Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Ke Turin


__ADS_3

Luca dan Joey akhirnya menemukan villa keluarga mereka yang berada di Turin dan ternyata berada di pinggiran kota. Villa yang terdiri dari dua lantai itu tampak masih terawat meskipun tidak ada yang tinggal disana.



"Kita tidur dulu, Luc. Besok harus fresh badan dan otak kita." Joey menguap lebar-lebar.


"Iya, aku juga mulai ngantuk." Luca melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah dua.


***


Turin, Italia


Fayza terbangun karena perutnya terasa lapar. Semakin hari bumil itu merasa bayinya semakin membuat dirinya lapar. Hideo yang merasakan gerakan istrinya pun terbangun.


"Ada apa Fay?" tanyanya pelan.


"Aku lapar." Fayza pelan-pelan turun dari tempat tidur dan menuju ke sebuah meja pantry dan langsung membuat roti dengan diolesi selai strawberry.


Hideo pun ikut turun menemani istrinya makan dengan membuat teh panas untuk mereka berdua. Sejak memasuki bulan kelima kehamilannya, Fayza selalu terbangun untuk makan.


"Besok mau jalan-jalan atau di rumah saja?" tanya Hideo.


"Jalan-jalan ke danau belakang rumah saja. Aku senang disana." Fayza tersenyum ke arah suaminya.


"Oke sayang."


***


London, Inggris


Pagi ini mansion Blair ramai dengan banyak orang yang melaksanakan sarapan dan seperti biasa Aidan, Thara, Rajendra dan Direndra sudah menyiapkan sarapan dengan berbagai macam. Semua orang disana bisa mengambil sendiri karena Aidan mempersiapkan sistem buffet, kebiasaan sejak generasi kedua kalau berkumpul.


Para keluarga sudah tampak rapi, begitu juga dengan Joey dan Luca yang bangun belakangan pun sudah mandi tapi masih memakai baju santai.


"Joey, sudah ketemu villa duo M?" tanya Javier yang makannya diawasi ketat oleh Agatha.


"Sudah Opa. Kita bisa berangkat sore ini ke Turin jika semua persiapan sudah selesai." Joey menjawab pertanyaan opanya.


"Ai, koleksi senjata Oom Edward mau kamu bawa?" tanya Javier lagi.


"Eh nggak usah opa!" sergah Luca.


"Kenapa?" tanya Javier.


"Daddy sudah menghubungi kerabatnya yang disana untuk menyiapkan semuanya di villa" cengir Luca. "Jadi kita tidak usah membawa senjata dari London. Bisa ribet urusannya."


"Bagus. Nanti sore kita berangkat!"


***


Hideo menemani istri cantiknya berjalan-jalan di sebuah danau yang terletak belakang rumah mereka. Rumah Turin itu sendiri adalah hidden place dari ayah Hideo dan hanya Hideo beserta anak buahnya yang tahu. Bahkan Fumiko sang ibu, tidak tahu aset suaminya yang ini.

__ADS_1


"Hideo..." panggil Fayza.


"Apa sayang?"


"Kapan kita bisa pulang ke Jeju? Aku rindu rumah kita disana."


Hideo berhenti berjalan lalu menggandeng Fayza ke sebuah batu besar di bawah pohon willow. Keduanya duduk disana dan Hideo menatap Fayza dengan wajah sendu.



"Fay, jika aku berkata jujur, apakah kamu akan meninggalkan aku?" Fayza menatap bingung ke arah suaminya.


"Ada apa Hideo? Jangan membuatku takut."


Hideo menghela nafas panjang. "Maafkan aku Fay... Tapi aku memang terkena bumerang sekarang."


"Hah?"


"Apapun yang terjadi Fay, sampai kapanpun aku selalu mencintaimu. Kamu adalah wanita ku satu-satunya, milikku yang paling berharga, dan kamu adalah istriku selamanya."


Fayza menatap Hideo dengan tatapan bingung dan penasaran. "Ada apa Hideo?"


"Boss!" suara Jin terdengar di earpiece Hideo. Meskipun mereka mendapatkan pengawalan ketat tapi tetap saja Hideo mempercayakan semua pengawasan pada Jin.


"Ada apa Jin?"


"Aku minta boss segera kembali. Ada pergerakan drone di dekat sini." Suara Jin terdengar cemas.


