MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 42. MEREMBUKKAN JALAN KELUAR


__ADS_3

Rey menghela nafas, dia nggak mau mendebat Alira, tapi Rey tidak mungkin bungkam lagi atas kesalahannya.


Tidak adil rasanya Rey hidup bahagia sementara Sabrina harus menanggung beban dari kesalahan yang telah dia lakukan.


Rey beranjak hendak ke dapur sambil membawa teko, lebih baik dia menenangkan hati daripada membangkitkan emosi Alira yang saat ini belum berhenti menangis.


Alira yang melihat pergerakan Rey, menarik lengannya dan bertanya, "Mau kemana Kak?"


"Mau ke dapur, mengambil air minum."


Alirapun melepaskan tangannya dari lengan Rey, lalu berkata, "Bawakan aku jus Kak!"


"Ya," jawab Rey, sembari bergegas meninggalkan kamar.


Sesampainya di dapur, Rey melihat sang Papa baru saja tiba.


"Pa, kapan Papa pulang?"


"Baru saja Rey. Tadi pertemuannya cuma sebentar, jadi Papa putuskan untuk makan siang di rumah saja. Mana Alira?"


"Di kamar Pa, dia tidur. Oh ya Pa, sebenarnya ada yang ingin Rey bicarakan. Rey ingin minta pendapat Mama dan Papa. Mama mana Pa?"


"Masih ke kamar menyimpan tas Papa. Hal apa yang ingin kamu bicarakan Rey, kok tampaknya serius banget?"


"Tentang Sabrina Pa!"


"Ada apa dengan Ina, Rey? Memangnya dia menghubungimu? Coba telepon Rey, mama ingin bicara dengan dia."


Rey menggeleng dan berkata, "Nggak bisa Ma, nomornya mungkin sudah ganti. Mama minta ke Bi Murni saja barangkali Rina memberikan nomor barunya kepada Bibi."


"Nggak bisa juga Rey, sebenarnya ada apa dengan Ina ya Rey? Dia sepertinya tidak mau menghubungi maupun dihubungi."


"Inilah yang ingin Rey bicarakan Ma."


"Duduk sini Rey, itu jus untuk siapa?"


"Alira Ma."


"Lho, katamu Alira tidur, kok minta jus?" tanya Papa yang merasa heran.


"Maksudnya untuk nanti Pa, saat dia bangun," ucap Rey terpaksa berbohong.


"Oh ya sudah. Duduklah! Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Sini Rey, Mama penasaran. Kenapa Sabrina jadi seperti ini dengan kita. Padahal saat mau berangkat dia baik-baik saja."


"Sebenarnya tidak Ma. Mama ingat 'kan, saat dia beberapa kali pingsan?"

__ADS_1


"Tapi katamu dia cuma kelelahan saja? Memangnya Sabrina mengidap penyakit yang serius Rey?"


"Bukan cuma serius Ma!" ucap Rey sembari memegang keningnya.


"Maksudmu Sabrina sakit parah?"


Rey terdiam sejenak untuk mempersiapkan jawaban yang pastinya akan membuat orangtuanya terkejut dan marah.


"Ayo Rey, sakit apa Ina! Jangan buat kami penasaran!"


"Ina hamil Ma, Pa!" jawab Rey sembari tertunduk.


"Hamil???" tanya Mama dan Papa serentak.


"Kamu jangan bercanda Rey!"


"Rey serius Ma. Sebenarnya saat dia pingsan, Rey sudah tahu, tapi ragu dan tidak percaya. Rey ingin meminta tolong dokter kandungan untuk memeriksa ulang, tapi Rina keburu pergi."


"Ini tidak mungkin Rey! Rina gadis baik, mana mungkin dia melakukan hal seperti itu. Lagipula, selama ini yang kita tahu, Rina tidak pernah pacaran dengan siapapun."


"Iya Ma. Itulah yang dulu membuatku ragu dengan hasil diagnosa ku sendiri."


"Lantas, siapa laki-laki itu Rey? bajingan, tega-teganya dia melakukan hal itu kepada putriku. Awas saja, aku akan menjebloskan dia ke penjara! Aku tidak akan mengizinkan Rina memberinya ampun!" ucap Mama sambil menggebrak meja.


"Sabar Ma, nanti tekanan darah mama naik, bahaya dengan jantung Mama," ucap Papa yang coba menenangkan istrinya.


Sementara Rey tertunduk, dia takut untuk mengatakannya. Rey takut, sang Mama syock dan terkena serangan jantung.


