Love and Revenge of Mr Mafia

Love and Revenge of Mr Mafia
Pisah Kamar


__ADS_3

Fayza melepaskan ciuman Hideo dan berjalan menjauhi suaminya sembari melihat-lihat pemandangan Manhattan dari jendela apartemen.


Hideo hanya bisa menghela nafas panjang istrinya melepaskan ciumannya. Masih kecewa ya Fay?


"Aku tidur dimana Hideo?" tanya Fayza sambil menoleh ke suaminya.


"Di kamar kita."


"Apartemen ini berapa kamar?"


"Dua. Kenapa?"


"Mana kamar tamunya?" tanya Fayza.


"Kamu jangan mikir macam-macam Fay! Kita masih suami istri!"


"Tapi aku tidak mau tidur bersama kamu!"


"Yang benar saja Fay!"


"Kalau memang kamu tidak mau, lebih baik aku pulang saja!" Fayza pun berjalan menuju pintu apartemen. Hideo langsung menarik tangan istrinya dan memeluknya.


"Baiklah, kamu di kamar tamu. Aku ganti seprainya dulu" bisik Hideo.


"Tidak usah! Aku saja yang mengganti seprainya, kamu katanya mau memasak." Fayza menatap Hideo.


"Tapi, kamu jangan tinggalkan aku ya."


"Selama aku tidak tidur bersama kamu, aku akan menepati janjiku tidak akan meninggalkan dirimu hanya sampai kontrol kamis depan. Tapi setelahnya, aku minta kamu kembalikan aku ke rumah orang tuaku."


Hideo hanya menatap sendu ke Fayza.


***


Fayza tampak senang melihat kamar sementaranya sudah ditata rapi. Bahkan semua baju-bajunya pun sudah masuk lemari.



Fayza melihat pemandangan dari kamarnya dan sangat senang dengan pilihan apartemen Hideo. Meskipun demikian, aku kan juga akan berpisah dengan Hideo.


Wanita cantik itu sudah berbicara dengan sang mommy bahwa dia akan berpisah usai melahirkan putranya.


"Apa kamu yakin Fay?" tanya Kristal saat keduanya berada di dalam kamar bumil itu.


"Insyaallah yakin mom. Aku ingin berpisah dengan Hideo meskipun aku masih sayang padanya. Meskipun Hideo salah tapi selama aku bersamanya, dia tidak pernah berbuat kasar padaku."


Kristal mengusap kepala putri bungsunya. "Kamu tahu, mbakmu ingin ke New York untuk bertemu dengan mu dua bulan lagi untuk menunggui kamu lahiran."


"Mama Fumiko juga mau datang, mom." Fayza menatap mommynya.


"Mommy tidak melarang besan mommy datang. Kan Fumiko juga punya hak. Semoga Daddymu tidak sontoloyo saja!"


Fayza tertawa.


Dan kini dirinya harus memantapkan diri untuk mampu berpisah dengan Hideo. Jujur, aku rindu dengan semua sikapnya tapi rasa kecewa aku lebih besar dari rasa cintaku padamu, Hideo.


Sembari menghela nafas panjang, Fayza pun keluar dari kamarnya sembari membawa ponsel dan iPad dari dalam tasnya menuju ruang makan. Dan tampak disana, Hideo asyik memasak di dapur yang menurut Fayza sangat indah.


__ADS_1


"Dapurnya bagus" puji Fayza sambil duduk di kursi pantry.


Hideo tersenyum. "Ini adalah tempat favorit aku. Coba lihat, pemandangan kota New York dan sungai Hudson. So beautiful."


Fayza pun menoleh ke jendela yang ditunjuk oleh suaminya.


"Benar. Sangat indah." Dan disaat wajahnya kembali ke arah dapur, Hideo mencuri ciuman bibirnya.


"Astaga! Hideo!" hardik Fayza kesal.


Hideo hanya tersenyum manis lalu kembali ke balik counter dan melanjutkan acara memasaknya.


"Kamu masak apa?"


"Dinner ala Korea, lengkap. Ada tteokbokki juga" senyum Hideo.


"Jangan terlalu pedas, Hideo."


Hideo menatap Fayza. "Tidak sayang, aku tidak mau si boy kepedasan."


"Perlu aku bantu?" tawar Fayza.


"Tidak usah. Kamu duduk manis disitu saja temani aku memasak." Hideo mengedipkan sebelah matanya.


Fayza hanya memasang muka datar lalu mulai memainkan ipadnya. Wajah bumil itu tampak serius memeriksa pekerjaan perusahaannya. Meskipun Kristal dan Ashley sudah melarang putri mereka untuk bekerja, tapi Fayza tetap ingin melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertinggal hampir setahun.