Fayza mengangguk dan menaikkan tudung hoodie nya.




Hideo menatap langit mencari - cari letak drone itu, begitu juga dengan Hyong-wa bersama lima pengawal lainnya yang menemani pasangan itu jalan-jalan.


"Boss, kita berjalan di bawah pohon-pohon willow sepanjang jalan ini. Tidak kelihatan" ucap Hyong-wa.


"Oke."


Kedelapan orang itu pun berjalan dengan sembunyi-sembunyi dari drone yang melintas.


***


"Ada apa Jin?" tanya Hideo setelah mereka masuk ke dalam rumah semua.


"Tampaknya ada pergerakan boss dari rumah yang beda dua blok dari sini." Jin menunjukkan sebuah rumah mewah yang terlihat dari CCTV yang dipasang ke arah rumah yang dimaksud.


"Siapa pemilik rumah itu?" tanya Hideo yang melihat ada beberapa orang berkativitas disana.


"Lee Chan sedang mengirimkan drone untuk mengawasi dan anda tidak akan percaya jika saya memberitahukan siapa pemilik rumah itu." Jin menatap Hideo.

__ADS_1


"Siapa?"


"Klan Bianchi."


Damn it!


***


Pesawat yang membawa rombongan klan Pratomo tiba di bandara Turin menjelang tengah malam dan segera dijemput dengan empat mini bus yang sudah disiapkan oleh Marco dan Mario Bianchi melalui keluarga nya.


"Kita pakai ini agar tidak terlalu mencolok dan beberapa mobil Supercar sudah disiapkan Daddy di garasi." Luca menatap ke semua sepupu-sepupunya.


"Kalau ada Maserati, itu buat aku!" seru Hoshi sambil memejamkan matanya yang membuat orang-orang yang satu mobil dengannya berdecih.


"Langsung deh yang diambil yang favorit! Dasar muka cewek!" cebik Bima.


"Heh Werkudara! Maserati itu tidak ada duanya suaranya!" balas Hoshi.


"Luc, harusnya elu tuh kagak jadiin satu si bon cabe sama si reseh dalam satu mobil!" protes Rama kesal mendengar keributan kedua orang yang tidak pernah akur dari hari pertama bertemu.


"Aku kira karena Hoshi sudah ngantuk jadi bakalan jinak" kekeh Luca.


"Sulit Luc! Pawangnya kan tidak ada disini!" timpal Abi yang sedang menelpon istrinya, Gandari.


"Masih ribut saja tuh berdua mas?" tanya Gandari dari seberang.


"Sampai kiamat pun kagak bakal akur tuh berdua. Macam Ogan Abi dan Opa Edward lah tapi ini lebih parah deh kayaknya" kekeh Abi ke istrinya.


"Hati-hati ya mas" ucap Gandari.


"Kamu tuh daripada ribut melulu, mending telepon Rina sana!" ucap Bima.


"Kenapa elu kagak telepon Rimbi daripada recokin urusan gue ngeklaim Maserati? Julid banget lu!" balas Hoshi.


"Eh cumi! Julid ke elu itu adalah sebagian dari iman. Kalau sebelumnya ada enam rukun iman, di kamus aku jadi tujuh. Rukun iman atas kejulidan ke muka cewek!" sahut Bima tidak kalah pedas.


"Kalian berdua bisa diam nggak sih? Gue suruh gelut lagi seperti dulu gimana?" bentak Abi yang kesal melihat dua pria yang sudah menjadi ayah tapi kelakuan masih macam jaman lajang. "Hoshi, kamu telepon Rina biar mood kamu bagus! Bima, kamu telepon Arimbi! Sudah jangan ribut! Kita semua masih jetlag! Kalau ada yang ribut lagi, jangan salahkan gue hajar kalian dengan tangan gue sendiri!"


Hoshi dan Bima pun terdiam tidak berani melawan Abiyasa yang memang paling kuat dari semua generasi kelima. Rama, Astuti, Luca dan Emi hanya tersenyum simpul mendengar Abi kalau sudah ngamuk memang tidak pandang bulu bahkan saudara sendiri dihajar kalau memang sudah keterlaluan.


Menjelang jam dua malam, keempat mobil itu pun tiba di villa milik keluarga Bianchi.


***


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2