MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 13. KEBIASAAN YANG MEMBUAT ALIRA CEMBURU


__ADS_3

"Na, kenapa belum tidur?" tanya ibu yang melihat Sabrina gelisah dan membolak balikkan tubuhnya sembari menatap jam.


Rasanya Sabrina ingin cepat-cepat pergi dari rumah itu dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


"Na!"


"I-iya Bu, Sabrina kepikiran pekerjaan Bu. Oh ya Bu, jika Sabrina di tugaskan atau ada tawaran pekerjaan baru keluar kota, apakah ibu mengizinkan?"


"Di sini sajalah Nak, ibu tidak mau tinggal jauh dari kamu, Ibu sudah tua, jadi ibu mohon pertimbangkanlah perjodohan itu. Ibu hanya ingin melihatmu menikah Na dan tetap tinggal di dekat ibu."


"Tapi Bu, karir di luar kota menjanjikan, jadi Sabrina bisa cepat mengumpulkan uang untuk membeli rumah. Ina ingin membawa ibu ke rumah Ina sendiri. Kita tidak mungkin selamanya di sini terus kan Bu?"


Bu Murni terdiam, yang dikatakan Sabrina memang benar, mereka tidak mungkin selamanya akan tinggal di rumah itu.


"Bagaimana Bu, boleh ya Ina kerja di luar kota? Pokoknya Ina janji akan segera membawa ibu setelah mapan di sana."


"Beri Ibu waktu untuk memikirkannya Nduk, sekarang tidurlah, bukankah besok kamu harus kerja? Ibu nggak mau kamu bertambah sakit, lihat wajahmu masih terlihat pucat.


"Iya Bu, ayo kita tidur."


Sabrina pun memejamkan mata, dia tidak mau membuat ibunya khawatir.


Padahal pikirannya saat ini benar-benar sedang kacau, bayangan Rey selalu muncul di pelupuk mata, setiap kali dia memejamkan mata.


Sementara Rey yang sudah masuk ke dalam kamar pengantin, juga merasa gelisah.


Harusnya malam ini merupakan malam paling bahagia untuknya bersama Alira, tapi entah mengapa Rey tidak tertarik saat melihat Alira sudah berdandan cantik dan sedang mengenakan lingerie seksi dengan warna kesukaannya.


Rey merebahkan tubuhnya tanpa sepatah katapun untuk menyapa sang istri.


Sementara Alira yang sudah selesai berdandan merasa sangat kecewa saat melihat Rey sudah memejamkan mata.


Alira yang tadi sempat membayangkan jika Rey akan mendatanginya saat berdandan, memberi ciuman dan memeluk dengan mesra, akhirnya harus menelan rasa kecewa.


Usaha dan harapan untuk menyenangkan Rey malam ini sia-sia. Semangat untuk melakukan belah duren malam pertama seketika pun sirna.


Padahal kemaren malam Alira sudah sengaja meminta Rey untuk beristirahat, agar malam ini mereka bisa berhasil melakukannya dengan stamina prima.


Setelah beberapa saat Alira menatap Rey yang bertelanjang dada, kembali hasratnya bangkit.


Alira menelan saliva dan

__ADS_1


tangannya memberi sentuhan-sentuhan nakal pada dada bidang sang suami yang saat ini masih memejamkan mata.


Rey sebenarnya belum tertidur tapi entah mengapa saat ini dia sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya meski Alira sudah berusaha memancing hasratnya.


Alira akhirnya menyerah karena tidak ada balasan dari Alex. Diapun menarik selimut dan akhirnya tertidur.


Rey membangunkan Alira untuk melakukan ibadah bersama, tapi Alira hanya menggerakkan tangannya dan tertidur kembali.


Beberapa kali mencoba tapi Alira tidak bangkit juga, akhirnya Rey pun memutuskan untuk ibadah sendirian.


Setelah selesai Rey pun membangunkan Alira kembali tapi hasilnya masih sama.


Alira bermalas-malasan, dia ngambek karena sikap Rey tadi malam.


Rey kemudian bergegas turun dan dia ke dapur ingin membuat kopi untuk dirinya sendiri.


Kebiasaan Rey setiap pagi adalah minum kopi terlebih dahulu sebelum mereka sarapan bersama.


Sabrina yang sedang asyik memasak sarapan, terkejut saat mendengar deheman Rey.


