Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
I Need You


__ADS_3

Seminggu waktu yang dihabiskan Hideo di Jepang karena dia juga menguru bisnisnya disana namun pria itu memilih untuk tidak menemui sang ibu Fumiko. Hideo tidak pernah mau menemui ibunya jika dirinya berurusan dengan pekerjaannya karena tidak mau musuh-musuhnya mendekati ibunya meskipun Fumiko jago Kendo dan menembak tapi dirinya tetap tidak mau orang lain tahu lebih banyak tentang dirinya.


Usai membereskan bisnisnya di Tokyo dan Osaka, Hideo pun kembali ke rumah Jeju dengan kondisi lelah fisik dan pikiran. Dirinya masih penasaran dengan tanah Itaewon dan tetap berusaha untuk mendapatkannya.


Dilihatnya Fayza sudah terlelap dan lagi-lagi dengan novel di dadanya. Melihat wajah damai istrinya, membuat Hideo merasa tenang dan semua lelahnya hilang.


Ternyata aku benar-benar jatuh cinta dengan sepupumu, Bianchi. Sampai kapanpun, aku akan menutupinya bahwa Fayza masih hidup. Biarkan kalian menganggap Fayza sudah mati agar dia tetap berada di sisiku.


Hideo segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan dirinya memilih memakai celana pendek tanpa baju seperti biasanya. Direbahkan tubuhnya di samping istrinya yang tanpa terganggu dengan adanya seseorang di sebelah.


Pria itu pun memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah Fayza, telunjuknya menjulur untuk mengelus hidung mancung dan bibir seksih milik istrinya.


Wanita-wanita klan Pratomo memang berbeda, bukan wanita lembek. Hideo mengetahui bagaimana sepak terjangnya Kaia Blair O'Grady, Davina Arata Hassan, Keia Al Jordan Hamilton dan si kembar Josephine dan Marissa Al Jordan Bianchi.


Kamu memang keturunan Arata yang dikenal kuat mental.


Fayza merasa terganggu merasakan sebuah jari mengelus pipinya dan perlahan dia membuka mata birunya. Bibirnya terkembang senyum manis melihat Hideo sudah pulang.


"Sudah pulang?" tanya Fayza dengan nada serak khas bangun tidur.


"Kalau aku sudah di sebelah mu kan berarti aku sudah pulang kan?" jawab Hideo lembut. Pria itu merasa tidak mengenali dirinya sendiri bahwa dia bisa bersikap lembut dengan seorang wanita.


Fayza memiringkan tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan. "Kamu tampak lelah."


"Aku memang merasa lelah. Pekerjaan ku di Tokyo sangat menyita energiku."


Jari lentik Fayza mengusap kantung mata Hideo. "Apa mau aku kompres agar hilang mata pandamu?"


"Tidak usah. Aku hanya butuh kamu" jawab Hideo dengan suara parau yang kemudian mencium bibir Fayza hingga tubuhnya menindih tubuh istrinya.


"I need you and I want you, Fay" bisiknya di ceruk leher istrinya.


"I want you too, Hideo." Fayza tidak memungkiri, dirinya mungkin sedikit kuno tapi cara Hideo memperlakukannya yang mampu membuatnya melayang dan ketagihan. Fayza bukan tidak tahu suaminya sudah terbiasa player dan dia tidak munafik ada rasa kesal juga. Tapi setelah Jin sempat bercerita sekilas bahwa semenjak dirinya 'kembali' ke rumah, pria itu sudah tidak jajan diluaran.


Hideo tersenyum smirk. "I love you Fayza."


***


Fayza terbangun dengan posisi dalam pelukan suaminya. Wajahnya mendongak melihat wajah damai Hideo yang semalam mengobrak-abrik hati dan tubuhnya. Semalam Hideo seperti musafir yang pulang ke rumah dengan sejuta kerinduan pada dirinya. Entah berapa kali Hideo mengucapkan cinta kepadanya dan entah berapa kali Fayza dibuat melayang dengan gaya percin*taan suaminya yang antara campuran lembut dan kasar tapi Fayza suka.


Astagaaa? Apa aku sudah menjadi j4l4ng sekarang? Tapi bukannya memuaskan suami diatas ranjang itu kewajiban seorang istri ya?


Fayza menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan gerakannya membuat suaminya terbangun.

__ADS_1


"Selamat pagi, istriku" ucap Hideo sambil mengecup kening Fayza. "Terimakasih semalam. Benar-benar luar biasa."


