Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Rindu Terobati


__ADS_3

"Susah juga jaringan disini. " Ucap Bima sambil mengangkat ponsel nya mencari sinyal.


Sudah 1 minggu, Bima sampai namun sinyal yang di dapat sangat sulit, dan harus naik bukit dengan berjalan atau mengendarai sepeda motor trail sekitar 3 jam. Bima sangat frustasi , karena tidak bisa meninggalkan tempat karena kericuhan hampir setiap hari.


"Bang, saya sih kalau sudah aman mau naik bukit cari sinyal, ini istri saya pasti nunggu - nunggu saya kasih kabar. " Ucap Bima.


"Sabar lah, semoga saja konflik ini segera selesai. " Ucap Prakasa.


"Iya Bang, masalah nya itu istri saya mau di tinggal saja nangis terus hingga bengkak mata nya. "


"Padahal tadi nya LDR an ya? "


"Iya Bang, mungkin beda kali ya sekarang kan saya tinggalkan dia jauh dari keluarga."


"Kan ada istri nya Angga. "


"Saya lega nya disitu, kalau nggak ada teman nya saya khawatir. "


"Kamu coba saja kirim pesan, entah kapan masuk nya yang penting sudah chat dan nanti terkirim sendiri. "


"Betul juga kata Abang. " Ucap Bima langsung mengetik pesan.


*****


"Kenapa suami saya belum kasih kabar ya? " Tanya Sahara.


"Sinyal mungkin karena disana susah sinyal." Jawab Angga.


"Apa di pedalaman? "


"Nggak juga sih, hanya memang saluran telepon disana susah. "


"Tapi mereka baik - baik saja kan? "


"Baik, mereka baik - baik saja. "


"Kalau ada berita langsung kasih tahu Om."


"Pasti, saya akan kasih tahu. "


Sahara pun kembali ke rumah nya dengan membawa sejuta kerinduan pada suami nya yang belum bisa menghubungi nya.


"Bang, kasihan ya Sahara. " Ucap Sita sambil mengusap perut nya.


"Kamu juga pasti sama seperti Sahara, kalau Abang yang berangkat. Ingat nggak waktu masih pacaran, nangis terus setiap telepon."


"Heeeee.. iya Bang. "


*****


"Sabar, kamu berdoa kalau suami kamu di sana baik - baik saja. "


"Selalu Mami, selalu berdoa. Malah setiap malam."Ucap Sahara sambil teleponan dengan Mami nya.


"Nanti juga pasti ada kabar. "


"Iya Mami. "


Setelah menerima telepon dari Mami nya bunyi masuk pesan di ponsel Sahara, mata Sahara terbelalak kaget melihat pesan dari Bima.


"Ah... Abang....!!! "


My Lovely


Sayang, maaf ya baru kasih kabar. Sinyal disini susah, kalau mau lancar harus naik bukit. Abang kirim pesan saja sekarang, entah mau masuk nya kapan, yang jelas Abang baik - baik saja. Abang kangen kamu sayang.. kalau balas pesan Abang tidak masjid, berati hubungan kita terhalang restu sinyal.


"Alhamdulillah ya Allah, makasih. Nggak apa - apa Bang, begini saja hati sudah lega sudah bisa tidur nyenyak. "


Sedangkan di tempat lain, Bima melihat status pesan nya terkirim dan merasakan sangat lega bisa sedikit berkomunikasi dengan istri tercinta nya.


*****


"Sahara...!! " Panggil Sita.


"Hey.. ini lagi masak, g pengen makan semur jengkol. " Ucap Sahara sambil menuangkan semur jengkol pada mangkok.

__ADS_1


"Wuih, enak nih boleh dong. " Ucap Sita langsung mengambil sendok.


"Ambil saja, kalau mau bawa buat suami kamu. "


"Boleh? "


"Boleh lah, bawa saja. "


"Asik, makasih say. "


"Sama - sama, tapi temani saya makan dulu enak aja udah dapat langsung pulang."


"Heeee.. ok siap. "


"Kalau masalah rasa di jamin nggak akan kalah sama masakan nya Lastri. "


"Hahahaha benar - benar, tapi nanti kalau suami saya ketagihan bagaimana? "


"Ya tinggal bayar aja, gampang kan. "


"Bener tuh, tapi enak saja ketagihan masakan kamu. Nanti suami saya sering kesini lagi."


