
Rey tersentak dari tidur dan keringat jagung pun membasahi keningnya. Dia menarik nafas lega, saat mendapati jika dirinya hanya bermimpi.
Mimpi itu terus datang, tapi Rey tetap tidak bisa melihat siapa wanita yang ada dalam mimpinya itu.
Rey mengelap keringatnya, lalu bangkit untuk mengambil air minum. Dia tidak ingin membangunkan Alira yang sedang pulas tertidur.
Setelah meneguk habis segelas air mineral, Rey pun duduk di sofa, sambil memperhatikan Alira.
Rey tidak habis pikir, kenapa sekarang perasaannya beda. Dia tidak sebahagia dulu, saat Alira menerima lamarannya.
Malah kini dia merasa tidak ikhlas, saat melihat Sabrina bersama pria lain.
"Argh...aku sudah gila! Kenapa di malam pengantinku malah memikirkan wanita lain," monolog Rey sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Kemudian Rey kembali ke atas tempat tidur, dia menoleh ke arah Alira, lalu merebahkan diri di sampingnya dan berusaha untuk memejamkan mata.
Sementara Sabrina yang sudah sejak tadi tiba di rumah, bukannya tidur, dia malah menyibukkan diri dengan mengerjakan laporan perusahaan.
Sudah berulangkali Sabrina menguap hingga matanya berair, barulah dia menyimpan pekerjaannya dan beranjak untuk tidur.
Mata mengantuk, tubuh lelah tapi tetap saja sulit untuk tidur. Kini hati dan pikiran Sabrina benar-benar tidak sejalan.
Sabrina membolak balikkan tubuhnya di kasur, sambil membuka dan metutup ponsel miliknya.
Malam ini Sabrina telah kehilangan orang yang berarti dan sekaligus yang telah merusak hidupnya.
Sabrina juga telah kehilangan canda tawa serta ucapan selamat tidur yang selama ini sering Rey lakukan, meski terkadang hanya lewat sebuah pesan.
Malam pun sudah merangsek pagi dan rasa lelah akhirnya membuat Sabrina tertidur.
Kumandang subuh telah membangunkan Sabrina lalu diapun bergegas membersihkan diri dan melaksanakan ibadah.
Kemudian Sabrina menuju dapur untuk menyiapkan menu sarapan. Ternyata di sana sudah ada ibu beserta Bunda yang sedang memasak nasi goreng kesukaannya.
"Hemm... harum Bun," ucap Sabrina sambil mengenduskan hidungnya.
Bunda mengelus rambut Sabrina, lalu bertanya, " Bagaimana pendapatmu tentang Nak Mario, Na?"
Sejenak Sabrina pun terdiam, pasti saat ini bundanya ingin membicarakan tentang perjodohan itu lagi.
Kemudian Sabrina pun menjawab, "Dokter Mario sih orangnya baik Bun, ramah dan juga tampan."
"Nah, apalagi? Semua kriteria idaman wanita ada pada dia. Apakah kamu setuju? Jika iya, nanti Bunda sampaikan kepada mama serta papanya Mario."
__ADS_1
"Maaf Bun, Ina belum siap. Kami lebih baik berteman dulu biar saling mengenal."
"Oh, ya sudah jika begitu. Bunda tidak bisa memaksa. Tapi Bunda mohon pertimbangkanlah Nak, karena nggak mudah mendapatkan pemuda baik serta mapan seperti Mario."
"Iya Bun. Terimakasih ya Bun, telah memikirkan kebahagiaan Ina."
"Kamu putri di keluarga ini, jadi kami ingin kamu mendapatkan kebahagiaan dan jodoh yang baik."
Bu Murni pun merasa terharu, Mama Rey memikirkan kebahagiaan Ina dan tidak merasa malu memperkenalkan Ina sebagai putri, kepada teman-temannya.
"Terimakasih ya Nya, telah memikirkan kebahagiaan Sabrina. Kami sangat beruntung bisa mengenal orang baik seperti Nyonya dan seluruh keluarga ini."
"Sama-sama Bu. Kami juga senang bisa kenal dengan ibu dan Ina."
"Oh ya Na, kamu bersiaplah! Bunda mau panggil Papa dulu, agar kita bisa sarapan bersama."
"Iya Bun."
Sabrina menata makanan di atas meja, lalu dia kembali ke kamar untuk berdandan dan mengenakan pakaian kerja.
Setelah terlihat rapi, Sabrina pun ke ruangan makan untuk sarapan bersama.
