
"Bagaimana Jin?" tanya Hideo gusar. Pertama, sanctuary miliknya berhasil dibobol oleh Bryan Smith dan Levi Reeves, kedua istri dan calon anaknya diambil paksa oleh keluarganya dan ketiga, statusnya sebagai suami sahnya Fayza tidak dianggap sama sekali oleh Ashley Sky.
"Nyonya ada di kamar ini Boss." Jin menunjukkan lokasi yang terdapat titik terang disana.
"Bagus! Kita ambil kembali istriku." Hideo segera mengumpulkan banyak anak buahnya. "Ashley Sky benar-benar menantang di Seoul!"
***
Fayza perlahan membuka matanya dan mata birunya bersirobok dengan seorang pria yang memiliki mata biru sama dengan dirinya.
"Fay..." panggilnya lembut. "Apa kamu ingat papa?"
Fayza pelan-pelan mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala tempat tidur dan mengambil selimutnya untuk menutupi dirinya.
"Kamu siapa?" bisiknya dengan wajah ketakutan. "Dimana suamiku?"
Ashley mengusap wajahnya kasar dan berapa kali dia harus menghela nafas panjang. "Fayza, aku adalah papa kamu. Nama papa Ashley Sky, mama kamu bernama Kristal Ruiz. Opa kamu bernama Raymond Ruiz dan Oma kamu bernama Valora Arata. Kamu memiliki seorang kakak perempuan bernama Freya yang sudah menikah dengan Haris Lexington, mantan akuntan mama di PRC group New York."
Fayza hanya menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidak memiliki orang tua. Kembalikan aku pada suamiku!"
"Pria itu bukan suamimu!" hardik Ashley.
"Dia adalah suamiku ! Sekarang, kembalikan aku kepadanya!" bentak Fayza yang membuat Ashley terkejut karena seumur hidup, bungsunya tidak pernah membentaknya.
"Fay... Apakah kamu ingat Pramana Dewanto?" tanya Ashley hati-hati.
Fayza menggeleng cepat. "Aku tidak tahu siapa itu! Yang jelas kalian sudah menculik aku! Sekarang kembalikan aku pada suamiku!" Mata biru Fayza menatap tajam ke arah Ashley yang hanya bisa menatapnya sendu.
Ashley pun berdiri. "Fayza, papa harap kamu segera bisa mengingat semuanya sebelum kamu mengalami kecelakaan. Dan pria yang kamu panggil suami oleh mu, dia bukan suamimu yang sah!"
"Terserah kalian bilang apa tapi aku dan Hideo saling mencintai satu sama lain!" bentak Fayza.
Ashley hendak mengatakan sesuatu tapi dari pintu muncul seorang pria yang seumuran dengannya namun berdarah Asia.
"Ash, cooling down dulu. Rani bilang jangan membuatnya tertekan lagi. Bahaya buat bayinya." Pria itu menatap Fayza dengan penuh perhatian.
"Tapi dia masih menganggap Hideo adalah suaminya, Vi" keluh Ashley. Ada perasaan tidak rela putri bungsunya mengalami nasib seperti ini.
"Pernikahan mereka legit, Ash. Sesuai dengan hukum pernikahan Korea Selatan. Bryan sudah menemukan berkasnya dan Hideo tidak menutupi nama asli Fayza tapi dengan kekuatannya, dia berhasil menutupi." Levi memeluk Ashley. "Biarkan Fayza istirahat karena besok kita akan terbang ke Tokyo. Mau kamu menolak bagaimana pun, Fayza sudah menikah resmi secara hukum dan dia hamil cucu kamu sekarang . Pikirkan dua nyawa disana."
Ashley menoleh ke arah Fayza yang memejamkan matanya sambil mengelus-elus perutnya dan berucap berulang kali "Appa akan menjemput kita, sayang."
Hati Ashley seperti dicubit dengan keras melihat bagaimana putrinya tidak mengenali dirinya sama sekali dan hanya Hideo yang ada di benaknya.
"Kita keluar dulu Vi." Ashley pun keluar dari kamar Fayza yang diikuti oleh Levi.
__ADS_1
***
Hideo dan anak buahnya sudah tiba di sebuah rumah yang terletak di daerah Gangnam dan dia tahu daerah sana minim dengan kamera CCTV. Jin dan Hyong-wa berhasil menghack semua CCTV yang ada dan mengirimkan drone untuk memindai.
"Nyonya Park ada di kamar lantai dua boss." Jin melaporkan kepada Hideo.
Tiba-tiba ponsel Hideo bergetar dan semua ponsel dibuat silent bergetar. Wajah pria itu tersenyum.
"Halo sayang" sapanya.
"Hideo! Bebaskan aku dari sini!" ucap Fayza tertahan.
