
"Apakah Rey tidak coba menyusul Alira Bun?" tanya Ina.
"Sudah Rey coba Na, malah Alira pergi tour bersama teman-temannya saat Rey tiba di sana. Rey menunggu selama dua pekan tapi Alira tidak juga kembali. Akhirnya Rey putuskan untuk kembali karena dia memiliki tanggungjawab di sini."
"Bagaimana tanggapan orangtua Alira Bun? Apakah mereka tidak menjembatani hubungan Rey dengan Alira?"
"Mereka sudah menyerahkan keputusan kepada Alira dan orangtuanya bilang, selagi itu membuat Alira bahagia, mereka tidak keberatan jika Rey dan Alira bercerai."
Sabrina sangat menyayangkan hal itu dan dia bertekad akan menyatukan keduanya lagi.
Rey dan Mario yang berada di taman berbicara dengan serius, dia marah kepada Mario karena selama ini telah menutupi keberadaan Sabrina.
Akhirnya Mario pun meminta maaf karena telah mendukung kemauan Sabrina. Namun Mario menjelaskan jika semua itu Sabrina lakukan karena ingin melihat Rey hidup bahagia bersama Alira.
Dan Mario terpaksa menceritakan jika Sabrina menghilang juga demi untuk menyelamatkan kelahiran Riyan.
Rey sangat terkejut saat Mario menceritakan tentang dua kejadian yang hampir membuat Sabrina kehilangan nyawa serta kehilangan bayinya.
Rasa bersalah kembali menyelimuti hati Rey, kenapa dia tidak menyadari akan hal itu. Tapi Rey juga tidak bisa menyalahkan Alira yang saat itu merasa sakit serta takut kehilangan dirinya.
Yang Rey sesalkan kenapa Alira tega dan sampai memiliki pikiran sepicik itu terhadap sahabatnya sendiri.
Kini Alira pula yang malah mundur setelah perjuangannya menyakiti hati banyak orang karena menjauhkan dari anak yang kehadirannya sangat diharapkan dalam keluarga Aditama.
Rey akhirnya minta maaf kepada Mario, dia merasa malu karena telah menuduh Mario penyebab menghilangnya Sabrina dan Rey juga berterima kasih karena Mario telah melindungi Sabrina selama ini.
Percakapan mereka berakhir karena Bunda memanggil untuk meminta mereka makan bersama.
Papa yang sudah pulang, tidak menyia-nyiakan waktunya, beliau tidak ikut makan dan memilih bermain bersama Riyan.
Sabrina bahagia melihat semua orang menyayangi Riyan, tapi dia tidak mungkin membiarkan Riyan tinggal di sana sementara dirinya harus segera kembali mengurus pekerjaan serta acara pernikahannya.
Waktunya sudah tiba, Sabrina pun pamit pulang ke hotel dan dia meminta ibu untuk bersiap karena besok sore mereka akan berangkat kembali ke rumah Sabrina.
Bunda dan papa sedih, mereka akan jauh lagi dari Riyan tapi mereka juga tidak bisa egois, karena Sabrina berhak untuk bahagia.
Rey memohon agar Riyan tinggal sementara bersamanya tapi Sabrina tidak bisa mengizinkan karena Riyan masih terlalu kecil untuk hidup terpisah darinya.
Sabrina hanya mengizinkan Rey untuk datang menjenguk jika Rey dan keluarganya memang merindukan Riyan.
Rey menangis saat Riyan memeluk dirinya erat dan Riyan juga menangis saat mereka pergi meninggalkan rumah kediaman Aditama.
Ikatan batin yang kuat antara Rey dan Riyan membuat keduanya sakit-sakitan saat jarak antar provinsi memisahkan keduanya.
Riyan demam hingga berulangkali dirawat di rumah sakit, begitu juga dengan Rey.
Saat Bunda melakukan video call, untuk mempertemukan ayah dan anak tersebut, terlihat binar kebahagiaan di mata keduanya. Dan Riyanpun menangis setiap kali sang ayah ingin mengakhiri panggilan.
