
Fayza terbangun dengan kondisi kepala masih pusing dan merasa bahwa sepasang tangan kekar memeluknya hangat. Wajahnya mendongak dan melihat Hideo menatapnya dengan intens.
"Masih sakit?" tanya Hideo lembut. "Apa yang kamu rasakan?"
Fayza melihat bagaimana kemeja suaminya tampak kusut dan tampak suaminya seperti tidak tidur semalaman.
"Sedikit pusing" ucap Fayza pelan. "Berapa lama...aku tertidur?"
"Semalaman."
"Dan selama...itu... kamu memeluk aku?"
Hideo tidak menjawab dan hanya mencium kening Fayza. "Iya." Dan aku mendengar igauanmu. "Apakah kamu mengingat sesuatu?" tanya Hideo dengan jantung berdebar.
Fayza tampak berpikir dan menggelengkan kepalanya. "Masih sama. Blank."
Diam - diam Hideo menghembuskan nafas lega. "Kamu mau makan? Atau mau apa?"
"Aku hanya ingin bangun dan mandi." Fayza memandangi wajah lelah Hideo. "Terimakasih sudah menjagaku."
"Aku akan selalu menjagamu apapun yang akan terjadi, Fay. Ingat itu Fay. Kamu adalah milikku."
Fayza menatap wajah suaminya dengan tatapan bingung. "Ada apa Hideo?"
"Aku tidak mau kehilangan kamu" bisik Hideo yang membuat hati Fayza menghangat.
"Aku mandi dulu." Fayza melirik ke arah jam digital di nakas yang menunjukkan pukul lima pagi. Badannya terasa kaku dan lengket semua jadi Fayza ingin berendam dengan air panas.
***
Hideo menatap kepergian istrinya ke kamar mandi tanpa ada niatan menyusulny. Semalam saat dirinya menjaga Fayza, istrinya mengigau cukup sering.
*Mama...papa...Fay kangen...
Mbak Freya...mas Haris...
Pram...aku kangen* ...
Hideo merasa geram mendengar ucapan Fayza yang masih memanggil kekasihnya yang sudah meninggal. Aku cemburu mendengar ucapan kangen kamu ke pria itu.
Hideo pun bangun dari tempat tidur dan merapikan dirinya lalu keluar kamar Fayza. Sudah ada kegiatan di rumahnya karena para pelayan sudah pada bangun untuk memulai rutinitas.
Fumiko sendiri sudah bangun dan sedang menikmati teh panas di ruang tengah. Melihat putranya turun dengan baju kusut dan mata panda, Fumiko yakin putranya tidak tidur semalaman.
"Kamu nggak tidur semalaman?" tanya Fumiko saat Hideo duduk di dekatnya.
"Tidak, Okaasan."
"Hideo, sebelum terjadi hal-hal yang tidak baik, ada baiknya kamu mengundurkan niat kamu mengambil tanah Itaewon."
Hideo mengeraskan rahangnya. "No, mom. Tanah itu akan aku ambil!"
Fumiko hanya terdiam melihat betapa keras kepalanya Hideo. "Memang mau dibuat apa tanah Itaewon itu, son?"
"Pengembangan bisnis aku, Okaasan. Aku bisa mendapatkan banyak keuntungan disana."
Fumiko tidak berkomentar lagi karena semakin dia meributkan maka akan semakin tinggi ngeyelnya Hideo.
__ADS_1
***
Fayza sedang mengeringkan rambut pirangnya ketika Hideo masuk ke dalam kamar dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Tanpa berkata apapun, Hideo memeluk dirinya dari belakang sembari menciumi harum sabun mandi yang dipakainya.
"Jangan mencoba mengingat-ingat lagi ya Fay. Aku tidak bisa melihat kamu kesakitan seperti itu" bisik Hideo.
"Aku juga tidak tahu kenapa...bisa begitu. Tiba-tiba saja aku seperti...merasa pernah melihat keributan antara kamu dan Okaasan tapi bukan kalian. Dimana...aku...tidak bisa ingat. Siapa saja... aku pun tak tahu" ucap Fayza pelan.
Hideo semakin mengetatkan pelukannya. "Jangan membuat aku ketakutan seperti kemarin."
"Kenapa kamu ketakutan begitu?" tanya Fayza yang melihat ekspresi Hideo dari cermin di hadapannya.
"Aku tidak mau kehilangan kamu."
Fayza bingung dengan sikap suaminya.
***
Fumiko pulang ke Jepang hari ini dan sekali lagi dia berpesan kepada putra semata wayangnya.
"Ingat pesan Okaasan, Hideo. Jangan memancing macan tidur!"
Hideo hanya menatap datar ke ibunya. "Tenang saja Okaasan. Aku tidak takut menghadapi mereka."
