
Hoshi, Aji dan Alaric menemui tujuh orang yang menghajar Benji hingga babak belur di sebuah ruang kosong milik keluarga McGregor dan Blair yang masih satu area tempat latihan mereka serta lokasi Hoshi dan Bima bertarung awal-awal Bima pacaran dengan Arimbi.
Alaric dan Direndra yang datang semalam langsung setuju jika dilakukan rematch dengan orang-orang itu sebelum dideportasi ke Korea Selatan.
Lee Woon-ji mau tidak mau menerima permintaan Hoshi dan Abi karena ancaman videonya yang penuh aib akan disebarkan yang memungkinkan kehancuran kariernya.
15 orang yang ikut berkelahi masuk daftar deportasi karena memegang paspor Korea Selatan sedangkan sisanya adalah warga negara Amerika Serikat.
Dan kini ke 15 orang itu sudah dikumpulkan di ruang kosong yang sudah ada kaum pria generasi kelima Pratomo.
"Yang mana yang menghajar Benji?" tanya Hoshi ke Joey.
Joey lalu menujuk tujuh orang yang tampak gelisah melihat delapan orang pria tampan-tampan di hadapan mereka. Joey, Hoshi, Pandu, Direndra, Aji, Alaric, Abi, Rajendra dan Adrian yang datang dari Swedia sudah berdiri dengan wajah dingin.
"Kalian bertujuh, maju!" bentak Hoshi. "Ji, Al, sudah siap kalian?" Aji dan Alaric mengangguk.
Ketujuh orang itu tampak ketakutan begitu juga yang lain.
"Wooiiii maju bang*sat! Sini hadapi aku! Sendirian pun aku jabani! Kalian berdelapan berani hadapi adikku kenapa tidak berani hadapi aku sendirian!" bentak Hoshi kesal sambil membawa batonnya di bahu.
"Maju kalian ! Mana keberanian kalian kemarin?" hardik Alaric yang jengkel mendengar adiknya paling bontot dihajar.
"Maju deh kalian semua!" kompor Hoshi. "Ambil saja senjata disana!"
Di belakang para begundal-begundal itu terdapat tongkat, nunchaku, pedang Kendo dan baton.
"Ambil saja!" teriak Direndra. Lupa kalau dirinya adalah Emir di Dubai karena disini dirinya adalah Direndra Giandra Al Azzam Blair.
Para begundal itu saling berpandangan lalu seperti dikomando, mereka saling mengambil senjata masing-masing.
Hoshi tersenyum smirk. "Lu berdua, sudah siap? Ji, jangan ragu! Hajar saja!"
Ke 15 orang itu merangsek maju menyerang Hoshi, Alaric dan Aji yang langsung melawan dengan menggunakan baton dan pedang Kendo sedangkan kelima orang sepupu tiga orang itu hanya menonton sambil bersedekap.
Hoshi menghajar orang-orang yang mengeroyok Benji tanpa ampun bahkan dua diantaranya langsung pingsan dengan wajah babak belur. Abi hanya menggelengkan kepalanya melihat adiknya satu itu trance dan brutal.
"Bang, bawa tas dokter kan?" tanya Adrian ke Joey.
"Ambulans sudah ready juga kok!" cengir Joey.
Pandu hanya tersenyum tipis. "Kalian itu ya..."
Aji menghajar empat orang dengan menggunakan teknik silatnya. Falisha yang mendorong untuk lebih mempelajari Wushu yang digabungkan dengan taekwondo yang dikuasainya.
__ADS_1
Alaric sendiri lebih suka tangan kosong menggabungkan teknik karatenya dan krav maga. Dalam waktu kurang dari satu jam, ketiga orang itu sudah menghajar ke 15 orang disana.
Hoshi lalu menarik rambut salah satu orang yang menghajar Benji dan menyeretnya ke pojok. Matanya menatap tajam ke orang yang sudah babak belur itu.
"Katakan! Dimana si bang*sat Park Jung-Min dan Kim Yoo-ra?"
"Saya... tidak... tahu..." ucap orang itu lemah.
"Brengsek! Apa kamu perlu aku sobek bibir kamu dan mukamu akan kubuat seperti Joker?" Hoshi mengambil pisau lipatnya dari saku belakang celana jeans nya dan membukanya. Dengan santainya pria cantik itu menggoreskan pisau itu di tembok hingga membentuk garis lurus.
