MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 26. DUNIA BEGITU SEMPIT


__ADS_3

Sabrina menunggu kedatangan Risya, dia sudah bersiap untuk pergi dan tinggal bersama Nenek Mawar.


Nenek sangat gembira saat Sabrina menelepon, memberitahukan jika dirinya sudah berangkat bersama Risya.


Berbagai macam kue telah beliau siapkan untuk menyambut kedatangan kedua tamunya.


Bahkan Nek Mawar, menelepon Mario untuk datang, tapi sayang Mario sedang menangani pasien yang akan operasi Caesar.


Namun Mario berjanji, setelah operasi selesai, dia akan datang untuk berkenalan dengan tamu sang Nenek.


Sabrina dan Risya sangat kagum melihat rumah Nek Mawar. Rumah itu kecil, sederhana tapi tampak asri dengan aneka macam bunga yang tumbuh di pekarangan rumah.


Nek Mawar tersenyum melihat orang yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang dan beliau pun mempersilakan keduanya untuk masuk.


Sabrina bertambah heran, ternyata bukan hanya indah di luar, tapi di dalam juga. Dekorasi rumah Nek Mawar sangat unik, dengan pernak-pernik hiasan dinding yang begitu klasik.


"Ayo dinikmati dulu makanan serta minumannya Nak, Nenek akan mempersiapkan kamar untuk Sabrina."


Kemudian keduanya mengangguk dan menikmati hidangan yang tersaji dan tidak lama Nek Mawar pun kembali.


"Ayo Nak, masukkan tas kamu ke dalam kamar, tapi ya beginilah rumah nenek kecil."


"Kami suka rumah Nenek, adem dan sangat asri serta nyaman, jadi teringat kampung halaman," timpal Risya.


Nenek mengantar Rina ke kamar, lalu mereka kembali mengobrol hingga terdengar suara ucapan salam.


Wajah Nek Mawar sumringah, beliau senang, akhirnya Mario datang.


Sabrina seperti tidak asing dengan suara tadi, dan benar saja dia terkejut saat yang dilihatnya berdiri di depan pintu adalah Dokter Mario. Dokter muda yang dijodohkan Bunda untuk menjadi calon suaminya.


Dunia begitu sempit, padahal Sabrina pikir, pergi ke Bali adalah pilihan terbaik untuk menjauh dari orang-orang yang dia kenal dan mengenalnya. Ternyata, dia malah bertemu dengan Mario dan bahkan tinggal di rumah Nenek pemuda itu.


"Sabrina! Kamu..."


"Lho, kalian saling kenal?" tanya Nek Mawar.


Bukan cuma kenal Nek, tapi Sabrina inilah yang Mario ceritakan kemarin.


"Oh, ternyata Nak Sabrina toh, gadis baik yang Mama Mario ingin jadikan menantu."

__ADS_1


Mendengar ucapan Nek Mawar, Sabrina menunduk, dia tidak menyangka jika Mario juga telah menceritakan perihal perjodohan itu kepada sang nenek.


"Jika begitu, mungkin saja kalian memang berjodoh. Nenek setuju kok, jika kalian merasa cocok. Tapi, Nenek juga tidak memaksa lho Nak, semua keputusan terserah kalian berdua."


Mario sangat senang, dia pikir kesempatannya telah hilang untuk mendekati Sabrina. Tapi, ternyata Tuhan memberi kesempatan lagi untuk Mario hingga bisa lebih sering bertemu dengan gadis yang mulai mengusik hatinya itu.


"Jika tahu gadis yang nenek maksud itu kamu, mungkin kemaren aku langsung yang akan menjemput nenek ke bandara," ucap Mario sembari menyeringai.


Nek Mawar menarik telinga Mario, "Dasar cucu duralex, diminta menjemput Nenek menolak, giliran cewek cantik, malah gercep mau jemput."


"Aduh Nek, ampun! Nanti ganteng Mario bisa hilang kalau begini," ucap Mario sembari berusaha melepaskan jeweran sang nenek pada telinganya.


Mario mengusap telinganya yang sakit, hingga membuat Sabrina dan Risya tersenyum.


Begitu melihat banyak kue di atas meja, Mario pun mengambil sembari berkata, "Ayo-ayo silakan dimakan Nona, jangan malu-malu, masa makanan dianggurin. Aku saja nggak punya malu, datang-datang langsung nyelonong makan," ucap Mario sembari memasukkan kue ke dalam mulutnya.


