Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
London


__ADS_3

London, England


Semua keluarga besar klan Pratomo berkumpul di London dan tidak ada yang memakai nama belakang yang mereka miliki karena mereka satu keluarga Pratomo. Mau Al Jordan, Bianchi, Blair, Arata, Ruiz, McCloud, Giandra ataupun Reeves dan Neville tapi mereka adalah keturunan ataupun memiliki kekerabatan dari Klan Pratomo.


Meskipun nama Giandra dan Arata bukan keturunan langsung tapi dari pernikahan membuat mereka menjadi satu keluarga besar. Dan kini mereka semua berkumpul di Mansion Blair yang dibangun oleh ayah Duncan Blair, Edward Blair.


Namun karena kondisi kesehatannya, Aidan dan Rhett lah yang menjadi tuan rumah. Kaia Blair sendiri memilih tinggal di New York menemani kedua orangtuanya karena dirinya tidak yakin sudah hilang jiwa bar-barnya.


"Daripada kamu bikin gosong orang lagi, mending kamu stay di New York." Begitu ucapan Rhett sebelum mereka bertolak ke London.


Dan kini di mansion sudah berkumpul dari Jakarta, Anarghya, Bima, Hoshi dan Anandhita. Tokyo ada Luca dan istrinya Emi Takara, Dubai ketiga Emir itu pun datang tanpa istri masing-masing kecuali Alaric yang belum menikah, New York Abi, Pandu, Rajendra, Aruna Joey dan Georgina sedangkan London Aidan, Arjuna dan Rama beserta istrinya Astuti.


"Direndra" sapa Rama. "Mana Raana?"


"Raana bersama eyang Aisyah. Lagipula Damian masih membutuhkan ASI, tidak mungkin aku ajak kemari kan?" ucap putra sulung Aidan Blair dan Thara Al Azzam. Setahun lalu eyang Hasyim mangkat dan membuat Direndra menjadi Emir Al Azzam namun karena ini menyangkut sepupunya, pria itu melepaskan gelar di keluarganya. Sementara Direndra dan Alaric urusan keluarga, Iqbal lah yang menjadi pemimpin sementara dengan pengawasan Raana.


Ayrton menyapa Astuti yang berdiri di sebelah Rama dengan bahasa isyarat.


Apa kabar mbak Tuti?


Kabar baik, Ayrton. Mariana mana?


Di Dubai dengan Opa dan Oma. Kasihan Zee sendirian kalau May ikut kemari.


"Sejak kapan kamu belajar bahasa isyarat?" tanya Rama ke Ayrton.


"Sejak Zee punya teman seperti mas Aji dan mbak Tuti jadi mau tidak mau, aku dan May belajar juga." Ayrton tersenyum ke arah Rama.


"Ngomong-ngomong kok aku tidak lihat mas Aji dan mas Haris? Mbak Freya juga nggak ada?"


"Aji memang aku suruh stay di Jakarta membantu via satelit sedangkan Haris harus menjaga si cewek Ghostbuster supaya nggak ngamuk disini sambil bakar menyan kan berabe" sahut Hoshi.


"Lu kira setan London kudu dipanggil pakai menyan?" sungut Rama.


"Lho bukannya kalau memanggil harus bakar daun Sage yang sudah dikeringkan? Kan sama saja dengan kemenyan kan?" Hoshi menatap Direndra, Ayrton, Rama dan Astuti bergantian.


Astuti langsung tertawa kecil sedangkan Direndra dan Ayrton memutuskan pergi meninggalkan pria cantik itu.


"Kayaknya elu kelamaan begadang ngurus V jadi error otak lu!" ledek Rama.

__ADS_1


"Lho kok bawa-bawa anakku?" tanya Hoshi polos.


"Yuk sayang, kita tinggalkan bapak gesrek satu ini." Rama kemudian merangkul istrinya.


Hoshi hanya mengedikkan bahunya.


***


"Sebaiknya tidak semua terbang ke Paris. Kita selidiki dulu disana, apakah benar mereka ada disana." Levi menatap ke semua keluarganya saat sudah kumpul.


"Kirim aku dan Hoshi saja dulu. Kami berdua kan sama-sama fasih bahasa Perancis" ucap Rajendra.


"Ok, Jendra kamu dan Hoshi berangkat ke Paris menggunakan mobil sedangkan kami-kami akan menunggu kalian. Waktu kalian dua hari lalu setelahnya kembali ke London untuk menyusun rencana lagi." Levi menatap ke putra dan keponakannya.


