Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Dua Pria Keras Kepala


__ADS_3

Fayza tetap bersikeras untuk tidak ikut ke apartemen Hideo karena dirinya ingin memantapkan hati untuk berpisah. Pria itu bahkan sampai berlutut memohon kepada istrinya agar mau ikut dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya, Hideo melakukan hal itu.


Melihat suaminya benar-benar tampak desperate menginginkan dirinya ikut bersamanya membuat hatinya pun goyah. Meskipun dirinya tidak memiliki darah Jawa di dalam tubuhnya, tapi Fayza dididik kental dengan adat dan budaya Jawa. Dalam kamusnya, tidak ada seorang pun boleh berlutut di hadapannya karena berarti orang itu sudah sampai memohon amat sangat.


"Hideo...bangun. Aku tidak mau kamu seperti ini." Fayza berusaha membuat suaminya bangun.


"Aku akan seperti ini jika kamu tidak mau ikut dengan ku" ucap Hideo sambil menatap wajah istrinya.


Fayza hanya bisa menghela nafas panjang. Ya Allah, pria satu ini benar-benar nekad!


"Hideo... Baiklah aku akan ikut padamu tapi hanya sampai kontrol kamis depan!" Akhirnya Fayza mengalah daripada suaminya berlutut di kamarnya.


"Baik, seminggu kita akan bersama" senyum Hideo dan pria itu pun berdiri dengan sedikit goyah.


"Kamu nggak papa?" tanya Fayza yang reflek memegang tangan suaminya.


"Sepertinya aku sedikit kesemutan" cengir Hideo.


"Gitu main sok-sokan mau berlutut terus!" sungut Fayza kesal. Bubrah deh ekspektasi ala-ala drama romantis.


"Yang penting kamu mau ikut aku, Fay" senyum Hideo.


***


Ashley menatap judes ke Hideo ketika menantunya itu meminta ijin untuk membawa Fayza ke apartemennya.


"Tidak! Kamu tidak boleh membawa anak saya!" hardik Ashley.


"Tapi Fayza masih istri saya, Mr Sky! Dan saya masih berhak sama dia!" balas Hideo tidak kalah judesnya. "Saya masih tahu sopan santun meminta ijin pada anda untuk membawa Fayza ikut dengan saya."


"Tapi apa kamu ingat sopan santun dan etika saat kamu menikahi Fay? Apa kamu ingat saya dan mommynya?" sekak Ashley.


"Ashley! Sudah!" Kristal berusaha menengahi kedua pria itu. "Hideo, ayo kita makan siang dulu. Ash, jika kamu masih mengajak Hideo bertengkar di meja makan, lebih baik kamu tidur di luar seminggu!"


Ashley pun terdiam lalu menoleh ke arah istrinya. "You've got be kidding me, Lara!"


"Since when I'm kidding you?" balas Kristal judes. Wanita cantik itu sudah cukup lelah dengan gegeran suami dan menantunya sejak pagi.


"Lara..." Ashley menatap istrinya dengan wajah memelas.


"Sudah, kalian makan dulu nanti baru ke apartemen Hideo. Biarkan mereka bersama dulu sampai Fay kontrol Minggu depan." Kristal lalu berjalan dengan anggun menuju ruang makan.


***


Hideo menyetir Range Rover nya bersama dengan Fayza di sebelahnya yang sedang asyik mengemil chicken popcorn buatan Kristal. Bumil cantik itu memang sedang gemar makan seperti itu.



"Kamu nggak papa makan junk food begitu?" tanya Hideo.


"Ini yang buat mommy kok. Jadi aman deh bahannya" jawab Fayza. "Bukan beli di restauran junk food."

__ADS_1


"Tapi beneran nggak papa? Nggak terlalu asin? Takutnya nanti kakimu membengkak Fay..." Hideo tampak perhatian pada istrinya.


"Nggak asin. Nih coba kalau tidak percaya." Fayza memberikan sepotong popcorn chicken ke mulut Hideo yang dengan senang hati menerimanya.


"Iya, nggak asin." Hideo tersenyum mendapatkan suapan Fayza. "Miss you being like this, Fay."


Fayza tersipu mendengar ucapan sederhana Hideo. "Nggak usah modus."


"Eh siapa yang modus? Serius ini!" Hideo memanyunkan bibirnya.


Fayza hanya terdiam sembari memakan camilannya.


"Lagi Fay."