"Laki-laki itu...aku Pa."


"Apa! Kamu jangan bercanda Rey! Papa serius!"


Mama menatap Rey dengan pandangan tidak percaya. Tapi, beliau tampak ragu saat melihat Rey tidak berani membalas tatapan beliau.


Biasanya jika Rey bersikap seperti itu, menandakan jika dirinya memang bersalah.


"Rey, pandang Mama!"


Rey masih tidak berani mengangkat kepalanya.


"Rey!" teriak Bunda sambil memegangi dadanya.


Papa yang melihat hal itu langsung bangkit dan membantu sang Mama untuk bersandar.


"Mama tenang, jangan emosi dulu. Kita dengarkan pengakuan Rey. Ayo Rey, katakan yang sebenarnya, kamu jangan bercanda lagi. Lihat Mama sakit gara-gara kamu."


"Rey serius Pa. Rey tidak sengaja melakukannya."

__ADS_1


Kemudian, Rey pun menceritakan asal mula kenapa Sabrina sampai bisa hamil dan mengatakan tentang bukti-bukti penguat yang dia dapatkan.


Papa dan Mama terdiam, seketika mulut keduanya terkunci, hingga mereka dikejutkan oleh suara piring yang terjatuh.


Ternyata Bu Murni yang masuk ke dapur mendengar percakapan mereka.


Bu Murni terduduk di lantai dan air matanya lolos, hatinya hancur mendengar pengakuan Rey.


Beliau jadi tahu, kenapa Sabrina memaksa pergi dan tidak mau memberitahu alamat dimana dirinya saat ini tinggal.


Mama Rey menghampiri Ibu dan memeluknya. Keduanya sama menangis.


Rey memegang kaki Bu Murni, dia meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap Rina.


"Bi, maafkan aku. Saat itu aku tidak sadar. Aku jahat Bi! Aku menghancurkan kehidupan Rina!"


"Bangkit Rey! Ayo Ma, ajak Bibi duduk di atas. Kita akan cari solusi masalah ini sama-sama."


Rey pun membantu Bi Murni duduk di atas kursi. Kini wanita tua itu tidak berdaya, hanya air mata yang tidak henti-hentinya menetes. Beliau ingin marah, tapi hutang budi membuatnya terpaksa meredam kesakitannya.


"Begini Bi, saya mewakili Rey ingin meminta maaf. Kami tahu Rey bersalah, tapi hal itu sudah terjadi dan tidak mungkin hanya disesali. Bagaimanapun Rey harus bertanggungjawab, Rey harus menikahi Sabrina."


"Tapi Tuan...Non Alira!"


"Tidak ada jalan lain lagi Bi, anak itu harus punya ayah. Rey harus bertanggungjawab."


"Tidak! Aku tidak setuju, Rey suamiku dan aku tidak mau berbagi dengan wanita manapun!" ucap Alira yang tiba-tiba muncul dari balik pintu sembari menghapus air matanya.


Kemudian, Alirapun berkata lagi, "Aku benci Sabrina, dia memang sengaja ingin merusak rumah tangga kami. Aku benci dia!" seru Alira sembari berbalik dan berlari pergi dari sana.


Semuanya terkejut, terutama Rey. Rey pun bangkit dan mengejar Alira. Dia ingin menjelaskan duduk persoalannya.


Namun Alira tidak peduli dan dia masuk ke dalam kamar, membanting pintu dan menguncinya dari dalam.


"Ra, buka pintunya! Tolong Ra, aku akan menjelaskan semuanya," pinta Rey.


"Pergi! Aku benci Kakak, aku benci kalian berdua!" teriak Alira.


Tubuhnya pun merosot dibalik pintu, kini tangisnya pecah kembali.


Sembari memanggil-manggil sang mama, Alira pun terisak-isak. Dadanya terasa begitu sakit hingga dia kesulitan bernafas.


Rey mengetuk pintu berulang-ulang tapi Alira tetap tidak mau membukanya.


Papa yang menyusul mereka, memegang bahu Rey, lalu berkata, "Biarkan Alira sendirian dulu Rey. Saat ini dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Kita harus paham, istri pasti sakit, saat mendengar suaminya menghamili wanita lain."


"Sekarang, kita kembali bicarakan hal ini dengan Bi Murni. Kasihan beliau, sebagai Ibu hatinya juga hancur."

__ADS_1


Rey pun mengikuti sang Papa kembali ke ruang makan untuk melanjutkan pembahasan masalahnya dengan Bu Murni.


Bersambung.....


__ADS_2