
"Kenapa kamu sekarang jadi cengeng, Hideo?" tanya Fayza bingung. Dirinya lebih suka menghadapi Hideo yang dulu, yang absurd, galak, menyebalkan tapi bukan cengeng seperti ini.
"Aku tidak tahu Fay, tapi aku sekarang gampang menangis jika berhubungan dengan mu. Apakah bawaan si boy?" Hideo menatap Fayza sendu.
Fayza ingat awal kehamilannya Hideo lah yang muntah-muntah, sedangkan dirinya tidak merasakan apapun yang membuatnya iri tidak merasakan mual.
"Tapi apa masih pengaruh sampai sekarang? Harusnya yang emosinya naik turun, aku bukan kamu" ucap Fayza.
"Entah Fay...tapi aku mohon kamu jangan gugat cerai aku." Hideo menatap penuh permohonan ke istrinya.
Fayza tampak tersentuh melihat suaminya tampak terpuruk mendengar dirinya ingin berpisah setelah kelahirannya. Tapi aku tidak bisa satu tempat dulu denganmu.
"Please Fay, aku mohon."
"Kita lihat saja nanti Hideo." Akhirnya Fayza berucap seperti itu karena dirinya tidak tega melihat wajah memelas suaminya.
"Aku akan berada di New York sampai waktunya kamu melahirkan dan aku akan menemui Mr Sky untuk boleh menemuimu setiap hari." Semoga malah bisa memboyong kamu ke apartemen aku.
"Aku kok tidak yakin..." bisik Fayza. "Kamu kan sudah ditodong Daddy waktu di Turin."
"Kalau belum dicoba, kan tidak tahu." Entah kemana perasaan melownya berubah menjadi semangat menggebu-gebu untuk bisa menaklukkan mertuanya.
"Apa kamu yakin bisa menghadapi Daddy lagi?"
"Aku sendiri sudah pasrah jika nyawaku dicabut oleh ayahmu waktu di Turin kemarin."
"Apakah benar Daddy hampir menarik pelatuk?"
"Iya tapi disadarkan oleh Mr Reeves dan Mr Blair."
"Oom Arjuna dan Oom Aidan disana?" tanya Fayza.
Hideo mengangguk. "Jin pun ada."
"Bagaimana kabar bayanganmu itu?" senyum Fayza.
"Dia ikut keluar dari Silver Shinning dan sekarang di Tokyo membantu okāsan."
"Aku rindu mamamu tapi aku tidak bisa kemana-mana."
"Apa aku meminta okāsan kemari? Dia pasti juga ingin tahu kabar menantu dan cucunya." Hideo berharap dengan kedatangan Fumiko akan membuat Fayza berubah pikiran.
"Tapi mama kan pasti sibuk dengan bisnis nya." Tampak Fayza ragu-ragu antara ingin bertemu dengan mertuanya atau tidak.
"Hei, kan ada Jin disana. Okāsan kan bisa mengawasi dari jauh." Hideo kemudian melakukan panggilan video.
"Astaga Hideo! Disana kan jam tiga pagi!"
"Heh anak nakal! Untung okāsan sudah bangun... Fayza!" seru Fumiko saat melihat menantunya di layar ponselnya. "Mama kangen sama kamu. Apa benar kamu berada di New York?"
"Iya mama. Fay juga kangen sama mama."
"Cucu mama gimana kabar ?" tanya Fumiko.
Fayza menunjukkan perutnya kepada Fumiko.
__ADS_1
"Duh mama jadi pengen mengelus perut kamu" ucap Fumiko.
"Maaf ya mama, Fay tidak bisa kemana-mana dulu. Daddy dan mommy masih belum mengijinkan Fay pergi jauh."
"Iyalah, kamu hamil besar begitu. Jalan berapa Fay? Tujuh atau delapan bulan?"
"Tujuh mama."
"Anak nakal mama disana kan?"
"Lha ini Fay kan pakai handphone nya Hideo. Mama tuh gimana" gelak Fayza dan Fumiko pun tersenyum.
"Bagaimana amnesianya? Sudah mulai ingat?"
"Alhamdulillah lumayan mama."
"Syukurlah. Kalau ada waktu, mama ke New York buat menemani kamu lahiran. Masih satu setengah bulan lagi kan?" Fumiko tampak antusias untuk menyambut cucunya.
