
Rey berlari masuk tanpa menunggu Alira turun, dia langsung menuju kamarnya untuk mengambil alat-alat kedokteran miliknya.
Alira menghela nafas panjang, entah mengapa dalam hatinya kini dia membenci Sabrina.
"Sabrina... Sabrina...Sabrina! lagi-lagi kau menghangi kebahagiaan ku, aku benci kamu Sabrina! hiks...hiks...hiks," teriak Alira dan lalu menangis.
"Jika kalian memang saling mencintai, kenapa dulu kau malah mengejarku Rey dan kau Sabrina, kenapa kau berpura-pura dan menusukku dari belakang! Aku benci kalian," monolog Alira sambil memukul-mukul stir.
Alira masuk ke dalam kamarnya, dia masih kesal dan tidak ingin bertatap muka dengan siapapun.
Rey yang melihat Sabrina terbaring pucat bak mayat merasa sangat khawatir.
"Bun, tolong geser, biar aku periksa Rina dulu."
"Rina sudah sadar sepuluh menit lalu Rey, cuma mama minta agar dia tidur. Lihatlah, kita baru sadar kan jika tubuh Ina kian hari bertambah kurus. Apa pekerjaannya terlalu berat ya Rey?"
"Aku periksa dulu ya Ma, nanti baru kita bahas masalah itu."
Rey pun memeriksa denyut nadi Sabrina dan juga meletakkan stetoskopnya ke dada. Rey merasa heran dan dia mengulangnya kembali.
"Ini tidak mungkin!" gumam Rey.
Pendengaran Bunda tajam dan beliau mendengar gumaman putranya, "Ada apa Rey, apa yang tidak mungkin. Memangnya Ina sakit apa Rey?" tanya Bunda.
"Oh nggak apa-apa kok Ma, dia hanya kelelahan," bohong Rey, karena dia sendiri masih belum yakin dengan hasil pemeriksaannya.
"Syukurlah Den jika Ina tidak kenapa-kenapa. Belakangan ini dia malas makan dan kalau libur sukanya mengurung diri terus."
"Ya sudah Bi, nanti aku nasehati Rina kalau sudah bangun. Sekarang, sebaiknya Bibi masakin dia bubur ayam saja. Rina pasti lahap makan, Itukan kesukaan dia."
"Iya Den, Bibi titip Ina dulu ya."
Bu Murni pun langsung ke dapur untuk memasak bubur, beliau berharap jika penyakit putrinya tidak serius, tapi beliau tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya, karena aneh rasanya melihat Ina bolak balik pingsan.
Mama sebaiknya istirahat, hari sudah malam, bukankah mama juga belum sehat. Aku nggak mau Mama sakit.
"Iya Ma, yang dikatakan Rey memang benar. Ayo Papa temani Mama ke kamar. Papa juga masih ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan malam ini juga."
__ADS_1
"Kalau Mama tidur bagaimana dengan Ina, siapa yang akan menjaganya, bukankah Bu Murni juga sedang sakit?"
"Biar Rey yang akan menjaga Rina Ma."
"Tapi Nak, bagaimana dengan Alira? Oh ya Alira mana, kok nggak kelihatan? Apa dia nggak ikut pulang Rey?"
Rey pun celingukan melihat pintu dan dia tidak menyadari jika Alira tidak ada di sana.
"Kemana Alira ya Ma, saking panik aku sampai lupa menunggunya turun. Aku cari Alira dulu ya Ma, nanti aku kesini lagi. Mama dan Papa jaga Rina sebentar," ucap Rey lalu bangkit dan pergi keluar mengecek di mobil.
Rey tidak menemukan istrinya di sana, lalu diapun mencari ke dalam kamar, ternyata Alira sedang berbaring, menutup wajahnya dengan bantal.
Isak tangis pun terdengar saat Rey mendekat dan duduk di tepi tempat tidur mereka.
Rey mengecup kepala dan mencium pipi Alira sembari berbisik, "Maafkan aku Sayang. Aku panik, jadi tidak menunggumu turun. Al, ayo dong jangan nangis. Keadaan Rina sangat lemah, wajahnya pucat sekali, ayo kita kesana, apa kamu tidak ingin melihat dia."
Alira tidak menjawab sepatah katapun, dia masih terisak saat Rey menariknya kedalam pelukannya.
