MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 10. TIDAK BERANI MEMBERI HARAPAN


__ADS_3

Sabrina menguatkan hati dan berusaha untuk tidak meneteskan air mata saat dia mengulurkan tangan, memberi ucapan selamat kepada Rey Aditama.


Rey membalas uluran tangan Sabrina dan seperti biasa dia hendak memeluk sahabatnya itu, tapi Sabrina keburu memundurkan tubuhnya.


Rey paham, mungkin Sabrina ingin menghargai Lira jadi dia mulai menjaga jarak sejak status Rey berubah.


Kemudian Sabrina memeluk Lira dan mengucapkan selamat untuknya.


Air mata sudah menggenang dan hampir saja tumpah di sana, jika Sabrina tidak buru-buru turun. Kemudian, sabrina mencari tempat aman untuk menuntaskan tangisnya di sana.


Mario yang diam-diam mengikuti Sabrina mengulurkan saputangan, "Pakailah, hapus air matamu. Kamu jelek jika menangis."


Sabrina terkejut, dia tidak menyangka jika ada orang yang melihat dirinya di sana sedang menangis.


Sambil terisak, Sabrina pun menerima sapu tangan tersebut, lalu dia menghapus air mata dan juga cairan kental yang keluar dari hidungnya.


"Maaf, kapan-kapan aku ganti ya. Aku nggak enak kembalikan yang ini, sapu tangan kamu jadi jorok."


"Santai saja Rin," ucap Mario hingga membuat Sabrina menatapnya dengan tatapan sedikit aneh.


Rin adalah panggilan kesayangan Rey untuk Sabrina, tapi kenapa Mario juga ikut-ikutan memanggilnya dengan nama tersebut.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu Rin? memangnya ada yang aneh di wajahku atau karena aku terlalu tampan?" tanya Mario sambil meringis, menunjukkan deretan giginya yang rapi serta putih bersih.


"Ish...Pede amat, siapa juga yang bilang Dokter Mario tampan," jawab Sabrina sembari tersenyum.


"Nah 'kan, baru sebentar sudah lupa. Panggil saja aku Mario. Biar lebih akrab. Sekarang tersenyumlah, kamu lebih cantik jika tersenyum."


"Oh ya Rin, di sini terlalu ramai, bagaimana jika kita ngobrol sambil jalan-jalan di luar?"


"Boleh Dok, eh...Mas saja ya, biar kedengarannya lebih sopan."


"Terserah deh, asal jangan Pak Dokter."


Keduanya pun bergegas keluar meninggalkan keramaian pesta. Mario mengajak Sabrina duduk di tepi kolam sambil menikmati cahaya bulan yang kebetulan sedang purnama.


"Oh ya Rin, jika boleh aku tahu, sudah berapa lama kamu dan Rey berteman?"


"Sejak kecil, memangnya kenapa Mas?"

__ADS_1


"Pantas saja kamu tadi menangis. Kalian sudah seperti saudara kandung. Buktinya Rey juga berlaku sama, dia tadi mengkhawatirkan kamu."


"Iya Mas. Banyak suka duka kami lalui bersama."


"Oh ya Rin, kenapa kamu datang sendiri ke sini? Apakah kamu belum memiliki pacar? Maaf jika aku lancang."


Sabrina hanya menggeleng, lalu dia tersenyum sambil berkata, "Nggak ada yang mau Mas, aku cuma anak seorang pembantu," ucap Sabrina sambil tertawa kecil.


"Alhamdulillah jika begitu, bagaimana jika kamu menjadi pacarku saja? Kita sama-sama belum memiliki pasangan, siapa tahu berjodoh hingga ke pelaminan seperti mereka." ucap Mario langsung ke inti pembicaraan.


"Maaf Mas, kita baru kenal. Mas belum kenal bagaimana sifat serta watak ku dan begitu pula aku. Aku nggak mau kita menyesal karena keputusan yang terburu-buru."


"Iya sih. Ya sudah kalau begitu kita temenan aja dulu. Nanti, jika kita merasa cocok, langsung lanjut ya, ke jenjang pernikahan," ucap Mario sembari tersenyum manis.


"Hehehe, Mas Mario aneh, begitu banyaknya cewek cakep kenapa musti aku yang hanya orang biasa."


