
Di rumah kediaman nenek Mawar, Dr. Mario menanti kedatangan sang nenek dengan harap cemas.
Tapi saat melihat taksi berhenti tepat di depan rumah, Mario pun merasa lega dan segera membantu nenek turun dari taksinya.
"Syukurlah Nek, Mario tadi sempat berpikiran buruk, kenapa nenek lama sekali sampai. Padahal, seharusnya lima belas menit yang lalu nenek sudah tiba," ucap Mario sembari membawakan tas si nenek.
"Tadi nenek kelamaan ngobrol di bandara. Oh ya Yo, nenek bertemu gadis cantik dan baik lho, nenek rasa kalian cocok."
"Nenek ada-ada saja, setiap ketemu gadis selalu bilang cocok dengan Mario, jadi mana yang betul-betul cocok Nek? Mario jadi bingung," ucap Mario dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Nenek yakin, gadis ini yang paling cocok di antara beberapa gadis yang nenek pernah bilang," ucap Nenek sembari tersenyum malu.
"Kalau begitu kenalkan dong dengan Mario."
"Pasti, bahkan dia akan tinggal di sini, jadi kamu bisa lebih mengenalnya nanti. Nenek yakin filling Nenek kali ini tidak salah. Dia gadis yang sangat baik."
"Oke Nek, Mario tunggu kabar dari Nenek. Tapi kenalan dulu ya Nek, Mario nggak mau salah menentukan jodoh."
"Di sana ada gadis anak teman Mama, orangnya sangat cantik dan juga baik tapi susah untuk di dekati Nek. Padahal Mama Papa dan keluarganya sudah setuju jika kami berjodoh. Dianya yang masih saja menghindar."
"Aku sih sebenernya sudah merasa cocok dengannya Nek, tapi jika dia terus menolak, mana mungkin aku akan menjadi bujang lapuk selamanya."
"Iya. Besok jika dia sudah datang, nenek akan kabari kamu, kalian kenalan dulu, siapa tahu cocok. Tapi jika tidak, kamu kejar gih, gadis yang di sana. Masa seorang Mario menyerah begitu saja."
"Iya. Ngomong-ngomong mana oleh-oleh buat Mario Nek?"
"Nenek sampai lupa, sebentar ya nenek ambil dulu."
Nenek Mawar mengambil kotak oleh-oleh yang dia bawa tadi, lalu memberikan sebuah bungkusan kepada Mario.
"Itu dari Mama mu. Dia pesan, jangan lupa dipakai. Dan ini dari nenek, makanan kesukaan kamu."
"Terimakasih Nek, ini makanan yang Mario tunggu-tunggu," ucap Mario sembari memeluk Nenek Mawar dan mencium pipi keriputnya.
Nenek hanya bisa menggeleng melihat tingkah cucu kesayangannya itu. Lalu beliau ke dapur untuk membuatkan Mario teh hangat.
Mario langsung melahap oleh-oleh dari sang Nenek dan setelah kenyang, diapun pamit akan melanjutkan pekerjaannya.
Di rumah kediaman Rey, dia yang baru pulang bersama Alira, sangat kaget saat Bunda berkata jika Sabrina sudah tidak tinggal bersama mereka lagi.
__ADS_1
"Apa Bun, Sabrina pergi! Kenapa dia tidak menunggu kami?"
"Kantor sudah mendesak dia, karena di sana kosong kepemimpinan. Lagipula ada meeting mendadak."
"Di mana alamat hotelnya Bun?"
"Katanya sih di Bali, tapi Sabrina tidak memberikan alamat lengkapnya."
"Apa Bibi juga ikut?"
"Belum. Tapi Sabrina janji, tahun depan setelah dia membeli rumah, Ina akan menjemput ibunya."
"Rina, Rina...kenapa dia tidak memberitahuku. Aku kan bisa mengantar dan memastikan jika dia akan tinggal di tempat yang aman dan nyaman."
"Bibi kemana Ma? Rey ingin menanyakan alamat Rina. Kalau bisa, sebelum kami berangkat, Rey ingin menemuinya dulu. Rey ingin memastikan jika dia baik-baik saja di sana."
"Rey nggak akan tenang pergi Ma sebelum bertemu Rina," ucap Rey sembari meraup wajahnya.
Rey sebenarnya khawatir akan kehamilan Sabrina dan dia menebak jika Rina memang sengaja pergi untuk menghindar. Dia semakin yakin jika Sabrina saat ini sedang terjerat masalah.
Melihat wajah suntuk dan khawatir Rey, Alira terlihat kurang senang.