Pagi ini, mereka sarapan tanpa Rey, tapi esok pagi penghuni rumah akan bertambah.
Sabrina pun pamit setelah menyelesaikan ritual makannya, begitu pula dengan Papa yang akan berangkat ke kantor.
Dan saat tiba di kantor, kembali dada Sabrina terasa sesak saat melihat lorong menuju kamar dimana kehormatannya terenggut.
Sabrina pun meminta sekretaris untuk mengantar semua berkas yang harus ditandatangani. Dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangannya.
Rasanya Sabrina sudah tidak sanggup untuk berlama-lama bekerja di sana. Namun, dia belum menemukan alasan yang pas untuk resign dan secepatnya pergi jauh meninggalkan kota ini.
Sambil menandatangani surat menyurat, Sabrina pun memijat kepalanya yang terasa sakit.
Dia harus menguatkan mental, karena sore ini, Rey dan Lira juga akan pulang serta tinggal bersama di rumah Bunda.
Bunda tidak ingin kesepian di masa tua, jadi sejak awal, beliau sudah meminta jika anak dan menantunya harus tinggal bersama mereka.
Untuk Sabrina, Bunda tidak berani berharap. Karena bagi anak perempuan, rumah pertamanya setelah menikah adalah rumah mertua.
Sabrina mendesah, kini pikirannya makin kacau, dia tidak konsen untuk melanjutkan aktivitasnya lagi.
Kemudian Sabrina pun keluar membawa pekerjaan serta laptopnya, dia akan mencari udara segar dengan menyelesaikan tugasnya di luar kantor.
__ADS_1
Sabrina meninggalkan pesan kepada sekretaris bahwa ada urusan penting dan dia akan kembali lewat tengah hari.
Dengan langkah gontai Sabrina pun meninggalkan ruangan menuju ke parkiran, dia akan ke Cafe untuk menyelesaikan pekerjaan sembari menunggu jam makan siang.
Sabrina tiba di Cafe tempat dia dulu sering nongkrong dan di sana dia berharap bisa bertemu dengan salah satu sahabatnya.
Mengingat akan kenangan dulu, membuat Sabrina tenang. Lalu, diapun membuka laptop sambil memesan minuman.
Jari-jemari Sabrina pun mulai menari-nari di atas keyboard dan sebentar saja pekerjaannya pun selesai.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sabrina memesan makanan dan sambil menunggu, diapun mengecek akun medsosnya.
Sabrina tidak menyadari jika seseorang sejak tadi memperhatikannya. Dan dia terkejut saat orang tersebut tiba-tiba menarik kursi dan duduk di hadapan, sambil menyapa.
"Hai...lagi sibuk ya?" tanya Mario.
"Eh, Pak Dokter."
"Kan, Pak Dokter lagi!"
"Maaf Mario. Kamu kok di sini? memangnya kamu bertugas di mana?"
"Iya, itu di sana!" tunjuk Mario.
"Oh ya, Kamu sangat beruntung lho, bisa bekerja di rumah sakit paling ternama di kota ini. Padahal, menurut yang aku dengar, sulit untuk bisa di terima bekerja di sana. Musti ada orang dalam," ucap Sabrina.
"Ya, alhamdulillah. Rezeki sedang bagus, sekali ajukan lamaran langsung keterima. Nah, kamu sendiri sedang janji dengan klien ya?"
"Nggak kok, hanya rindu tempat ini saja. Dulu, aku sering nongkrong di sini bersama teman-teman."
"Lho kok sama? tapi kenapa ya Rin, sebelumnya kita tidak pernah ketemu? Padahal, hampir setiap hari kami nongkrong di sini," ucap Mario.
"Berarti nggak jodoh," canda Sabrina sambil tertawa.
Dan saat Sabrina melihat pelayan membawakan pesanannya, diapun bertanya, "Oh ya Mario, kamu mau pesan apa? ini pesananku sudah datang."
"Santai Rin, aku pesan minum saja, karena tadi baru makan bersama klien."
"Oh ya, kalau begitu minuman saja ya?"
"Boleh," jawab Mario.
Kemudian Sabrina pun memesan jus alpukat untuk Mario. Dia tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan dokter tampan pilihan sang bunda.
__ADS_1
Keduanya pun terlibat obrolan panjang. Mario merasa senang, bisa bertemu lagi dengan gadis incarannya dan kali ini mereka bisa bersikap lebih santai.
Bersambung.....