
"Bang, kok beli mesin cuci, beli kulkas? " Tanya Sahara saat melihat beberapa orang sedang menurunkan nya.
"Iya sayang, biar kamu nggak capek nyuci nya." Jawab Bima.
"Katanya kita harus hidup sederhana. "
"Abang nggak mau kamu capek nyuci, terus belanja setiap hari gosip pagi - pagi, ini buat stok sayuran dan daging ikan. "
"Makasih ya Mas. " Ucap Sahara.
"Iya sayang, sama - sama. "Ucap Bima mencolek dagu Sahara.
" Pak sudah semua. " Ucap seorang kurir barang.
"Makasih ya Mas, ini tips buat Mas sama teman nya. " Bima memberikan uang lembaran warna biru dua lembar.
"Makasih banyak Pak. "
Sahara melihat kulkas dan mesin cuci nya, senyum mengembang di wajah Sahara terpancar. Bima pun mengambil sesuatu dan memberikan pada Sahara.
"Nih.. pesanan nyonya Bima. " Ucap Bima sambil menyerah kan sebuah Microwave yang masih dalam dus.
"Sayang, ih.. Microwave makasih. "
"Sama - sama, Abang sengaja selama ini menguji kamu dulu. Yang biasa hidup mewah sekarang hidup sederhana, bukan nya suami kamu nggak punya uang atau pelit tapi Abang ingin melatih kamu dulu."
"Jahat."Ucap Sahara dengan membuka kardus.
" Maaf ya. "
"Berarti, kalau minta beli baju sama tas baru boleh dong. "
"Boleh banget, tapi pijat plus - plus dulu ya."
"Hayu... lah... gaspol...!! " Sahara langsung menarik tangan Bima masuk kedalam kamar.
****
"Sita, bagus ini. " Tunjuk Sahara saat sedang melihat barang online yang akan di beli mereka.
"Mba Sahara yang ini juga cocok ya. " Ucap Sita pada Sahara.
"Iya benar, bagus ini juga sama kan? " Ucap Sahara.
__ADS_1
"Iya bagus, kita pesan aja. "
Sahara dan Sita saat sedang perkumpulan Ibu - Ibu persit acara arisan telah selesai semua nya bersantai sambil mengobrol.
Sahara dan Sita mendengar Ibu Hasti dan Ibu Neni bergunjing tepat di belakang mereka, Sahara yang sudah mulia panas di tahan oleh Sita agar untuk tetap diam.
"Masih muda, enak saja hidup nya mewah, nggak mikirin masa depan. Mentang - mentang belum punya anak, belanja sana belanja sini nggak tahu huntang suami numpuk surat berharga di gadai di Bank. " Ucap Ibu Hasti.
"Saya kasihan saja, dua istri Tentara yang baru nikah ini, maklum belum pernah makan pahit nya rumah tangga. Sekarang dompet suami mereka lagi tebal, lihat saja nanti kalau dompet suami nya sudah tipis perhiasan yang di pakai nya bakalan di jual. "Ucap Ibu Neni.
Braaaakkkk
Sebuah tas melayang ke arah mereka berdua hingga membuat perhatian semua nya. Sahara berkacak pinggang di hadapan mereka berdua.
" Kalian itu bisa nggak sih, hidup nggak nyinyirin orang, bisa nggak sih urusin hidup sendiri nggak mengurusi hidup orang lain. Kita mau begini begitu, pakai uang suami kita bukan pakai uang suami Ibu berdua. Kalian kalau iri, minta sama suami. Atau jangan - jangan yang di gadai di Bank itu kalian berdua? Kasihan banget. " Ucap Sahara.
"Sahara, sudah nanti suami kita kena teguran." Bisik Sita.
"Ini nggak bisa di biarkan, mulut mereka harus di lakban. " Ucap Sahara emosi.
Sedangkan Ibu Hasti dan Ibu Neni hanya diam , lalu suami mereka pun datang atas laporan orang yang melihat nya.
"Ada apa ini? " Tanya Pak Husen suami Ibu Neni.
"Benar Pak, kita malah di lempar pakai tas." Ucap Ibu Hasti .
