
"Apa maksudmu?" tanya Fayza dengan wajah memucat.
"Aku akan menuruti...kemauan kamu" jawab Hideo pelan namun tak urung matanya pun mengeluarkan air mata. Hatinya benar-benar remuk redam mengatakan kata 'berpisah'. Dirinya tidak bisa membayangkan jika harus berpisah dari istrinya tapi demi keinginan Fayza, Hideo memilih mengalah.
Fayza menatap wajah Hideo yang tampak seperti pria yang kalah sekalah-kalahnya. Tidak ada Hideo yang selama ini Fayza kenal, pria menyebalkan, tukang modus, annoying, tukang maksa, hanya tinggal pria yang patah hati yang merelakan perasaannya hanya demi memenuhi keinginannya.
"Apa...kamu yakin?" tanya Fayza yang tanpa disadari meremas kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya pertanda dirinya gelisah luar biasa.
"Aku tidak bisa memaksa...kan? Kamu sudah memutuskan ingin... berpisah denganku. Jika...itu demi kebaikan kita... kebaikanmu... Aku akan memenuhi keinginanmu. Tapi aku mohon, kamu tinggal bersamaku...sampai Shinichi lahir."
Dada Fayza terasa sesak dan air matanya pun mengalir dari mata birunya. "Hideo..."
"Jangan menangis Fay... Jelek kamu kalau nangis" senyum Hideo.
"Maaf... " Fayza mengusap air matanya.
"Tidak apa-apa...sayang." Tangan Hideo terulur hendak mengelus pipi istrinya.
"Jangan dipaksakan Hideo." Fayza mendekati wajah suaminya. "Tanganmu dapat banyak jahitan."
Hideo tersenyum. "Luka kecil kok."
"Luka kecil tapi kena aortamu. Untung kamu segera diselamatkan oleh bang Joey."
Hideo menatap wajah istrinya. "I'm gonna miss this view every morning if you go away from me."
Fayza tertegun.
"Sebelum kita berpisah...biarkan aku bersama mu Fay. Tidurlah bersamaku, biarkan aku menikmati hari-hari bersamamu."
Fayza tersenyum. "Aku akan tinggal bersama mu sampai si boy lahir."
"Terima kasih."
***
Fayza bersikeras untuk tinggal bersama Hideo di rumah sakit meskipun Ashley dan Kristal melarangnya tapi alasan Fayza membuat keduanya tidak bisa berkata apa-apa.
"Anggap saja bakti aku sebagai seorang istri sebelum kami berpisah nantinya." Fayza memberikan alasannya.
"Apakah kalian tetap akan berpisah?" tanya Kristal yang sebenarnya agak tidak rela putrinya berpisah dengan suaminya, mengingat bagaimana Hideo melepaskan semuanya demi Fayza.
"Iya mom. Hideo tadi mengatakan akan melepaskan aku setelah putra kami lahir."
Bahkan kamu mengatakan 'putra kami' lho sayang - batin Kristal.
Ashley melihat bagaimana wajah putrinya tampak sedih. Kamu merasa sedih ya sayang?
"Ya sudah, nanti biar kami kirimkan makanan untukmu" ucap Kristal.
"Tenang saja Oom Ashley Tante Kristal, aku menyiapkan tempat tidur untuk Fayza agar nyaman disini." Joey pun menimbrung.
"Kamu jaga disini juga Joey?" tanya Ashley.
"Jika diperlukan."
Fayza menggelengkan kepalanya. "Tidak usah bang, biar aku dan Hideo saja tidak apa-apa. Kan cuma semalam ini kan di rumah sakitya?"
"Iya cuma semalam kok Fay. Besok sore sudah boleh pulang" jawab Joey.
__ADS_1
"Tak apa, mom dan dad. Aku baik-baik saja." Fayza memberikan senyuman.
Kamu tidak baik-baik saja Fay.
***
"Kamu tidur disitu?" tanya Hideo saat melihat sebuah kasur lipat yang dikirimkan oleh Joey.
"Iya. Kenapa?"
"Apakah nyaman? Kamu kan sedang hamil, Fay" ucap Hideo.
"Ini kasurnya empuk kok!" Fayza tersenyum. "Dan ini dibawakan mommy untuk makan malam."
"Korean food lagi?" kekeh Hideo.
"Aku yang ingin kok" jawab Fayza.
"Fay..."
"Kamu ingin apa? Kimbab, bulgogi?" tawar Fayza.
"Fay..."
"Aku suapi ya?"
"Fayza!"
