
Hideo benar-benar tidak bisa beraktivitas seperti biasa akibat morning sick yang melanda dirinya sedangkan Fayza dengan santainya masih bisa beryoga sesuai anjuran dokter Daewoon dan beraktivitas tanpa kesulitan.
Akibatnya, Jin lah yang menghandle semua pekerjaan Hideo karena pria itu dalam kondisi terburuknya. Setiap pagi, Hideo pasti terbangun dan langsung menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya dan baru mereda setelah Fayza memberikan teh mint dan biskuit asin yang biasa dimakan oleh para ibu hamil.
Jin dan Na-eun bersama dengan Yumi berbelanja banyak kebutuhan untuk ibu hamil dan kamar kosong yang disiapkan Hideo untuk pemeriksaan kandungan Fayza pun sudah terpasang semuanya.
Hasil pemeriksaan oleh dokter Daewoon menunjukkan kehamilan Fayza masuk ke usia enam Minggu dan kondisinya sehat membuat Hideo dan Fayza merasa lega mendengarnya.
Selama mengalami morning sick, Hideo selalu menempel ke Fayza bahkan ke kamar mandi pun, pria itu menunggu di depan sambil duduk. Fayza hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya yang tidak sesuai casingnya.
"Apa hormon hamil itu aneh-aneh gitu ya Dok?" tanya Fayza saat dokter Daewoon datang memeriksa Hideo yang semakin parah muntah-muntahnya.
"Memang berbeda-beda nyonya dan tuan Park tampaknya sangat mencintai nyonya sedemikan rupa hingga semua acara morning sick diambil alih olehnya" senyum dokter Daewoon.
Hideo memang tidak terlalu rewel soal makanan karena apapun yang dimasak oleh Fayza, pasti dimakannya. Dan pria itu spesifik, harus Fayza yang memasaknya tidak perduli itu masakan Korea atau lainnya.
***
Hingga kehamilan Fayza memasuki usia 12 Minggu, morning sick Hideo mulai berkurang dan pria itu sudah bisa melakukan pekerjaannya seperti biasa meskipun belum maksimal karena dirinya tidak mau terlalu meninggalkan Fayza lama-lama.
Fayza sendiri tidak keberatan jika Hideo harus terbang dan menginap di Seoul untuk urusannya walaupun pria itu menatapnya judes.
"Sayang, kan kamu hampir dua bulan nggak memeriksa pekerjaan kamu di Seoul jadi sekarang harusnya kamu bisa periksa dong karena sudah tidak mual-mual lagi."
Hideo menatap Fayza dengan wajah memelas. "Aku disini saja ya?" pintanya yang membuat Fayza terbahak melihat suaminya macam kucing anggora.
"No Hideo, kasihan Jin kalau keteteran. Apa kamu mau mengalami rugi kalau tidak kamu kontrol usaha kamu?" Fayza mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Hideo menatap istrinya dengan lembut. "Kamu benar, Fay. Tapi beneran tidak apa aku tinggal seminggu ke Seoul?"
"Tak apa, asal kamu pulang bawakan aku daging sapi premium. Aku ingin memasak bulgogi bersamamu" ucap Fayza dengan sedikit menggoda membuat jantung Hideo berdebar kencang.
"Apa si boy mau ditengok dulu sebelum daddynya pergi?" goda Hideo sambil mengelus dada Fayza yang masih tertutup lingerie. Sedetik kemudian tali kecil itu pun terlepas dari bahu mulus Fayza yang menunjukkan gundukan padat yang semakin kencang semenjak hamil.
"Apakah Daddy keberatan?" bisik Fayza sen*sual.
"Tentu saja tidak..." ucap Hideo sembari mencium bibir istrinya. Jas yang sudah dipakainya pun dilepaskannya kembali. Hideo tidak perduli Jin dan anak buahnya harus menunggu karena misi menengok si baby lebih penting.
***
Satu setengah jam kemudian Hideo sudah berada di dalam helikopter bersama dengan Jin yang hanya melirik bossnya dengan tatapan datar.
"Boss."
"Hhmmm."
__ADS_1
"Klan Bianchi sudah memulai pembongkaran lahan Itaewon."
Hideo menoleh ke arah tangan kanannya. "Berikan teror kecil-kecilan tapi buatlah random."
"Siap boss."
