
Sabrina langsung menelepon Risya dan dia mohon izin untuk tidak bekerja sementara waktu.
Risya pun terkejut padahal Sabrina baru saja masuk kantor. Karena penasaran Risya mengajak Sabrina ketemuan dan dia ingin mendengar langsung apa alasan Sabrina hingga mengajukan cuti.
Dengan celingukan, Sabrina pun meninggalkan hotel. Dia tidak mau sampai Rey atau Alira melihatnya ada di sana.
Begitu sampai di dalam mobil, Sabrina menarik nafas lega, akhirnya dia bisa pergi dengan tenang dan tidak akan kembali ke kantor untuk beberapa hari.
Mobil Sabrina pun meluncur, meninggalkan hotel menuju lesehan di mana Sabrina berjanji untuk bertemu dengan Risya.
Risya sengaja mencari tempat yang nyantai karena mereka ingin ngobrol dengan tenang. Dia memilih tempat duduk dipojokkan dekat taman.
Sabrina sudah tiba, lalu diapun menuju tempat dimana Risya menunggu.
"Nah, di sini oke kan, tempatnya adem dan jauh dari keramaian," ucap Risya.
"Benar, nongkrong di sini mah enak."
"Ini menunya, kamu mau pesan apa?"
"Aku minum saja Sya, soalnya aku baru selesai makan. Tadi Mas Mario datang membawa makan siang. Kamu pesan dah jika lapar."
Risya pun memesan makanan dan dua gelas jus jeruk, dia memang belum makan sejak pagi.
__ADS_1
Sambil menunggu pelayan mengantar makanan, Risya pun bertanya kenapa Sabrina meminta cuti padahal baru saja mulai bekerja.
Sabrina mendesah, lalu diapun menceritakan tentang kehamilannya.
Risya sangat terkejut dan dia merasa sangat prihatin melihat nasib Sabrina.
Kemudian Sabrina mengatakan jika ayah dari bayinya beserta istri, saat ini menginap di hotel milik Risya.
Akhirnya Risya pun maklum dan dia akan menghandle tugas Sabrina untuk sementara waktu.
Mereka ngobrol panjang lebar, lalu Risya mengatakan jika Sabrina mau, Risya bersedia mengadopsi anak Sabrina jika lahir nanti.
Soalnya sudah beberapa tahun menikah, Risya belum juga dikaruniai keturunan.
Sabrina belum bisa memutuskan, dia mulai menyayangi janin yang tumbuh di rahimnya dan mungkin tidak akan tega untuk memberikan bayi tersebut kepada orang lain.
Namun Risya tidak memaksa, jika Sabrina keberatan, minimal dia meminta agar dipanggil ibu oleh bayi Sabrina nantinya.
Setelah menghabiskan makanannya, Risya pun mengajak Ina untuk menemaninya belanja di swalayan dekat rumah Nek Mawar.
"Sabrina pun setuju, dengan begitu dia sudah dekat dengan arah pulang."
Di kamar hotel Rey hanya tiduran saja hingga membuat Alira bosan.
__ADS_1
Padahal Rey sudah meminta Alira untuk jalan menikmati indahnya Bali mumpung mereka belum pulang.
Namun Alira menolak, karena dia tidak mau kecolongan, Rey pergi secara diam-diam mencari Sabrina.
Rey pun akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena Alira terus saja nempel kemanapun dia pergi.
Jadi percuma saja kepergiannya ke Bali, dia tidak memiliki kesempatan untuk mencari keberadaan Sabrina lagi.
Melihat Alira manyun terus, Rey pun berkata, "Kita akan pulang sore ini, jadi tolong kamu pesankan tiket ya Ra. Aku mau istirahat sebentar, agar nanti sore fit untuk melakukan perjalanan."
"Kenapa buru-buru Kak, bukankah tugasmu belum selesai?"
"Aku akan alihkan kepada teman, karena dengan kondisiku seperti ini semua pekerjaan bakal terbengkalai."
Alira senang, kedatangannya kesana berhasil menggagalkan rencana Rey untuk mencari Sabrina.
Dengan wajah sumringah karena merasa menang, Alira pun menggulirkan ponselnya mencari agen yang melayani tiket penerbangan.
Tiket keberangkatan sore ini habis, akhirnya Alira memesan tiket untuk keberangkatan besok siang.
Rey saat ini hanya bisa pasrah tapi suatu saat nanti dia akan kembali untuk mencari Sabrina lagi.
Yang bisa Rey lakukan adalah meminta tolong kepada teman-temannya untuk membantu mencari Ina dengan mengirimkan fotonya.
__ADS_1
Dan Rey berencana akan meminta tolong juga kepada Dr.Mario. Mungkin dengan cara itu Sabrina bisa segera diketemukan tanpa membuat Alira curiga.
Bersambung...