Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Menyerbu


__ADS_3

Kelompok pertama yang dipimpin oleh Arjuna memasuki melalui jalur Utara, kelompok kedua yang dipimpin oleh Aidan dari barat, kelompok tiga yang dipimpin Joey dari timur dan kelompok empat dipimpin Rama dari tenggara.


Semua orang melakukan perjalanan dengan sedikit jogging. Bagas hanya bisa mengomel dalam hati karena anggota di kelompok nya termasuk memiliki fisik yang kuat.


"Are you okay mas?" tanya Direndra di sebelah Bagas.


"Aku harus banyak olah raga ini" keluh Bagas.


"Emang betul Oom meshum" sahut Hoshi di earpiece.


"Jangan ikut campur, Quinn!" desis Bagas tidak berani berbicara keras.


"Sepulang dari sini, kamu harus ke Dojo Gas!" kekeh Hoshi.


"Guys, hati-hati. CCTV sudah mulai bekerja untuk mencari gerakan. Arga, Alaric, lepas semua yang ada di tas" perintah Bryan.


Alaric dan Anarghya menurunkan tas backpacknya dan mulai melepaskan banyak burung yang disiapkan oleh pengawal. Otomatis gerakan itu ditangkap oleh kamera CCTV hingga mengalihkan dari penyusupan para anggota klan Pratomo.


Keempat kelompok itu sudah tiba di pos masing-masing.


"Cocokkan jam tangan kalian masing-masing... lagi" ucap Arjuna di earpiece semua keponakannya. "Sekarang pukul 20.55. Kita akan masuk lima menit lagi. Ingat tembak melumpuhkan bukan membunuh! Meskipun pemerintah Turin bagaikan tiga monyet buta tuli bisu tapi sebisa mungkin kita tidak menjadi seorang pembunuh."


"Baik Oom Juna."


Ke 18 orang itu mulai menyiapkan semuanya termasuk topeng gas karena mereka memilih memakai gas tidur lagi.


"Tepat pukul 21.00. Kalian tahu kan tugas masing-masing? Bergerak!" suara Arjuna membuat semua orang bergerak. Arjuna, Hoshi dan Alaric membereskan empat pengawal di gerbang utama dengan menembakkan peluru bius, lalu kelompok dua merangsek masuk bersama dengan kelompok satu.


Emi dan Bagas yang bagian membawa gas tidur pun mulai melemparkan ke arah pengawal yang berjaga di pintu utama.


Kelompok tiga pun masuk melalui tembok sebelah timur dengan mempersiapkan gas tidur, begitu juga dengan kelompok empat yang dari tenggara.



Halaman belakang villa Park


"Lempar gas tidurnya" ucap Rama dan Joey ke Anandhita dan Ayrton yang sudah mendekati para penjaga.


Keduanya lalu melemparkan bom tidur ke arah pengawal yang berjaga di halaman belakang hingga mereka pun terlelap lalu kelompok tiga dan empat turun.


Rama memimpin kelompok empat dan berjalan masuk melalui pintu belakang. Namun tanpa mereka sadari, seorang pengawal belum tertidur dan langsung mengarahkan tembakan ke arah kelompok empat.


Pandu yang dibelakang, melihat pengawal itu langsung berseru.


"Rama! Anandhita! Arga! Awas!" Pandu langsung menarik Rama tepat saat pengawal itu menembak dan mengenai betis Rama yang terlambat ditarik oleh Pandu.


"Mas Rama!" seru Anandhita dan Anarghya.


Rama sendiri meringis kesakitan merasakan timah panas yang mengenai betisnya dan Pandu' langsung menembak pengawal itu dengan peluru bius.


"Ah sial! Kena betis gue pula! Kempes ini!" gerutu Rama kesal.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arjuna.


"Fine, Pa. Tenang saja, ini lagi diobati Anandhita." Rama memberikan kode agar dirinya ditinggal saja oleh Pandu dan Anarghya yang kemudian melanjutkan perjalanan.


"Mas, kita bersembunyi di bawah pohon willow itu." Anandhita pun memapah kakaknya yang memiliki wajah mirip Opanya.


Astuti yang melihat melalui body cam berteriak histeris mendengar suaminya tertembak.


"Cuma betis sayang, cuma betis." Rama berusaha menenangkan istrinya yang gampang panik. "Ini sedang diperiksa Dhita."


"Mbak Tuti tenang saja, aku urus mas Rama" ucap Anandhita. "Mas Rama, awasi sekitar ya, aku coba keluarkan pelurunya."


"Oke Dhit."


***


Kelompok tiga pun berjalan mengendap-endap sembari menembak kamera-kamera CCTV yang dilancarkan oleh Joey, Georgina dan Ayrton karena Bima merasa kurang jitu menembak obyek kecil seperti itu.


"Lima CCTV di sisi timur sudah rusak" ucap Joey di earpiece semua orang.


