MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 36. MENEMUKAN ALAMAT NEK MAWAR


__ADS_3

Mario memberanikan diri untuk mengajukan lamarannya lagi, "Rin, apa aku masih punya kesempatan? menikahlah denganku Rin dan aku akan melindungi mu. Bila perlu aku akan membawamu keluar negeri karena aku berencana akan melanjutkan study di sana."


Sabrina menoleh, menatap Mario, lalu menjawab, "Maaf Mas, aku belum bisa. Aku tidak ingin mengecewakan mu, jadi lebih baik aku fokus dengan kandunganku dulu hingga bayi ini lahir."


"Apakah aku memiliki kesempatan setelah bayi itu lahir Rin?"


"Aku akan mempertimbangkannya Mas, tapi sebaiknya kamu cari wanita single yang pantas untuk kamu nikahi."


"Aku hanya ingin kamu Rin dan bagiku, kamu cukup pantas untuk menjadi pendamping hidupku."


Sabrina terdiam, dia merasa sangat tidak pantas untuk menerima lamaran Mario. Yang harus dia pikirkan saat ini adalah merawat serta melahirkan bayinya dengan selamat.


"Bagaimana Rin? jika setuju, setelah bayi ini lahir, aku akan menikahimu hingga bisa menjadi ayah dari bayi itu."


"Kita jalani saja dulu Mas, aku masih belum siap untuk berkomitmen. Jika kita memang jodoh, pasti Allah bakal mempersatukan kita."


"Baiklah, tapi kamu harus ingat, kapanpun kamu bersedia, aku siap untuk menikah."


"Iya Mas."


"Oh ya, kita sudah hampir sampai. Nanti di sini kamu akan tinggal bersama Ira untuk sementara waktu. Kebetulan dia juga seorang dokter kandungan, jadi bisa membantu jika kamu memiliki keluhan masalah kandungan."


"Nanti, jika sudah aman dan Rey memang benar-benar pergi, aku akan menjemputmu kembali. Karena aku tidak mau terlalu lama jauh dari kamu Rin, begitu juga dengan Nenek. Beliau sudah terlanjur sayang sama kamu dan telah menganggap mu sebagai cucunya."


"Terimakasih Yo, kalian sangat baik. Aku beruntung telah mengenal kalian."


"Sama-sama Rin. Oh ya kita sudah sampai, itu rumahnya!" ucap Mario sembari memarkirkan mobilnya di halaman rumah Dokter Ira.


Mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, Dokter Ira yakin jika itu adalah Mario, karena Mario sempat menelepon memberitahunya, jika mereka sudah hampir sampai.


Dokter Ira pun menyambut kedatangan Mario dan Sabrina, lalu dia mempersilakan keduanya untuk masuk.


"Selamat datang Ina, mudah-mudahan betah di sini ya. Tapi kita jauh dari kota."


"Terimakasih Dok, Inshaallah betah. Lingkungannya terlihat asri dan nyaman."


"Oh ya, kalau boleh tahu, berapa usia kandunganmu Na?"


"Sekitar dua bulan Dok."


"Apa tidak ada mual, mabuk ngidam gitu?"

__ADS_1


"Awal-awal iya Dok, tapi sekarang tidak lagi. Bahkan nafsu makan malah meningkat."


"Ayah si bayi yang ngidam Ra? Kebetulan kemaren malam dia sempat menginap di rumah dan aku mendengar serta melihat sendiri dia mual serta muntah."


Sabrina menatap Mario, dan Mario pun mengangguk, "Iya Rin, Rey yang merasakan ngidam."


"Wah beruntung banget kamu Rin, tapi kasihan juga jika pria yang ngidam."


"Biar saja, biar Rey juga ikut merasakan dan menanggung kesalahan yang telah dia lakukan."


"Hehehe, iya juga sih. Oh ya Na, ayo aku antar ke kamar jika ingin beristirahat. Kamu pasti lelah diperjalanan."


"Iya Rin, kamu istirahat saja. Aku juga mau pulang, karena sore nanti mau menangani pasien caesar."


"Iya Mas, hati-hati ya. Oh ya, nanti aku kirimkan nama dan alamat beberapa toko yang minta dikirimkan kuenya. Mas bisa bantu Nenek kan untuk sementara, selama aku nggak ada?"


"Iya Rin, nanti biar aku yang akan mengantarnya."


"Kata nenek ada yang pesan banyak, Mas tolong bantu antar ya."


"Siap, aman Bos!" ucap Rey sembari mengangkat tangannya memberi hormat.


