
"Hari ini aku bisa menghindar, tapi bagaimana dengan besok, lusa dan seterusnya. Rey pasti heran dengan perubahan sikapku tapi apa boleh buat, aku tidak mau menjadi penyebab ketidakharmonisan rumah tangga mereka," monolog Sabrina sembari memegangi dadanya.
Sabrina melajukan mobil dengan santai karena hari masih terlalu pagi.
Lagipula hari ini pekerjaan Sabrina tidak terlalu padat dan menurut info, manajer yang akan menggantikan Ina, besok sudah masuk kantor.
Jadi Sabrina hanya tinggal mengajari dan mengalihkan tugasnya sampai hari kepindahan tiba.
Pemilik hotel pun tidak mengizinkan Sabrina keluar sebelum waktu itu tiba karena manajer baru masih membutuhkan arahan dari Ina.
Meskipun berat, karena setiap hari masih saja teringat kenangan buruk di sana, tapi Sabrina harus tetap bersikap profesional.
Sementara di rumah Bunda, Rey dan Alira sudah bersiap untuk pergi ke pusat oleh-oleh. Dan sejak selesai sarapan, Rey juga tidak banyak berbicara hingga membuat Alira kesal.
Sekaranglah kesempatan Alira untuk membahas semuanya, saat mereka hanya berdua saja di dalam mobil.
Alira memandang Rey yang fokus dengan jalanan, lalu diapun memecah keheningan.
"Kak, sebenarnya aku ini siapanya Kak Rey?"
Rey kaget mendengar pertanyaan itu, lalu menatap Alira dan menjawab dengan candaan, "Kamu aneh Lir, masa iya kamu itu ibunya aku."
"Jangan bercanda Kak, aku serius!" ucap Alira bertambah kesal.
"Maaf Sayang, pertanyaanmu juga aneh. Kamu itu istriku, Nyonya Rey Aditama. Memangnya ada apa Sayang?"
"Kalau aku memang istrimu, kenapa kamu malah lebih memperhatikan Sabrina dan meminta Sabrina untuk melayani kebutuhan mu!" ucap Alira sembari cemberut.
"Oh, ternyata ada yang cemburu. Sebentar ya..." ucap Rey sembari menepikan mobilnya.
"Eh, kenapa berhenti di sini Kak, Kak Rey mau ngapain?"
__ADS_1
"Biar enak ngobrolnya. Ya sudah, sekarang apa yang kamu mau tahu tentang aku dan Sabrina, aku tidak menyembunyikan apapun darimu."
"Kenapa Kak Rey bisa bersikap begitu manis terhadap Ina, jujur Kak aku cemburu!"
"Hahaha...Sayang, aku kan sejak dulu sudah bilang dan kamu sendiri juga tahu, aku dan Rina itu tumbuh bersama sejak kecil dan kami sudah seperti saudara kandung. Jadi, sekali lagi aku tegaskan, jangan cemburu dengan adikku!"
"Tapi Kak, tetap saja tidak boleh! Kalian itu tidak ada hubungan darah dan apa Kak Rey yakin jika Ina juga berpikiran sama seperti Kakak?"
"Bisa saja kan, dia diam-diam mencintai Kak Rey. Buktinya Ina tidak bisa menolak setiap permintaan Kakak! Termasuk permintaan untuk membuatkan kopi pagi tadi. Jelas-jelas dia tahu, Kakak sudah memiliki istri, harusnya dia tahu itu tugasku dan bisa menolak."
"Hahaha."
"Kenapa Kakak malah tertawa. Nggak lucu ah, aku serius!"
"Oh, jadi karena itu kamu ngambek. Sebenarnya Sabrina sudah menolak, tapi aku memang memaksanya."
"Kamu tidak mau aku bangunkan, sementara kamu ingatkan jika aku itu setiap pagi harus minum kopi sebelum sarapan. Apabila tidak minum, kepalaku sakit dan aku tidak mut untuk bekerja."
"Nah, setiap pagi sebelum kita menikah, Sabrina lah yang selalu membuatkan aku kopi, jadi apa aku salah jika meminta tolong ke dia? Jika memang menurutmu aku salah, aku minta maaf."
