
Keadaan mental Sabrina sudah mulai stabil dan dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja ketimbang berdiam diri di rumah.
Rumah hanya merupakan tempat untuk singgah dan tidur malam saja bagi Sabrina.
Dan meskipun hari libur, Sabrina tetap pergi dengan berbagai alasan, agar para penghuni rumah lainnya tidak merasa curiga.
Sabrina hanya tidak ingin larut lagi dalam masalahnya, makanya sebisa mungkin dia harus menghindar dari Rey dan juga Alira.
Dia lebih memilih nongkrong, berlama-lama di taman sambil bercanda tawa dan mengajari berhitung, Rohit beserta para temannya.
Rey yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan pun tidak mempertanyakan kebiasaan baru Sabrina.
Sesekali Rey hanya mengingatkan via telepon agar Sabrina jangan telat makan dan tetap menjaga kesehatan walau sesibuk apapun di kantor.
Hari pun terus berlalu, hingga pernikahan Rey tiba, semua telah bersiap untuk mengiring pengantin pria menuju ke rumah pengantin wanita.
Hanya Sabrina saja yang tidak bersemangat untuk ikut. Tapi Sabrina juga tidak mungkin mengabaikan pernikahan sahabatnya.
Akhirnya diapun mengatakan akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor.
Sabrina sengaja mengulur waktu keberangkatan, hingga dia tidak menyaksikan akad nikah yang sedang berlangsung.
Sementara Bunda dan ibu gelisah, menunggu Sabrina yang tidak kunjung datang. Bunda menelepon tapi ponsel Sabrina dalam mode sibuk.
Sabrina asyik bertelepon ria dengan Risya sahabatnya yang tinggal di Bali.
Risya memberitahu jika dua bulan lagi, posisi manager di hotel milik suaminya akan kosong. Sang manajer resain karena akan pindah keluar kota bersama keluarganya.
Sabrina beruntung, sahabatnya bisa diandalkan. Dan mengenai rumah tinggal, Risya meminta agar Sabrina tinggal bersamanya.
Suami Risya pun tidak keberatan karena dia sering bolak balik ke luar negeri, sementara Risya tinggal sendiri dan mereka belum dikarunia anak.
Sekarang Sabrina merasa lebih tenang, sebentar lagi dia akan meninggalkan Jakarta dan mungkin tidak akan pernah bertemu Rey atau Lira lagi.
Setelah Risya menutup panggilannya, Sabrina pun melihat arloji dan bergegas mengganti pakaian. Dia akan ke acara resepsi pernikahan Rey meski telat.
Sabrina berangkat dengan menggunakan mobil, dia baru dua hari ini mendapatkan fasilitas kantor karena kinerjanya yang bagus.
Saat tiba di area pesta Sabrina pun mengucap Basmallah, untuk menguatkan hati sebelum dia turun dari mobilnya.
__ADS_1
Meski saat ini perasaan Sabrina sangat hancur, tapi dia harus bisa menyembunyikannya dari siapapun.
Dengan senyum dipaksakan, Sabrina pun masuk sambil memberi ucapan selamat kepada kedua orangtua Alira yang sedang menyambut kedatangan para tamu.
Di antara kerumunan tamu terlihat Bunda dan Papa Rey sedang asyik ngobrol bersama temannya dan terlihat seorang pemuda tampan berdiri di sisi bunda yang sama sekali tidak Sabrina kenal.
Melihat Sabrina yang celingukan, Bunda pun menghampirinya dan bertanya, "Kenapa telat Na, akad sudah selesai. Tadi Rey dan Lira menanyakan kamu kenapa belum juga sampai."
"Iya maaf Bun, tadi ada tamu dari luar, terpaksa harus melayani mereka dulu, baru kesini. Oh ya Bun, Rey dan Lira di mana ya, kok tidak kelihatan?"
"Saat ini mereka sedang berganti pakaian, mungkin MUA masih menambah riasan."
"Sambil menunggu mereka keluar, ayo kita bergabung dulu dengan Papa."
"Bunda akan kenalkan kamu dengan seseorang yang pernah Bunda bilang. Dia tadi menanyakan kamu kenapa tidak kelihatan," ucap bunda sambil menarik tangan Sabrina.
Sabrina tidak bisa menolak, mungkin inilah kesempatan dia agar memiliki teman ngobrol di pesta hingga tidak terlalu fokus memikirkan Rey.
