MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 39. DIANIAYA


__ADS_3

Pagi-pagi dokter Ira sudah bangun, karena dia harus segera berangkat ke desa tetangga untuk menolong orang yang mau lahiran.


Sabrina pun tidak kalah dari dokter Ira, ternyata dia sudah lebih awal bangun dan menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Dok, silakan sarapan dulu. Tapi hanya susu dan roti. Itu yang saya temukan di kulkas."


"Oh iya Na. Aku lupa belum belanja kebutuhan dapur. Maaf ya, nanti sepulang dari bertugas aku akan mampir ke swalayan, membeli kebutuhan dapur. Kamu istirahat saja, jangan terlalu capek."


"Iya Dok, tapi saya bolehkah berjalan-jalan di sekitar rumah sambil olahraga dan berkenalan dengan tetangga."


"Iya Rin, tapi jangan jauh-jauh ya, takutnya kamu nyasar. Soalnya di sini belum terlalu banyak rumah penduduk."


"Iya Dok."


"Ayo kita sarapan. Oh ya Na, besok aku periksa kandungamu ya, biar tahu kesehatan bayimu. Kamu harus rutin periksa dan konsumsi susu."


"Baik Dok."


Kemudian merekapun sarapan bersama dan setelah itu dokter Ira pamit, dia harus segera sampai di rumah pasien untuk membawanya ke rumah sakit.


Dokter Ira memang baik, dia selalu menawarkan transportasi cuma-cuma bagi para pasien yang tidak memiliki kendaraan. Makanya para warga sangat menghargai dan menghormati Dokter Ira.


Setelah Dokter Ira berangkat, Sabrina pun bersiap untuk keluar rumah, dia ingin berjalan-jalan menikmati udara pagi serta pemandangan sawah dan ladang yang ada di area perbukitan sekitar rumah Dokter Ira.


Ada beberapa orang warga yang melintas menyapa Sabrina, mereka sangat ramah, apalagi saat Sabrina mengatakan jika dia tinggal di rumah Dokter Ira.


Saat orang-orang sudah berangkat ke ladang, Sabrina tidak menyadari jika dua orang sejak tadi tengah mengintainya. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk mencelakai Sabrina.


Suasana sangat sepi, hanya bunyi kicau burung yang keluar dari sarang untuk pergi mencari makan.


Sabrina tengah asyik memperhatikan bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar rumah Dokter Ira, saat tiba-tiba dua orang tersebut muncul hingga mengejutkannya.


"Hai Nona, ternyata susah juga ya menemukan Anda."


"Siapa kalian dan mau apa?"

__ADS_1


"Hahaha, kami mau anak dalam kandungan Anda!" ucap salah satunya sembari membolak-balik pisau yang ada di tangannya.


"Aku tidak kenal kalian, pergilah! jangan ganggu aku!"


"Kamu memang tidak mengenal kami, tapi kami harus mengenal Anda Nona Sabrina. Anda mengancam kebahagiaan bos kami, maka sekarang juga Anda harus enyah dari muka bumi ini!" ucap salah seorang lagi sembari berjalan mendekat.


Sabrina mundur, dia takut melihat seringai keduanya. Apalagi dengan tubuh mereka yang tinggi besar.


Dia merasa tidak akan bisa selamat jika tidak ada penduduk yang datang untuk menolongnya.


Namun Sabrina sebisa mungkin harus berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kedua orang tersebut.


Sabrina berlari menuju rumah, tapi belum sampai ke pintu, dia berhasil disergap oleh salah seorang penyerang tersebut.


"Hai Nona, mau lari kemana! Kamu tidak akan bisa menghindar dari kami."


"Pergilah kalian, sebelum aku berteriak dan warga akan berdatangan untuk mengeroyok kalian!" seru Sabrina yang berusaha menghilangkan rasa takutnya.


"Hahaha, tidak akan ada warga yang datang. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Lagipula perkampungan ini masih sepi penduduk, mereka lebih suka merantau ke kota."


"Kalian sebenarnya siapa? tolong jangan sakiti aku. Apa yang kalian minta akan aku penuhi!"


