
"Maafkan atas kesalahanku Rin, aku telah membuat masa depanmu hancur. Aku akan bertanggungjawab dengan cara menikahi mu."
"Kamu omong apa Rey? aku nggak ngerti, pergilah! Alira pasti mencarimu. Maaf aku harus pulang sekarang!" ucap Sabrina bergegas pergi dan berlari meninggalkan tempat itu.
Air matanya tak kuasa untuk dibendung lagi, dia berlari tanpa mau melihat kebelakang lagi.
Rey mengejarnya, dia tidak akan membiarkan Sabrina pergi tanpa memberinya keputusan.
Begitu Sabrina hendak masuk ke dalam mobil, Rey pun menarik lengannya dan berkata, "Tunggu Rin, kita belum selesai bicara!"
"Lepaskan aku Rey, nggak ada yang perlu kita bicarakan. Aku harus pulang, masih ada pekerjaan yang musti aku kerjakan."
"Kalau begitu, berikan alamatmu, baru aku lepaskan kamu!"
"Sudahlah Rey, aku nggak ngerti dengan apa yang kamu bicarakan!"
"Nggak usah kamu tutupi lagi Rin, aku tahu kamu hamil. Setelah aku memeriksamu saat itu, aku menyelidiki dan akhirnya tahu, jika wanita yang aku tiduri malam itu adalah kamu."
"Aku ada buktinya, bukti rekaman, anting serta bros yang tertinggal di kamar hotel dan di kamarmu."
Sabrina terkejut, kenapa dia sampai lupa membawa bukti tersebut. Kini dia tidak bisa mengelak lagi, tapi dia juga tidak mau jika Rey ingin menikahinya.
Karena Sabrina tidak ingin menghancurkan pernikahan Rey dengan Alira dan dia juga tidak mau menjadi madu bagi sahabatnya sendiri.
"Kamu tidak bisa menghindar lagi Rin, Bayi itu anakku. Aku akan mengatakan semua ini kepada Alira, mama papa dan juga ibumu."
"Kamu sengaja 'kan, pergi tanpa meninggalkan alamat, kamu ingin menghindar dari kami."
"Aku yang salah Rin, aku menyesal kenapa malam itu begitu bodoh. Aku mabuk hingga tidak sadar."
"Selain itu, mungkin ada seseorang yang dengan sengaja ingin menjebak ku. Kalau tidak, kenapa ada rekaman itu."
"Untung saja kamu menemukan dan membawanya Rin, jika diketemukan orang lain, bisa hancur reputasi ku."
"Sekarang berikan alamatmu, aku pasti datang untuk menikahi mu Rin. Besok, aku akan pulang untuk mengatakan semuanya dan aku janji akan datang bersama Mama, Papa serta Ibu."
"Lepaskan aku Rey, kamu tidak perlu bertanggungjawab, karena aku telah menggugurkannya."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Rey kaget dan matanya berkaca-kaca. Kemudian dengan suara gemetar menahan tangis, Rey pun berkata, "Kamu kejam! Kenapa kamu setega itu? Dia tidak bersalah, aku seharusnya yang kamu hukum Rin, bukan bayi yang tidak berdosa itu!"
Rey pun bersimpuh di tanah, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rey tidak kuasa menahan tangis. Kini yang tinggal hanya rasa bersalah dan penyesalan kenapa dia terlambat menemukan Sabrina.
Sabrina memalingkan wajah, dia sebenarnya tidak tega melihat Rey seperti itu, tapi dia harus bisa membuat Rey membencinya dan fokus terhadap Alira saja.
"Seandainya saat itu kamu berterus terang, jika memang tidak mau merawatnya, paling tidak kamu lahirkan dia dan aku yang akan merawatnya."
"Maaf Rey, semuanya sudah terlambat, bayi itu sudah tidak ada lagi. Sekarang pergilah! Maaf, aku juga harus pergi. Aku tidak mau Alira salah paham, jika melihat kita seperti ini."
"Sabrina pun bergegas masuk ke dalam mobil, lalu perlahan meninggalkan Rey yang masih terpaku di tempatnya."
Rey tidak mempunyai alasan untuk mencegah Sabrina lagi. Kini, diapun menghapus airmata, lalu berjalan meninggalkan parkiran menuju toko.
