
Belum sempat Sabrina beranjak untuk menemui sang ibu, pintu kamarnya pun terbuka.
"Kamu sudah pulang toh, Nduk?"
"Eh Ibu, Ina belum lama sampai kok Bu," jawab Sabrina, sembari pura-pura membenahi rambutnya.
Sabrina tidak berani memandang wajah sang ibu, dia takut ibu curiga melihat wajahnya yang sedikit sembab karena semalaman menangis.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, apakah sudah selesai acaranya? Oh ya, hari ini kamu libur 'kan?"
"Iya Bu. Ina mau tidur, biar besok pagi fresh kembali bekerja."
"Ya sudah, kamu istirahatlah dulu, ibu mau melanjutkan pekerjaan."
Sabrina merasa lega, karena ibunya tidak curiga.Tapi, dia kaget saat ibu berbalik dan bertanya, "Oh ya Nduk, Den Rey tadi malam juga tidak pulang. Apakah dia ada menghubungimu?"
"A-aku nggak tahu di mana Rey Bu, dia tidak ada menghubungiku. Mungkin menginap di rumah Lira atau di tempat temannya," jawab Sabrina dengan gugup.
Mendengar nama Rey di sebut saja jantungnya serasa mau copot, apalagi jika bertemu saat ini.
Kejadian itupun kembali terlintas dan air mata mulai mengambang. Sabrina berusaha menutupinya agar tidak terlihat oleh ibu.
"Oh ya sudah, mungkin Den Rey memang menginap di rumah temannya, karena Non Lira juga mencarinya."
"Iya Bu, pasti sebentar lagi Rey akan menghubungi bunda. Dia 'kan kemaren bilang, hari ini ada pertemuan para dokter se kota madya."
Ibu pun kembali ke rumah induk, beliau harus menyelesaikan tugasnya mempersiapkan kebutuhan seserahan yang akan di bawa saat akad nikah nanti.
Sabrina menutup wajahnya,
ternyata tidak mudah untuk melupakan yang telah terjadi. Belum lagi jika nanti dia bertemu dengan Rey ataupun Lira.
Sabrina mengambil obat dari dalam tasnya, dia berharap dengan meminum obat itu, bisa lelap tertidur dan sejenak melupakan masalahnya.
Baru saja Sabrina memejamkan mata, terdengar suara ketukan pintu. Ternyata mama Rey yang datang mencarinya.
"Eh Bunda, silakan masuk Bun."
__ADS_1
"Maaf Na, bunda ganggu istirahat kamu. Nanti siang, bisa temani Bunda ke butik Na? Rey dan Lira menunggu kita di sana."
"Sepertinya Ina nggak bisa ikut Bun, ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Lagipula, kepala Ina sedikit pusing."
"Kamu sakit Na? pantas wajahmu terlihat pucat. Kalau begitu istirahatlah. Besok saja kita ke butik, hari ini biar Rey dan Lira membeli kebutuhan mereka dulu."
"Oh ya Na, Rey 'kan sebentar lagi akan menikah. Apakah Ina tidak ingin menyusul Rey? Jika Ina sudah memiliki calon, perkenalkanlah dengan kami."
"Jika belum ada, Bunda punya calon. Dia pernah melihat foto kamu dan sepertinya tertarik. Orangtuanya teman karib Bunda dan mereka setuju, jika kalian berjodoh."
"Apabila Ina setuju, kami akan atur pertemuan kalian. Kenalan dulu, kalau cocok lanjut, jika tidak ya hitung-hitung menambah teman. Bagaimana Na?"
"Ina belum memikirkan hal itu Bun, Ina masih ingin membahagiakan ibu dulu. Ina juga ingin sukses berkarir, biar pengorbanan keluarga ini tidak sia-sia."
"Kamu jangan ngomong gitu, melihat Ina sudah lulus kuliah dan bekerja, kami sudah sangat senang. Semua nggak ada yang sia-sia Na."
"Kami dan tentunya ibumu, ingin melihat Ina membina rumah tangga dan hidup bahagia. Ingat Na, usia terus bertambah, jadi jangan lalai hanya karena memikirkan pekerjaan saja."
Sabrina tidak bisa menjawab, karena harapan itu sudah sirna dalam kehidupannya.