"Tunggu sebentar lagi sayang. Berapa orang yang ada disana?"
"Aku hanya melihat lima orang, tiga wanita salah satunya seorang dokter."
Hideo merasa lega mendengar suara istrinya apa lagi dia membawa ponsel pink nya yang ternyata berguna.
"Kamu tunggu disana. Aku akan menjemputmu!" ucap Hideo yang membuat Fayza tenang.
"Aku hanya ingin segera pergi dari sini."
"Aku tahu sayang. Tunggu sebentar ya." Hideo mematikan panggilannya.
"Semua sudah siap boss."
"Kita balas mereka!"
***
Terjadi keributan disana dan Hideo segera memanjat tembok dengan baju hitam-hitam lalu menuju pintu balkon lantai dua dan Fayza sudah berada disana. Pria itu meminta anak buahnya melemparkan tangga lipat dan dengan cepat memasangnya.
"Minggir Fay! Akan aku pecahkan pintunya!" teriak Hideo yang membawa alat pemecah kaca frekuensi tinggi. Tak lama kaca pintu itu pecah dan Fayza segera menghambur ke Hideo.
"Kamu bisa memanjat tangga?" tanya Hideo yang agak ngeri mengingat Fayza hamil lima bulan.
"Hei! Jangan remehkan wanita hamil!" bentak Fayza. "Yang penting aku bersama dengan suamiku!"
"Pintu kamarmu?" Hideo melongok dan melihat sudah diganjal lemari dan kursi. "That's my girl!" Pria itu tidak tahan untuk tidak mencium pipi istrinya. "Ayo kita pergi!"
Hideo turun dengan tangga terlebih dahulu dan menunggu Fayza turun dan kagum dengan kekuatan fisik istrinya yang hobi berolahraga. Setelah Fayza turun, Hideo mengambil tangga besi itu dan memasangnya di tembok dan kali ini dia menyuruh Fayza naik tangga itu.
"Ada tangga lagi sayang, Hyong-wa dibawah" ucap Hideo dan keduanya mengacuhkan keributan didalam rumah.
Fayza naik tangga dan setelah melewati tembok, dia melihat ada tangga lagi dan Hyong-wa bersama tiga anak buahnya dibawah menahan tangga besi lainnya.
__ADS_1
"Hati-hati nyonya!" ucap Hyong-wa tertahan.
Fayza pun turun tangga dengan hati-hati dan Hideo menyusulnya. Fayza tiba disisi tembok dengan selamat, begitu juga dengan Hideo.
"Kalian pergi dulu boss!" ucap Hyong-wa.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Fayza cemas.
"Tenang nyonya, kami akan menyusul anda berdua!" senyum pengawal tampan itu.
Hideo memeluk Fayza dan membawanya masuk ke dalam mobil dimana Jin sudah berada disana dengan Lee Chan.
"Go!" perintah Hideo dan mobil Range Rover itu langsung tancap gas.
"Kita akan kemana Hideo? Tidak ke Jeju kan?" tanya Fayza.
"Tidak sayang, kita tidak akan kembali ke rumah Jeju." Hideo memeluk Fayza erat-erat. "Bagaimana boy?"
"Tadi boy sempat panik karena aku panik tapi sudah diberikan obat penenang jadi aman." Fayza mengelus wajah Hideo.
"Boss, saya minta cincin nyonya dibuang!" ucap Jin.
"Kenapa?" tanya Hideo.
"Bryan Smith membuat kloning kode agar bisa melacak nyonya."
Hideo mengambil cincin kawin Fayza. "Maaf sayang, aku harus membuang cincinnya agar kamu tidak dilacak."
Tanpa berpikir dua kali, Fayza melepaskan cincin kawinnya, satu-satunya perhiasan yang dia pakai dan bumil itu membuka jendela lalu membuang cincinnya sembarangan.
Hideo yang melihat cincin itu masuk ke dalam gorong-gorong hanya tersenyum smirk. "Cincin kawinnya akan aku ganti lagi, sayang."
Fayza tersenyum manis. "Kita akan kemana?"
Mobil Range Rover itu menuju ke sebuah bandara yang khusus pesawat - pesawat pribadi. Setelah mobil itu berhenti, sedikit berlari Hideo menggandeng tangan Fayza masuk ke dalam pesawat yang sudah bersiap tinggal landas bersama dengan Jin dan Lee Chan.
Jin menemui pilot untuk segera terbang sedangkan Hideo membantu Fayza memasang sabuk pengaman dan duduk di sebelahnya. Tak lama pesawat pun terbang tinggal landas.
"Kita akan kemana Hideo?" tanya Fayza penasaran.
Hideo menatap istrinya. "Turin."
***
Yuuuhhuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️