Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Melacak Fayza


__ADS_3

Bryan dan Levi perlahan membuka matanya dan terkejut melihat semua orang disana pun masih dalam posisi tergeletak tidak sadarkan diri.


Keduanya berusaha mengingat apa yang terjadi dan merasa jengkel karena Hideo pun menggunakan taktik yang sama, bahkan lebih brutal dengan menerobos masuk ke dalam rumah yang disewa mereka.


Sial! Bagaimana si mafia kampret itu tahu lokasi Fayza? Levi pun bangun mencoba membangunkan Javier dan Raymond. Rani Pradipta pun mulai sadar dan mencoba bangkit. Bryan sendiri bergegas ke lantai dua tempat Fayza berada.


Bryan mencoba membuka pintu tapi seperti ada yang menghalanginya. Luca yang sudah sadar pun bergegas membantu Bryan.


"Minggir Oom, nanti encok kumat" ucap Luca cuek.


"Eh bocah durhakim! Enak saja bilang Oom Bryan gampang encok!" sungut Bryan. Keduanya berusaha mendobrak pintu dan akhirnya bisa terbuka walaupun separo.


Luca melongok ke dalam kamar dan dirinya melihat kamar dalam keadaan kosong serta pintu kaca balkon dalam keadaan pecah.


"Fayza hilang Oom." Luca menoleh ke arah Bryan.


"Sial!" Bryan mencoba melacak cincin kawin milik Fayza yang sempat dia selidiki saat keponakannya itu terlelap dan menemukan lokasinya yang ternyata sebuah gorong-gorong.


"Mereka paling sudah pergi!" Bryan pun turun ke lantai satu diikuti Luca.


"Kalian semua tidak apa-apa?" tanya Bryan yang bisa melihat wajah marah Ashley dan Raymond.


"Sial! Brengsek! Akan aku cincang dia kalau ketemu!" omel Raymond kesal. "Cucuku sudah hilang kan?"


Bryan dan Luca mengangguk. "Cincinnya dibuang di sebuah gorong-gorong."


"Gorong-gorong nya arah kemana?" tanya Javier.


"Arah Itaewon" jawab Bryan.


"Kita kesana!" ucap Ashley. "Oom Javier, papa kalian disini saja karena efek bius mempengaruhi kalian berdua. Rani, tolong rawat mereka ya" pinta Ashley.


"Oke Ash. Kalian pergilah, cari Fayza." Rani menatap ke para sepupu iparnya.


Ashley, Levi, Bryan dan Luca bergegas pergi sedangkan Fabio berada disana untuk menemani para tetua.


***


"Brengsek! Dia menyerang kita disaat lengah!" omel Ashley sepanjang jalan.


Bryan hanya menulikan telinganya mendengar Omelan Ashley karena dia lebih berkonsentrasi mencari cincin Fayza. Mobil mereka berhenti di sebuah gorong-gorong yang menunjukkan sinyal dari cincin Fayza disana.


Levi pun berdiri untuk mencari tanda kemana mereka membawa Fayza karena berada di intersection.


"Luca, gaein gyeognabgo itu artinya hanggar pribadi kan?" tanya Levi sambil menunjukkan ke papan penunjuk jalan.


"Oom, itu kan bandara tempat pesawat kita landing kemarin. Memang khusus buat kita-kita, orang kaya yang tidak mau ribet urusan imigrasi" jawab Luca.

__ADS_1


"Mereka kesana!" Levi lalu memanggil Ashley dan Bryan yang sedang mengambil cincin Fayza.


"Kemana?" tanya Ashley.


"Tempat pesawat kita parkir!"


***


Mobil Hyundai Palisade tiba di bandara pribadi disana dan mereka segera menuju kantor bandara untuk mencari tahu keberadaan Fayza dan Hideo tapi mereka tidak mau memberikan informasi.


"Maaf Mr Reeves tapi ini adalah policy kami bahwa semua klien kami, kami jaga kerahasiaannya" ucap pegawai disana.


"Meskipun mereka menculik putri saya?" bentak Ashley emosi.


Namun dua pegawai disana sepertinya sudah biasa menghadapi klien seperti mereka dan tetap menatap datar ke arah empat pria itu.


"Bisakah kalian memberikan clue? Satu kata saja." Levi menatap tajam ke kedua pegawai itu.


Salah satu dari mereka hanya menunjukkan menara Eiffel.


"Paris?"


Kedua pegawai itu mengangguk.


Hanya mendapatkan informasi Paris, keempatnya pun kembali ke dalam mobil dan mulai berunding disana.