Fayza terkejut mendengar panggilan Hideo yang sedikit keras. "Ada apa Hideo?"
Fayza mengambil meja untuk makan dan meletakkan makanan disana. Dirinya lalu duduk di pinggir tempat tidur Hideo.
"Kamu mau yang mana?"
"Kimbab dan bulgogi. Tapi kamu makanlah terlebih dulu, baru habis itu aku. Kasihan Shinichi kalau kelaparan." Hideo mengelus perut Fayza. "Kita belum sarapan tadi dan kamu baru minum susu hamil."
"Aku tadi sudah makan siang saat kamu masih dalam ruang pemulihan. Daddy yang memaksa aku." Fayza memakan nasi dengan bulgogi.
"Alhamdulillah kamu sudah makan." Hideo membuka mulutnya saat Fayza menyuapi kimbabnya.
"Makan yang banyak, besok kamu sudah boleh pulang kata bang Joey."
"Kenapa kedua orangtuamu mengijinkan kamu tidur disini bersamaku?"
"Karena..." Fayza menatap Hideo. "Kamu masih suamiku dan sebelum kita berpisah, aku akan bersamamu."
Hideo mencari keraguan di wajah Fayza. "Apa kamu yakin?"
Fayza mengangguk.
Wajah pria itu tampak bahagia. "Terimakasih Fayza."
***
Fayza dan Hideo kembali ke apartemen bersama dengan Ashley dan Kristal yang sengaja menjemput dan mengantar keduanya.
__ADS_1
Ashley melihat bagaimana isi apartemen Hideo yang terdapat beberapa foto putri dan menantunya terdapat disana termasuk foto pernikahannya.
Pria paruh baya itu mengambil foto itu dan mengelus wajah cantik putrinya. Kamu sangat cantik, Fay saat menjadi pengantin.
"Jika Fay dan Hideo tidak jadi berpisah, kamu bisa membawa Fayza ijab qobul bersama Hideo" bisik Kristal di sisi telinga Ashley.
"Apa kamu yakin mereka tidak akan berpisah, Lara?" tanya Ashley.
"Semua bisa terjadi dalam waktu dua bulan ini Ash. Kita tidak tahu apakah keduanya bisa berubah. Bukankah Allah bisa membolak-balikkan hati."
Ashley menatap Kristal. "Semoga saja diberikan jalan terbaik bagi putri kita, Lara."
***
"Fay, yang terluka itu tanganku bukan badanku." Hideo geli melihat Fayza tampak sibuk mondar-mandir menyiapkan baju untuk berganti pakaian.
"Tapi kamu kan memakai tangan kanan, bukan tangan kiri. Pasti akan kesulitan kalau memakai baju kan?"
Hideo lalu menghampiri Fayza dan memeluknya. "Aku bisa sayang. Hanya luka kecil. Sudah, jangan terlalu sering mondar-mandir nanti kamu semakin bengkak kakimu. Lihat!"
Fayza menunduk dan melihat ke arah kakinya.
"Ya Allah... kakiku" bisik Fayza.
"Ayo, kamu tiduran dulu." Hideo menghela istrinya untuk tiduran. "Jangan capek - capek!"
Fayza pun menurut.
Hideo mengambil minyak esensial harum Jasmine. "Tangan kananku memang tidak bisa tapi tangan kiriku, masih mampu memijit kakimu, Fay."
Wajah Fayza memerah ketika Hideo dengan pelan dan telaten memijat kakinya.
"Aku senang kamu akan tinggal bersamaku meskipun hanya sampai Shinichi lahir." Hideo menatap wajah Fayza yang sudah mulai gemuk.
"Iya Hideo. Sampai Shinichi lahir."
"Apa kamu tetap memakai nama yang kuberikan, Fayza?"
Fayza mengangguk. "Kamu kan Appa nya dan kamu berhak memberikan nama untuk anak kita."
Hati Hideo menghangat mendengar ucapan Fayza yang dengan fasihnya menyebutkan 'anak kita'.
"Kita tidak harus ribut soal hak asuh anak kan Fay?"
Fayza menggeleng. "Aku tidak akan menghalangi kamu untuk datang menemui anak kita."
Hideo tersenyum tipis. Kamu menyebutkan dua kali 'anak kita', Fay. Apakah kamu masih ingin kita berpisah?
"Kalian ngapain?" seru Kristal melihat Fayza dan Hideo di kamar.
"Ini kaki Fayza bengkak Mrs Sky."
Ashley hanya menatap datar ke arah keduanya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️