
Hideo menatap wajah Fayza tabg yang tampak menikmati acara grilled daging sapi premium yang dibawanya ditambah dengan bulgogi yang dibuatkan oleh koki utama meskipun memakai daging non premium.
Pria itu pun menikmati acara santap malamnya bersama dengan sang istri yang semakin hari semakin cantik dan menggemaskan di matanya. Hideo bersumpah dalam hatinya, meskipun suatu saat nanti Fayza kembali ingatannya, dia tidak akan menyerahkan istrinya meskipun nyawa taruhannya mengingat siapa kakek dan ayah Fayza.
***
"Senang sayang?" tanya Hideo setelah mereka berada di kamar berdua.
"Senang banget, dagingnya enak. Tapi kenapa kamu tadi memasaknya well done? Bukannya enak medium ya?" Fayza menoleh ke arah suaminya.
"Kamu itu lagi hamil. Daging yang di grilled untuk ibu hamil itu bagusnya well done meskipun daging premium sekalipun karena kalau well done kan membunuh semua bakteri yang ada."
Fayza mengangguk. "Oke, Hideo tapi setidaknya mendapatkan daging yang aku inginkan terpenuhi itu yang penting."
Hideo mencium pipi istrinya. "Kita tidur yuk. Aku merasa lelah sekali."
Fayza memang melihat wajah lelah suaminya. "Sini, aku peluk." Tanpa berpikir dua kali, Hideo langsung meletakkan kepalanya di dada Fayza yang segera mengusap-usap kepalanya lembut.
"Nyaman sekali, Fay" bisiknya.
"Sudah, tidur lah."
"Jangan berhenti ya mengusap kepalaku."
***
Hideo terbangun dengan perasaan nyaman dan bahagia mengetahui semalaman dirinya tidur dengan dipeluk oleh Fayza. Pria itu menatap wajah istrinya yang masih terlelap lalu mengusap pipinya yang tampak semakin berisi bahkan tampak cantik.
Kamu semakin cantik saat hamil dan aku semakin tidak akan melepaskanmu.
"Sudah bangun?" bisik Fayza dengan suara serak dan mata terpejam.
"Sudah sayang. Kamu tahu Fay? Kamu hamil ini semakin cantik" puji Hideo.
"Hhmmm." Fayza terlelap kembali membuat Hideo tersenyum gemas melihat istrinya seperti masih belum menyatu nyawanya.
Hideo pun bangun dari tempat tidur dan mencium kening istrinya. "Sleep tight, baby." Pria itu pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, membiarkan istrinya terlelap akibat kekenyangan makan semalam.
***
Dua bulan kemudian...
"Jadi pembongkaran tanah Itaewon itu mulai tersendat?" tanya Luca ketika mendapatkan laporan dari kepala proyeknya. Proses pembongkaran mendapatkan teror kecil-kecilan dan beberapa sabotase hingga jadwal menjadi berantakan dan mengalami kemunduran.
"Iya signore. Yang melakukan anak-anak muda yang mabuk dan merusak peralatan di lokasi."
"Apakah mereka melakukan itu setiap hari?" tanya Luca.
"Tidak sih Signore tapi lumayan mengganggu sebenarnya."
"Kamu sudah menghubungi pihak yang berwajib?" tanya Luca lagi yang langsung mencurigai gerakan sporadis dari klan Silver Shinning.
"Sudah Signore dan beberapa dari mereka ditangkap dan didakwa hukuman ringan."
__ADS_1
"Hhhhmmmm. Tingkatkan keamanan dan kalau perlu setiap titik penting ada minimal dua orang personel disana. Nanti akan saya minta dikirim kan tambahan personel pengaman dari Ramadhan Security" ucap Luca.
"Baik signore."
Luca menatap Fabio yang memasang wajah datar. "Fabio, do you thinking what I'm thinking?"
"Silver Shinning sudah mulai bergerak pelan-pelan."
Luca mengangguk. "Awasi Hideo dan Jin Kawashima."
"Saya dan Mr Smith akan ke Seoul Minggu ini Signore."
"Bagus. Bawa Bryan sekalian. Biarkan dia menghack semua CCTV area Itaewon."
***
Hideo mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa Luca Bianchi mulai curiga dengan semua kekacauan minor yang dilakukan oleh mereka.
"Tampaknya mereka akan membawa lebih banyak keamanan, boss" ucap Jin.
"Suruh mereka cooling down dulu. Kalau pun mau usil, buat seolah tidak berkaitan, seolah kenakalan remaja tapi jangan seperti kemarin. Kamu paham kan yang aku maksud Jin?"
"Ya boss."
***
Atas perintah Hideo, semua kegiatan teror meneror mulai dikurangi frekwensi nya apalagi pria itu mendapatkan informasi kalau Fabio Marchetti datang ke Seoul bersama dengan Bryan Smith yang merupakan sepupu Luca Bianchi yang sering membantu FBI dan interpol.