"Kalau sudah cinta di pandangan pertama, sulit Rin untuk lupa."


Sabrina menatap Mario, dia nggak percaya jika Mario mencintainya.


"Kamu ngga percaya? tapi itu kenyataan. Aku pernah melihatmu dan bahkan diam-diam mencuri fotomu dengan jepretan kamera. Sejak saat itu aku yakin, jika aku telah jatuh cinta sama kamu."


"Tapi benar, aku belum bisa menerima cintamu, Mas. Maafkan aku," ucap Sabrina sembari mengatupkan kedua telapak tangan.


"Nggak apa-apa Rin, santai saja, aku sabar menunggu keputusan kamu. Kapanpun kamu bersedia, aku siap!"


Sabrina tidak bisa memberi alasan maupun pengharapan, dia merasa tidak pantas bagi pria sesempurna Mario.


Andai Mario tahu, jika Sabrina tidak suci lagi, mungkin dia juga akan mundur. Sabrina kembali sedih, dia jadi teringat kejadian malam naas itu.


Melihat Sabrina termenung, Mario pun mengagetkannya.


"Jangan terlalu diambil pusing omonganku ya Rin. Oh ya kamu sudah makan atau belum, aku lapar."


"Belum Mas, aku tidak berselera. Apakah Mas mau aku ambilkan makanan?"


"Nggak ah, tapi jika makan bareng kamu aku pasti mau."


Sejenak Sabrina berpikir, nggak ada salahnya jika dia sesekali menyenangkan hati teman barunya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita kembali ke dalam dan menikmati hidangan," ajak Sabrina.


"Terimakasih ya," ucap Mario.


Mario senang, meski mendapatkan penolakan tapi dia masih bisa bersahabat dengan Sabrina. Mario akan bersabar dan terus berusaha untuk meluluhkan wanita yang telah mencuri hatinya sejak pandangan pertama.


Keduanya pun kembali ke dalam dan Rey yang melihat Sabrina lagi, merasa lega.


Bunda menyenggol lengan ibu dan papa, beliau ingin menunjukkan bahwa sudah ada kedekatan antara Sabrina dengan Mario.


Para orang tua sibuk mengamati gerak-gerik keduanya, sedangkan Sabrina dan Mario masih bingung mau memilih hidangan apa yang ingin mereka makan.


Akhirnya Mario dan Sabrina hanya mengambil salad buah, lalu keduanya bergabung dengan para tamu yang juga sedang menikmati makanan.


Keduanya asyik ngobrol dan hal itu membuat Sabrina sejenak lupa dengan masalah dan kesedihannya.


Satu persatu tamu sudah meninggalkan pesta, begitu pula dengan Mario dan juga keluarganya. Mario meminta nomor kontak Sabrina, sebelum dia pamit pulang.


Papa, Bunda dan ibu juga sudah bersiap, lalu mereka mengajak Sabrina untuk pamit kepada besan juga kepada kedua mempelai.


Rey masih heran melihat kecanggungan Sabrina, dia merasa Sabrina telah benar berubah.


Saat ini Rey tidak mungkin mencari tahu, besok setelah mereka balik dan tinggal di rumah orangtuanya, barulah Rey akan membahas hal ini dengan Sabrina.


Para tamu sudah pulang, kini hanya tinggal beberapa orang kerabat dan pembantu yang sedang berbenah.


Ramainya pesta telah membuat kedua pengantin merasa lelah. Lalu mereka putuskan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Setelah membersihkan diri, Rey membaringkan tubuhnya dan yang terlintas malah wajah Sabrina yang sedang tersenyum sembari ngobrol dengan dokter Mario.


Rey bingung dengan perasaannya sendiri, kenapa sekarang malah dia merasa telah kehilangan Sabrina.


Rasa lelah akhirnya membuat Rey tertidur dan Alira yang baru selesai membersihkan diri, merasa kecewa saat melihat Rey terlelap sebelum mereka sempat saling mengucapkan selamat malam dan selamat tidur.


Alira pun membaringkan tubuhnya di sisi sang suami, sambil memperhatikan Rey yang sedang mendengkur halus.


Dalam tidurnya Rey gelisah, dia bermimpi seorang wanita datang untuk meminta pertanggungjawabannya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2