
"Tangan kamu yang kanan kapan kira-kira bisa dipakai seperti semula?" tanya Ashley ke Hideo yang berusaha makan dengan tangan kiri.
"Kata Joey sekitar dua Minggu baru dibuka jahitannya" jawab Hideo apa adanya.
"Kamu jangan sok pahlawan kesiangan gitu Hideo. Pikirkan dampaknya kalau sampai kamu 'lewat'!"
"Bukannya anda sempat ingin membuat saya 'lewat', Mr Sky? Bukankah keinginan anda juga?" sindir Hideo.
Ashley menatap tajam menantunya. "Kalau kamu 'lewatnya' dari saya, beda ceritanya. Tapi kalau kamu 'lewat' karena kehabisan darah karena lebih memeluk putriku daripada berobat, itu konyol Hideo!"
Hideo hanya tersenyum smirk.
"Kalaupun berpisah, aku lebih suka melihat kalian berpisah karena bercerai, bukan karena maut!" balas Ashley.
"Sudah saya bilang berapa kali saya tidak mau berpisah dengan Fayza tapi jika putri anda yang menginginkannya, saya sudah di tahap menyerahkan semuanya pada Fay" ucap Hideo yang dapat Ashley rasakan kesedihan yang terdalam saat mengucapkan kalimat itu.
Fayza melirik ke arah suaminya dan sekali lagi hatinya seperti dicubit.
Apa kamu benar-benar tidak ingin berpisah, Hideo? Kamu membuat aku meragu.
"Ash, sudah. Sukanya di meja makan ribut. Ayo kalian makan dulu." Kristal menatap tajam ke suaminya. "Kalau mau berantem lagi, tunggu sampai Hideo sembuh tangannya "
Kedua pria itu saling memandang dengan tajam.
***
Jam tujuh malam, Ashley dan Kristal pun kembali ke rumah mereka sedangkan Fayza tetap tinggal bersama Hideo sesuai dengan janjinya. Kristal mengatakan akan mengirimkan baju-bajunya namun Fayza menolaknya.
"Aku pesan online saja, mom." Kristal hanya mengangguk.
Dan kini keduanya masih berada di dapur dengan Fayza masih mencuci semua peralatan masak tadi sedangkan Hideo hanya duduk di kursi pantry.
"Maaf tidak bisa membantu cuci piring" ucap Hideo.
"Tidak apa. Kamu mau kopi atau hot choco?" tawar Fayza setelah selesai.
Aku mau kamu.
"Hot choco saja Fay. Kan aku masih harus minum obat." Hideo menatap sayang ke istrinya.
"Tunggu aku buatkan" sahut Fayza.
"Kamu jangan capek-capek. Kakimu..."
__ADS_1
"Iya tak apa. Habis ini aku selesai kok." Fayza tersenyum ke arah suaminya.
"Ayo duduk di sofa" ajak Hideo sembari membawa satu mug hot choco yang sudah dibuatkan Fayza.
Keduanya pun duduk di sofa dan Hideo meminta agar Fayza meletakkan kakinya diatas pahanya. "Kamu enak berselonjor Fay. Membawa Shinichi berat begitu pasti capek."
Fayza pun menurut.
"Kamu tahu Fay... Saat kamu dibawa pergi oleh keluargamu..."
"Bukan aku dibawa pergi Hideo, tapi aku sendiri yang memilih pergi meninggalkan kamu."
Hideo menoleh kearah Fayza. "Kamu yang memilih pergi?"
Fayza mengangguk. "Entah kenapa aku langsung ingat mas Bima pada saat dirinya muncul. Padahal mas Hoshi, mas Pandu dan mas Rajendra datang, aku tidak ingat sama sekali. Tapi begitu melihat mas Bima, aku langsung teringat."
"Bima itu suaminya..."
"Mbak Arimbi, anaknya Oom Bara, cucunya Opa Ghani."
Hideo tersenyum. "Aku sudah mempelajari silsilah keluarga kamu tapi masih saja bingung."
"Kamu tidak sendirian soalnya mas Haris dan mas Aji suaminya mbak Freya dan mbak Falisha juga terkadang masih bingung" gelak Fayza. "Mas Bagas apalagi. Dia suaminya Safira dan sering dipanggil Oom pedofil atau Oom meshum sama mas Hoshi dan Safira sendiri, juga sering ketukar nama."
Hideo menikmati pemandangan di hadapannya. Semoga kamu tidak mau berpisah denganku, Fay karena aku akan merindukan tawamu yang seperti lonceng.