Melihat Sabrina terdiam, Bunda pun kembali berkata, "Jika Ina memang siap, katakan kepada Bunda ya, biar Bunda atur pertemuan kalian. Jangan takut, anaknya baik kok dan dokter spesialis kandungan lulusan luar negeri."
"Oh ya satu lagi, dia sangat tampan. Jika Bunda masih muda, pasti Bunda akan bersaing untuk mengejarnya," canda Bunda yang ingin membuat Sabrina tertawa.
"Papa juga tampan Bun dan seorang pengusaha sukses, nggak kalah dengan pemuda-pemuda sekarang. Malah kebanyakan anak sekarang hanya bisanya membanggakan harta milik orangtuanya saja."
"Hahaha, iya kamu benar. Makanya, buat Ina saja. Toh, dia sudah mapan, jadi tidak perlu membanggakan harta orangtuanya."
"Ina pikir-pikir dulu ya Bun."
"Jangan kelamaan mikirnya, nanti si pangeran keburu diambil gadis lain."
"Sekarang, kamu istirahat ya. lihat wajahmu masih pucat. Jika butuh sesuatu, panggil saja Bunda. Kami di ruang tengah sedang mempersiapkan seserahan untuk kita bawa ke acara akad lusa."
"Iya Bun, terimakasih ya Bun."
Bunda pun mengangguk, lalu beliau pamit untuk kembali membantu ibu bersama pembantu lain.
__ADS_1
Setelah Bunda pergi, Sabrina kembali berbaring. Hari ini, dia bisa menghindari Rey dan juga Lira. Tapi besok, Sabrina tidak tahu akan beralasan apalagi agar tidak bertemu keduanya.
Sabrina bangkit, menyambar handuk, lalu pergi ke kamar mandi, bersimpuh dan berlama-lama di bawah pancuran shower tanpa membuka pakaiannya.
Tubuh Sabrina basah kuyup, dia menangis sepuasnya sambil menggosok area tubuh yang menurutnya akan kotor seumur hidupnya.
Setelah puas menangis, diapun bersujud sambil berkata "Maafkan aku Tuhan, aku kotor dan aku tidak pantas untuk menjadi milik siapapun."
Sabrina bangkit, membersihkan diri, lalu kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup.
Hari ini Sabrina menghabiskan waktunya di dalam kamar, bahkan saat Rey menelepon, Sabrina tidak menghiraukan ponselnya yang berulang kali berdering.
Rey merasa heran, tidak biasanya Sabrina mengabaikan panggilannya. Lalu dia menghubungi sang Mama untuk menanyakan kenapa belum sampai di butik, sementara Rey dan Lira sudah hampir selesai belanja.
Mama Rey memberitahu jika Sabrina sedang tidak sehat, jadi mereka menunda untuk pergi ke butik.
Rey yang merasa khawatir langsung mengajak Lira untuk pulang. Dia akan mengantar Lira dulu, baru pulang ke rumah untuk melihat keadaan Sabrina.
Lira sebenarnya ingin ikut melihat Sabrina, tapi karena dia sudah berjanji dengan sang mama untuk pulang lebih awal, terpaksa Lira hanya bisa titip salam untuk sahabatnya itu.
Dan dia berjanji malam nanti, akan menelepon Sabrina.
Setelah membayar semua, pegawai butik pun membantu Rey mengangkat semua barang belanjaannya ke dalam mobil.
Kemudian Rey, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Lira.
Setelah mengantar Lira, Rey buru-buru pulang, pikirannya tidak tenang sejak Bunda mengatakan jika Sabrina sakit.
Sejak kecil, jika Sabrina sakit, Rey lah yang selalu perhatian dalam melayani Sabrina. Baik membawakan dia makanan, minuman serta memberikan obat sesuai jadwalnya.
Begitu pula sebaliknya, jika Rey yang sakit, Sabrina pun akan melakukan hal yang sama.
Terkadang sempat terlintas di dalam pikiran Rey, bagaimana jika mereka nanti sudah sama-sama berumah tangga, apakah kebiasaan itu bisa keduanya hilangkan atau tidak.
Yang pasti, akan sulit untuk menghilangkan kebiasaan yang sudah mendarah daging selama berpuluh tahun.
Bersambung.....
__ADS_1