Daripada Riyan terus sakit-sakitan, Sabrina akhirnya memutuskan untuk sementara tidak mengizinkan Rey melakukan kontak telepon maupun bertemu langsung dengan Riyan.
Dan dia terpaksa melakukan hal itu, juga karena Mario. Sabrina merasa tidak enak, terus menunda pernikahan karena sakitnya Riyan.
Rey berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya. Dia menghabiskan waktu untuk kerja, kerja dan kerja. Rey menjadi penggila kerja tanpa memperhatikan kesehatannya.
Dia cuma berharap bisa melupakan putranya dengan menyibukkan diri. Tapi kenyataannya, Rey malah terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakitnya.
Penyakit Gerd hampir membuat Rey kehilangan nyawa jika saja salah satu perawat tidak masuk dan mendapati Rey terkapar di ruangan kerjanya.
Sabrina yang sudah mengenakan pakaian pengantin berlari meninggalkan pernikahannya, saat mendapatkan telepon dari sang Bunda yang menangis dan memohon agar membawa Riyan datang secepatnya karena Rey saat ini terbaring di ruangan ICU.
Sabrina jadi merasa bersalah karena telah memisahkan keduanya. Dan tanpa pikir panjang lagi diapun memesan tiket pesawat tujuan Jakarta siang ini juga.
Mario dan keluarganya kecewa tapi dia masih bisa berbesar hati, siang ini Mario akan menemani Sabrina dan Riyan untuk berangkat ke Jakarta menjenguk Rey.
Sabrina, Mario dan Riyan tiba di Jakarta dan merekapun tanpa membuang waktu langsung menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Bunda dan Papa masih cemas melihat kondisi Rey yang tidak ada perubahannya. Rey sepertinya kehilangan semangat hidupnya.
Saat melihat kedatangan Sabrina dan Riyan, harapan Bunda kembali. Beliau berharap Rey akan memiliki semangat lagi saat melihat putranya.
Saat mereka hendak masuk dokter melarang dan mengatakan jika kondisi kesehatan Rey semakin menurun.
Bunda dan Sabrina pun menangis, begitu juga dengan Riyan yang ikutan menangis karena melihat sang mama.
Mario dan Papa berusaha menenangkan keduanya dan mengatakan jika saat ini yang bisa mereka lakukan adalah berdoa agar Rey bisa sembuh.
Sabrina menemui dokter, dia memohon agar diizinkan masuk bersama putranya.
Dan dia meyakinkan dokter jika saat ini yang bisa membuat Rey semangat untuk sembuh hanyalah kehadiran Riyan.
Akhirnya dokter pun mengizinkan dengan syarat hanya beberapa menit saja.
Sabrina pun masuk bersama Riyan dan air matanya mengalir tak bisa dibendung lagi saat melihat Rey begitu kurus, pucat dan terbaring lemah dengan mata terpejam seperti mayat.
Riyan memanggil sang Papa dan dia menggoyangkan tubuh Rey sambil berkata, "Pa, anyun. Ayo ain!"
Karena tidak ada pergerakan, Riyan pun menangis, memeluk sang Papa dan mengguncang-guncang tangan Rey hingga membuat Sabrina terisak kembali.
Air mata Sabrina jatuh ke wajah pucat Rey dan tanpa dia sadari si empunya wajah membuka matanya perlahan.
Mata cekung itu juga mengeluarkan air mata, Rey sangat merindukan ibu dan anak yang saat ini sedang menangis dihadapannya.
Sabrina terkejut saat melihat sebelah tangan Rey terangkat, berusaha untuk mengelus pipi chubby Riyan.
Riyan langsung menghambur, memeluk Rey dan keduanya pun saling memeluk seperti tidak ingin dipisahkan.
Rey menyeringai, dadanya sakit karena berat badan Riyan. Tapi rasa sakit itu, tidak sebanding dengan rasa rindu yang selama ini telah membuatnya kehilangan semangat hidup.
Sabrina menggenggam tangan Rey dan kali ini dia yang meminta maaf karena keegoisan telah membuat Rey serta anaknya tersakiti.
