Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Berdua di Apartemen


__ADS_3

Hideo berjalan menuju pintu apartemen karena belnya berbunyi dan wajahnya berubah menjadi datar saat tahu siapa yang datang.


"Paket untuk nyonya Park, Sir" ucap petugas resepsionis membawakan beberapa kantong branded.


"Terimakasih." Hideo menerima kantong-kantong itu.


"Permisi Mr Park."


Hideo pun masuk ke dalam apartemen nya dan mengernyitkan dahinya. Mrs Park? Pria itu mengambil salah satu kantongan itu dan melihat nama penerima nya.


Park, Fayza Sky


Wajah pria itu melembut. Bahkan kamu masih memakai nama keluarga aku.


"Sudah datang ya?" suara Fayza membuat Hideo menoleh.


"Iya, ini paket yang kamu beli." Hideo menyerahkan beberapa kantong kepada Fayza yang menerimanya dengan senang hati lalu berjalan menuju kamarnya bukan kamar Hideo.


"Beli apa kamu Fay?" tanya Hideo penasaran.


"Beli baju lah! Bajuku kan masih ada di rumah, jadi aku beli buat disini." Fayza mulai membongkar baju-baju yang dibelinya diatas tempat tidur.


"Fay?"


"Ya?" Fayza mengangkat wajahnya dan menatap wajah suaminya.


"Kamu beli pakai uang apa?"


Fayza melongo. "Pakai uangku. Kenapa Hideo?" tanyanya bingung.


"Kenapa kamu tidak minta uangku?"


Fayza terkejut lalu tertawa. "Oh Astaga Hideo, aku kira apa. Aku tadi reflek langsung memasukkan kartu kredit aku."


Wajah Hideo tampak kesal. "Lain kali, kamu minta uang aku. Bukankah aku masih suamimu?"


Fayza pun bangun dari duduknya di tempat tidur. Tangan lentiknya memegang wajah suaminya. "Besok kalau aku butuh Ferrari, baru minta kamu."


Hideo tersenyum smirk. "Memang kamu mau Ferrari?"


"No! Tapi besok Senin, aku ingin merampok kamu!"


Hideo tertawa. "Kamu mau rampok aku apa, sayang?" tanyanya sambil memeluk istrinya.


"Belanja untuk keperluan si boy!"


Wajah Hideo tampak sumringah. "Rampok saja yang banyak!"


Fayza tersenyum. "Benar ya?"


Hideo mencium kening Fayza. "Iya sayang."


***


Hideo masih membuka laptopnya dan mempelajari pesanan dari beberapa kliennya yang menginginkan desain perhiasan yang antik. Wajahnya tampak bingung karena semua desain yang ditawarkan, tidak ada yang cocok.

__ADS_1


"Ada apa Hideo?" tanya Fayza yang malam ini memilih memakai daster lobek panjang dengan tali kecil yang terbuat dari kain bali, kiriman dari Tante Danisha.



Hideo menatap tanpa berkedip ke arah istrinya. "Baju apa itu?"


"Ini namanya daster, kiriman dari Tante Danisha yang tinggal di Solo. Enak, bahannya adem" ucap Fayza sembari meletakkan tubuhnya di sebelah suaminya.


Hideo melihat bagaimana Fayza tampak sedikit engap dengan perutnya. "Shinichi kenapa Fay?"


"Biasa, aku dan dia tidak kompak dalam mencari tempat nyaman." Fayza tersenyum lalu duduk bersandar di header bed. "Kamu kenapa?"


"Beberapa klien aku ingin desain perhiasan yang berbeda tapi sudah kuberikan desainnya, tidak cocok."


"Coba hubungi mas Bima dan Oom Radit. Kan mereka berdua memiliki toko emas banyak di Jakarta."


Hideo menoleh. "Iya kah?"


Fayza mengangguk. "Coba aku hubungi mas Bima." Bumil itu langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Bima.


"Ada apa adikku yang sedang hamil?" ucap Bima setelah saling memberikan salam.


"Mas Bima, Hideo bingung desain perhiasan. Kalian ngobrol sendiri ya, aku tak paham" ucap Fayza yang menyerahkan ponselnya ke Hideo.


Keduanya pun saling berdiskusi tentang desain perhiasan dan Bima akan meminta Radit mengirimkan beberapa model dari toko emasnya. Keduanya pun memutuskan untuk bekerja sama di bidang perhiasan. Tak terasa hampir satu jam Hideo dan Bima saling berbicara soal bisnis.