"Beginilah cucu Nenek Nak, sudah pantas menikah tapi sifatnya masih seperti anak-anak."


"Aku kan benar Nek, makanan segini banyak dianggurin, mubazir, perbuatan dosa lho Nek," ucap Mario lagi dan kembali memakan kue.


"Ayo Nak, cepat dimakan, nanti keburu habis. Mario pemakan segalanya."


"Oh ya Na, bagaimana ceritanya kamu bisa sampai di sini?"


"Aku pindah bekerja Dok, mau cari perubahan suasana. Ya kan Ris?"


"Iya Dok, Sabrina bekerja dengan kami. Kebetulan manajer hotel kami sudah resign dan Ina sedang mencari pekerjaan. Aku senang, akhirnya bisa bertemu sahabat lama ku lagi."


"Oh, memangnya kenapa kamu resign dari sana Na? Apa tidak nyaman ya bekerja di sana?"


Sebenarnya nyaman sih Dok, tapi ingin ada perubahan saja, biar nggak jenuh.


"Jangan panggil aku Dokter dong, panggil Mario saja. Biar lebih akrab, ya kan Nek?"


"Terserah kalianlah, Nenek setuju saja."


"Oh ya Na, aku pulang dulu ya. Masih ada urusan yang harus ku selesaikan. Besok pagi aku jemput sampai fasilitas kantor keluar," ucap Risya.


"Nggak usah Ris, aku naik ojek saja dan kita bertemu di kantor biar nggak repot."

__ADS_1


"Biar aku saja yang antar Rin, kebetulan besok pagi aku nyantai, paling menangani operasi selepas Dzuhur."


"Aduh Mas, nggak usah deh. Aku nggak mau merepotkan siapapun. Naik ojek juga enak, tidak terjebak macet."


"Ya sudah, aku saja ojeknya besok. Pokoknya aku nggak mau ada penolakan, ya kan Ris?"


"Iya Na, terima saja. Lumayan 'kan bisa berhemat. Lagipula, nggak baik lho menolak bantuan teman."


"Iya deh. Jam 7 bisa kan Mas?"


"Jam 6 aku datang, sekalian minta sarapan sama Nenek."


Nenek Mawar mencebikkan bibirnya, tapi beliau senang jika Mario ingin melakukan pendekatan dengan Sabrina. Dan beliau berharap keduanya bisa berjodoh nantinya.


"Ya sudah Nek, Mario juga mau pamit. Masih ada operasi sore ini. Ingat Rin, jam 6 ya!" ucap Mario sembari menyalam tangan sang nenek.


Risya dan Mario pun pulang ke tujuan masing-masing, sementara nek Mawar meminta Sabrina untuk beristirahat sembari menunggu jam makan siang tiba.


Sepanjang perjalanan Mario tersenyum, dia memantapkan hati ingin melakukan pendekatan lagi terhadap Sabrina.


Tiba-tiba Mario terkejut saat melihat ponselnya berdering, ternyata dari Sabrina.


Dengan senyum sumringah, Mario pun menerima panggilan, "Ya hallo Na, sudah kangen ya? aku senang sekali, jika terus dikangeni," ucap Mario sembari tertawa renyah.


"Issh...siapa juga yang kangen!"


"Hehehe...bercanda lho Rin. Kalau beneran alhamdulillah."


"Begini Mas, aku mau minta tolong. Tolong jangan beritahu siapapun, jika aku tinggal dan bekerja di sini, termasuk Mama Mas Mario, Bunda dan juga Rey."


"Memangnya kenapa Rin? kamu sengaja pergi ya dari sana? Kamu sedang ada masalah?"


"Iya Mas, suatu saat aku akan cerita, kenapa aku pindah kesini. Sekarang aku mohon, bantu aku ya Mas. Aku tidak ingin satu pun dari mereka tahu."


"Baiklah, aku akan merahasiakannya, tapi kamu harus janji untuk mengatakan alasannya kepadaku."


"Iya Mas, aku janji. Aku juga akan bilang ke nenek, agar merahasiakannya juga. Sudah dulu ya Mas, aku mau istirahat. Mas Mario hati-hati ya!"


Mendengar ucapan terakhir Sabrina membuat Mario tersenyum, rasanya senang sekali ada yang memperhatikan dan mendoakan keselamatan dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2