"Ini cerita nya gimana? Untung nggak dilihat sama Ibu Wega. Memalukan. " Ucap Pak Karya.
"Jelas nggak ada Ibu Wega, mereka berani. Dan satu harus di ingat sama Pak Husen dan Pak Karya itu mulut mereka harus di sekolah kan. " Ucap Sahara dengan nada tinggi.
"Disekolah bagaimana? Kalau istri nya begini pasti sama kamu ada yang salah. " Ucap Pak Karya.
"Hah... ada yang salah, nggak menyangka suami nya begini juga. " Ucap Sahara.
"Pulang." Ucap Bima langsung menarik tangan Sahara.
Sita pun di tarik tangan nya oleh suami nya Angga untuk segera meninggalkan tempat, berbeda dengan Sahara Sita langsung pergi mengikuti langkah suami nya.
"Pulang." Ucap Bima pelan.
"Bang, dia itu menjelekkan saya sama Sita. Apa Abang terima istri nya di perlakuan seperti ini. " Bentak Sahara.
"Abang bilang pulang....!!! " Bentak Bima dan membuat kedua Mata Sahara berkaca - kaca dan langsung berjalan meninggal ruangan tersebut.
__ADS_1
"Saya ingat kan pada Bu Hasti dan Bu Neni, untuk bisa menjaga lisan. Dan Saya minta tolong sama Pak Husen dan Pak Karya untuk mendidik istri Bapak. Saya juga ada batas nya kalau istri saya terus jadi bahan pembicaraan yang jelek. "
"Saya mohon maaf, tapi saya juga tidak terima kalau istri saya di perlakukan kasar." Ucap Pak Karya.
"Baik, semua ada saksi nya. Pasti mereka lihat siapa yang salah. " Ucap Bima langsung pergi meninggalkan mereka.
***
"Abang sudah bilang, jangan buat masalah. Sudah tahu suami nya juga sama - sama gila, Abang tahu watak mereka. " Ucap Bima.
"Tapi Bang, mereka itu terus saja membuat saya emosi. Saya sama Sita nggak pernah berbuat masalah sama mereka, eh.. mereka buat gara - gara. " Ucap Sahara.
"Begitu lah, istri kurang di didik makan nya Abang mendidik kamu dulu di awal jangan sampai seperti istri nya Pak Karya dan Pak Husen. Dulu juga pernah kejadian begitu, hingga istri nya di pulangkan ke kampung halaman. "
"Kenapa mereka nggak di mutasi ke daerah pedalaman gitu Bang, yang rawan konflik biar di tembak mati langsung sama gerombolan."
"Hus.. kalau ngomong, nanti juga ada saat nya. "
"Habis buat kesel. "
"Semua nya juga sudah pada tahu,lagi - lagi diam kan saja jangan kepancing emosi biar mereka juga capek. Karena kebanyakan pada membalas seperti kamu, dan kamu nggak lihat Sita dia memilih diam karena dulu seperti kamu pas diam mereka capek sendiri cari mangsa. "
"Aneh, istri nya kok begitu memalukan."
"Namanya juga manusia. "
*****
"Mami apa kabar? " Tanya Sahara saat sedang menelepon.
"Alhamdulillah sayang, mami sehat. Gimana kamu sudah ada tanda - tanda hamil belum?" Jawab Ibu Mike dari seberang.
"Belum Mami, do'ain ya Mami biar cepat ada si dede bayi di dalam perut Sahara. "
"Mami selalu mendoakan kamu sayang."
"Mami jaga kesehatan ya, jauh dari Sahara nggak bisa setiap hari ada sama Mami seperti dulu. Kalau Mami sakit, Sahara sedih."
"Mami insya Allah selalu jaga kesehatan sayang, kabar suami kamu gimana? "
"Alhamdulillah sehat, sekarang tambah gemuk Mam, kayak bapak - bapak banget. "
"Itu berarti bahagia, kamu berhasil merawat suami. "
__ADS_1
"Mungkin Mam, Bang Bima bahagia terus sama istri nya yang begini. "