
Jeju Island, South Korea.
Levi, Bryan dan dua pengawal lainnya datang ke sebuah pulau di area Jeju tempat rumah Hideo berada dengan menggunakan helikopter sewaan. Levi tidak mau kelihatan logo AJ Corp disana.
Sementara Hideo berada di Seoul, Levi dan Bryan memutuskan pergi ke Jeju untuk mengambil alias menculik Fayza. Dua buah mobil hyundai Creta sudah disiapkan jika tidak bisa melalui jalan udara. Begitu juga dengan kapal boat super kencang juga sudah disiapkan. Dalam waktu sehari semalam, Levi dan Luca menyiapkan semuanya.
Dua mobil itu tiba di depan pagar tembok tinggi yang tertutup dengan pohon-pohon tinggi dan lebat.
"Nggak heran kita tidak menemukan jalan masuk kesini karena sangat-sangat tertutup hutan lebat" gumam Levi.
Bryan mengangguk. Lalu mereka berdua turun dan Bryan melepaskan drone yang sudah diberikan bom bius untuk membuat para pengawal tertidur. Ide itu diambil saat dirinya merasa bingung harus bagaimana cara masuk nya, tanpa sengaja dia melihat film lama Angel Has Fallen.
Bryan segera memesan banyak drone dan dengan bantuan Fabio dan anak buahnya di Seoul termasuk obat tidur yang akan diberikan melalui dronenya.
Ayah Benjiro itu pun segera melepaskan drone-dronenya menuju rumah milik Hideo dan melalui kontrol yang disiapkan di mobil Hyundai Cretanya.
Melalui layar monitor yang terpasang di mobil, satu persatu drone yang terbang itu mulai menjatuhkan bom obat tidurnya untuk membuat para pengawal pingsan termasuk para pelayan disana.
Merasa sudah aman, Bryan dan Levi memakai topeng anti gas agar tidak menghirup obat tidur disana begitu juga dengan dua pengawal mereka. Dengan lincah Bryan menghack pintu pagar rumah besar itu dan segera masuk. Keempatnya berlari menuju ke dalam rumah sedangkan Levi melalui earpiece nya menyuruh pilotnya untuk terbang ke helipad rumah Hideo.
Levi membawa sebuah Glock begitu juga dengan Bryan yang lebih memilih membawa SIG dan mulai mencari kamar Fayza di lantai dua. Semua orang disana tampak terlelap akibat bom obat tidur sedangkan dua pengawal yang lain berjaga-jaga di tangga bawah.
Bryan mengetuk pintu kamar Hideo dan Fayza yang tak lama terbuka menampakkan Fayza dengan wajah masih ngantuk namun sejurus kemudian wajahnya menampakkan keterkejutan melihat dua orang asinf di hadapannya.
"Fayza! Ini Oom Levi!" seru Levi tanpa membuka topengnya.
"Siapa kalian! Pergi! Na-eun! Yumi! Ryeo-jun!" teriak Fayza memanggil para pengawalnya.
Bryan langsung memberikan suntikan ke Fayza yang membuat keponakannya lemas dan Levi langsung menggotong bumil cantik itu.
"Langsung ke helipad belakang!" perintah Levi.
Kelimanya langsung masuk ke dalam helikopter yang sudah siap dan setelahnya mereka tinggal landas menuju ke Seoul.
***
Seoul, Korea Selatan
__ADS_1
Jin menatap tidak percaya melihat apa yang terjadi di rumah Jeju melalui ipadnya yang diberikan oleh Hyong-wa setelah mendapatkan alarm. Semua penghuni disana kalah dan terkapar sedangkan dua dari empat orang bertopeng itu berhasil membawa Fayza pergi.
"Boss." Jin berbisik ke Hideo yang langsung murka dan mengambil dua pistolnya dari balik jasnya dan menodongkan ke Ashley dan Javier. Begitu juga dengan Jin yang menodongkan ke Fabio dan Luca sedangkan Hyong-wa dan Jae-Hee menodongkan ke Raymond yang sama - sama menodongkan pistol.
"KALIAN BAWA KEMANA ISTRIKU!" bentak Hideo penuh kemarahan.
"DIA BUKAN ISTRIMU!" balas Ashley yang juga menodongkan Glocknya.
"FAYZA ADALAH ISTRIKU! KALIAN TIDAK BERHAK MEMBAWANYA PERGI!" Hideo langsung mengkokang pistolnya dan bersiap menembak Ashley.