"Aku sungguh minta maaf Al, aku selalu mengecewakan mu, aku janji setelah Rina sembuh kita akan berangkat bulan madu, terserah kamu mau kemana dan berapa lama."
"Iya Sayang, aku janji. Tapi setelah Rina sembuh ya. Aku kasihan lihat kondisinya sekarang. Dia kurus dan pucat sekali. Apa mungkin pekerjaannya memang berat hingga membuat dia kelelahan. Aku akan mencarikan pekerjaan lain untuknya, mungkin di rumah sakit masih membutuhkan tenaga administrasi."
"Eh nggak usah Kak, kalau Ina mau, di kantorku juga bisa. Nanti aku coba bicara dengan Ina, kan sesuai jurusannya jika kerja denganku."
"Oh bagus Sayang, terimakasih ya sudah peduli dengan Rina."
"Iya Kak, dia kan juga sahabatku. Yuk, kita lihat Ina. Aku penasaran sekurus apa dia sekarang hingga suamiku sangat mengkhawatirkan dia," ajak Alira sembari menarik tangan Rey.
Rey pun mengikuti langkah Alira, dia senang istrinya tidak ngambek lagi.
Saat tiba di ruangan Sabrina, Bunda mempersilakan Alira masuk dan seperti permintaan Rey tadi Papa mengajak Bunda untuk istirahat.
Mama Rey pun pamit dan beliau berharap Alira mau menemani Rey untuk menjaga Sabrina.
"Mama tinggal dulu ya Nak," pamit Bunda.
"Al, coba kamu perhatikan kondisi Rina sekarang, kurus kan? lihat wajahnya pucat, lihat dagunya jadi tirus," ucap Rey.
__ADS_1
"Sedikit, nggak terlalu mengkhawatirkan," ucap Alira yang terkesan tidak sependapat.
Rey cuma diam, dia tidak mau memperpanjang omongan yang nantinya hanya membuat mereka bertengkar.
"Bu Murni kemana Kak? kenapa putrinya sakit malah enak-enakan di kamar!"
"Kamu jangan sembarangan ngomong Al, nanti nggak enak jika Ibu atau Rina dengar. Beliau bukan enak-enakan, tapi sedang masak bubur. Barangkali saat Rina terbangun, dia mau makan bubur. Biar tenaga bisa cepat pulih."
"Oh, aku kira..."
Belum sempat Alira meneruskan perkataannya, Bu Murni pun masuk sembari membawa semangkuk bubur ayam.
"Eh, ada Nak Lira. Mau bubur ayam Nak, biar ibu ambilkan. Ibu masak banyak kok!"
"Nggak Bu, terimakasih. Aku tidak terlalu suka dengan bubur ayam," ucap Alira.
"Nak Rey dan Nak Lira sebaiknya pergi tidur, biar Bibi yang temani Sabrina."
"Maaf ya Nak, gara-gara Sabrina kalian harus pulang. Bibi sudah meminta Tuan agar jangan menghubungi Aden, tapi Tuan malah meminta Aden pulang."
"Nggak kok Bi, memang aku yang ingin pulang, bukan atas paksaan Papa. Kami nggak terganggu kok, iya kan sayang."
"Hemm," hanya itu yang keluar dari mulut Alira.
Melihat sikap Alira, Bu Murni pun merasa tidak enak, apalagi beliau tadi sempat mendengar saat Alira mengatakan jika dirinya enak-enakan di kamar.
Tapi Bibi memang sadar, jika Ina telah menjadi penyebab Tuan mudanya membatalkan rencana dan pulang.
Rey yang melihat Bi Murni terdiam, lalu berkata, "Bibi tidurlah, dan kamu sayang baliklah ke kamar, aku di sini dulu temani Rina sampai dia bangun, untuk memastikan kondisinya baik-baik saja."
"Nggak usah Den, Bibi saja! Lagipula tadi 'kan Ina sudah sadar dan keadaannya juga tidak mengkhawatirkan. Bibi nggak apa-apa kok bisa sambil tiduran di sini."
"Nah 'kan Kak, Bibi benar. Kak Rey saja yang khawatinya terlalu berlebihan. Ayo, kita ke kamar, aku sudah mengantuk Kak."
Rey pun akhirnya menuruti permintaan Alira. Tapi sebelum keluar, dia melihat dan memastikan dulu, jika Sabrina memang baik-baik saja.
Bersambung.....
__ADS_1