"Uang? berapa yang sanggup kamu berikan Nona? Kami tahu, Anda bukan orang kaya, jadi percuma menyogok kami hanya dengan uang pas-pasan saja."


"Iya. Bos kami bisa memberikan 20 kali lipat dari uang yang Anda miliki. Jadi kami tidak tergiur dengan uang Anda."


"Ayo tangkap dia, sebelum ada penduduk yang melintas!"


Keduanya pun menyergap Sabrina, menarik tangannya dengan kasar hingga Sabrina terjatuh.


Sabrina menahan tubuhnya yang terjatuh dengan kedua tangan, dia tidak mau sampai bayi dalam kandungannya keguguran.


"Kalian tidak punya hati, tolong lepaskan aku. Aku sedang mengandung. Apa kalian tidak keluar dari perut seorang wanita? hingga beraninya kalian melukaiku yang sedang hamil!"


Keduanya tidak peduli, mereka kembali menarik Sabrina dan mendorongnya hingga terjatuh menatap tembok rumah.

__ADS_1


Pelipis Sabrina berdarah dan dia juga memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.


Beberapa kali Sabrina meminta tolong, tapi tidak ada satupun warga yang datang.


Keduanya tertawa dan kembali mendekat sembari mengacumgkan pisau yang ada di tangan mereka.


Sabrina hanya bisa pasrah, mungkin saat ini terakhir dia melihat dunia dan nasib bayi juga sama, mati sebelum sempat dilahirkan.


Dengan mengucap kalimat Allah, Sabrina memejamkan mata, dia berharap tidak akan merasakan sakit saat nyawanya tercabut dari raga.


Tapi setelah beberapa saat menunggu, Sabrina tidak merasakan apapun. Lalu dia membuka mata dan terpaku, saat melihat dua orang penyerangnya tadi, tidak berkutik di bawah ancaman beberapa orang warga yang menodongkan parang di leher keduanya.


Warga dengan sengaja mendekati mereka tanpa bersuara hingga keduanya tanpa sadar sudah di bawah ancaman senjata warga yang sangat tajam.


Sedikit saja mereka bergerak, maka parang yang tajam itu siap menggores urat leher keduanya.


Sabrina terduduk lemas sambil memegangi perutnya, dia berharap benturan tadi tidak menimbulkan bahaya pada kehamilannya.


Salah satu warga mendekati Sabrina dan bertanya, "Apakah Mbak baik-baik saja? Ayo Mbak biar saya antar menemui dokter Ira. Bukankah Mbak sedang hamil, kami takut bayi dalam kandungan Mbak cidera akibat ulah mereka."


"Teman-teman, kalian bawa dua bandit itu ke kantor polisi. Mengenai Mbak ini, biar aku yang akan mengantarnya menemui dokter Ira."


Warga pun setuju lalu mereka menggiring kedua penyerang ke kantor polisi terdekat, sedangkan Sabrina yang kesakitan di antar naik motor ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, warga yang menolong Sabrina langsung minta tolong perawat untuk memanggilkan dokter Ira.


Perawat pun bergegas setelah meminta Sabrina untuk berbaring di brankar. Dan tidak lama menunggu, Dokter Ira pun datang. Sang Dokter terkejut melihat Sabrina terbaring sambil memegangi perutnya.


"Na, kamu kenapa?"


Warga yang mengantar Ina ke rumah sakit pun menceritakan semua kejadian. Dan Dokter Ira sangat terkejut, mendengar penjelasan tersebut.


Beberapa tahun Dokter Ira tinggal di kampung itu, belum pernah ada tindakan penyerangan seperti yang terjadi dengan Sabrina, meskipun rumahnya cukup jauh dari rumah warga yang lain.


Dokter memeriksa Sabrina, lalu menyuntikkan obat penguat kandungan. Diapun merasa khawatir sama seperti Sabrina. Karena ada flek yang keluar akibat benturan tersebut.

__ADS_1


Mereka hanya bisa berusaha serta berdoa, agar tidak akan terjadi hal buruk, hingga menyebabkan Sabrina keguguran.


Bersambung....


__ADS_2