"Iya mama. Fayza tunggu jika mama mau kemari." Fayza memberikan senyum manisnya.
***
Hideo hanya memperhatikan interaksi Ibu dan istrinya. Meskipun Fayza tampaknya masih setengah hati kembali padanya tapi Hideo salut dengan sikap sopan dan unggah ungguh istrinya ke ibu mertuanya.
Tak lama panggilan telepon itu selesai dan Fayza mengembalikan ponselnya ke Hideo.
"Apakah kamu sungguh-sungguh mengundang mama kemari?" tanya Hideo.
"Wajar kan kalau aku mengundang mama kemari? Mau bagaimana pun juga, si boy cucu mama juga kan?"
"Aku rasa mama bisa mengerti keputusan aku karena ada alasan di balik semua itu. Dan sebenarnya mama sudah tahu kan hanya saja kamu nya yang masih tidak mau jujur padaku." Fayza menatap Hideo dengan nada sindiran.
Hideo hanya terdiam, tahu bahwa disini dirinya yang salah.
"Iya Fay, aku yang salah dan aku minta maaf atas semuanya tapi aku mohon, pikirkan kembali rencana kita berpisah. Apakah kamu tega membesarkan si boy tanpa aku di sisi kalian berdua?"
"Aku tidak akan menyingkirkan kamu sebagai ayah si boy hanya saja posisinya nantinya akan berbeda. Kita akan menjadi mantan suami istri tapi kamu tetap Appa boy. Tidak ada yang namanya mantan anak, Hideo."
***
Fayza menatap pemandangan langit malam kota New York melalui balkon kamarnya. Musim panas seperti ini di bulan Agustus, hawanya memang terasa lembab membuat Fayza lebih suka memakai angin alam dibandingkan AC kecuali memang gerah sangat.
Tadi dirinya mengotot untuk pulang sendiri dan menolak diantar oleh Hideo. Dirinya belum siap melihat Daddy dan suaminya bertengkar lagi dan Fayza tahu bagaimana kecewanya Ashley kepada Hideo.
Hanya karena dendam konyol dari seorang nenek gayung membuat semua turunannya seperti kena doktrin. Doktrin konyol seperti sekte aneh! Umpat Ashley saat mendengar alasan Hideo seperti itu.
Sejujurnya Fayza masih memiliki perasaan terhadap Hideo tapi rasa jengkel dan kecewanya, membuat dirinya mengambil keputusan untuk berpisah dengan suaminya.
Travis Blair melalui pegawainya yang berada di Seoul sedang memproses pembatalan pernikahan dan proses perceraian antara dirinya dan Hideo. Dan menurut Travis, proses nya baru dimulai setelah anak mereka lahir agar mendapatkan nama belakang Hideo dan tunjangan anak.
"Proses pembatalan pernikahan kalian membutuhkan waktu empat bulan karena harus menunggu kamu melahirkan, Fay" ucap Travis saat itu. "Kalau kamu mau cepat, dua bulan setelah si boy lahir, kamu datang ke Seoul dan Hideo pun datang. Dalam waktu dua hari kalian bisa berpisah."
Fayza mengelus perutnya yang besar. "Boy, kalau mommy pisah dengan Appa mu, bagaimana?"
__ADS_1
Tidak ada gerakan dari dalam perutnya.
"Boy, apa kamu tidak setuju mommy pisah dengan Appa?" Fayza meringis ketika bayinya menendang cukup keras.
"Jadi kamu tidak mau ya kita berpisah?" Fayza mengelus perutnya lagi dan terasa gerakan bayinya di dalam.
"Kamu membuat mommy dalam posisi sulit, nak."
Suara ponselnya membuat Fayza mengambil ponselnya di meja dekat kursi malasnya.
Sebuah pesan dikirimkan oleh Hideo dan Fayza mengerenyitkan dahinya ketika mengetahui pesan itu adalah sebuah lagu lama yang dinyanyikan oleh Jordan Knight.
I know I hurt you
That's the last thing I meant to do
Sometimes I can be careless and blind
Can you forgive the fool that I've been?
You know I love you
You're the one thing I have that's true
My life used to be nothing to me
I never want to feel that again
If you go away, girl
You're taking my heart with you
If you go away, girl
You'll be breaking my heart in two
If you only stay, girl
I promise you the world
So please don't ever go away
"Ya Ampun, Hideo..."
***
Yuhuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1