MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 19. POSITIF HAMIL


__ADS_3

"Rin, aku periksa dulu ya?"


"Maaf Rey nggak usah, aku sudah enakan kok," tolak Sabrina dan langsung duduk agar terlihat membaik.


Padahal Sabrina merasa ada yang aneh dengan kondisi tubuhnya. Sabrina merasa mual dan tidak berselera melakukan aktivitas apapun.


"Sebentar saja kok Rin, aku hanya ingin pastikan kamu baik-baik saja. Cuma tensi dan cek denyut nadi," ucap Rey yang tidak mau ada penolakan.


Sabrina pun terpaksa mengulurkan tangan, karena menolakpun percuma, Rey bakal memaksanya.


Selesai memeriksa, Rey kembali mengernyit, diagnosanya benar. Tapi bagaimana caranya dia mengatakan dan menanyakan tentang hal itu kepada Sabrina.


Akhirnya Rey berbohong kembali dan dia menawarkan untuk melakukan tes darah agar hasil lebih akurat. Jika menawarkan USG kandungan jelas tidak mungkin.


"Sudah selesai Rin, syukur deh semuanya normal. Tapi besok, aku ambil sedikit darahmu ya? Soalnya besok aku ada urusan ke laboratorium, jadi biar sekalian memeriksakan sampel darahmu. Aku hanya ingin pastikan tidak ada penyakit serius," bohong Rey.


"Iya Rey."


"Nah sekarang kamu istirahat dulu, nanti aku bawakan sarapanmu kesini. Aku keluar dulu ya Rin, Alira pasti sudah menunggu untuk sarapan bersama," pamit Rey.


Sabrina pun mengangguk, sebenarnya sejak tadi dia ingin ke toilet karena rasa mualnya semakin menjadi.


Begitu melihat Rey menutup pintu, Sabrina buru-buru bangkit dan diapun memuntahkan isi perutnya di sana.


Keringat dingin membasahi keningnya dan wajah Rina pun kembali pucat.


"Kenapa ini, apakah penyakit asam lambung ku kambuh? tapi kok Rey mengatakan aku baik-baik saja," monolog Sabrina.


Sembari memijat tengkuk, Sabrina pun berpikir. Seketika dia tertegun dan menutup mulut, saat teringat kejadian itu hampir sebulan berlalu.


Sabrina buru-buru kembali ke kamar, lalu mengambil tespek yang dia sembunyikan di dalam lemari pakaiannya.


Memang sejak kejadian malam itu, Sabrina selalu rutin mengecek karena dia masih merasa was-was akan dampak buruknya.


Tiga tespek sekarang ada di tangannya, lalu Rina pun bergegas ke kamar mandi dan tak lupa dia mengunci pintu. Rina takut jika ada yang masuk dan melihat apa yang sedang dia lakukan.


Jantung Sabrina berdebar kencang, dia menutup mata sembari mengangkat alat tes dari mug tempat dia menampung air seninya.

__ADS_1


Perlahan Sabrina pun membuka mata dan matanya membulat saat melihat satu garis merah terang dan satunya lagi terlihat samar.


Air mata Sabrina pun menetes, dia berharap itu bukan positif. Lalu dia mencobanya lagi dengan mencelupkan tespek baru dan menunggu untuk beberapa saat.


Kali ini Sabrina memantengin wadah tersebut, dia berharap hasilnya akan negatif.


Tapi saat melihat garis dua terlihat terang, tubuhnya langsung luruh ke lantai.


Sabrina menangis, tangannya gemetar sembari memegang kedua alat tersebut. Dia positif hamil.


Air mata terus menetes, apa yang selama ini Rina takutkan menjadi kenyataan.


Rina terkejut saat mendengar suara Rey mengetuk pintu kamar mandinya.


Diapun buru-buru mengelap air mata, lalu menjawab panggilan Rey tanpa berniat keluar.


"Rey, letakkan saja sarapan ku di meja! Aku sedang mandi. Pasti nanti aku makan."


"Sekarang keluarlah Rey, aku mau berpakaian!" teriak Sabrina.


Rey pun menyahut, "Baiklah Rin, aku letakkan di meja ya. Tapi tolong dihabiskan buburnya agar kamu cepat pulih."