Fumiko menghembuskan nafas panjang. "Terserah padamu, Hideo."
Fumiko pun berjalan ke arah Fayza yang sepertinya memberikan kesempatan kepada ibu dan anak berbicara berdua.
"Terimakasih mau menerima anak mama meskipun dengan cara tidak biasa. Apakah kamu sudah mulai mencintai anak mama?"
Fumiko memang membahasakan dirinya 'mama' ke Fayza agar berbeda dengan Hideo. Wajah ayu Fumiko tampak lega ketika Fayza berkata seperti itu. Sama halnya dengan Hideo yang tidak mau melepaskan Fayza, Fumiko sendiri menyukai menantunya.
"Maaf mama, jika pada saat mama disini, aku malah sakit" ucap Fayza dengan nada bersalah.
"Tidak apa-apa sayang. Mama tahu kondisi kamu jadi bisa memaklumi." Fumiko memeluk Fayza erat. "Segera sembuh dan semoga kamu bisa mengingat lagi semuanya."
"Iya mama. Terima kasih." Fayza pun membalas pelukan Fumiko yang terasa sangat hangat.
Setelahnya Fumiko pun naik helikopter untuk terbang ke Seoul untuk menuju bandara Incheon.
***
"Tuan Luca Bianchi menolak tawaran anda, boss. Lagi." Jin melaporkan kepada Hideo setelah makan malam. Fayza mengatakan ingin beristirahat sambil melanjutkan novelnya dan meminta Hideo bekerja saja di ruang kerjanya.
Hideo menatap Jin dengan wajah menahan kesal.
"Buat janji dengan Luca. Bilang aku akan menemuinya di Tokyo!"
"Baik boss."
***
Fabio mendatangi Luca yang sedang bermain dengan putranya Luke di ruang bermain anak-anak. Duo L sekarang berusia empat tahun dan menjadi kebanggaan keluarga Al Jordan dan Bianchi.
Apalagi Joey Bianchi, sepupu Luca, tinggal di New York bersama istrinya Georgina dan putri mereka Blaze, membuat Miki Al Jordan Akandra lebih dekat dengan cicitnya yang tinggal bersamanya.
Selain Luca dan Luke di dalam ruang bermain, Mario dan Marco pun ada disana.
__ADS_1
"Ada apa Fabio? Malam-malam masuk ke rumah utama?" tanya Marco melihat asisten Luca itu datang dengan wajah tegang.
"Maaf Signore Marco tapi saya baru saja mendapatkan kabar dari Jin Kawashima yang menginginkan pertemuan antara Signore Luca dengan Hideo Kojima Park besok siang."
Luca hanya tersenyum smirk. "Masih ngeyel saja itu mafia Silver Shinning. Bilang saja besok kita makan siang di RR's Meal Ginza."
"Masalah tanah Itaewon?" tanya Mario.
"Iya Oom Mario tapi memang tanah itu sangat-sangat strategis dan value-nya bagus banget."
"Luc, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Marco.
"Tetap tidak akan menyerahkan kepada Silver Shinning ditambah si pemilik lahan lebih memilih menjualnya kepada kita jadi mau dia menaikkan dengan tambahan 50% dari yang kita keluarkan, tetap tidak akan aku lepas karena memang cocok untuk kita bangun apartemen menengah keatas disana. Aku dan Joey sudah memperhitungkan breakpoint jika banyak para idola Korea tinggal disana dengan jaminan keamanan tingkat tinggi jadi para Sasaeng tidak bisa mendekati idol mereka."
"Jika memang begitu, pertahankan Luc" ucap Marco.
"Yes Dad." Luca menoleh ke arah Fabio yang memang tinggal di paviliun para pengawal dan asisten yang masih lajang. "Bilang sama Hideo. Besok aku tunggu."
Fabio mengangguk. "Baik, Signore Luca."
***
"Boss." Jin memanggil Hideo yang sedang memeriksa semua berkas hasil penjualan senjata ke negara-negara konflik di Afrika dan Asia Selatan.
"Yes, Jin?"
"Ada pesan dari asisten Signore Bianchi."
"Apa katanya?" tanya Hideo.
"Signore Bianchi menerima permintaan makan siang kita."
"Dimana?"
"RR's Meal Ginza."
Hideo tersenyum smirk. "Suruh anak buah kita yang silent cell di Tokyo bersiap karena aku ingin mendapatkan tanah Itaewon bagaimana pun caranya."
"Yang di Seoul apakah perlu dibawa?"
Hideo menatap Jin. "Bawa Hyong-wa dan Jae-Hee tapi siapkan sepuluh pengawal bayangan."
"Baik boss."
Kalau perlu, aku paksa kau, Bianchi!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1