Dia menoleh dan melihat Rey memegang gelas sembari memberi kode.


Begitulah kebiasaan Rey setiap pagi, dia seringkali meminta Sabrina untuk membuatkannya kopi.


Rey mendesah, lalu berkata, "Please Rin, kepalaku pusing jika tidak minum kopi buatanmu."


"Memangnya Alira tidak bisa membuat kopi? Inikan harusnya tugas dia! Aku sedang sibuk Rey, kamu buat sendiri ya, ini gula dan kopinya," ucap Sabrina sembari mengambilkan kopi serta gula dari lemari gantung yang ada di atas kepalanya.


Rey hanya memandangi gelasnya saja, dia benar-benar tidak tahu berapa ukuran untuk membuat kopi, sementara Sabrina kembali berkutat dengan tugas memasaknya.


Sabrina salah tingkah karena Alex bukannya membuat kopi, tapi malah berdiri mematung sembari memegang gelas dan menatapnya.


Kemudian Sabrina menyambar gelas dari tangan Rey, lalu seperti biasa diapun membuatkan kopi sesuai selera Rey.


Rey menyeringai lalu menoel pipi Sabrina dengan bubuk kopi, hingga membuat Sabrina


merengut sembari membuang pandangannya.


Melihat hal itu, Rey pun merayu Sabrina dengan membisikkan suatu ucapan, "Terimakasih cantik, kamu memang paling mengerti seleraku."


Keduanya tidak sadar jika seseorang sedang memperhatikan mereka dari balik pintu.

__ADS_1


Bu Murni dan Bunda yang baru tiba di sana juga melihatnya dan beliau yang memang sudah tahu dengan kebiasaan Rey hanya menggelengkan kepala dan mencoba menjelaskan kepada Alira yang masih berdiri mematung di sana.


"Maaf ya Nak Lira, Begitulah ulah Rey. Mereka sudah seperti Kakak adik dan Sabrina juga sudah terbiasa membuatkan kopi untuk Rey setiap paginya."


"Iya Nak, nanti ibu beritahu Sabrina jika yang berhak untuk melakukan tugas itu sekarang bukan dia lagi, tapi Nak Alira."


Alira hanya mengangguk, meski dia tahu jika hubungan Rey dan Sabrina hanya sebatas teman, tapi jujur saat ini dia cemburu.


Kemudian Alira pamit, dia akan kembali ke kamar untuk menyiapkan perlengkapan Rey yang katanya hari ini mau ke rumah sakit.


Rey yang sudah menghabiskan separuh kopinya, bermaksud kembali ke kamar untuk membangunkan Alira.


Dia merasa tidak enak membiarkan Sabrina menyiapkan sarapan sendiri sementara istrinya masih enak-enakan tidur.


Namun langkah Rey terhenti saat melihat kedua ibu menatapnya di ambang pintu.


"Rey, kami mau bicara. Ayo kita ke beranda samping saja," ajak Bunda.


Rey pun mengikuti mamanya dan Ibu Sabrina. Lalu Mama memintanya untuk duduk.


"Sebenarnya ada apa Ma? Rey kok jadi takut. Rey merasa seperti orang yang akan di adili karena telah melakukan kesalahan."


"Nah, kamu nyadar, tapi kok masih dilakukan juga."


"Apa maksud Mama?"


"Ini soal hubungan dan sikap kalian, kamu, Alira dan Sabrina."


"Kamu sekarang seorang suami jadi harus bisa menghargai serta memahami perasaan istrimu!"


"Rey nggak paham dengan apa yang Mama maksud, ayolah jangan berbelit-belit, katakan langsung, biar Rey nggak bingung."


"Maaf ya Den, biar Bibi saja yang menjelaskannya."


Kemudian Ibu Murni pun menceritakan kejadian saat Alira tadi muncul di dapur dan melihat sikap akrab Rey terhadap Sabrina.


Barulah Rey paham, dan diapun tertawa hingga membuat mamanya menjewer telinga Rey.


"Diberitahu orangtua malah tertawa. Kamu itu sudah menikah Rey, jadi jagalah perasaan istrimu. Meski dia tahu bagaimana hubunganmu dengan Sabrina, tapi Mama bisa melihat jika saat ini dia sedang cemburu."


Rey terdiam, dia tidak menyangka jika baru sehari saja tinggal serumah, sudah terjadi kesalahpahaman.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2