"Hahahaha.. bisa aja, nanti bisa - bisa itu mulut Ibu Hasti sama Ibu Neni meledak - ledak lagi kayak mercon. " Ucap Sahara hingga tertawa terbahak - bahak bersama Sita.


"Eh.. Bu Hasti, itu si Nyonya besar lagi happy sama Nyonya besar satu nya lagi. " Ucap Ibu Neni.


"Biarin aja, lagi seneng. Yuk akh.. jalan lagi ngapain dengerin mereka bikin telinga kita kena conge nanti. " Ucap Ibu Hasti langsung menarik tangan Ibu Neni.


*****


3 Bulan Kemudian


Sahara tertidur di sofa panjang, dengan sangat nyenyak. Dengan perlahan Bima meletakkan tas nya dan duduk di depan Sahara sambil memandang wajah nya.


Bima tersenyum menatap wajah istri nya yang sangat dirindukan. Sahara menggeliat dan membuka mata nya, dengan mengucak kedua mata nya melihat seseorang yang kini dekat dengan wajahnya.


"Bang Bima. " Ucap Sahara dengan suara khas orang bangun tidur.


"Iya, ini suami kamu. "


"Abang kangen. " Ucap Sahara.


"Sama sayang, Abang juga kangen. " Ucap Bima.


"Abang datang dari tadi? "


"Iya, Abang datang dari tadi. Kamu tidur nyenyak banget. "


"Kenapa nggak bangunin? "


"Kasihan, lelap banget. "


"Abang kok kurus, tambah item"


"Jelek ya? "


"Nggak juga sih, masih lumayan terisa kegantengan nya. "


"Kamu bisa aja, dah ah.. Abang mau mandi, capek mau istirahat. "


"Saya buatkan makan siang dulu ya Bang."


"Nggak usah, nanti Abang yang masak. "


"Abang kan capek? "


"Ssttt jangan bantah. "


****


"Kangen ya? " Bima memeluk tubuh polos Sahara sambil mengusap perut nya yang sudah tampak buncit.


"Kangen lah Bang, 3 bulan Abang pergi." Ucap Sahara .


"Abang juga kangen sayang, setiap hari mikirin kamu terus."

__ADS_1


"Bagaimana rasanya nggak ada kabar, benar - benar nggak enak banget. Rasa nya itu nano - nano sampai nggak bisa tidur. "


"Tapi senang kan, walau bisa komunikasi beberapa kali? "


"Senang lah, mengobati rasa rindu. Tapi besok nya lagi kangen lagi. "


"Insya Allah, sampai lahiran Abang ada disini."


"Janji ya Bang. "


"Insya Allah Abang nggak mau janji."


*****


"Yank, tadi uang nya sudah Abang transfer. Nanti tinggal bilang saja kalau masih kurang."


"Cukup kok, makasih. " Ucap Sahara mencium bibir Bima.


"Ih... sok - sok an romantis. "


Sahara dan Bima menoleh ke arah keluar, terlihat Ibu Hasti sedang berdiri di depan rumah Dinas Bima lalu melanjutkan langkah nya kembali.


"Hey... Bu, Pak Husen nggak romantis lagi ya? Pantas kemarin berduaan dengan Lastri di pasar malam." Teriak Sahara.


Ibu Hasti tetap terus berjalan tanpa membalas nya hingga Sahara menatap sampai masuk kedalam rumah nya.


"Kamu itu, selalu saja ngajak ribut." Ucap Bima.


"Biar Bang, biar kapok."


"Dia mah nggak bakalan kapok, sudah watak."


"Dah ah.. malas ngomongin dia, nggak penting. " Ucap Sahara masuk dan menutup pintu.


"Loh, kok di tutup ? Abang mau pergi."


"Sebentar lagi Ibu Neni yang lewat, mau istri nya teriak kayak tadi? "


"Haduh.. Ibu - Ibu. "


*****


"Wah.. masak apa Bang? "


"Sayur bening. "


"Isi Apa Bang? "


"Labu putih sama wortel. "


"Enak pasti? "


"Pasti lah, enak lama kan nggak makan masakan Abang? "


"Lama Banget Bang, yang kangen itu momen begini. "


"Abang udah satu minggu pulang kok, kayak ada yang lupa ya? "


"Apa Bang? "


"Kamu nggak ingat gitu? "


"Apaan sih? "


"Suami kamu kemarin ulang tahun. "


"Astagfirullah, maaf Abang lupa. "


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2