berlari ke Utara? "


"Lembayung ingin menunggu Ayah dan Ibu."


"Ikut Paman, akan mengantarkan kamu ke Utara. "


"Lembayung tunggu Ayah dan Ibu, Lembayung takut orang - orang akan kasar." Ucap Lembayung memohon.


"Tapi di Utara akan aman di sana. "


"Tidak, Lembayung tidak mau. Saya tidak mau berpisah dengan Ayah. "


"Ayah kamu, kami tidak tahu dimana. Ayah kamu dan Ibu kamu serta teman - teman nya sedang di kejar - kejar oleh Penjajah. "


"Hiks.. hiks.. hiks.. saya tidak mau Paman, di Utara yang datang hanya utusan Ayah suatu saat nanti. "


"Ayah kamu, hanya ingin melindungi kamu."


"Hiks.. hiks.. saya hanya ingin sama Ayah Ibu."


****


"Kapten." Panggil Ilham saat berjongkok di depan sebuah jenazah.


"Idzam." Ucap Hardi.


"Inalilahi wainnailaihi rojiun. " Ucap semua nya.


"Idzam tertembak, cepat kalian cari Lembayung dan Bi Irah. " Ucap Hardi.


"Abang, Lembayung Bang. " Ucap Sahara memeluk Hardi.


"Saya takut mereka berdua tertangkap."


"Senjata Idzam tidak ada, pasti mereka pergi."


"Kapten tidak ada tanda - tanda. " Ucap Aji.


"Jenazah Idzam sekitar sudah 2 hari. " Ucap Ilham.

__ADS_1


"Lebih baik kita makamkan Jenazah nya. " Ucap Sayuti.


***


"Satu persatu orang terdekat kita mati tertembak, satu persatu beberapa wilayah berhasil di rebut kembali, satu persatu orang yang paling saya sayangi akan pergi. " Ucap Hardi.


"Kita pasti bisa melewati ini semua Kapten." Ucap Sayuti.


Sahara duduk terdiam dengan kedua mata nya berkaca - kaca, dengan menundukkan kepala nya.


"Sayang." Ucap Hardi mendekat.


"Abang, kenapa ini semua belum berakhir. Apalagi nyawa Lembayung sangat terancam di luar sana. Saya pun sebagai seorang anak, terjebak di masa lalu. Mami pasti mengira saya sudah meninggal, pasti Mami sedih seperti Kapten berpisah dengan putri satu - satu nya. "


"Apa kamu ingin kembali? "


Melihat seperti ini saya rindu Mami, rindu dunia saya. "


"Kalau kamu kembali, Kinanti akan kembali."


"Apa Abang tidak merindukan Kinanti? Dia itu cinta sejati Abang. "


"Datang nya kamu, hati saya telah mati untuk Kinanti. "


"Bagaimana bisa, Abang mencintai saya karena sosok Kinanti. "


"Biarlah kamu menjadi Kinanti, Abang suka Kinanti yang sekarang. "


"Seandainya, saya kembali sekarang? "


"Sejarah tidak berubah. "


"Sejarah, tidak akan pernah berubah. " Ucap Sahara.


*****


"Anak Kapten Hardi ternyata tidak melanjutkan untuk ke utara seperti apa yang di minta Ayah nya, dia malah memilih kembali. " Ucap Halim.


"Dia anak kecil, yang ingin bersama kedua orang tua nya. Yang jelas saat ini rasa trauma yang di rasakan Lembayung. " Ucap Pak Sastrowardoyo.


"Apa sudah ada kabar, dimana Kapten Hardi?"


"Belum ada Pak, mungkin saat ini dia sedang kejar - kejaran dengan pasukan Jenderal Federick atau Jenderal Smith. "


*****


Hardi melihat isi dalam tas Sahara, tanpa sepengetahuan Sahara, Hardi membuka buku tentang Biografi nya. Namun Hardi merasakan sangat aneh, buku yang pernah dirinya baca berubah total, bahkan apa. yang terjadi pada Idzam pun di jelaskan, lembaran berikut nya pun di jelaskan bahwa Bi Irah meninggal dunia.


"Kenapa, buku ini berubah? Saat waktu di baca itu tidak seperti ini. " Ucap Hardi membaca kembali.


Hardi membolak balikan kembali, dan saat membaca nama Kinanti berubah menjadi Sahara, cinta sejati Kapten Hardi.


"Maksud apa ini? Sejarah sudah mulai berubah? "


Hardi berjalan ke arah Sahara yang sedang duduk di depan api unggun bersama Ilham, Aji dan Sayuti.


"Kinanti Abang mau bicara? " Ucap Hardi.


"Kapten, panggil siapa? " Tanya Ilham.


"Kinanti, istri saya. " Jawab Hardi.

__ADS_1


Semua orang saling memandang, bahkan Sahara pun menatap ke arah Hardi.


"Abang, Kinanti siapa? Abang punya istri lagi?" Ucap Sahara dengan cemberut.


"Hardi, istri kamu itu Sahara, Kinanti itu tidak ada. " Ucap Sayuti.


"Sahara istri kamu itu Dokter, Kinanti siapa sih. " Ucap Sayuti kembali.


"Sejarah sudah mulai berubah? " Ucap Hardi dalam hati.


"Saya yang merubah sejarah, saya yang menahan Sahara bukan dirinya, Kinanti telah mati. "


*****


Hardi merasakan frustasi dan terus membaca buku biografi yang berubah semua, namun gambar sebuah makam tidak berubah tetap nama dirinya.


"Biografi pun telah berubah, berarti sejarah pun berubah. " Ucap Hardi.


"Abang kenapa sih, dari tadi pegang buku itu?" Tanya Sahara, dan Hardi langsung memasukkan buku itu di dalam jaket nya.


"Nggak apa - apa. "


"Itu buku apaan? " Tanya Sahara.


"Hah.. dia sendiri bahkan lupa? " Ucap Hardi dalam hati nya.


"Bukan buku apa - apa. "


"Bang, Kinanti itu siapa? "


"Kamu masih penasaran? "


"Siapa? "


"Anak...Jenderal Smith. "


"Jenderal Smith punya anak? "


"Jelas, Kinanti benar - benar telah mati. "


"Sudahlah jangan di bahas, kita tidur besok melanjutkan perjalanan lagi . "


*****


1 Tahun di masa depan


" Pasien di kamar 202 melati telah lama koma, 1 tahun tidak ada perubahan. Namun tanda - tanda vital nya menunjukkan sangat bagus, ini langka terjadi. " Ucap Dokter yang menangani Sahara.


"Dokter, apakah kita bisa mencabut alat pada tubuh nya? " Ucap salah satu perawat.


"Cabut saja, hanya selang infus yang harus terus tertancap karena hanya dari sana kita bisa memberikan obat. "


"Baik Dokter. "


Ibu Mike menyisir rambut Sahara, bahkan mempoles bedak pada wajah putri nya agar tidak terlihat semakin pucat, wajah cantik putri nya masih terpancar walau tanpa polesan make up pun.


"Cantik nya Mami, sudah 1 tahun kamu berbaring, apa tidak ingin bangun. Kamu lihat, satu tahun Bima tidak bosan selalu menengok kamu, melihat perkembangan kamu. Bahkan bunga di vas itu dari Bima. Kenapa kamu menolak Bima, padahal Bima sangat mencintai kamu. Keadaan kamu seperti ini saja , Bima masih tetap melihat kamu. Makan nya Mami mendadani kamu supaya tetap terlihat cantik di mata Bima."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2