Setelah saling bertukar email dan nomor ponsel, Hideo pun mematikan telponnya dan melihat Fayza tertidur dengan posisi tidak nyaman. Hideo lalu meletakkan ponsel istrinya dan membawa laptopnya ke meja kerja yang berada di kamarnya.


Pria itu lalu membenarkan posisi tidur istrinya dan perlahan mencium keningnya.


"Saranghae, Fayza." Hideo lalu mencium perut istrinya. "Saranghae Shinichi. Appa minta kamu bobok, jangan mainan di dalam sana. Kasihan mommy boy."


"Semoga kamu tidak jadi berpisah denganku Fay. Dengarkan ucapan Freya."


***


Fayza terbangun ketika mendengar suara suaminya dan tampak Hideo tidur dengan gelisah. Mulutnya bergumam dalam bahasa Korea yang Fayza tidak paham artinya.


"Fay... Fay... Nal tteonajima" gumamnya.


Fayza menatap wajah Hideo yang seperti ketakutan dan keringat mulai terbit di dahi suaminya.


"Hideo... Hideo ... bangun. Kamu mimpi buruk ya?" bisik Fayza sambil menepuk pelan bahu suaminya.


Perlahan mata Hideo terbuka dan wajah cemas istrinya lah yang terlihat disana. Refleks tangannya terulur memegang wajah Fayza.


"Kamu tidak pergi ... kan?" ucapnya pelan.


"Mau pergi kemana? Sudah malam ini" senyum Fayza dengan nada bercanda.


"Sini Fay... " Fayza meletakkan kepalanya di bahu kiri Hideo yang langsung memeluknya. "Jangan pergi ya."


Fayza tidak menjawab namun hanya mengangguk. Hideo tersenyum merasakan gerakan kepala istrinya dan senyum itu semakin lebar ketika tangan Fayza terulur untuk memeluknya.


"I love you Fay" bisik Hideo yang berusaha memejamkan matanya lagi.

__ADS_1


Fayza tidak menjawab. Namun setelah mendengar suara dengkuran halus Hideo, Fayza berbisik. "Love you too, Hideo."


***


Pagi harinya setelah sholat subuh berjamaah, Fayza pun keluar kamar untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan Hideo. Pagi ini dia ingin membuat American Breakfast. Sembari bersenandung, bumil cantik itu membuat sarapan paling gampang menurutnya.


"Sibuk apa Fay?" tanya Hideo saat keluar kamar.


"Membuat sarapan." Fayza meletakkan piring berisikan roti, sunny side up dan beberapa buah berries.



"Aku tadi memesan roti croissant dari RR's Meal dan taraaa... croissant buatan RR's Meal." Fayza menunjukkan sambil tersenyum.


"Tadi pakai uang siapa?" goda Hideo.


"Astagaaa! Ini dibayarin mas Jendra!" Fayza cemberut. Masalah uang belanja kok ya diributkan.


"Tapi kenapa kamu tidak bilang kalau pesan croissant?"


"Kamu masih tidur Hideo. Habis sholat subuh, kamu tidur lagi dan aku tidak tega membangunkan kamu."


Hideo tersenyum. "Tapi nanti kamu jadi kan rampok aku?"


"Bukan aku tapi aku dan si boy yang akan merampok Appanya" gelak Fayza sembari memakan croissant nya.


"That's much better !" senyum Hideo.


***


Usai sarapan dan mandi, keduanya bersiap untuk berjalan-jalan mencari barang-barang untuk keperluan putra mereka.


"Kamu bisa nyetir?" tanya Fayza yang hari ini memakai gaun hitam untuk menyamarkan perutnya.


"Bisa Fay. Ini Joey memberikan perban yang kuat kok. Memang kenapa?"


"Kalau tidak, pinjam sopir PRC group saja" jawab Fayza.


"No Fay, aku ingin pergi berdua denganmu." Hideo menatap istrinya.


"Kalau memang kesulitan, aku yang menyetir tak apa" sahut Fayza.


"Sudah Fay, tak apa. Ayo kita berangkat, karena sekarang hari Senin, jalanan pasti macet." Hideo menggandeng tangan Fayza dengan tangannya yang sehat.


Fayza tersenyum menatap suaminya.




***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2