Saat melihat Sabrina datang, pemuda yang tadi sempat Sabrina lihat ngobrol bersama Bunda pun tersenyum ke arahnya.
Benar ternyata kata Bunda pemuda itu sangat tampan dan senyumnya begitu manis, hingga jika para gadis melihatnya pasti bakal kesemsem, tapi sayang tidak dengan Sabrina yang hatinya sudah terpaut dalam, dengan Rey Aditama.
"Hai Ina, aku Mario. Senang bisa berkenalan dengan kamu," sapa Mario sembari mengulurkan tangan.
Sabrina pun menyambut uluran tangan dari Mario sembari tersenyum, lalu diapun menjawab, "Senang juga bisa bertemu dan berkenalan dengan Dokter."
"Oh ya Ina, ini Tante Lula dan itu Om Jo, orang tuanya Mario," ucap Bunda lagi.
"Selamat malam Tan, Om."
"Wah, ternyata kamu lebih cantik aslinya, ketimbang di foto. Beruntung banget pria yang bisa mendapatkan kamu nantinya. Ya 'kan Mario?"
"Iya Moms."
"Ya sudah, kalian berbincang-bincang dulu, kami akan bergabung dengan teman-teman di sana. Yuk Mbak, Mas kita ke sana," ucap Mama Mario.
"Bunda dan Papa kesana dulu ya Nak."
"Iya Bun."
__ADS_1
Para orangtua memberi kesempatan kepada Mario dan juga Sabrina untuk ngobrol. Mereka ingin keduanya saling kenal lebih jauh dan cocok, hingga bisa lanjut ke jenjang hubungan selanjutnya.
Mario pun mendekati Sabrina, lalu dia mengajaknya untuk duduk di kursi dekat plaminan. Di sana mereka nantinya bisa leluasa melihat serta ngobrol dengan kedua pengantin.
Setelah menemukan tempat yang pas, Mario pun mengambilkan Sabrina segelas orange jus dan untuk dirinya sendiri segelas air mineral.
"Silakan diminum Na."
"Terimakasih Dok."
"Panggil aku Mario saja! rasanya lebih enak didengar. Lagipula, tidak terlalu formal."
"Iya Mario."
Keduanya pun ngobrol menyangkut pekerjaan dan juga keluarga, hingga Sabrina tiba-tiba tersedak saat minum. Sabrina terbatuk-batuk hingga membuat Mario khawatir.
Ternyata Sabrina melihat kedua mempelai yang baru saja keluar dari kamar rias menuju pelaminan.
Rey pun yang melihat Sabrina ikut khawatir dan spontan dia bergegas turun dari pelaminan, mengambilkan segelas air putih untuk Sabrina.
"Kamu nggak apa-apa 'kan Rin? Ayo minum dulu. Pelan-pelan dong kalau minum, jadi nggak tersedak," ucap Rey sambil meminumkan air tersebut.
Sabrina menatap Rey, dia tidak menyangka jika Rey masih mau menyempatkan diri menolongnya padahal sedang berada di atas pelaminan.
Lira yang menyaksikan hal itu merasa cemburu, Rey masih sempat-sempatnya memperhatikan Sabrina meski sedang bersamanya di depan khalayak ramai.
Para tamu yang hadir pun melihat hal itu dengan tatapan aneh, termasuk Mario. Namun, Rey tidak mempedulikannya.
Setelah melihat Sabrina tenang, barulah Rey kembali naik ke plaminan dan menyalami para tamu yang baru tiba serta yang akan pulang.
Pandangan Rey sesekali masih tertuju ke arah Sabrina, entah mengapa perasaannya menjadi tidak nyaman saat melihat Sabrina ngobrol dan tersenyum dengan pria lain.
Mario pun kembali terlibat obrolan dengan Sabrina seputar Rey, dia mengacungi jempol untuk persahabatan keduanya.
"Salut aku Na melihat Rey, masih sempat dia memperhatikan sahabatnya, meski dalam situasi seperti ini."
"Aku jadi iri Na, dengan persahabatan kalian!" ucap Mario sambil membersihkan sisa jus yang menempel di sudut bibir Sabrina dengan saputangan miliknya.
Sabrina mengucapkan terimakasih karena perhatian Mario. Lalu dia mengajak Mario untuk naik, memberi ucapan selamat kepada Rey dan juga Lira.
__ADS_1