Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Don't Cry


__ADS_3

Hideo menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan gelisah. Matanya masih saja nyalang tidak mau terpejam padahal dia sudah meletakkan tubuhnya sejak sejam yang lalu. Mengingat istrinya berada di kamar sebelah tapi dia tidak bisa memeluknya seperti biasa, membuatnya membolak-balikkan tubuhnya dari tadi.


Akhirnya Hideo tidak tahan lagi dan bangun untuk mengambil minum. Perlahan dia membuka pintu kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil botol air mineral di dalam kulkas. Setelah membawa botol air mineral, Hideo kembali ke kamarnya tapi dirinya membatalkan niatnya.


Kakinya lalu berbelok ke kanan menuju kamar Fayza. Didengarnya ada suara-suara di kamar istrinya membuat Hideo memberanikan diri untuk membuka pintu kamar istrinya.


Syukurlah tidak dikunci.


Perlahan dia membuka pintu dan tampak istrinya tertidur dengan buku di tangan seperti kebiasaannya. Hideo melihat televisi masih menyala dan film action klasik diputar di layar. Pelan dia mengambil remote tv yang diletakkan di nakas sebelah istrinya lalu mematikan tv. Perlahan dirinya juga mengambil buku yang dipegang Fayza lalu meletakkan di nakas.



Hideo tersenyum saat membaca judul buku yang dipegang Fayza. Istrinya memang sudah persiapan. Dilihatnya Fayza tidur dengan sedikit gelisah, kehamilannya yang memasuki trisemester ketiga, membuatnya agak engap.


Hideo pun pelan-pelan mendekati Fayza dan meletakkan tubuhnya di sebelah istrinya yang tidur miring. Perlahan tangannya mengelus perut buncit Fayza dengan lembut.


"Boy, jangan heboh di dalam ya. Kasihan mommy mu susah tidur nanti" bisik Hideo di perut Fayza.


Perlahan wajah Fayza pun tampak relaks dan mulai terlelap dengan dengkuran halus.


"Kamu dulu tidak ngorok lho Fay" kekeh Hideo pelan sembari memposisikan dirinya untuk bisa memeluk istrinya dari belakang dengan nyaman. Tak lama, Hideo pun terlelap setelah mencium harum tubuh Fayza yang sudah menjadi candu dan selalu menenangkan hati dan pikirannya.


***


Fayza membuka matanya dan terkejut melihat sebuah tangan memeluk perutnya dengan posesif. Hatinya menghangat melihat siapa yang memeluknya dan jujur selama dua bulan terakhir ini, Fayza merindukan pelukan Hideo.


Ini cuma bawaan orok, cuma hormon.


Fayza pelan-pelan menyingkirkan tangan Hideo tapi pria itu tampaknya tidak mau melepaskan pelukannya.


"Hideo..." bisik Fayza.


"Hhmmm..." balas suaminya semakin mengetatkan pelukannya. Hideo menciumi tengkuk Fayza, spot yang paling dia suka dan Fayza suka.


"Aku mau pipis. Please, nanti aku ngompol" ucap Fayza memelas.


Hideo tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan bangun menuju Fayza untuk membantu istrinya.

__ADS_1


"Semakin berat ya Fay?" tanyanya melihat bagaimana perut Fayza yang lebih besar dari terakhir dia lihat.


"Hu um. Mana si boy aktif banget."Fayza tiba di depan kamar mandinya. "Terimakasih."


"Aku tunggu di depan kamar mandi. Menjaga dirimu."


Fayza hanya menutup pintu kamar mandi karena dia benar-benar tidak tahan ingin buang air kecil.


***


"Kenapa kamu tadi malam tidur di kamarku?" tanya Fayza jengkel karena Hideo melanggar perjanjian.


"Semalam aku mengambil air putih terus aku mendengar suara-suara di kamarmu dan ternyata tv mu masih menyala jadi aku matikan. Aku melihat kebiasaan mu tidur dengan buku masih di dada, jadi aku ambil. Dan ... tidurmu tampak tidak nyaman jadi aku mengelus punggung dan perutmu ... Eh ketiduran deh."


Hideo menatap Fayza sambil tersenyum namun dibalas wajah kesal istrinya. Tangan Hideo tetap sibuk membuatkan susu hamil untuk Fayza.