"Kata Safira karena mereka beda usianya tujuh tahun dan mas Hoshi meledek Oom pedofil sebab pada saat mereka pacaran, Safira masih 21 tahun dan seperti anak kecil jadi ya gitu deh..."
"Kakakmu yang namanya Hoshi apa memang hobinya membuat nama ke sepupunya?" tanya Hideo sembari memijat kaki Fayza.
"Hobi banget! Mas Bima dipanggil Werkudara, mbak Freya dibilang cewek Ghostbuster, Safira dipanggil ceroboh, mas Bagas Oom pedofil, bahkan istrinya sendiri dibilang cewek Arab" kekeh Fayza.
"Apa aku mendapatkan julukan juga?" Hideo memandang Fayza.
"Dapat lah!"
"Apaan?"
"Mafia kampret!"
Hideo melongo.
***
__ADS_1
Hideo mendengar suara istrinya dari kamar tamu sedang berbicara dengan seseorang. Tadi usai ibadah bersama, Hideo memang mengobrol dengan Jin Kawashima yang dimintanya membantu sang ibu sedangkan Fayza bilang ingin melihat pemandangan kota New York.
Diam-diam pria itu berdiri di dekat pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
"Aku tidak tahu mbak Freya tapi melihat Hideo seperti itu, aku jadi bingung."
"Ikuti kata hatimu, dik. Kamu yang merasakan bagaimana sikap dan perasaan Hideo." Suara Freya terdengar Hideo dan pria itu melongok sekilas, melihat Fayza duduk di sofa tepi jendela kamarnya sambil melakukan panggilan video.
"Aku... Aku bingung."
"Apa kamu masih mencintai Hideo? Terlepas kamu sedang hamil. Apa kamu masih ada rasa sama suami kamu? Even tidak ada bayi dalam perut kamu?"
Fayza terdiam dan entah kenapa Hideo merasa deg-degan menunggu jawaban istrinya.
Katakan kau mencintaiku, Fay dan aku akan berusaha mempertahankan dirimu.
"Aku masih mencintainya mbak..."
Rasanya Hideo ingin masuk ke dalam kamar dan memberikan banyak ciuman ke wajah istrinya dan meminta agar mengurungkan niatnya untuk berpisah setelah Shinichi lahir.
"Lalu? Kenapa kamu minta pisah? Look dik, mbak sudah berusaha untuk kompromi menerima Hideo sebagai anggota keluarga kita khususnya dan keluarga besar kita umumnya." Freya menatap wajah adiknya.
"Tapi Hideo sudah membuat keluarga kita gegeran mbak."
"Setidaknya gegerannya tidak separah Opa Ghani, Opa Elang, Oma Rain, Tante Kaia, Oom Arjuna dan Oom Aidan. Tidak ada yang kehilangan nyawa saat kamu. Tapi saat para Opa, Oma dan Oom Tante yang aku sebutkan itu, mereka menghilangkan nyawa lho dik meskipun yang dihilangkan orang jahat sih!"
"Iya, mommy juga cerita."
"Nah, selama kamu sama Hideo, apa dia pernah melakukan KDRT ke kamu? Apa menyiksa kamu saat di rumah Jeju? Jika jawabannya tidak, berarti dia memang mencintai kamu. Dik, pria jika sudah hopeless pasangannya ingin berpisah dan mengabulkannya setelah sebelumnya gigih menolak, berarti dia sudah merasa kalah. Dia menyingkirkan semua ego bahkan perasaannya hanya demi melihat kamu bahagia."
Fayza terdiam mendengar ucapan kakaknya yang biasanya gesrek tapi ini menghilang entah kemana.
"Mbak harap kamu berpikir panjang sebelum si boy lahir. Masih ada dua bulan eh ... kurang ya untuk kamu mempertimbangkan. Pikirkan hatimu, pikirkan si boy dan pikirkan Hideo. Apa iya dia akan menerima tidak ikut bersamamu barengan mengasuh bayi kalian? Apa kamu tidak ingin, disaat kamu sudah capek, ada suami siaga yang membantu kamu untuk parenting? Haris tuh, secapek capeknya dia, pasti akan berusaha membantu aku mengurus si kembar. Hideo aku yakin pasti akan menjadi ayah yang hebat. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena dia pria yang rela mengorbankan segalanya bagi kamu dan bayimu. Jika dia memang bajigur, dia bisa saja tetap memilih Silver Shinning dan mencari wanita lain!"
Fayza mencoba mencerna ucapan Freya. Tanpa sengaja dia melihat Hideo berjalan dari arah kamarnya menuju pintu apartemen.
Apakah dia mendengar percakapan kami?
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️