"Gila! Si Luca mengirimkan Bryan kemari!" komentar Jin Kawashima. Jin sendiri seorang hacker jadi dia mengetahui sepak terjang Bryan Smith.
Bryan Smith adalah putra Abian Smith, saudara angkat Duncan Blair yang sudah menikah dengan Briana dan memiliki anak bernama Benjiro, sepupu Fayza.
"Bryan Smith? Dia hacker white hat dan sering dipakai untuk pemerintah macam FBI, NSA dan interpol. Ayahnya juga seorang hacker tapi sudah meninggal dan ternyata anaknya mengikuti jejak Abian Smith."
Hideo terdiam. Keluargamu lebih parah dari keluargaku Fay.
"Kita harus berhati-hati boss. Meskipun Bryan tampangnya seperti orang kantoran biasa, tapi dia memiliki mata elang."
Hideo hendak berbicara ketika mendengar panggilan Fayza yang mengatakan dokter Daewoon sudah datang.
"Aku hendak melihat kondisi kandungan Fayza. Tolong jaga semuanya, Jin."
"Baik boss."
***
"Bagaimana kondisi anakku dok?" tanya Hideo yang takjub melihat anaknya sudah mulai terbentuk bukan seperti kerang yang sempat dilontarkan saat melihat anaknya di bulan kedua dan langsung mendapatkan pukulan dari Fayza.
Saat ini kandungan Fayza sudah menginjak bulan kelima dan perutnya semakin membuncit. Hideo dan Fayza pun sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka yang ternyata laki-laki.
"Bagus semua tuan Park. Pertumbuhan boy sesuai dengan usia kandungannya."
"Dok, apakah aman jika aku pergi menggunakan helikopter?" tanya Fayza ke dokter Daewoon.
"Kamu mau ngapain?" tanya Hideo panik.
__ADS_1
"Ih, nggak kabur sayang!" cebik Fayza gemas. "Aku ingin belanja semua keperluan si boy."
"Tapi kan kamu bisa memesan di katalog saja, tidak usah per..." suara Hideo terhenti melihat Fayza menangis. "Kamu kok nangis?"
"Hideo jahat! Aku ingin beli sendiri tidak boleh!" Raung Fayza.
"Hah? Aku memikirkan agar kamu..."
"Jahat!" teriak Fayza lagi yang membuat Hideo dan dokter Daewoon tercengang.
"Tuan Park, anda kan tahu kalau ibu hamil itu sensitif dan moodnya upside down."
Hideo merasa pusing karena Fayza menangis kencang seperti anak kecil yang merajuk.
"Apakah aman dok, pergi dengan helikopter ke Seoul?" tanya Hideo demi si bumil tidak ngambek.
"Aman tuan. Kandungan nyonya Park sangat kuat dan bagus."
Hideo memegang wajah Fayza yang basah dengan air mata. "Besok kita ke Seoul. Aman kok kata dokter Daewoon."
Seketika air mata Fayza pun berhenti mengalir. "Benar?" tanyanya ke Hideo lalu ke arah dokter Daewoon. "Aman dok?"
"Aman nyonya."
"Yes! Besok kita pergi ya sayang!" Fayza pun turun pelan-pelan dari tempat tidur periksa. "Aku akan menyiapkan baju untuk menginap!" Bumil itu pun pergi meninggalkan Hideo dan dokter Daewoon yang melongo.
"Benar-benar deh! Wanita hamil itu mengerikan" gumam Hideo.
***
Fayza tampak bahagia bisa pergi meninggalkan rumah Jeju. Meskipun dirinya senang tinggal di rumah itu tapi melihat suasana baru diluar rumah adalah kesenangan tersendiri.
Helikopter itu mendarat di helipad hotel milik Hideo dan segera turun melalui lift khusus hingga orang tidak tahu kalau pemimpin Silver Shinning berada disana. Keduanya didampingi oleh Jae-Hee dan Hyong-wa menuju tempat perbelanjaan khusus ibu hamil dan bayi. Hideo sendiri memilih memakai masker agar tidak diketahui bahwa dirinya sudah memiliki istri yang sedang hamil.
Fayza tampak antusias memilih berbagai macam baju dan perlengkapan lainnya. Hampir dua jam mereka berada di toko itu, Fayza merasakan lapar dan meminta untuk makan di restoran korea. Setelah mengurus untuk pengiriman belanjaan istrinya, Hideo kemudian mengajak makan siang di sebuah restoran elite di area Gangnam.
Fayza yang tampak cantik dengan blus abu-abu dan celana hitam itu, sangat antusias saat masuk ke dalam restauran. Hideo sudah memesan tempat yang private dan keduanya pun berjalan sembari bergandengan tangan. Tanpa mereka ketahui, Bryan dan Fabio berada di restauran yang sama.
Betapa terkejutnya Bryan melihat Fayza bergandengan tangan dengan wajah bahagia bersama Hideo Kojima Park.
"Astaga! Fayza!" desisnya.
Bumil yang excited jalan-jalan
Bokapnya Benji
***
Yuuuhhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️