
Hideo merasakan jantungnya berdegup kencang seolah hendak bertemu untuk berkencan pertama kali. Dua bulan dia tidak bertemu dengan istrinya dan sebulan terakhir dia putuskan pindah ke Tokyo tinggal bersama sang ibu dan mempelajari bisnis keluarga Kojima dan mempelajari Islam hingga memutuskan menjadi mualaf dan berkhitan.
Fumiko banyak menasehati dirinya dan menyatakan dirinya sangat senang putranya melepaskan semua atribut Silver Shinning. Jin Kawashima akhirnya mengikuti jejak Hideo untuk meninggalkan klan mafia yang sudah membesarkan namanya. Bagi Jin, kemana Hideo pergi, dia memilih mengikutinya.
Bersama dengan Jin, Hideo membantu bisnis Fumiko dan berkat banyaknya koneksi saat di Silver Shinning, Hideo bisa menjalin banyak kerja sama.
Dan kini setelah meyakinkan Javier Arata dan Levi Reeves, Hideo memberanikan diri datang ke New York untuk bertemu dengan Fayza. Hideo memutuskan untuk tidak bertemu dengan Ashley Sky dulu karena dia ingin berbicara dengan istrinya. Semua keputusan ada di tangan Fayza.
Pintu VIP pun terbuka dan tampak Fayza mengenakan gaun hitam namun tidak menutupi kehamilannya yang sudah tujuh bulan. Wajah wanita itu tampak tidak percaya melihat suaminya berdiri di hadapannya.
"Fayza..." ucap Hideo penuh perasaan.
Fayza menoleh ke arah Rajendra yang menemani adiknya.
"Mas Jendra ada di dapur. Kamu ngobrol saja sama Hideo, selesaikan permasalahan kalian." Rajendra merangkul bahu Fayza dan mencium pelipisnya. "Ikuti apa kata hati kamu."
Rajendra pun melepaskan pelukannya dan menatap Hideo. "Aku tinggalkan kalian berdua." Setelahnya pria itu keluar dari ruang VIP.
Fayza menatap wajah suaminya. Bohong kalau dirinya tidak rindu suaminya, bohong jika dia tidak ingin marah dengan semua perbuatan suaminya.
"Fay..." ucap Hideo.
PLAK!
Fayza menampar wajah Hideo. "Tega kamu!"
Hideo hanya diam dan merasakan betapa kerasnya tamparan Fayza.
"Kamu memanfaatkan aku! Disaat aku tidak ingat apapun, kamu memanfaatkan aku! Brengsek kau Hideo!" bentak Fayza dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Baguslah kalau mbak Tuti membanting kamu!"
Hideo tidak menjawab namun dirinya langsung memeluk Fayza. "Pukul aku, atau hajar aku sekalian Fay. Aku terima tapi jangan kamu tinggalkan aku."
Fayza yang awalnya menolak dipeluk suaminya akhirnya membalas pelukannya dan menangis di dada Hideo.
"Aku membencimu!" Isak Fayza.
"Aku tahu."
"Tapi aku merindukanmu..."
"Aku juga merindukanmu Fay..."
"Aku ingin kita berpisah."
"Tapi aku tidak mau kita berpisah."
"Aku tidak sanggup bersama dengan pembohong."
"Aku hanya berbohong identitas kamu tapi tidak perasaanku padamu."
"Aku tidak percaya padamu!"
"Terus bukti yang kamu bawa dalam perutmu itu apa?"
__ADS_1
"Bisa saja..." Fayza dan Hideo saling berpandangan ketika si boy menendang kencang perutnya. "Astaghfirullah boy, perut mommy jadi ngilu. Jangan kencang-kencang dong!" Fayza tampak meringis.
Hideo melepaskan pelukannya dan berlutut untuk menciumi perut istrinya.
"Kangen Appa ya boy?" bisik Hideo penuh perasaan.
Suara gerakan putra mereka tampak aktif membuat Hideo tersenyum haru. "Akhirnya Appa bisa merasakan kamu boy."
"Kamu kurusan, Hideo."
"Dan kamu gemukan, Fay" kekeh Hideo yang mendapatkan pukulan di bahunya.
Hideo pun berdiri dan menggandeng tangan istrinya untuk mengajaknya duduk.
"Apa kabarmu Fay?" tanya Hideo denagn wajah penuh kerinduan.
"Alhamdulillah baik. Sudah mulai mengingat semuanya tapi tidak teman-teman kuliah aku padahal mereka pada datang saat mengetahui aku masih hidup."
"Fay... Apa benar kamu ingin berpisah denganku?" tanya Hideo sendu.