Alira tidak akan membiarkan Rey menunda atau membatalkan bulan madu mereka hanya gara-gara ingin pergi mencari Sabrina.
Bunda yang memang sudah ditunggu teman-temannya, tidak memperpanjang percakapan, lalu beliau pun pamit, "Rey, Lira...Bunda pergi dulu ya. Kamu tanya Rey ke Bibi, barangkali Sabrina meninggalkan alamat, atau kamu telepon saja dia untuk memastikan jika Ina sudah sampai dan saat ini dalam keadaan baik-baik saja."
"Kapan-kapan Bunda juga ingin menjenguk dia," ucap Bunda yang di ikuti anggukan dari Rey.
Setelah Bunda pergi, Rey pun mengajak Alira masuk, "Ra, kamu istirahat dulu di kamar kita ya, nanti aku nyusul. Aku akan menemui Bibi dulu, aku nggak tenang jika belum mengetahui di mana Sabrina tinggal."
Alira pun mengangguk, karena anunya juga masih sakit, dia memilih untuk tiduran saja di kamar.
Melihat sang istri sudah masuk ke kamar, Rey pun mencari keberadaan Bu Murni.
Rey bertanya kepada pembantu yang sedang menyiapkan makanan dan mereka mengatakan jika sejak tadi tidak melihat Bu Murni.
Kemudian Rey bergegas ke paviliun, mengetuk kamar Bu Murni tetap tidak ada jawaban. Karena pintu kamar tidak terkunci, Rey melongok ke dalam, tapi dia tidak melihat siapapun ada di sana.
"Kemana Bibi ya, atau jangan-jangan di kamar Rina, coba aku cek kesana," monolog Rey.
__ADS_1
Ternyata dugaan Rey benar, pintu kamar Sabrina terbuka sedikit. Kemudian diapun mendorong perlahan pintu tersebut dan Rey melihat Bu Murni sedang menangis sembari mencium pakaian Sabrina yang terakhir dia pakai.
"Bi," sapa Rey.
"Eh, Den Rey sudah pulang," ucap Bu Murni sembari menghapus air matanya.
Rey pun mendekat dan duduk di sisi ranjang dekat Bu murni, lalu diapun memeluk wanita tua yang sudah seperti ibunya itu.
"Menangislah Bi, aku tahu bibi pasti sedih dengan kepergian Rina. Mama, baru saja memberitahuku jika Rina tidak tinggal di sini lagi."
"Iya Den, Rina dipindah tugaskan ke luar kota dan entah kapan dia akan kembali untuk menjemput ibu."
"Sejak Ina kecil, kami tidak pernah tinggal terpisah, jadi rasanya separuh jiwa ibu hilang di bawa Sabrina."
"Iya Bi, Rey tahu perasaan Bibi. Rey juga sedih, apalagi Sabrina tidak pamit kepada kami."
"Oh ya Bi, dimana alamat hotel tempat Rina bekerja? Rey secepatnya ingin menjenguk Rina. Rey ingin pastikan jika dia aman dan nyaman tinggal di tempatnya yang baru."
"Bibi pun nggak tahu Den, katanya di Bali, tapi Ina tidak memberitahu alamat pastinya."
Rey makin khawatir, bahkan kepada ibunya saja, Rina tidak memberitahukan dimana tempat tinggalnya.
"Oh ya Bi, apa Rina sudah telepon?"
Bu Murni pun menggeleng dan tangisnya pun kembali pecah. Dengan terisak beliau pun berkata, "Itu yang membuat Bibi khawatir sejak tadi Den. Ponselnya juga tidak aktif. Bibi takut ina kenapa-kenapa di sana.
Rey menghela nafas berat, lalu dia bertanya untuk menyelidiki apakah Bu Murni tahu tentang kehamilan Sabrina atau tidak.
"Bi, apakah Bibi tidak merasa jika belakangan ini Sabrina bersikap sedikit aneh?"
"Iya sih Den, Ina lebih senang menyendiri dan dia jadi lebih pendiam, bahkan jika ibu bertanya, jawaban Ina seperti orang tidak fokus dan sering melamun."
"Pernah sih ibu pergokin dia sedang menangis, tapi ketika ibu tanya ada masalah apa, Ina selalu menjawab, jika dia hanya lelah."
Rey kembali menghela nafas berat, saat tahu Bu Murni tidak curiga atau mengetahui apapun tentang kehamilan Sabrina.
Dia bertekad akan menyelidiki hal itu dan akan Rey mulai dengan menggeledah kamar Sabrina secara diam-diam saat Bu Murni pergi. Rey berharap akan bisa menemukan petunjuk serta keberadaan Rina sekarang.
Bersambung....
__ADS_1