Rey tersenyum lemah, dia membalas genggaman Sabrina sembari berkata, "Kamu tidak salah Rin, tapi takdir telah menghukum ku atas kesalahan yang pernah aku lakukan dulu."
Saat Sabrina berteriak memanggil dokter, Rey menarik lengan Sabrina dan berkata, "Aku tidak apa-apa Rin, aku hanya ingin tidur sejenak. Sejak kamu tidak memperbolehkan aku berkomunikasi dengan Riyan, aku susah tidur."
Sabrina menatap Rey dan ternyata benar, dia mendengar suara dengkuran halus dari mulut Rey.
Perawat yang sempat mendengar teriakan Ina pun datang dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Dan Sabrina pun tersenyum malu sembari mengatakan jika Rey hanya tertidur karena lelah.
Dokter pun menghampiri dan memeriksa kondisi Rey dan beliau menarik nafas lega karena Rey benar sedang tidur.
Merekapun keluar ruangan dan memberitahu jika kondisi Rey membaik.
Semuanya mengucap syukur termasuk Mario. Tadi Mario sempat berjanji di dalam hatinya, jika Rey selamat dan kembali sehat dia akan mengikhlaskan Sabrina serta Riyan untuk hidup bersama dengan Rey.
Mario tidak akan memaksakan keinginannya lagi yang hanya akan menyakiti banyak hati.
Sore hari mereka diizinkan kembali untuk menjenguk Rey di ruangannya. Dan setelah satu persatu masuk kini tiba giliran Mario.
Mario memukul lengan Rey dan berkata, "Kamu harus sembuh, jika tidak aku akan membawa Ina serta Riyan pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali sampai Riyan dewasa."
Mendengar hal itu, dengan kesusahan Rey duduk, lalu mencengkeram kerah baju Mario sembari berkata, "Jika kamu berani menjauhkan aku dari Riyan, aku akan menghajarmu hingga kamu yang akan menggantikan ku terbaring di sini!"
Mario tertawa ngakak sambil melepaskan cengkeraman tangan Rey hingga membuat Rey mengernyitkan dahinya.
Kemudian Mario bangkit, tertawa sembari berjalan keluar ruangan. Rey yang melihat hal itu turun dari tempat tidur, dia ingin mengejar Mario.
Karena tubuhnya masih lemah, Rey pun terjatuh dan tiang penyanggah infus menimpa kepalanya.
Sabrina yang masuk dan melihat hal itu berteriak, lalu berlari menghampiri Rey yang tergeletak di lantai.
"Rey...kenapa kamu nekat! Kamu masih lemah, kenapa turun!"
__ADS_1
Rey memeluk Sabrina dan dia menangis sembari berucap, "Tolong Rin, jangan pisahkan aku dengan Riyan. Kamu berbahagialah dengan Mario dan izinkan aku merawat dan membesarkan Riyan. Aku janji akan menyayangi Riyan dan menjadikan dia putra kebanggaan keluarga. Please...ku mohon Rin," pinta Mario dengan sangat memelas.
Mario yang kembali masuk sembari menggendong Riyan, menghampiri Keduanya dan berkata, "Aku bisa melawan mu Rey, tapi aku tidak bisa melawan takdir."
"Sabrina dan Riyan memang kebahagiaan ku tapi mereka telah ditakdirkan untuk bahagia bersama mu."
Sabrina menatap Mario, dan belum hilang rasa keterkejutannya, Mario menyatukan tangannya dengan tangan Rey sembari berkata, "Bahagiakanlah mereka Rey, atau aku akan membuktikan ucapan ku tadi!"
Rey dan Ina saling pandang lalu keduanya menatap Mario yang tersenyum sembari mengulurkan Riyan.
Riyan menghambur ke pelukan sang Papa dan Rey pun mendekap putranya sembari berkata, "Aku pasti akan membahagiakan mereka. Aku tidak akan membiarkanmu membawa mereka jauh dariku. Mereka hidupku dan selamanya akan menjadi milikku."
Selesai mengatakan hal itu, Rey pun menggenggam tangan Sabrina, "Rin, menikahlah denganku, kita akan menyayangi Riyan dan membesarkannya bersama-sama."
