
Di saat Rey bingung, sang mama menelepon dan memberitahu jika Sabrina belum juga ditemukan.
Rey tidak bisa tinggal diam, lalu dia duduk di hadapan Alira dan berkata, "Ra, maafkan aku, mungkin aku bukan suami yang baik, tapi aku juga tidak mau menjadi ayah yang kejam serta tidak peduli dengan nasib anakku. Sekali lagi aku mohon Ra, ayolah ikut, kita harus membantu mencari Sabrina."
"Kita? hahaha...kalian saja kali! maaf Kak aku bukan malaikat, aku hanya manusia biasa yang punya rasa sakit."
"Ya sudah terserah kamu, aku tidak punya pilihan lain, besok pagi aku berangkat. Jika kamu berubah pikiran temui aku di rumah sakit. Malam ini aku menginap di sana dan besok langsung berangkat dari sana." ucap Rey sembari menyambar jaket, kunci serta kopernya.
Rey sudah menentukan pilihan, dia bukan memilih Sabrina atau Alira tapi yang dia inginkan hanyalah memastikan jika calon bayinya dalam keadaan baik-baik saja.
Rey menelepon sang mama dan dia memberitahukan jika besok pagi berangkat dengan penerbangan pertama. Sedangkan sang Papa juga akan menyusul dengan penerbangan sore karena saat ini beliau sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Alira menangis, karena Rey lebih mengutamakan Sabrina ketimbang dirinya, padahal dia sudah beralasan jika dirinya juga hamil.
Kemudian Alira pun menelepon orangtuanya, dia mengadukan hal itu dan orang tua Alira berjanji akan pulang untuk menyelesaikan semuanya. Mereka tidak terima, Alira di nomor duakan oleh Rey dan keluarganya.
Alira menyusun pakaiannya ke dalam tas, besok dia akan menyusul Rey secara diam-diam karena dia ingin bertemu langsung dengan Sabrina.
Rey yang sudah tiba di rumah sakit, duduk merenung di dalam ruangannya. Dia memegang bukti-bukti perbuatannya sembari bermonolog, "Maafkan Papa sayang. Papa tidak bisa menjaga dan melindungi mu. Di mana kalian Sayang."
Tiba-tiba saja perut Rey mual dan dia langsung berlari ke kamar mandi karena sudah tidak bisa menahan rasa ingin muntahnya.
Rey mengeluarkan semua makanan dan cairan yang ada dalam perutnya hingga tubuhnya lemas dan hampir saja luruh ke lantai.
Sejenak Rey berpegangan pada tembok sampai keseimbangan tubuhnya pulih. Lalu diapun kembali ke kamar, merebahkan diri di kasur untuk beristirahat.
Di rumah penyekapan, Sabrina tergolek di lantai, dia memegangi perutnya yang terasa lapar. Para penculik tidak memberinya makanan maupun minuman seharian tadi.
Kemudian Sabrina bangkit, dia menggedor-gedor pintu berharap para penculik mendengar dan berbelas kasih minimal memberinya air minum.
Sabrina tidak mau terjadi hal buruk terhadap bayinya, dia terus menggedor sampai ada suara orang membentak dari luar kamar.
__ADS_1
"Berisik! Ganggu ketenangan kami saja!"
"Tuan tolong buka pintunya Tuan, aku mau ke toilet. Tolong Tuan!"
"Hah... merepotkan saja!" ucap penculik sembari membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, Sabrina pun pergi ke toilet dengan diikuti oleh si penculik. Dan di dalam toilet, Sabrina celingukan mencari jalan untuk bisa keluar dari sana.
Tapi yang ada hanya lobang angin kecil dan tentu saja tidak memungkinkan dirinya untuk bisa melarikan diri.
Sabrina yang masih penasaran, memanjat bak air lalu mengintip keluar dari celah lubang tersebut.
Dia melihat sekitar tempat tersebut hanya ada semak belukar tanpa melihat ada rumah lain.
Karena takut terpeleset yang bisa membahayakan kandungannya, Sabrina pun turun dan keluar dari toilet.
Kemudian dia memohon kepada si penculik untuk memberinya air atau makanan. Sebisa mungkin Sabrina memelas sambil memegangi perut buncitnya.