"Weekend ini kamu mau kemana?" Hideo menyerahkan segelas susu hamil utnuk Fayza. "Ini rasa mocha. Kata Mrs Sky, kamu nggak doyan yang rasa vanilla atau plain. Hanya suka coklat dan mocha."


Fayza yang sedang minum susunya, sedikit terkejut mendengar ucapan Hideo. "Kamu bertanya sama mommy?"


Fayza menatap suaminya yang tampak lebih kurus tapi binar mata nya tampak bahagia dan penuh cinta setiap memandangnya.


"Kamu kurus, Hideo. Aku tidak suka melihat kamu seperti itu."


"Tapi perutku masih six pack kok Fay" goda Hideo.


"Aku tidak bilang perutmu, aku bilang kamu."


"Bagaimana aku tidak kurus, Fay. Semua terjadi begitu cepat dan bertubi tubi. Aku harus memilih, kamu atau Silver Shinning dan aku memilih kamu. Tuan Arata bahkan sudah mengultimatum jika aku memilih kamu, aku harus melepaskan semuanya Fay, semuanya. Dan aku harus menjadi imam yang pantas untukmu."


Fayza mendengarkan tanpa ada niat menginterupsi.


"Aku melepaskan hartaku di Seoul. Semua sahamku, aku jual semua. Hanya rumah Jeju yang aku pertahankan karena disanalah aku dipertemukan dengan seorang wanita yang mampu membuat duniaku jungkir balik. Wanita yang membuat aku menjadi pria yang meninggalkan semua perbuatan bejatku selama ini. Wanita yang sangat aku cintai seumur hidupku dan wanita yang sekarang sedang mengandung anakku..." Hideo menatap Fayza dengan penuh perasaan. "Wanita itu adalah kamu Fayza Minara Ruiz Sky."


Fayza menatap sendu ke wajah Hideo.


"Apakah kamu tidak merasakan perasaan ku padamu Fay? Apa kamu sudah tidak mencintai aku?"

__ADS_1


Fayza hanya terdiam lalu menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang, Hideo. Aku tidak tahu apa aku masih mencintaimu atau tidak karena yang aku pikirkan adalah bagaimana kamu bisa-bisanya membuat cerita B.S macam itu hingga menutupi semuanya dari keluarga ku. Apakah kalau aku tidak ketahuan Oom Bryan dan aku tidak ingat apapun, kamu akan tetap menutupinya?"


Hideo terdiam. "Jika perlu!"


"Kamu egois, Hideo! Aku bukan anak yatim-piatu Hideo! Aku masih punya keluarga!" bentak Fayza.


"Aku melakukan itu karena aku tidak mau kehilangan dirimu, Fay!" balas Hideo.


"Justru karena kamu melakukan itu, kamu malah semakin kehilangan aku!" balas Fayza dingin yang langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu.


Hideo memegang gelasnya erat hingga pecah berantakan. Dirinya tidak memperdulikan darah yang mengalir di tangannya dan wajahnya mengeras melihat pintu kamar Fayza.


Aku harus bagaimana lagi Fay. Jika memang itu keinginanmu untuk berpisah setelah Shinichi lahir... baiklah. Apapun agar kamu bisa memaafkan aku.


***


Fayza bersandar di pintu kamarnya. Hatinya terasa sakit dan dadanya terasa sesak. Air mata pun mengalir deras di wajahnya.


Aku benci hormon kehamilan! Mood ku berantakan! Maaf Hideo, aku masih mencintaimu tapi aku tidak bisa bersamamu.


Tubuh Fayza melorot hingga dirinya tiduran di lantai dengan posisi seperti bayi dan disana wanita itu menangis tersedu-sedu.


Hideo yang berjalan hendak mengetuk pintu kamar Fayza mendengar istrinya menangis yang begitu terdengar menyayat hati, hanya bisa berdiri disana. Dia tidak peduli tangannya yang hanya dilapisi kain dapur dengan darah menembus kain itu. Yang menjadi fokusnya adalah tangisan Fayza.


Jangan menangis Fay...


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Alaric masih di-review dari semalam belum lolos.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2