
"Angga serius nama saya masuk daftar untuk di kirim ke sana? " Tanya Bima.
"Ini, nama saya nggak ada yang ada nama kamu. " Jawab Angga.
"Disana untuk membantu Tentara di daerah konflik karena semakin mencekam setiap hari banyak berjatuhan korban. " Ucap Angga kembali.
"Masalah nya, Sahara sedang hamil muda, dia sudah saya tinggal. " Ucap Bima.
"Kasih pengertian sama dia, dulu waktu masih pacaran bagaimana Sita menangisi saya setiap hari di kirim di daerah rawan konflik. Setiap hari lihat berita meminta saya untuk pulang tapi kita ini sedang tugas hidup mati sudah ada yang atur. " Ucap Angga.
"Saya akan kasih tahu Sahara, semoga dia bisa mengerti. " Ucap Bima.
****
"Jadi Abang akan berangkat? " Ucap Sahara sedih.
"Iya."
"Berapa lama? "
"Abang tidak tahu. "
"Apakah kita bisa komunikasi setiap hari? "
"Bisa sayang, bisa kita bisa komunikasi tapi kalau sinyalnya bagus. "
"Nah kan, tuh nggak bisa. " Sahara langsung terisak dan Bima langsung memeluk tubuh Sahara.
"Jangan sedih dong, Abang juga kan demi negara panggilan Negara, istri Tentara harus siap nggak boleh cengeng. "
Hiks.. hiks.. hiks..
"Tapi Bang, ini baru loh di tinggal sama Abang sendiri an di daerah orang lagi. Sahara kan sedih Bang hiks.. hiks.. hiks.. "
"Udah dong, jangan nangis terus. Kalau begini Abang sedih. "Ucap Bima mengusap air mata Sahara.
" Abang kapan berangkat nya? "
"Besok Pagi? "
Huuuuaaaaaaaaa
*****
"Hiks... hiks.. hiks... " Sahara terus terisak sambil memasukan pakaian milik Bima kedalam tas ransel nya.
Bima, melihat nya semakin tidak tega. Dari siang hingga malam Sahara terus menangis hingga kedua matanya bengkak.
"Yank, sudah dong. " Bima memeluk tubuh Sahara dari belakang.
"Nanti hiks.. hiks.. kalau ingin minta sesuatu harus sendiri, hiks.. hiks.. masak sendiri, nyuci sendiri hiks.. hiks... kalau mau di manja hiks.. hiks... sama siapa? " Ucap Sahara sambil sesenggukan.
"Bisa lewat telepon sayang, Abang bisa pesan kan dari sana tinggal terima."
"Tapi kan hiks. hiks.. hiks.. tidur biasanya di peluk nggak sekarang. "
"Manja banget, orang waktu belum nikah nggak pernah di peluk Mami. " Ucap Bima sambil mencubit hidung Sahara.
Hiks.. hiks..
"Abang...!!! " Sahara memeluk erat Bima dengan menangis yang kencang hingga membuat Bima bingung.
"Kamu nggak seperti Intan, dia jauh sama suami sampai sekarang. Kamu harus belajar seperti dia. "
__ADS_1
"Beda Abang, saya itu bukan Intan."
*****
"Jadi nggak berangkat? " Ucap Angga.
"Berangkat lah, masa tidak. Nanti juga lama - lama terbiasa. " Ucap Bima.
"Tenang saja, ada Sita yang akan menemani nya. Dia kan setiap hari sama Sita. "
"Saya titip istri saya, kalau ada apa - apa kabari saya. "
"Siap, Sahara aman sama kami. "
"Makasih."
*****
"Abang berangkat dulu ya, jangan sedih. " Ucap Bima sambil menangkup wajah Sahara dengan kedua tangan nya.
"Abang kasih kabar, kalau sudah sampai sana." Ucap Sahara yang sudah tidak menangis lagi.
"Abang akan kabari kamu, sayang jangan rewel ya.. Papah berangkat bertugas dulu." Bima mengusap dan mencium perut Bima.
"Abang berangkat. " Bima mengecup kening lalu turun ke leher.
Sahara menatap punggung suami nya yang berjalan menuju truk reo yang akan membawa nya. Seolah sudah kering air mata hanya bisa menatap sedih kepergian nya.