Dia merayu si penculik dan mengatakan jika istri mereka saat ini berada di posisi Sabrina, apakah mereka juga akan tega seperti itu. Membiarkan calon anak mati karena kehausan serta kelaparan.
Akhirnya secara diam-diam si penculik yang merasa iba, memberikan jatah makanannya kepada Sabrina. Dia meminta agar Sabrina cepat menghabiskannya sebelum ketahuan temannya.
Sabrina pun melahap makanan tersebut dengan rakus dan sebentar saja semuanya ludes tak bersisa. Dia sangat berterimakasih dan berjanji akan membalas jasa orang itu jika dirinya bisa selamat dari tempat tersebut.
Malam hari, saat para penculik tertidur, Sabrina kembali menggedor dan kembali si penculik baik yang membuka pintunya.
Sabrina memohon agar penculik tersebut membebaskannya, tapi si penculik itu tidak bersedia. Dia takut akan mendapatkan hukuman, karena berkhianat.
Namun Sabrina tidak kehabisan akal dia berpura-pura sakit perut hingga menggelupur di lantai. Sabrina berharap penculik itu iba dan membawanya ke rumah sakit.
Ternyata jebakan Sabrina berhasil, si penculik baik, membangunkan temannya dan dia mengatakan yang terjadi dengan Sabrina.
__ADS_1
Mereka yang takut Sabrina mati sebelum Alira tiba, langsung membawa Sabrina ke rumah sakit malam itu juga.
Dalam erangannya, Sabrina tersenyum, kesempatannya untuk kabur makin lebih besar bila dia tiba di rumah sakit nanti.
Sabrina terus bersandiwara, hingga seorang perawat datang membawa brankar dan mendorong brankar tersebut ke ruang UGD.
Kedua penculik tetap mengikuti mereka hingga ke ruang UGD tapi saat dokter hendak memeriksa, mereka diminta keluar, sampai dokter selesai melakukan pemeriksaan.
Sabrina tersenyum lebar, ini kesempatannya untuk meminta tolong kepada suster serta dokter untuk menyelamatkan dirinya dari sekapan sipenculik.
Saat dokter hendak memeriksa, Sabrina mengatupkan kedua tangannya lalu berkata, "Tolong saya Dok! Mereka menculik saya. Saya mohon bebaskan saya dari merek, demi bayi ini."
Dokter terkejut mendengar pengakuan Sabrina, lalu beliau mencari akal bagaimana supaya Sabrina bisa pergi dari tempat itu dengan aman.
Dokter meminta Suster untuk membawa pergi Sabrina lewat pintu belakang. Sebelum pergi Sabrina berterimakasih kepada dokter, lalu diapun bergegas mengikuti suster keluar dari jalan belakang.
Para penculik merasa curiga karena dokter begitu lama melakukan pemeriksaan, lalu mereka menerobos masuk dan saat tidak melihat Sabrina di sana keduanya marah, mengancam serta melukai dokter.
Kemudian merekapun berlari mengejar lewat pintu belakang, tapi sayang mereka tidak menemukan Sabrina.
Sabrina telah pergi bersama perawat menggunakan motornya dan dibawa ke tempat kost yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tersebut.
Sesampainya di sana, Sabrina meminta tolong perawat untuk menghubungi Mario dan untung saja Sabrina masih mengingat nomor kontak Dokter Mario.
Mario ragu untuk mengangkat telepon tak dikenal yang masuk, dia tidak ingin diganggu siapapun saat ini karena dirinya sedang fokus mencari Sabrina.
Tapi karena panggilan tersebut berulang-ulang akhirnya Mario pun menerima sambil fokus menyetir.
Saat mendengar suara Sabrina, Mario merasa lega, lalu diapun meminta Sabrina untuk menyebutkan alamatnya.
Mario segera menyusul ke alamat tersebut, lalu setelah berterimakasih kepada sang suster dan memberi beberapa lembar uang sebagai ucapan terimakasih merekapun pergi ke rumah kediaman Mario.
__ADS_1
Menurutnya, di sana Sabrina akan lebih aman.
Bersambung....