
Hideo menyetir mobilnya dengan hati-hati karena melihat wajah khawatir Fayza. Pria itu mengusap kepala istrinya dengan tangan masih diperban.
"Nggak papa kok Fay" senyum Hideo.
"Benar nggak papa?" tanya Fayza
"Nggak papa sayang. Sudah kamu nikmati saja pemandangan macet" kekeh Hideo.
Fayza pun mengangguk dan menikmati jalan kota New York. Hideo ingin mengajak Fayza berbelanja di Hudson Yards yang agak dekat dengan apartemen mereka. Fayza sendiri diberikan cuti hamil karena kandungannya sudah masuk trisemester ketiga.
"Nanti kalau kamu capek, kita istirahat saja sambil ngafe." Hideo melirik ke istrinya yang dandan cantik siang ini.
"Iya Hideo" jawab Fayza sambil mengelus perutnya.
Mobil hitam itu tiba di mall Hudson Yards dan langsung menuju tempat parkir. Hideo menggandeng Fayza dengan tangan kirinya lalu masuk ke dalam mall. Pria itu tersenyum smirk saat mengetahui adanya dua pengawal bayangan yang mengikuti mereka.
"Kenapa Hideo?" tanya Fayza melihat suaminya tersenyum smirk.
"Ayah mu itu benar-benar deh! Dia mengirimkan dua pengawal di belakang kita."
Fayza melirik ke arah yang ditunjuk Hideo. "Iya, itu pengawal Daddy."
"Takut kalau aku kenapa-kenapa kali ya?" gerutu Fayza. "Padahal aku kan nggak papa, ada suamiku juga."
Hideo melirik. "Ya namanya ayah kan pasti khawatir dengan putrinya."
"Tapi aku bisa menjaga diri kok!"
"Tapinya kamu tuh lagi hamil, Fay. Yang benar saja perut besar gitu kamu ajak berantem?" pendelik Hideo.
Fayza tertawa. "Ya nggak gitu juga Hideo."
"Yuk kita cari barang - barang buat boy." Hideo menggandeng tangan Fayza.
Kedua suami istri itu pun segera menuju ke sebuah toko yang khusus menjual perlengkapan baby dan Hideo menikmati bagaimana istrinya tampak khilaf membeli berbagai macam pernak pernik untuk putra mereka.
Setelah membayar, Hideo pun mengajak Fayza untuk makan di sebuah restauran. Hideo benar-benar memanjakan istrinya bahkan dia mengajak ke sebuah toko perhiasan Cartier usai mereka makan siang.
"Kita ngapain kesini?" tanya Fayza bingung.
"Beli cincin nikah lah! Apa kamu lupa, cincinmu kamu buang?" senyum Hideo.
Fayza memerah wajahnya. "Aku buang dan masuk ke dalam got ya?"
Hideo mengangguk. "Aku akan ganti cincinnya."
Fayza menggeleng. "Tidak usah Hideo."
Hati Hideo mencelos. Apa karena kamu mau berpisah denganku, jadi kamu menolak cincin dariku?
"Kenapa?" tanyanya dengan hati tersayat.
__ADS_1
"Lihat, jari ini makin menggemuk. Kan sayang nanti harus dikecilkan lagi" jawab Fayza sambil memperlihatkan jari jemarinya yang memang lebih gemuk dari biasanya.
Wajah Hideo berubah menjadi lega. "Benar nggak mau?"
"Nanti saja lah Hideo."
"Kalau begitu, aku belikan gelang saja ya. Kan kalau gelang ukurannya gampang."
"Terserah kamu saja" ucap Fayza.
Hideo akhirnya membelikan love bracelet Cartier dan langsung dipakaikan ke Fayza.
Fayza tersenyum melihat pergelangan tangannya dipasangkan gelang emas iconic dari perusahaan perhiasan terkenal itu.
"Terimakasih Appa." Fayza mencium pipi Hideo. "Mommy dan Shinichi sangat senang."
Hideo memandang istrinya dengan penuh cinta. "I love you Fay."
Fayza menempelkan tangannya ke wajah Hideo. "Thank you."
Hideo hanya tersenyum tipis. Mau sampai kapan kamu tidak mau mengakui perasaanmu Fay. Meskipun gemas karena istrinya tidak membalas ucapan cintanya tapi pernyataan Fayza semalam yang mengatakan masih mencintainya, sudah cukup membuat Hideo tenang.
"Mau kemana lagi sayang?" tawar Hideo.
"Pulang. Kakiku lelah."