***


"Kenapa harus aku sama kamu sih mas? Kenapa tidak mas Abi atau mas Rama?" tanya Hoshi ketika keduanya berada di dalam Range Rover milik Aidan dalam perjalanan menuju Paris. London - Paris membutuhkan waktu sekitar 5,5 jam.


"Kamu dan aku kan jauh lebih fasih bahasa Perancis nya meskipun yang lain bisa tapi wajah kita wajah turis. Buat berbaur ke orang-orang lebih mudah."


Hoshi hanya mengangguk sambil menatap foto-foto Fayza dan Hideo.


Rajendra melirik ke iPad Hoshi. "Sebenarnya kalau Hideo bilang baik-baik, akan berbeda ceritanya."


Hoshi tertawa sinis. "Emangnya Oom Ashley mau menerima menantu model Hideo yang masih aktif di dunia hitam? Bisnis Silver Shinning itu semua ilegal dan Fayza adalah cucu Opa Raymond yang notabene mantan polisi NYPD. Apa tidak gegeran? Langsung auto coret lah!"


"Kata Daddymu, Fayza amnesia jadi mungkin saja terkena Stockholm Syndrome, Hosh."


"Mungkin awalnya tapi aku yakin yang bucin duluan adalah Hideo soalnya watak manusia itu jarang yang bisa berubah dan aku yakin sifat gesrek Fayza lah yang bikin mafia kampret itu klepek-klepek sampai nekad mengambil lagi dari tangan keluarganya."


Rajendra menoleh ke adik sepupunya yang masih tampak berpikir. "Aku rasa ada alasan tersendiri kenapa Hideo nekad seperti itu.*


"Kenapa mas Jendra berpikir demikian?"


"Aku tidak tahu hanya feelingku mengatakan demikian."


Hoshi hanya terdiam. Otaknya sedang berusaha menyusun berbagai macam kepingan puzzle yang masih berantakan.


***

__ADS_1


Pinggiran Kota Turin, Italia


Hideo dan Fayza berjalan-jalan di halaman belakang rumah mereka dengan wajah bahagia menikmati cahaya mentari pagi kota Turin yang hangat. Tampak banyak pengawal berjaga-jaga disana dan Fayza melihat Hyong-wa dan Jae-Hee sudah berada di rumah ini.


"Apakah semua pengawalmu sudah disini semua?" tanya Fayza yang tahu hanya empat orang yang sangat dipercaya Hideo, Jin Kawashima, Hyong-wa, Jae-Hee dan Lee Chan.


"Sudah sayang. Rumah Jeju sementara aku serahkan pada orangku yang lain dan Na-eun serta Yumi sudah aku pulangkan ke keluarganya di Seoul karena lebih aman mereka bersama dengan keluarganya meskipun Na-eun tetap bersikeras ingin bersamamu."


Fayza menatap Hideo sendu. "Padahal aku suka rumah Jeju. Jika ini sudah selesai, apakah kita bisa kembali kesana?"


"Semoga Fay. Aku juga suka rumah itu, banyak kenangannya bersama kamu." Hideo mencium kening Fayza. Keduanya kini duduk di sebuah gazebo kecil yang berada disana.


"Hideo..."


"Ya?"


"Kenapa kamu bohong padaku?"


Hideo membeku. "Bohong...soal?"


"Bahwa aku masih memiliki orang tua?" Fayza menatap sendu ke arah suaminya.


"Apakah kamu sudah ... mulai mengingat Fay?" tanya Hideo hati-hati.


"Aku belum mengingat tapi...entah kenapa aku merasa bahwa apa yang diucapkan oleh orang-orang itu benar adanya."


"Jika kamu bisa mengingat semuanya...apakah kamu... akan meninggalkan aku, Fay?" tanya Hideo pelan. "Jika kamu nantinya akan mengetahui kebenarannya, apakah kamu akan meminta berpisah dariku? Aku tidak sanggup berpisah darimu Fay karena aku sangat sangat mencintaimu."


Mata biru Fayza mulai berembun. Hormon kehamilan membuat emosinya upside-down.


"Jika suatu saat aku teringat semuanya, aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan karena aku tidak tahu apa yang akan aku rasakan pada saat itu datang. Apakah aku akan membencimu atau tetap mencintaimu."


***


Yuuuhhuuu Up Subuh Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2