"Hah? Apanya?"


"Ayamnya. Aku mau lagi."


"Ambil sendiri."


"Aku tuh lagi nyetir Fay, nanti setirnya kena minyak kan repot bersihinnya."


Fayza hanya manyun tapi tetap menyuapkan potongan ayam itu. Tanpa diduga, bibir Hideo memasukkan sejari-jarinya Fayza.


"Hideo!" protes Fayza dengan wajah memerah dan buru-buru menarik tangannya.


"Kenapa? Enak kok!" Hideo melirik ke arah Fayza yang mengelap tangan kanannya dengan tissue basah.


"Lha kan tangan kamu dari tadi kan pegang chicken popcorn jadi joroknya dimana?"


"Iya tapi kan..."


"Fay, kalau soal kamu, aku nggak ada rasa jijik atau gimana, karena kamu itu istri aku."


Fayza hanya terdiam namun pipinya tampak memerah.


Hideo tersenyum smirk. "Kamu mau makan apa malam ini?"


"Belum tahu."


"Aku masakin ya."


Fayza menoleh ke arah Hideo. "Mau masakin apa?"


"Korean food?"


Fayza tersenyum. "Mau!"


***


Fayza melongo melihat gedung apartemen Hideo yang ternyata satu gedung dengan Oomnya Levi.

__ADS_1


"Kamu tuh satu gedung sama Oom Levi apartemennya?" tanya Fayza.


"Iya kah?" tanya Hideo berlagak polos. Sebenarnya dia memang minta rekomendasi apartemen yang bagus di New York dari Levi dan ayah Hoshi itu memberikan gedung apartemennya.


"Kamu memang tidak tahu?" tanya Fayza sambil mengambil tas jinjingnya sedangkan Hideo mengambil tas koper Fayza dari bagasi mobil.


"Nggak... Nggak salah Fay." Hideo merangkul pundak istrinya. "Aku meminta rekomendasi apartemen yang bagus dan aman ke Mr Reeves. Dan dia bilang ini apartemen yang bagus dan memang benar."


"Of course lah benar! Ini apartemen milik PRC group" gelak Fayza. "Kamu tuh masih diawasi Hideo jadi Oom Levi sengaja taruh kamu disini."


Hideo melongo. "Oh astagaaa!"


"Kami PRC group punya banyak aset dan salah satunya apartemen ini. Memang ini disewakan dan dijual ke beberapa eksekutif yang bekerja di Wall Street." Fayza menatap Hideo dengan tatapan geli. "Kamu kena prank Oom Levi."


Hideo hanya tersenyum. Bukannya memang itu maunya keluarga kalian melihat apakah aku sudah berubah atau tidak.


Keduanya pun naik ke lantai tempat apartemen Hideo berada dan Fayza memberitahukan kalau apartmen Levi ada di satu lantai di bawah apartemen suaminya.


Fayza pun masuk ke dalam dan tampak suka dengan interiornya.


"Apakah ini interior mu?" tanya Fayza.


"Sebagian karena aku sedang mengajukan untuk membeli apartemen ini" ucap Hideo sambil menutup pintu apartemennya.


"Apakah kamu akan tinggal di New York?" Fayza berbalik ke arah suaminya.


"No, sayang. Kita akan tinggal di Tokyo, dan apartemen ini hendak aku beli karena..." Hideo meletakkan kopernya dan memeluk Fayza. "Jika kamu hendak ke New York, kita punya sanctuary jadi tidak usah menginap di rumah orang tuamu."


Fayza memukul dada Hideo pelan. "Ya Allah, Hideo! Mereka itu orang tuaku!"


"Selama aku dan ayahmu belum bisa akur, bukankah lebih baik kalau kita tinggal disini?" Hideo tersenyum.


"Kamu tidak bisa akur dengan Daddy karena kalian sama-sama pria keras kepala!"


"Sayangku, kami itu pria dan kami pasti keras kepala!"


"Sayangnya aku tidak membawa sandal untuk mengeplak kepala kalian!" umpat Fayza.


"Jangan lah sayang. Kamu tega sekali." Hideo pun mencium hidung mancung Fayza.


"Aku calon ibu dan wanita yang hendak memiliki anak pasti mempunyai kekuatan lebih untuk berbuat tega!"


Hideo tersenyum smirk. "Aku lebih tega menciummu." Pria itu pun Melu*mat bibir istrinya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2