Hideo menatap bagaimana wajah istrinya tampak serius dalam bekerja dan sesekali wanita itu menelpon seseorang dalam urusan pekerjaan.


Istriku makin seksih kalau sedang serius bekerja.


***



"Makanlah Fay. Sengaja aku buatkan khusus untukmu" ucap Hideo menatap lembut istrinya.


"Ini tidak kebanyakan?" tanya Fayza.


"Kalau kamu tidak habis, nanti aku habiskan" jawab Hideo kalem.


Fayza lalu memakan tteokbokki dan kimbab yang diikuti ke bimbibap dan lebih tepatnya mencoba semuanya termasuk bulgoginya. Hideo hanya menatap penuh arti melihat istrinya makan dengan lahap.


"Enak Fay?" tanya Hideo saat Fayza berhenti sejenak.


"Enak. Aku sudah lama tidak makan masakan Korea." Fayza mengambil tissue untuk mengelap bibirnya tapi jari Hideo sudah terlebih dahulu mengusap saus yang tertinggal di sudut bibirnya.


"Ada saus tteokbokki disana."


Fayza lalu mengelap bibirnya dengan tissue lalu mengambil tissue lagi. "Sinikan jarimu."


"Buat apa?" tanya Hideo bingung tapi Fayza sudah menarik tangan pria itu dan mengelap jarinya yang ada saus.


"Jangan harap kamu akan memasukkan jarimu ke mulutmu. Jorok!" sungut Fayza yang dijawab tawa kecil Hideo.



"Dasar ibu-ibu" kekeh Hideo.


"Aku memang calon ibu!" balas Fayza judes.

__ADS_1


"Aku ingin memberikan nama anakku Shinichi."


Fayza mendelik. "Dan kamu akan memberikan nama 'Kudo' di belakangnya gitu?"


"Tentu tidak! Shinichi Kojima Sky Park." Hideo menatap Fayza. "Jangan kamu rubah."


"Kamu tetap memasukkan nama 'Sky' juga?" tanya Fayza.


"Tentu saja. Kan dia juga cucu Ashley Sky. Atau kamu juga mau memasukkan nama Ruiz?"


Fayza menggeleng. "Kasihan jika kebanyakan nama belakang."


"Iya... sayang."


Fayza hanya menatap datar. "Aku bantu cuci piring."


Hideo menahan tangan Fayza yang hendak berdiri.


"Kamu duduk manis di ruang tengah, nonton tv atau apalah. Aku yang akan membereskan semuanya." Hideo lalu membereskan semua piring bekas makan mereka yang licin tandas semua.


Fayza hanya memandangi bagaimana suaminya dengan cekatan membersihkan semua peralatan dan perlengkapan masak dengan telaten. Ada perasaan menghangat melihat bagaimana suaminya mau melakukan pekerjaan rumah tangga.


Bumil itu lalu mengambil remote tv dan mulai menonton film. Hideo hanya mengawasi istrinya memilih menyaksikan film romantis.


Setelah membereskan dan membersihkan dapur, Hideo duduk bersama dengan istrinya.


"Kita sholat bareng yuk." Hideo menatap Fayza.


"Sholat?" tanya Fayza. "Kamu sudah siap menjadi imam?"


"Insyaallah. Jika ada bacaan ku yang salah, aku tolong dikoreksi."


Fayza tersenyum lembut. "Mari kita sholat berjamaah. Isya kan?"


Hideo mengangguk karena tadi saat Maghrib, mereka sendiri-sendiri. Pria itu membantu Fayza berdiri dan menggandeng istrinya masuk ke kamarnya. Fayza melihat ada alat sholat untuknya dan tampak baru.


"Aku ambil punyaku saja di kamar."


"Pakailah yang ini Fay, aku belikan khusus untukmu." Hideo menyerahkan mukena dan sajadahnya.


Setelah berwudhu, keduanya pun mulai beribadah isya. Fayza mendengarkan lafal Hideo yang masih kesulitan tapi sudah benar bacaannya. Usai itu, Fayza pun mencium punggung tangan suaminya dan Hideo mencium kening istrinya.


"Tidurlah disini bersamaku Fay" bisik Hideo mencoba membujuk Fayza.


"I'm sorry Hideo." Fayza pun berdiri. "Aku akan kembali ke kamarku."


"Please..."


Fayza menggeleng. "Sorry." Fayza pun keluar kamar milik Hodeo meninggalkan suaminya yang masih memandangi punggungnya.


Apakah kamu memang ingin berpisah denganku, Fay?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2