"Hideo, pernikahan kalian tidak sah karena tanpa seijin orang tua Fayza" ucap Javier pelan yang kali ini memilih tidak membawa pistol cukup yang muda - muda saja karena sejak menderita limfoma, tangannya tidak kuat untuk menekan triggernya.
"FAYZA TIDAK INGAT KALIAN!"
"Brengsek kau!" Ashley hampir menembak Hideo kalau tidak dipegang Javier.
"Fayza kami bawa dulu Hideo. Agar sembuh dulu baru dia diberikan pilihan tetap bersamamu atau tidak" ucap Javier berusaha bijak.
"Boss. Nyonya dibawa ke rumah sewa keluarga Bianchi di Seoul. Kita mundur dulu, nanti kita ambil lagi nyonya" bisik Jin ke Hideo menggunakan bahasa Korea lama.
"Cincin nyonya kan saya pasang GPS."
Hideo tersenyum smirk.
"Oke Hideo, kita mundur dulu." Javier berdiri dan berjalan mundur pelan-pelan diikuti oleh Raymond, Luca dan Fabio sedangkan Ashley masih menatap tajam ke arah pria Korea Jepang itu.
"Baji*Ngan kau!" umpat Ashley.
"Meskipun aku baji*Ngan, tapi aku adalah menantumu dan bayi dalam kandungan Fayza adalah anakku dan anak Fayza yang berarti cucumu juga, Mr. Sky. Dan jika sesuatu terjadi pada Fayza, aku akan habisi semua keluarga Pratomo. Dan itu dimulai dari anda!" Hideo menatap Ashley dengan penuh kebencian.
***
Fayza perlahan membuka matanya dan terkejut melihat dua orang wanita cantik berbeda usia yang menatapnya penuh kerinduan dan air mata mengalir di pipi keduanya.
"Alhamdulillah! Sudah sadar nak?" ucap seorang wanita yang berusia 50an itu.
Fayza hanya mengerjapkan matanya dan kemudian serangan panik pun melandanya.
__ADS_1
"Hideo! HIDEO! Kamu dimana? Tolong!" teriaknya panik sambil menoleh kiri kanan mencari-cari suaminya.
"Sayang, sayang, ini mama nak. Ini mama!" seru Kristal yang shock melihat putri bungsunya tidak mengenali dirinya.
"Fay, ini Oma sayang. Oma Valora. Apa kamu tidak mengenali Oma?" Valora berusaha mengulurkan tangannya namun ditepis oleh Fayza.
"Bukan! Kamu bukan mamaku! Kamu bukan Omaku! Keluarga ku sudah meninggal!" teriak Fayza panik.
"Sayang, ini mama nak" ucap Kristal sambil menangis.
"Bukan! Kamu bukan mama aku!" Fayza tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya. "Aduh perutku."
Kristal dan Valora pun panik melihat Fayza memegangi perutnya. Shock akibat dirinya diculik dan bertemu dengan dua orang wanita yang mengaku mama dan omanya, berakibat keram di perutnya.
"Rani! Rani! Tolong Fayza!" teriak Valora panik.
"Hideo...tolong... perutku sakit" desis Fayza yang kemudian langsung mendapatkan penanganan dari Rani Pradipta yang sengaja didatangkan dari Jakarta untuk merawat Fayza.
"Fay, ini Tante Rani. Kamu tahan dulu ya emosinya, ini Tante kasih obat penenang yang aman biar kamu tidur ya." Rani pun menyuntikkan obat penenang melalui infus Fayza dan tak lama, bumil itu pun terlelap.
"Tante, Kristal, maaf tapi Fayza mengalami shock yang bisa berbahaya untuk perkembangan janinnya. Jangan terburu - buru karena dari aku lihat, Fayza mengalami amnesia. Apakah amnesianya pasca trauma atau retrogade." Rani menatap ke kedua wanita yang menatap Fayza dengan sendu.
"Apakah Fayza bisa mengingat kami lagi, Ran?" tanya Kristal.
"Aku tidak bisa memastikan Kris tapi semoga Fayza mengalami amnesia pasca trauma karena sementara sifatnya tapi kita tidak tahu bagaimana cidera Fayza."
Valora dan Kristal hanya bisa saling memeluk satu sama lain.
***
Yuuuhhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1