Alira yang sedang asyik ngobrol, sebenarnya merasa gelisah. Tapi, belum sempat dia beranjak dari tempatnya, Rey pun telah kembali.
"Darimana saja sih Kak, kenapa lama sekali di toilet. Lihat, wajah Kakak sembab dan pucat! Apa sebaiknya kita ke dokter lagi?"
"Nggak usah Ra, sebaiknya kita pulang, aku lelah dan ingin beristirahat."
Alira pun setuju, tapi sebelum pulang, dia mengingatkan pemilik toko tentang kue pesanannya itu.
Akhirnya Alira dan Rey pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Di sepanjang perjalanan, Rey bersandar lesu, semangatnya seakan hilang setelah mendengar pengakuan Sabrina.
Alira melirik Rey, dia berpikir mungkin sikap Rey seperti itu karena dia sedang sakit.
Mereka pun tiba di hotel dan Rey langsung merebahkan diri. Dia ingin tidur dan melupakan semuanya.
Tapi perkataan Sabrina terus saja terngiang-ngiang hingga diapun tidak bisa tidur.
Alira yang mengantuk langsung terlelap, dia tidak tahu jika Rey meninggalkan kamar dan keluar ke lobi hotel untuk menikmati secangkir kopi.
Di sana Rey berpikir kembali, jika memang anak dalam kandungan Sabrina sudah tidak ada, mana mungkin dia masih mengalami ngidam.
Rey menepuk keningnya sendiri, kenapa dia bisa sebodoh itu, percaya begitu saja dengan perkataan Sabrina.
"Rin, kamu pasti membohongiku. Aku akan mencarimu kemanapun kamu coba sembunyi."
__ADS_1
"Anakku pasti masih hidup dan kamu tidak mungkin tega menggugurkannya."
Rey kembali ke kamar, lalu menuliskan sebuah pesan di secarik kertas dan meletakkannya di sisi Alira.
Kemudian dia menyambar jaket, mematikan ponsel dan pergi meninggalkan hotel.
Rey bertekad akan mencari Sabrina dan dia tidak akan kembali sebelum menemukannya.
Dengan menggunakan taksi, Rey pun pergi ke alamat Mario, dia berharap jika Mario tahu dimana Sabrina tinggal.
Rey tiba di rumah Mario saat tengah malam. Dan karena lampu ruangan dalam masih menyala, Rey pun memberanikan diri untuk mengetuknya.
Sementara taksi yang dia naikki masih menunggu untuk jaga-jaga jika sang pemilik rumah sedang tidak ada.
Ternyata panggilan Rey di dengar oleh Mario, lalu Mario pun membuka pintu. Mario kaget, kenapa Rey berkunjung saat para tetangga sudah terlelap.
"Kamu Rey! Ayo masuk! kenapa larut malam kamu baru kesini?"
"Tolong Yo, bantu aku. Aku ingin mengetahui alamat Sabrina."
"Maaf Rey, aku tidak tahu. Dia kan sahabat sekaligus keluargamu, kenapa kamu tidak mengetahui alamatnya di sini."
Rey terdiam, bagaimana dia bisa tahu, jika Sabrina pergi secara misterius tanpa meninggalkan pesan kepada siapapun.
Melihat Rey terdiam, Mario pun mempersilakan masuk dan dia meminta Rey untuk menginap saja karena hari sudah terlalu malam.
Rey pun setuju karena dia memang sedang membutuhkan tempat untuk menginap malam ini.
Dan besok, Rey berencana akan mencari tempat menginap lain sampai dia bisa menemukan Sabrina.
Rey memberikan bayaran ke Pak sopir taksi, lalu diapun kembali masuk ke rumah Mario.
Mario telah menyiapkan teh, lalu dia meminta Rey untuk meminumnya.
Rey menyeruput tehnya, lalu diapun memohon kepada Mario agar membantunya mencari Sabrina.
Mario pun pura-pura bertanya kenapa Rey begitu ngotot ingin bertemu Sabrina. Dia ingin tahu, apakah Rey memang sudah mengetahui rahasia tentang siapa ayah dari bayi dalam kandungan Sabrina.
__ADS_1
Bersambung....