"Tembok saja bisa seperti ini bekasnya, apalagi wajah kamu!" ucap pria cantik itu dengan wajah menyeringai. Pengeroyok Benji gemetaran ketakutan.
"Me.. mereka... Ada di Queens.... Jika di Queens kosong... mereka ada beberapa... persembunyian lagi dekat... subway Manhattan, sungai... Hudson... dan Brooklyn. I...itu saja yang...kami tahu."
Hoshi tersenyum sambil melipat kembali pisaunya. "Lu denger kan Ben?"
"Denger mas. Aku dan GM akan cari tahu" jawab Benji di seberang. Hoshi memang memasang earpiece setelah berkelahi.
"Kalian akan segera dideportasi ke Korea Selatan setelah diobati. Dan..." Hoshi melirik ke arah celana pria yang ketakutan. "Kamu mandi! Bau Pesing!"
***
"Astaghfirullah Hoshi! Psychonya dikurangi lah!" kekeh Abi.
"Tapi wajahmu meyakinkan sih" komentar Aji.
Hoshi hanya nyengir.
"Benji pacarnya GM ya?" celetuk Adrian sambil memeriksa berkas-berkas untuk deportasi semua orang Korea Selatan yang sedang diobati oleh Joey dan beberapa petugas medis yang memang disiapkan.
"GM? General Manager?" tanya Alaric.
"Bukan, Jang Geun-moon, putrinya Big Jang" sahut Adrian.
"AAAPPAAA?" seru semua orang disana.
Adrian hanya melongo. "Kukira kalian tahu."
"Aku sih sudah tahu!" seru Abi dan Joey cuek.
***
Hideo merasa senang melihat Fumiko dan Fayza saling bercengkrama seperti layaknya mertua dan menantu. Kini mereka semua sedang ada di apartemen Hideo dan Takeshi Takara pun ikut menemani Fumiko. Di luar apartemen, banyak para pengawal Takeshi berjaga - jaga.
__ADS_1
"So Hideo, apakah ada pergerakan lagi?" tanya Takeshi sambil menikmati teh wasgitel buatan Fayza.
"Sejauh ini belum, Mr Takara dan saya tidak diijinkan untuk keluar-keluar oleh Mr Sky karena saat berkelahi kemarin, nyawa saya juga nyaris melayang...lagi" senyum Hideo.
"Benar-benar wanita itu menyusahkan tapi juga menggemaskan !" kekeh Takeshi sambil melirik Fumiko yang sedang memilih-milih baju bayi bersama Fayza dari iPad.
"Anda menyukai okāsan saya, Mr Takara?" selidik Hideo dengan wajah usil.
"Eeerr.... Ehem! Gimana ya Hideo, ibumu itu adalah cinta pertama aku ... Dan... aku..." Takeshi memerah wajahnya. Tidak ada tampang sangar pemimpin Yakuza klan Takara, yang ada hanya seorang pria yang sedang jatuh cinta.
"Saya merestui anda bersama okāsan saya" senyum Hideo.
Wajah Takeshi langsung sumringah. "Benarkah? Serius kamu Hideo?"
"Serius, lagipula okāsan juga sudah sendirian lama dan jika ada pria yang memang mencintai okāsan, saya tidak akan menghalangi."
Takeshi langsung mengambil tangan Hideo dan menyalami nya. "Terimakasih Hideo! Terimakasih! Miko!"
Fumiko dan Fayza menoleh ke arah Takeshi dan Hideo yang duduk di sofa ruang tengah sedangkan kedua wanita itu duduk di pantry dekat dapur.
"Ada apa Takeshi?" tanya Fumiko bingung melihat pria bertubuh gempal itu tampak bahagia.
"Hideo memberikan restu buat kita! Setelah Emi oke dan sekarang Hideo oke, beban aku menjadi ringan" ucap Takeshi bahagia.
"Syukurlah mama, mendapatkan Oom Takeshi" ucap Fayza tulus.
"Hide, benarkah kamu merestui okāsan dan Takeshi?" tanya Fumiko ke putranya.
"Hei, aku kan tidak bisa menghalangi Yakuza jatuh cinta. Yang tua yang bercinta judulnya... Aduuuhh!" Hideo merasakan kepalanya kena keplak Takeshi.
"Jangan sembarangan! Bikin malu!" hardik Takeshi sok galak tapi melirik mesra ke Fumiko.
"Oh astaga kalian itu!" gelak Fayza yang geli melihat mertua dan Oom nya tampak malu-malu.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1