"Biar mereka tahu, siapa penguasa Seoul sebenarnya." Wajah Hideo berubah menjadi dingin, sangat berbeda jika dia berdekatan dengan Fayza.
***
Seminggu sudah Hideo meninggalkan Fayza dan bumil cantik itu sedang melihat-lihat katalog perlengkapan bayi dari berbagai katalog bermerek. Hideo memang tidak mengizinkan Fayza menggunakan iPad atau pun ponsel dan lagipula Fayza tidak pernah meributkan tidak dapat hidup tanpa gadget.
Fayza mulai memberikan beberapa post it untuk ditunjukkan kepada Hideo, barang mana yang ingin dibelinya.
"Nyonya" panggil Na-eun.
"Ya Na-eun?"
"Ponsel nyonya kemana? Sebab kata tuan Jin, tuan Park tidak bisa menelpon anda."
Fayza melongo. Dimana ya? "Sebentar Na-eun, saya carinya di kamar." Fayza pun berdiri menuju lantai dua sembari membawa buku katalog yang sudah diberinya tanda sedangkan Na-eun tetap mengikuti nyonyanya di belakang untuk menjaga Fayza selama naik tangga.
Setibanya di kamar, Fayza mendengar suara ponselnya yang berisik tertimpa tumpukan bantal.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya." Na-eun pun mengundurkan diri lalu menutup pintu kamar Fayza.
"Halo Hideo" sapa Fayza.
"Kamu kemana saja sayang?" tanya Hideo gemas.
"Aku di ruang tengah sedang melihat-lihat katalog tapi ponselku tertinggal di kamar dan tertindih bantal."
"Astaga, Fay. Apa kamu tidak tahu aku begitu cemas disini?" ucap Hideo.
"Lho kan kamu bisa melihat dari ipadmu. Kenapa harus bingung?" Fayza tidak habis pikir kenapa semenjak dirinya hamil, suaminya jadi loadingnya lama ya.
"Aku lebih suka mendengar suaramu Fayza, langsung bukan dari CCTV."
Wajah Fayza memerah.
"I miss you baby."
Fayza mendongak ke arah CCTV yang ada di ruang baca kamar mereka. "I miss you too."
Hideo memang memiliki CCTV di kamarnya tapi hanya dirinya yang bisa mengaksesnya dan kamera itu pun terletak di ruang baca yang berada di sisi kiri ruang tidur.
__ADS_1
Tidak ada CCTV di ruang privacy Hideo dan Fayza karena dirinya tidak mau ada orang lain bisa melihat adegan mesra dirinya dan istrinya.
"Apa kamu sudah memilih-milih mana yang hendak kamu ambil?" tanya Hideo.
"Sudah. Oh apakah kamu tidak lupa dengan daging premium permintaan aku?"
"Tentu tidak sayang. Aku akan sampai ke rumah satu jam lagi."
Fayza tersenyum. "Hati-hati."
"Of course."
***
Fayza dibantu para pelayan menyiapkan alat pembakaran dan bahan-bahan tambahan untuk memasak beef grilled dan bulgogi. Entah kenapa bumil itu mengidam ingin makan menu bulgogi dan grilled ala Korea lengkap.
Tentu saja koki utama bersama Na-eun dan Yumi paham kalau nyonyanya dalam fase ngidam.
"Nyonya ngidamnya mahal. Minta premium beef" goda Na-eun sambil menyiapkan kimchi di mangkuk.
"Iya nih, bawaan si baby" kekeh Fayza yang kemudian tersenyum mendengar helikopter mendarat.
Hideo pun masuk ke dalam rumah sambil membawakan daging sapi premium. Wajah Fayza pun langsung sumringah dan memberikan ciuman mesra ke suaminya.
"Terimakasih! Kamu bersih-bersih dulu sayang. Kita akan mulai acara makan malam sebentar lagi." Fayza pun menuju ruang makan yang sudah disulap menjadi tempat nge grilled.
Hideo sendiri memilih melepaskan jas dan dasinya lalu menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Pria itu pun segera mencuci tangannya dan menyusul istrinya yang sudah sibuk mengolah daging yang dibawanya.
"Kamu kayaknya ngidam deh!" kekeh Hideo melihat bagaimana Fayza tampak menikmati makannya.
***
Yuuuhhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Kalau nongolnya pada sore, berarti NT lagi error
__ADS_1