"Siap Pak Dokter!"


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Sabrina pun mengintip keluar dan dia merasa lega saat melihat Rey telah keluar dari kamarnya.


Sabrina buru-buru mengunci pintu, dia bukannya makan malah lanjut menangis.


Dalam situasi seperti itu Sabrina bingung apa yang harus dia lakukan.


Jika mempertahankan kehamilannya, pasti akan menghambat karir dan juga merupakan beban mental, harus kuat mendengar cemoohan orang bahwa dirinya hamil tanpa suami.


Apalagi dalam waktu dekat ini Rina akan pindah ke luar kota, dan dia belum tahu bagaimana nanti kehidupan serta beban kerja di sana.


Sabrina mencoba menenangkan diri, lalu menghapus air matanya. Dia harus kuat dan harus segera mencari jalan keluar terbaik agar tidak mengecewakan ibunya.


"Aku harus kuat, aku tidak boleh menyerah dan terpuruk. Ibu, maafkan aku yang telah gagal menjaga kehormatan ku."

__ADS_1


Saat Sabrina memikirkan ibunya dia teringat akan permintaan Rey tadi, "Rey...jangan-jangan dia curiga! Nggak, Rey nggak boleh sampai ambil sampel darahku."


"Aku harus berkemas, aku akan pergi dari sini! Sore ini aku akan beralasan ada tugas dadakan keluar kota, sebelum mereka curiga jika aku hamil," monolog Sabrina yang masih panik.


Kemudian Sabrina pun mengambil tas dorong dan beberapa helai pakaiannya. Dia tidak mungkin membawa banyak barang yang akan membuat orang di rumah curiga.


"Udah cukup ini saja, nanti aku beli tambahan pakaian di sana. Sekarang aku harus makan supaya ibu mengizinkan aku pergi. Mengenai langkahku selanjutnya tentang bayi ini, akan aku pikirkan nanti."


Kemudian Sabrina pun menghabiskan bubur ayam yang Rey tinggalkan tadi, untung saja kali ini perutnya bersahabat dan tidak merasa mual.


Sabrina berdandan, dia menutupi wajah pucat dan sembabnya dengan polesan makeup, lalu diapun keluar kamar untuk menemui ibu dan yang lain.


Untung saja di dapur hanya ada ibunya, jadi Sabrina tidak perlu kikuk menghadapi yang lain.


Sabrina mendekati Bu Murni yang sedang meracik bumbu untuk menu masakan siang nanti. Lalu diapun duduk dan ingin membantu ibunya.


"Eh, kamu Nak. Kenapa malah ke sini? istirahatlah supaya cepat pulih."


"Capek Bu tiduran terus. Ina juga sudah sembuh dan Rey mengatakan jika semua normal, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.


"Syukurlah, ibu lihat wajahmu tidak sepucat kemaren."


"Bu, rupanya Bos minta Ina berangkat sore ini. Karena manajer di sana sudah resain, jadi Ina harus segera menggantikan dia."


"Apa nggak bisa di tunda Nak, kamu masih sakit. Ibu nggak mau terjadi hal buruk sama kamu."


"Enggak Bu, soalnya besok ada rapat penting di sana dan Ina harus hadir. Tolong Bu, ini kesempatan Ina untuk mengembangkan karir dan seperti ibu tahu, Ina harus segera menjauh dari Rey dan Alira."


Bu Murni pun terdiam, beliau sebenarnya berat untuk melepas kepergian Sabrina, tapi Sabrina benar sekaranglah saatnya dia harus mulai mengembangkan karirnya sekaligus menjauh dari kehidupan rumah tangga Rey.


"Bagaimana Bu, boleh ya. Pokoknya Ina janji, akan segera menjemput ibu bila sudah memungkinkan dan betah tinggal di sana. Inshaallah selambat-lambatnya tahun depan target Ina membeli rumah."


"Aamiin, semoga di ijabah Allah ya Nak. Ibu izinkan, asal kamu janji akan menjaga kesehatan mu dan sering kirim kabar ya."


Sabrina langsung memeluk dan mencium Bu Murni. Air mata pun sudah menggenang di pelupuk matanya. Di dalam hati, Sabrina mengucap kata maaf karena telah membohongi orang yang paling dia sayang.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2