Fayza mengangguk. "Aku sudah memikirkan matang - matang Hideo. Dan bukan karena intervensi dari kedua orang tuaku atau siapapun tapi keputusan aku sendiri."
"Tidak bisakah kita mulai dari awal Fay? Aku akan melamar mu lagi dengan benar dan kali ini kita akan menikah lagi secara agama karena kalau hukum kan kita sebenarnya sudah menikah sah secara negara."
"Agama? Apa kamu...?"
"Aku sudah mualaf, Fay dan sudah dikhitan. Damn rasanya tidak enak!" sungut Hideo sambil meringis membuat Fayza tersenyum.
"Apa kamu masih di Silver Shinning?"
"Alhamdulillah" ucap Fayza tulus.
"Kemarin kamu jalan sama siapa?"
Keduanya terdiam ketika pelayan datang membawakan makanan untuk mereka berdua. Wajah Fayza tampak sumringah melihat bulgogi ada dalam makanan yang dibawakan pelayan.
Setelah para pelayan itu pergi, Hideo menatap Fayza lagi seolah tidak ingin kehilangan wajah istrinya lagi.
"Kemarin jalan sama siapa?"
"Mbak Reana, istrinya mas Pandu."
"Pandu kakaknya Pramana?"
Fayza mengangguk.
"Bagaimana Pandu?" tanya Hideo.
"Alhamdulillah mas Pandu baik. Apalagi Pram kan sudah tidak ada hampir sembilan bulan ini. Setidaknya bisa mengikhlaskan."
Hideo terdiam. "Bukan salah aku kalau kalian kecelakaan."
"Tidak ada yang menuduh kamu, Hideo, karena itu murni kerusakan mesin dan memang jalannya seperti ini." Fayza menatap makanan yang lezat-lezat di hadapannya. "Kita makan dulu. Aku lapar."
__ADS_1
"Apakah kamu tengah malam masih terbangun kelaparan?"
Fayza mengangguk. "Hanya saja sekarang aku harus menjaga pola makan. Tante Gendhis takut nanti si boy terlalu besar."
"Tante Gendhis?"
"Istrinya Oom Bara. Kan dia dokter obgyn."
Hideo mengangguk. "Kapan kamu kontrol?"
"Minggu depan aku kontrol."
"Aku temani, Fay." Hideo menatap serius dan penuh harap. "Aku juga ingin melihat boy."
"Apakah kamu berani menghadapi Daddy?" tanya Fayza. "Karena Daddy pasti akan menghajar kamu lagi."
"Sudah resiko aku Fay, aku yang berbuat dan aku yang bertanggung jawab."
Keduanya pun melanjutkan acara makan siangnya. Setelah selesai makan, Fayza menatap Hideo serius.
"Aku ingin setelah si boy lahir, kita berpisah, Hideo."
Hideo terkejut. "Aa...apa?"
"Aku ingin kita berpisah setelah boy lahir. Bagaimana pun aku ingin menenangkan hati ku dan aku ingin hanya bersama dengan anakku."
"Anakmu itu juga anakku, Fay!" desis Hideo.
"Aku tidak akan melarang kamu menemui boy karena aku sudah memasang klausal tidak ada larangan kamu menemui anakmu."
"Kamu sudah mengurus perceraian kita?" tanya Hideo tidak percaya bahwa sedetik dia bahagia bertemu lagi dengan istrinya dan sedetik kemudian dia mendapatkan bom atom.
"Baru proses. Bang Travis yang mengurusi."
Hideo mengusap wajahnya kasar. "Astaghfirullah Fayza."
Fayza hanya menatap jendela ruang VIP itu dengan sedih.
"Maaf Hideo tapi aku ... aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan mu." Fayza menoleh ke arah suaminya. "Tapi sampai aku melahirkan, kamu boleh mendampingi ku seperti kontrol, menemani membeli perlengkapan bayi dan sebagainya tapi kita tidak serumah."
"Aku tidak akan menalakmu Fay! Sampai kapan pun!" tegas Hideo.
Fayza terdiam.
"Look Fay, please dengarkan aku. Aku sangat mencintaimu dan aku melepaskan semuanya hanya demi bersamamu. Aku melepaskan Silver Shinning yang sudah dipegang keluarga aku selama tiga generasi, aku melepaskan semua kehidupan di Seoul dan pindah ke Tokyo hanya demi aku ingin mendapatkan uang dari hasil halal Fay. Aku ingin berubah lebih baik dan itu semua karena kamu! Dan jika kamu ingin berpisah denganku, aku tidak tahu harus bagaimana aku hidup! Please Fay, don't leave me." Hideo memegang wajah Fayza dan bumil itu melihat suaminya menangis.
Astaghfirullah. Hideo bisa menangis karena aku?
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️