"Usaha Nenek Mawar Dok, aku hanya membantu pemasaran saja."


"Tapi aku salut, meski di dera masalah kamu tetap semangat. Beruntung laki-laki yang kelak bisa memperistri kamu," ucap Sabrina.


"Eits...terimakasih, berarti aku orangnya yang kelak kamu bilang pria beruntung Ra."


"Oh ya, selamat ya Yo."


"Sabrina hanya tersenyum, lalu mencebikkan bibirnya, dia tidak menyangka jika Mario tidak merasa malu mengaku ingin memperistrinya, di hadapan Ira."


"Semoga kalian berjodoh ya Na, Mario ini sahabatku yang paling baik lho, dia temanku sejak dari SMP. Aku mengenal dia seperti mengenal diriku sendiri."


"Dia memang gitu orangnya, suka berterus terang dan tidak gampang berputus asa. Dia pasti akan mengejarmu terus, sampai dia berhasil menikahimu."


"Udah dong Ra, jangan puji aku terus, naik kupingku."


"Oh ya Ra, tapi yang dikatakan Ira memang benar lho! Aku tidak akan menyerah sampai janur kuning melengkung di halaman rumahmu."


"Iya deh aku percaya. Sudah Mas, nanti telat. Bukankah Mas juga ada janji dengan pasien siang nanti?"

__ADS_1


"Oh ya, hampir lupa aku Rin. Aku pamit ya, jaga dirimu dan calon anakku baik-baik. Ra, tolong jaga calon istri dan anakku ya. Pokoknya aman deh, untuk hadiahnya nanti aku kirim."


Sabrina hanya bisa tersenyum, Ira benar, Mario tidak gampang menyerah. Bahkan Mario telah menyebut dirinya sebagai calon suami serta calon ayah bagi bayi Rey.


Setelah pamit, Mario pun melajukan mobilnya kembali ke klinik tempat dia bertugas.


Sementara Rey sudah berkeliling mencari tapi tidak juga menemukan jejak Sabrina.


Kemudian Rey teringat dengan toko oleh-oleh dimana dia bertemu Sabrina kemaren, lalu diapun bergegas kembali kesana dan dengan menunjukkan foto Sabrina, Rey berharap pemilik toko bisa mengenali dan memberikan alamat dimana Sabrina tinggal.


Begitu masuk ke toko, pemilik toko langsung berkata, "Eh Mas, syukurlah Anda kesini. Ini kue yang istri Anda pesan. Tadi Nek Mawar mengantarnya ke bandara. Namun setelah menunggu beberapa lama, Anda dan istri tidak juga muncul, akhirnya beliau mengantarnya kesini."


"Iya Pak, kami tidak jadi pulang hari ini. Barangkali istri saya lupa memberitahu. Biar nanti saya yang akan membawanya."


"Oh ya Pak, saya ingin bertanya, apakah Bapak mengenal wanita ini?" tanya Rey sembari menunjukkan foto Sabrina yang ada di hapenya.


"Lho...ini kan, mbak yang menawarkan kue itu. Kami baru saja bekerjasama, tapi kemaren dia tiba-tiba pergi begitu saja."


"Oh ya Pak, bisa minta alamatnya Pak. Dia teman saya dan saya ada keperluan penting yang harus dibicarakan. Lagipula nomor hapenya tidak aktif."


"Sebentar ya Mas, ada di label kuenya, tapi itu nomor kontak serta alamat Nek Mawar. Barangkali Mas bisa bertanya kepada beliau. Karena saya tidak tahu apa hubungan Mbak itu dengan si Nenek. Maklum baru saja kenal dan bekerjasama."


"Alhamdulillah kalau memang ada alamatnya Pak."


Pemilik toko pun membuka plastik kue dan benar saja di tutup toples ada label yang bertuliskan nomor kontak serta alamat Nek Mawar.


Rey merasa senang akhirnya dia menemukan jejak Sabrina kembali.


"Ini Mas bawa saja, lagian ini kue pesanan istri Anda."


"Terimakasih ya Pak, mudah-mudahan saya bisa bertemu dengan sahabat saya itu."


"Saya juga berterima kasih Mas, sudah mau singgah ke toko kami. Mudah-mudahan menjadi langganan kedepannya jika berkunjung lagi ke sini."


"Inshaallah Pak, saya pamit ya Pak."


Dengan wajah sumringah Rey pun meninggalkan toko tersebut dan dia meminta sopir taksi mengantarnya ke alamat yang tertera di label kue.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2