****
"Hey... lihat ada barang bagus. " Ucap Sita yang sedang main ke rumah Dinas Bima.
"Mau beli nggak? " Tanya Sita.
"Nggak, saya lagi kangen suami. " Jawab Sahara.
"Kenapa, Abang nggak bawa saya aja ya. Nanti kan sampai sana saya bisa di tinggal di kontrakan."
"Aduh, Sahara suami kamu itu bukan mau jalan - jalan dia itu sebagai Tentara bantuan di salah satu kota yang sedang ada konflik. Terus kalau bawa kamu ribet, suami mau perang istri nya manggil - manggil, suami dapat panggilan darurat istri nya lagi pengen di manja. Kamu sih suka ngaco. "
"Apa saya susul saja ya kesana, saya mau cari tahu alamat nya. "
"Aduh, kamu benar - benar kelewat batas deh. Kalau begini Om Bima bisa kena sanksi."
"Tapi kan nggak jelas berapa lama dia disana." Ucap Sahara galau.
"Tapi kan kamu itu harus terima jadi istri Tentara. Kalau nggak mau kenapa nikah sama Tentara. "
"Saya kangen tahu, ini anak nya minta ketemu sama Papah nya. "
"Bukan anak nya, tapi mamah nya. "Ucap Sita gemas.
****
" Abang... kok belum kasih kabar sih, sudah mau tengah malam belum ada chat atau telepon. Di hubungi juga susah banget, jadi khawatir saya. " Sahara bolak balik di dalam kamar nya sambil memegang ponselnya.
Tok... Tok...
Sahara pun langsung bergegas keluar dari kamar nya dan membukakan pintu .
Ceklek
"Om Angga, ada apa ya Om? " Tanya Sahara.
__ADS_1
"Ini buat kamu, tadi sekalian beli makan ingat kamu. Bima pesan, kalau sedang keluar belikan makanan. " Jawab Angga.
"Bang Bima kenapa nggak telepon saya? "
"Bima belum kasih kabar, semua nya belum sampai masih di perjalanan. Tadi ada di group ini suami kamu sama teman - teman nya. " Angga menunjukkan photo suami nya bersama Anggota lain nya di atas kapal feri.
"Abang... ah... jadi kangen. " Ucap Sahara.
"Kamu berdoa saja, semoga pulang seperti berangkat. "
***
Sahara tidak bisa tidur, mengingat suami nya yang belum juga kasih kabar, walau Angga menunjukkan photo suami nya rasa nya masih kurang puas.
"Abang, kamu kedinginan nggak di sana? Kalau malam begini, Abang suka memeluk saya katanya dingin. " Ucap Sahara mengingat.
"Baru beberapa jam saja sudah kangen."
****
"Cuaca buruk, sebaiknya berjaga - jaga. " Ucap salah satu Anggota.
Bima melihat langit yang semakin gelap dan angin laut yang semakin kencang, Kapal pun bergoyang dengan gelombang laut yang membuat seisi kapal merasakan guncangan.
*****
"Sita, ada kabar tentang Bang Bima? " Tanya Sahara.
"Belum, nanti juga kalau ada kabar Bang Angga kasih tahu saya atau langsung sama kamu. " Jawab Sita.
"Kalau belum ada kabar begini kepikiran terus."
"Iya, apalagi cuaca nya begini. " Ucap Sita.
"Ah... kamu mah buat saya kepikiran terus." Ucap Sahara.
"Kamu harus yakin pasti baik - baik saja."
*****
"Om Angga, ada kabar? " Tanya Sahara.
"Belum Sahara, kalau sudah di darat pasti mereka kasih kabar. " Jawab Angga.
"Sudah 3 hari Om, saya nggak bisa tidur. "
"Nanti saya kabari kamu. " Ucap Angga.
"Saya tunggu ya kabar nya. "
.
.
.
Rindu itu rasanya berat, seperti mengangkat sebuah besi besar. Tak kuat menahan beban rindu, seperti tak kuat menahan beban berat besi yang di angkat. Rindu yang menyiksa, tidak siang tidak malam tidak pagi tapi setiap waktu. Rindu sangat menyiksa..!!
.
.
.
__ADS_1
.
.