***
Keduanya terkejut sekembalinya dari mall melihat Ashley sudah ada di depan apartemen Hideo.
"Daddy? Ada apa kemari?" tanya Fayza bingung.
"Kita masuk dulu Fay, baru kamu bertanya pada ayahmu" ucap Hideo sembari membuka pintu apartemennya.
"Masuk Dad." Fayza menggandeng tangan Ashley yange mencium pucuk kepala putrinya.
"Senang berbelanja Fay?" tanya Ashley yang duduk di sofa ruang tengah setelah dipersilahkan oleh Hideo.
"Senang. Aku beli banyak tadi soalnya kata Hideo boleh merampoknya. Jadi aku dan boy merampok Appanya" kekeh Fayza.
Ashley melihat sebuah gelang Cartier baru melingkar di pergelangan kanan putrinya. "Love bracelet Cartier, Hideo?"
Hideo mengangguk. "Yes Sir. Tadinya saya mau membelikan cincin nikah lagi buat Fayza tapi dia tidak mau karena jarinya menggemuk semua jadi saya memilih membelikan gelang itu."
"Soal cincin..." Ashley mengeluarkan sebuah kotak beludru bewarna biru tua. "Ini cincin kamu yang hilang Fay."
Fayza membuka kotak biru itu dan terkejut melihat cincin kawinnya ada disana. "Bagaimana Daddy mendapatkan cincin ini?" tanya Fayza bingung.
"Kami menemukannya di dalam gorong-gorong dan Daddy menyimpan cincin itu. Oh GPS nya masih aktif, Fay. Oom Bryan dan Jin Kawashima sudah kompak untuk memastikan itu berfungsi."
__ADS_1
Fayza melongo. "Seriously Dad. Memangnya aku apa harus pakai GPS segala!"
"Daddy hanya ingin kamu aman karena sedang ada gegeran di Seoul." Ashley menatap Hideo. "Aku harap kamu jangan pulang ke Seoul atau Jeju karena banyak yang ingin meminta kamu kembali ke Silver Shinning. Mereka tidak puas dengan kepemimpinan Lee Chan."
"Saya sudah tidak berurusan dengan Silver Shinning, Mr Sky. Sama sekali! Karena saya sudah menyerahkan semuanya kepada penerus saya yang menurut hasil voting adalah Lee Chan. Jika tidak suka dengan gaya kepemimpinan dia, itu memang resiko berganti pemimpin." Hideo menatap serius ke ayah mertuanya.
"Kamu sudah benar - benar meninggalkan Silver Shinning?" Ashley memastikan kembali.
"Sumpah Mr Sky. Saya lebih fokus kehamilan dan persiapan kelahiran Fayza dibandingkan dengan klan mafia Silver Shinning."
Ashley mengangguk. "Daddy minta kamu memakai cincin itu Fay. Semoga klan mu tidak sampai ke New York, Hideo. Karena jika sampai kemari, aku tidak menjamin kalau kita tidak bertengkar."
***
Hideo tampak termangu di jendela kamar tidurnya sambil merokok. Pikirannya berkelana ke klan mafia yang membesarkan dirinya.
"Apa mereka berani datang kemari dan meminta kamu kembali?" tanya Fayza sambil duduk di sebelah Hideo. Udara New York memasuki musim gugur ini agak sejuk dan cenderung dingin.
"Kalaupun berani, Fay, aku tidak akan pernah kembali kesana karena aku sudah memilih kamu dan Shinichi." Hideo mengelus pipi Fayza dengan punggung tangannya.
"Janganlah kembali kesana lagi. Aku hanya ingin hidup tenang" ucap Fayza.
"Apa artinya, kamu tidak jadi berpisah denganku, Fay?" tanya Hideo.
"Belum tahu..." jawab Fayza dengan nada mengambang.
"Fayza ..." desis Hideo.
"Kan menunggu Shinichi lahir ke dunia, baru aku putuskan." Fayza tersenyum ke arah suaminya.
"Terserah kamu Fay tapi yang jelas jangan sampai kita berpisah karena aku ingin seperti Haris yang membantu Freya mengurus si kembar."
Fayza melongo. "Kamu mendengarnya?"
Hideo tersenyum sambil mengangguk.
"Kamu mendengar apa saja?"
"Aku mendengar bahwa kamu juga masih mencintai aku Fay..." Hideo mendekati wajah istrinya. "Jadi buat apa kamu ngotot berpisah denganku kalau kamu pun masih cinta aku?"
Hideo lalu mencium bibir Fayza dan istrinya pun membalasnya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1