Sabrina tidak menjawab, dia masih bingung, karena Ina masih terikat janji untuk menikah dengan Mario.
Sementara yang ditatap malah tersenyum dan berkata, "Pergilah Na, aku membebaskan mu dari janji. Raihlah cinta yang selama ini kamu sembunyikan darinya."
Rey merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar dan diapun menatap Sabrina.
Sabrina tidak berani mengangkat wajahnya. Saat ini dia sangat malu karena Rey akhirnya mengetahui perasaan yang berpuluh tahun telah Rina sembunyikan dari siapapun, termasuk Bu Murni.
Perasaan Rey begitu bahagia, ternyata selama ini mereka memiliki rasa cinta yang sama. Memang Rey baru menyadari setelah Sabrina pergi dari hidupnya.
Dia juga menyimpan rasa itu rapat-rapat demi menghargai persahabatan antara dirinya, Sabrina dan juga Alira.
Rey tidak dapat menyembunyikan perasaannya lagi, dia langsung menarik Sabrina ke dalam pelukannya.
Sabrina yang memang mencintai Rey, juga tak kuasa menahan perasaannya dan keduanya pun berpelukan sembari mendekap Riyan.
Mario menghapus air mata yang sempat menetes, dia tidak mau jika kedua insan di hadapannya itu sampai melihatnya menangis.
Hati Mario begitu hancur karena takdir cinta Sabrina sudah kembali kepada jodohnya.
Mario rela melakukan hal itu, menyerahkan cintanya demi membahagiakan Riyan yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri.
Setelah melihat ketiganya bahagia, Mariopun berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Rey tidak mau melepaskan cintanya lagi, dia mencium kening Sabrina lalu berkata, "Maafkan aku, Cinta. Hari ini juga, aku akan mempersatukan janji cinta kita dalam ikatan suci pernikahan."
Setelah mengatakan hal itu, Rey pun bangkit mengambil ponselnya. Rey menelepon sang Papa, meminta tolong agar beliau membantu menyiapkan acara pernikahan. Rey ingin menghalalkan Sabrina saat ini juga.
Mama dan papa terkejut sekaligus bersyukur karena Rey sudah mendapatkan kebahagiaannya kembali.
Papa pun segera menghubungi asisten pribadinya agar segera datang bersama penghulu pernikahan serta dua orang saksi.
Sambil menunggu kedatangan penghulu, Rey dan Sabrina menelepon Ibu mereka meminta restu.
Ibu menangis haru, meski beliau tidak bisa hadir tapi ibu sangat bahagia karena Sabrina, akhirnya menikah dengan pria yang dia cintai dan juga ibu sayangi seperti putranya sendiri.
Acara akad sederhana pun berlangsung dengan di saksikan oleh keluarga Rey juga Mario.
Kini Rey dan Sabrina telah sah menjadi pasangan suami istri. Dan Rey berjanji akan mengganti masa-masa kelam yang telah Sabrina serta Riyan lewati dengan mencurahkan cinta kasih sepenuh hati untuk keduanya.
Sabrina akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang menurutnya mustahil untuk dia raih.
Itulah ya sobat kalau sudah jodoh pasti tidak akan kemana, meskipun terdapat banyak perbedaan dan telah dipisahkan oleh cinta lain, dijauhkan oleh jarak serta waktu, akhirnya mereka dipersatukan juga dalam ikatan pernikahan.
Terimakasih kepada para reader yang telah setia mengikuti ceritaku ini dan mohon maaf jika masih banyak kekurangan serta kesalahan dalam penulisan serta penyampaian alur ceritanya.
Semoga dukungan para reader berkah untuk ku sebagai penulis. Akhirul kalam, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Selamat sore dan selamat menyambut bulan suci Ramadhan bagi para reader yang seakidah denganku.π
π»π»π»π»TAMATπ»π»π»π»
__ADS_1
YUK, SILAKAN MAMPIR KE KARYAKU YANG LAIN (ADA 15 KARYA) KLIK NAPEN JULIA FAJAR TINGGAL PILIH DEHβΊοΈ SEMOGA TERHIBUR ππ