Wajah Fayza memerah mendengar ucapan Hideo.


"Hideo..."


"Hhmmm..."


"Jika aku hamil gimana?" Fayza menatap wajah suaminya.


"Maka aku akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia."


***


Pagi ini sepasang suami istri itu menikmati acara menonton film dari tv kabel. Hideo sengaja tidak memasang saluran berita apapun agar Fayza tidak mengetahui tentang dirinya. Hari ini dirinya hanya ingin berduaan dengan istrinya, mengembalikan moodnya yang jelek selama di Tokyo kemarin.


"Fay..."


"Ya?" jawab Fayza yang sedang meletakkan kepalanya diatas paha Hideo sambil menonton Netflix.


"Apa kamu membutuhkan ponsel?" Sejujurnya Hideo tidak ingin memberikan ponsel canggih yang membuat Fayza bisa berselancar mencari tahu tentang dirinya.


Fayza menoleh ke arah suaminya. "Buat apa?"


Hideo melongo. "Hah?" Dirinya terkejut betulan.


"Aku kasih ponsel jadul saja ya Fay, yang hanya bisa telpon dan SMS saja."


Fayza tertawa. "Terserah kamu, asal warnanya pink."


Kini giliran Hideo tertawa. "Dasar cewek!" kekehnya sambil menowel hidung mancung istrinya.


Fayza tersenyum lalu kembali konsentrasi menonton film horor di Netflix.


"Kamu kok demen sih nonton film seperti ini? Sukanya kok ditakut-takuti, kurang kerjaan saja" gerutu Hideo sambil memeluk perut rata Fayza.


"Aku lebih penasaran sih. Hantunya ada misi apa nakut-nakutin. Apa sebelum dia mati, ada ganjalan gitu terus jadi arwah penasaran?"


Hideo menggelengkan kepalanya tidak paham jalan pikiran istrinya yang hobi nonton film horor dan thriller.


"Sayang, semoga anak kita mulai tumbuh disini ya."


"Kamu benar-benar ingin punya anak bersamaku?" tanya Fayza yang masih asyik nonton.

__ADS_1


"Inginlah. Aku bahkan sudah menyiapkan nama untuknya, baik laki-laki atau perempuan."


Fayza menoleh lagi ke wajah suaminya yang menatapnya dengan senyum dikulum.


"Seriously Hideo ! Kamu sudah menyiapkan nama?" Fayza memandangi wajah Hideo dengan tatapan tidak percaya.


"Sejak kamu kembali kemari, aku sudah bertekad untuk mengikatmu untuk seumur hidupku dan aku ingin memiliki anak bersamamu."


"Apakah kamu juga seperti ini dengan para wanitamu dulu?" tanya Fayza dengan wajah menggoda.


"Kamu boleh percaya boleh tidak. Tapi aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki anak. Aku bukan pria suci, Fay, tidak seperti mu yang sangat menjaga dirimu dan aku merasa terhormat menjadi yang pertama bagimu."


Wajah Fayza memerah mendengar ungkapan suaminya.


"Tapi sejak kamu bangun dari koma, aku ingin memilikimu seutuhnya dan kesalahan ku sebelumnya, tidak ingin aku ulangi." Hideo mengusap pipi Fayza.


"Maksudmu saat kita menikah di Las Vegas?" tanya Fayza.


Hideo mengangguk. "Dan aku ingin melakukannya dengan benar, sesuai dengan hukum di Korea Selatan."


Fayza terdiam. Wajah Hideo menunjukkan keseriusannya dan terdengar jujur di telinga wanita itu.


"Well, sekarang kamu mau menyelesaikan film horor tak jelas itu atau makan siang?" goda Hideo.


"Makan siang. Entah kenapa aku mudah lapar sekarang..."


Hideo terbahak. "Tentu saja kamu merasa lapar, acara nge-gym di kasur itu membutuhkan energi lebih banyak daripada kamu ke Dojo."


"Ish! Meshum!"


"Nanti lagi ya Fay, agar anak kita makin kuat disana."


"Astaga Hideo! Aku amnesia tapi bukan berarti aku begok soal biologi! Kita baru dua Minggu menikah belum tentu juga jadi."


"Makanya, setiap hari kita harus berolahraga malam" bisik Hideo sen*sual di depan wajah Fayza.


"Meshuuumm!"


***


Yuuuhhuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2