"Ada pesawat pribadi yang datang dari Seoul ke Paris sekitar empat jam lagi!" ucap Bryan.


"Suruh Arjuna, Aidan bersama Rama stay disana. Mereka kan di London. Ini Ayrton, Direndra dan Alaric akan terbang ke London dari Dubai. Dari Jakarta, Hoshi, Anarghya dan Anandhita bersama Bima akan ke London." Levi membaca pesan di ponselnya.


"Kita semua kumpul di London dulu karena dari sana, ke Eropa lebih gampang" ucap Ashley.


"Joey dan Georgina, Abi dan Pandu, Rajendra dan Aruna akan terbang ke London dari New York" ucap Luca membaca ponselnya.


"Kita terbang ke London besok!" putus Levi.


***


Fayza membuka matanya dan tersenyum melihat pemandangan dari kamarnya, pemandangan hutan dan pohon-pohon disana. Semalam mereka tiba di sebuah rumah yang dimiliki oleh Hideo, rumah bangunan khas Italia dengan cat warna putih serta dua lantai, membuat Fayza langsung jatuh cinta dengan rumah itu.



Hideo langsung membawanya ke kamar mereka dan keduanya saling berciuman mesra. Fayza merasa lebih nyaman bersama dengan suaminya daripada dengan orang-orang yang mengaku keluarganya. Fayza dan Hideo menghabiskan malam pertama mereka di Turin dengan saling melepaskan kerinduan.


Dan pagi ini, Fayza merasakan bagaimana posesif nya Hideo memeluk dirinya. Tubuh keduanya sama-sama polos setelah percin*taan panas mereka semalam dan Fayza hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat jejak-jejak yang diberikan orlh suaminya.


"Sudah bangun, ma Chérie ?" tanya Hideo sambil menciumi tengkuk Fayza.

__ADS_1


"Hideo, kita itu di Italia. Harusnya ti amore. Ma chérie itu kalau kita di Perancis."


"Sayang, apakah kamu tahu kalau Turin adalah parisnya Italia? Jadi aku tidak salah kan jika memakai bahasa Perancis?" Hideo mencium pipi gembul Fayza. "Kamu tahu, aku sudah sangat khawatir pas saat kamu menuruni tangga dengan perut buncit seperti ini." Hideo mengelus perut Fayza dan kemudian tertawa lembut ketika putra mereka menendang di dalam perut.


"Aku masih hamil lima bulan, Hideo. Kalau sudah tujuh bulan atau lebih, tentu saja aku akan kesulitan" kekeh Fayza yang merasakan bagaimana putranya aktif bergerak saat tangan Hideo mengelus perutnya.


"Aku selalu takjub, Fay. Si boy bisa tahu kalau ini tanganku dan bukan tanganmu" ucap Hideo sambil memandang perut Fayza.


"Bayi bisa merasakan emosi ibunya. Dan sekarang ibunya merasa nyaman karena Appa sudah ada bersama kami." Fayza tersenyum ke arah Hideo.


"Appa? Itukah panggilan kita nanti? Appa dan Omma?" tanya Hideo tidak percaya istrinya memilih panggilan orang tua dengan bahasa ayahnya.


"Bukankah itu bagus?" tanya Fayza dengan mata berbinar.


"Saranghae, Fayza" ucap Hideo sambil mencium bibir Fayza penuh perasaan. "Dan sekarang aku ingin menengok si boy lagi."


Fayza cekikikan. "Modus!"


***


Mansion Blair yang cukup luas menjadi markas para anggota klan Pratomo yang hendak mengambil kembali salah satu anggota keluarga mereka.


Aidan dan Thara yang menjadi tuan rumah menyambut semua anggota keluarga mereka. Para tetua hanya Elang, Javier dan Raymond yang hadir sedangkan lainnya dilarang oleh anak masing-masing untuk ikut karena mereka mengkhawatirkan kesehatan para orang tua mereka.


"Opa nggak boleh ikut nih?" rengek Eiji ke Hoshi melalui panggilan video karena Levi mereject panggilannya.


"Opa disana saja! Tar malah bikin ribet sambat encok kumat kalau lari-lari" sahut Hoshi cuek. Rina, istri Hoshi tinggal di Jakarta bersama putra mereka Valentino atau biasa dipanggil V. Hoshi melarang Rina ikut karena menurutnya lebih aman di Jakarta.


"Opa nggak bakalan encok!" eyel Eiji.


"Coba opa lari di treadmill. Kuat nggak?" balas Hoshi judes.


"Eerrrr... " Eiji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Paham kan maksudku?" ledek Hoshi.


***



Pemandangan Kota Turin, markasnya Juventus


Yuhuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2