"Alhamdulillah jika istriku menyadari hal itu. Jadi aku mohon Lir, jangan berprasangka buruk terhadap Sabrina, dia itu sahabat terbaik kita dan tidak akan mungkin mengkhianati kita."
"Jika memang dia mencintaiku layaknya wanita kepada pria, kenapa malah dia yang menyatukan kita. Kamu ingat itukan?"
Alira pun mengangguk, diapun tidak tahu kenapa setelah menikah jadi cemburuan seperti ini.
"Sekarang kamu paham kan? Kita lanjut ya, nanti telat kerumah Papa."
Rey pun melajukan mobilnya kembali menuju pusat oleh-oleh. Di sana mereka membeli oleh-oleh yang bisa dinikmati oleh orangtua seperti Oma dan Opanya Alira.
Setelah di rasa cukup, keduanya pun meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke rumah orangtua Alira.
__ADS_1
Setibanya di sana, Papa dan Mama Alira sedang mengemas barang yang akan mereka bawa, jadi kebetulan oleh-oleh dari Rey dan Alira sekalian dikemas.
"Rey, Lira, kenapa kalian nggak ikut saja, sekalian bulan madu dan menjenguk Grandma serta Grandpa. Kamu kan belum pernah bersua langsung dengan mereka. Mumpung keduanya masih ada umur," ucap Mama Lira.
"Iya Ma, sebenarnya Rey kepingin ikut, tapi saat ini belum memungkinkan. Inshaallah tahun depan kami usahakan Ma. Iya kan Sayang, kamu juga harus atur skedul."
"Kak Rey benar Ma, kami tidak mungkin mengabaikan tanggungjawab begitu saja. Lagipula nggak mungkin kan kami cuma sehari dua hari saja di sana, minimal satu minggu."
"Ya sudah, nanti Mama sampaikan kepada Oma Opa, jika kalian titip salam dan peluk jauh dan jangan lupa ya VC mereka. Oma Opa pasti senang melihat kalian."
"Pasti kami akan VC Ma."
"Oh ya Nak Rey, kenapa kamu tidak lanjut ambil gelar spesialis, sayang kan, karirmu masih bisa menanjak. Kalian masih muda masih banyak kesempatan," tanya Papa.
"Rencana tahun depan Pa, inginnya ke negara tetangga, tapi jika Alira mengizinkan. Jika mau ikut kesana aku akan lebih senang," ucap Rey sembari memandang Alira.
"Mana bisa ikut sayang, siapa yang akan kelola bisnis Papa di sini. Sedangkan Papa kemungkinan lama tinggal bersama Oma dan Opa."
"Iya Rey, nanti bisnis Papa nggak ada yang urus. Kamu saja yang kesana Rey, minimal dua minggu atau sebulan sekali pulang. Lira juga bisa sesekali kesana jenguk kamu. Mumpung kalian belum punya anak, giatlah meraih cita-cita dan karir. Nanti kalau sudah banyak anak nggak bisa fokus."
"Iya, Papa benar. Bagaimana Sayang, boleh aku lanjut pendidikan keluar?"
"Nanti aku pikir-pikir dulu ya Kak, tapi kalau bisa ya di negara kita saja, meski di luar kota. Kita masih bisa sering bersama."
"Begitu juga bagus. Masa iya sudah menikah, tinggal terpisah untuk waktu yang lama," sahut Mama.
"Iya Ma, itu maksud Alira. Kita sama tahu kan Ma, pelakor ada di mana-mana. Lira nggak mau rumah tangga kami hancur hanya karena mengejar karir."
"Kamu bisa saja Sayang. Kamu nggak percaya aku ya! Aku tipe setia lho. Sejak dulu pacar pertama dan terakhirku cuma kamu," ucap Rey sambil meringis.
Alira mencebikkan bibirnya, Rey memang tidak pernah menduakannya. Lagipula, Alira tidak pernah melihat Rey akrab dengan perempuan manapun kecuali Sabrina.
__ADS_1
Papa dan Mama Alira hanya tersenyum, mereka senang jika melihat anak dan menantunya bisa akur dan saling canda.
Kemudian Mama pun meminta pelayan untuk menyiapkan makanan, mereka akan makan siang bersama sebelum berangkat ke bandara.