"Pengawal disini juga sudah terlelap" lapor Bima. Disisi tempat mereka datang ada sekitar lima pengawal yang langsung tidak berkutik terkena gas tidur.


Suara adu tembak terdengar dari dalam rumah membuat kelompok tiga bergegas masuk ke dalam rumah dan memberikan tembakan bius ke pengawal disana.


"Tembakan bius aku di magazin tinggal satu" ucap Bagas ke Direndra saat mereka bersembunyi di balik pilar.


"Habis itu kamu tembak dengan peluru biasa tidak apa asal bukan head shot!" balas Direndra.


Hoshi melihat ada celah untuk menuju lantai dua meminta kepada Arjuna melindunginya. "Oom Junjun, cover me!"



Hoshi Paramudya Quinn Reeves


"Kamu mau kemana?" tangan Ashley mencekal tangan Hoshi yang hendak pergi.


"Ambil Fay, Oom!" jawab Hoshi yang sudah siap dengan Glock dan batonnya.


"Sama Oom!" Ashley menepuk bahu Arjuna. "Jun! Alaric! Cover us!"


Hoshi dan Ashley pun berlari menuju dapur yang terletak di sisi kiri mereka. Keduanya menemukan tangga khusus pelayan mengantarkan makanan dan segera naik ke lantai dua.


"Bang Luca! Lu dapat blueprint nya masih yang lama! Hideo sudah ganti layout nya!" omel Hoshi kesal karena seharusnya dari tangga pelayan langsung menuju kamar Hideo tapi ternyata sudah menjadi kamar kosong.


"Aku mana tahu Hosh!" balas Luca sambil menembak kaki seorang pengawal. "Itu blueprint dari pemerintah Turin!"


"Menyebalkan!" umpat Hoshi hingga menuju pojok lantai dua dan melihat sebuah pintu ganda bewarna putih.


Tak lama terdengar kericuhan yang mengatakan Ayrton terkena tembakan di punggung membuat Hoshi dan Ashley menahan nafas tegang.


"He's fine!" ucap Joey menenangkan membuat Hoshi dan Ashley melanjutkan mencari kamar Fayza.

__ADS_1



"Oom, kayaknya Fay disana deh!" ucap Hoshi sambil membuka topeng anti gasnya karena di lantai ini tidak ada gas tidur.


Ashley pun melakukan hal yang sama, melepaskan topengnya. "Kita masuk sekarang!"


Suara langkah kaki membuat keduanya menoleh dan tampak Aidan dan Rajendra di belakang mereka.


"Ayrton terkena tembak di punggung saat mencoba melindungi Georgina. Sekarang Abi sedang perjalanan kemari membawa mobil untuk membawa Rama dan Ayrton ke rumah sakit." Aidan menatap Ashley dan Hoshi.


"Bagaimana para pengawal di bawah? Aku tidak melihat Jin Kawashima juga?" ucap Ashley yang menodongkan pistolnya dari samping kiri pintu ganda itu.


"Sudah aman semua! Sudah kita borgol termasuk tiga kepercayaan Hideo." Rajendra mempersiapkan pistolnya.


"Kalian siap ya?" ucap Aidan dari sisi kanan pintu menatap Rajendra dan Hoshi yang mengarahkan pistolnya ke arah kamar. Keduanya mengangguk.


Ashley dan Aidan membuka pintu dan tampak Fayza duduk bersama Hideo dan Jin Kawashima.


Wajah Hoshi dan Rajendra seketika terharu melihat adik mereka tampak sehat, cantik dan hamil.


"Fay..." panggil Hoshi dan Rajendra bersamaan dengan nada tercekat. "Kamu ingat kami?" tanya Rajendra.


"Halo kakak ipar. Sudah main tembak-tembakan nya?" tanya Hideo sinis.


Ashley hendak merangsek masuk tapi ditahan oleh Aidan. "Jangan gegabah! Biarkan Hoshi dan Rajendra yang masuk. Siapa tahu Fay ingat dengan keduanya."


Fayza menatap kedua pria tampan di hadapannya yang entah kenapa wajah pria cantik itu tampak familier. Aku pernah bertengkar dengan pria cantik itu.


Tiba-tiba kepala Fayza terasa sakit membuat Hideo segera memeluk istrinya. "Fay, are you okay?"


"Kepalaku sakit, sayang..." desis Fayza sambil memegang kepalaku dan wajahnya tampak memucat.


Hoshi bergegas menuju ke arah Fayza dan memegang wajahnya.


"Fay, ini mas Hoshi. Ingat?"


Hideo berusaha menepiskan tangan Hoshi namun pria cantik itu menatap tajam ke pria Korea itu. "Stay away you jerk!" Hardik Hoshi kesal.


Rajendra menarik tubuh Hideo untuk membiarkan Hoshi bersama dengan Fayza sedangkan Aidan dan Ashley menahan Jin Kawashima yang memang memilih untuk membiarkan mereka.


***


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf semalam ketiduran


Lanjut lagi nanti


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2